
"Gue rasa.. ini ada hubungannya dengan orang tua Rey" Naufal membuka suara, dan ketiga lainnya memandang dirinya
"Gimana-gimana?" Tanya Dimas yang masih tak mengerti
"Kita semua tau Rey itu datang ke rumah ini dengan sendirinya. Dia-"
"Lah dia dateng aja masih dalam keranjang, gimana ceritanya dia datang sendiri? Merangkak gitu?" Dimas memotong pembicaraan Naufal
"Dengerin gue dulu" Naufal menatapnya tajam dan Dimas hanya cengengesan
"Dia kesini pasti ada yang nganterin dan gue rasa, orang itu mau mengambil Rey lagi" ucap Naufal membuat Raisa dan Oliv menghela nafasnya
"Jadi maksud lo orang tua Rey yang ambil dia di sekolah?" Tanya Oliv
Naufal mengangguk " Menurut gue begitu"
"Gimana kalo nyatanya bukan orang tua Rey yang ngambilnya?" Tanya Raisa yang sedari tadi hanya menyimak
"Nah untuk yang itu kita belum bisa memastikan karena kita belum tau kebenarannya" ucap Naufal
"Ini cuma pemikiran gue ya, misalkan orang tua Rey itu orang yang terpandang atau penting. Maksud gue kayak pembisnis besar gitu dan otomatis punya haters dimana-mana yakan? Nah misalkan yang ngambil Rey itu orang yang mau menjatuhkan orang tua Rey, gimana?" Ucap Dimas panjang lebar
"Penjelasan dan pertanyaan lo bisa kita simpen baik-baik dan akan kita cari cara seandainya jika itu kebenarannya" ucap Naufal
Dimas terkekeh dan membuat yang lain menatapnya heran, yaiyalah masa gak heran. Toh lagi serius tiba-tiba kayak gitu, kan aneh anaknya. Gue yang author aja heran ngeliat tingkahnya hadehhh!!!?
"Mantep gak tu pemikiran gue? Bisalah otak gue diandelin buat sekarang" ucapnya dengan cengengesan mendapatkan tatapan tajam dari Naufal, sedangkan Oliv dan Raisa terkekeh pelan melihat tingkah Dimas yang masih sempat untuk mencairkan suasana.
-
"Bagaimana dengan keputusan mu?" Tanya Lidya yang baru saja datang dari dapur dan membawakan segelas teh hangat pada Bram yang sedang duduk di taman belakang rumahnya.
"Di satu sisi, aku tak ingin Dia yang menanggung semua akibat yang kemungkinan akan terjadi. Tapi di sisi yang lainnya, aku juga tak bisa menyerahkan alih perusahaan padanya. Ini amanah dari ayah dan ayah hanya percaya padaku" jelas Bram
"Pikirkan baik-baik jangan sampai kamu salah mengambil langkah. Pikirkan bagaimana kita bisa menyelamatkan Dia tanpa menyerahkan alih perusahaan. Karena aku yakin, kamu tau bagaimana taktik untuk mengelabui lawanmu" nasehat Lidya membuat semangat Bram kembali
"Ya, kamu benar. Aku akan mencari cara bagaimana cara menyelamatkan tanpa menyerah" ucap Bram dengan semangat
"Terima kasih atas nasehat mu, dan terima kasih sudah memberikan aku support" ucap Bram
Lidya tersenyum, akhirnya suaminya ini tak menunjukkan wajah murungnya lagi "sama-sama" balas Lidya
__ADS_1
-
Di lain tempat, seorang anak kecil sedang berlari-larian di dalam rumah yang terbilang sangat luas ini dan di belakangnya ada Alex mengejar dirinya. Alex diberikan perintah untuk menjaga anak kecil itu yang tak lain adalah Rey.
"Kembalikan Rey, ini juga udah malem jangan lari-lari. Mending kamu istirahat" bujuk Alex yang sudah berhenti mengejar Rey dan mendaratkan bokongnya di sofa.
"Gak mau om. Rey masih mau main" ucap Rey
"Ini apa ya?" Gumam Rey. Pasalnya Rey sedang membawa lari HT milik Alex. Itu lohh yang kayak ponsel ada antena kecil tapi gak ada layarnya itu yang biasa untuk laporan-laporan, apasih yang biasa polisi dan tentara pake, pokoknya itu dehh..
"Rey jangan ditekan sembarangan, itu bukan mainan" Alex mengingatkan dikala Rey menekan salah satu tombol yang mengeluarkan lampu.
"Om, ini rusak ya?" Tanya Rey sambil berjalan ke arah Alex yang sedang duduk di sofa lalu ia naik ke sofa juga duduk di sebelah Alex.
"Mana sini" pinta Alex dan Rey menyerahkan HT itu.
