
Part 4
Ketika Dimas membukanya, mata Dimas terbelalak.
"Omaygat faaal, dia pup?!" Pekik Dimas heboh
Naufal terkekeh "gausah teriak-teriak juga kali dim"
"Ini ini gimana cara bersihinnya faaal?!" Pekik Dimas yang masih dengan kehebohannya. Jangan pernah melupakan kehebohan dan kealayan seorang Dimas.
Naufal menegakkan badan yang tadinya ia senderkan ke sofa "tinggal lu bersihin, gampang kan?"
Baru saja Dimas akan protes, Naufal lebih dulu memotong "jangan pake nanya 'kok gue kok gue' sekarang gantian elu yang jaga jadi itu tanggung jawab elu" ucap Naufal santai.
Naufal kampreeet, bagian gini dikasiin ke gue. Ni bocah juga kenapa pup nya mesti sekarang sih? Kenapa gak nunggu si Oliv sama Raisa pulang?!! Dimas ngedumel dalam hati
Dimas memandang Naufal dengan tatapan melasnya "bantuin gue ya faal" ucap Dimas dengan nada memohon
"Ck! Iya iya, yaudah cepetan ambil popok Rey yang baru" perintah Naufal
Dengan langkah besar Dimas melangkah menuju ke dalam kamar Oliv dan Raisa untuk mengambil popok Rey. Dimas juga mengambil tisu basah dan tisu kering guna