"Ah gak rusak kok. Nih ada suaranya" ucap Alex yang mendekatkan ke telinga Rey
"Tadi Rey tekan gak ada suaranya" ucap Rey dengan melengkungkan bibirnya kebawah
"Yaiyalah, toh kamu tekan untuk hidupkan senter" ucap Alex
"Lah masa? Mana coba?" Tanya Rey
Rey menunjuk salah satu tombol "Yang ini"
"Itu untuk menghidupkan senter Rey" jelas Alex dan Rey hanya mengangguk ngerti padahal mah kagak ngerti
Rey menguap lalu ia mengucek matanya dengan tangan mungilnya "Om, Rey ngantuk. Temenin Rey ya"
"Daritadi juga disuruh tidur gak mau denger" oceh Alex
"Yaudah ayo" ajak Alex. Rey beranjak dari duduknya lalu mengekori Alex dari belakang.
Rey masuk ke dalam kamar yang pertama kali ia bangun tadi. Sebelum ia naik ke kasur, ia ke kamar mandi dulu untuk mencuci tangan dan kaki. Setelah itu ia menaiki kasur empuk itu lalu ia merebahkan dirinya disana. Beberapa kali ia menguap lalu ia memejamkan matanya dan memasuki alam bawah sadar.
Alex yang melihat Rey yang sudah terlelap pun, menarik selimut sampai ke dada Rey, menghidupkan lampu tidur dan mematikan lampu utama. Setelah itu ia keluar dan menutup kembali pintu kamar tadi.
Di depan kamar Rey, Alex mendapati temannya yang membantunya menjemput Rey tadi siang, namanya Chandra umurnya sama seperti Alex. Chandra menyipitkan matanya memerhatikan tingkah Alex yang sepertinya perhatian sekali terhadap sandraan itu.
"Kenapa?" Tanya Alex
__ADS_1
"Lo perhatian banget sama tuh anak"
"Kenapa emangnya?"
"Ck! Inget lo itu digaji bukan buat manjain tu bocah"
"Dia juga anak-anak gak perlu dikasarin"
"Ini nih baru temen gue! Dari dulu gak pernah berubah kalo sama anak kecil" Chandra terkekeh
"Muka lo tegang banget, biasa aja kali. Gue tau sifat lo, lo gak mungkin kasarin anak kecil apalagi setampan anak itu" ucap Chandra
"Udah ah, ayo ke bawah" ajak Alex
-
Paginya..
Empat sekawan ini sedang sarapan di meja makan seperti biasa, yang beda hanya tanpa perdebatan antara Rey dan Dimas. Bi Rina masih bekerja di rumah mereka seperti biasa, ia juga sempat sudah berserah diri bahwa ia bersedia jika dipecat tetapi respon dari keempatnya adalah membantah ucapan bi Rina.
Maka dari itu ia meminta maaf kepada mereka berempat terutama kepada Naufal yang sangat emosi saat mendengar keteledoran bi Rina. Naufal juga sudah memaafkan karena ia bilang 'Setiap orang tak luput dari lupa dan dosa'
Setelah sarapan, mereka berpencar untuk mencari Rey. Dan masih seperti kemarin, mereka mencari di kawasan sekolah Rey sembari mencari yang janggal disana.
**
.
.
Kalo kalian yang masih ngerasa ada yang janggal sama ceritanya terus masih banyak pertanyaan yang bersarang dibenak kalian, gue kasih tau yaaaa ..
'Kok bodyguard nya cuma ada 1 doang?'
\=\= Nih yaa.. gak mungkin aku mesti buat percakapan antara bodyguard.
'Terus kenapa di dalam cuma ada Alex? Katanya banyak?'
\=\= Yaiyalah banyak.. Dan gak mungkin kan pada ngumpul di ruang tengah?? Yakan? Nih rumah Bryan luas banget woee :v Jadi tuh bodyguard pada berpencar, ada yang jaga depan pager, depan pintu utama, pintu samping, pintu belakang, pintu dapur, ada juga yang di dalem, Alex salah satunya. Sebenarnya ada 3 yang jaga di dalem, Alex jaga di ruang tengah, Chandra jaga di depan pintu garasi dalam dan Ben--supir saat menjemput Rey menjaga depan pintu kamar Bryan.
'Bryan dimana? Kok gak ada nongol sih?'
__ADS_1
\=\= Ini pertanyaan terakhir loh yaa.. Bryan kerja lah cari uang gaes. Mau gaji orang pake apa kalo gak pake uang? Pake DAUN? Hadehhh.. Bryan juga lagi sibuk gaess, biasalah mau cari cara buat ngerebut alih perusahaan mwhehe..
Sekian deh dari aku! seeyou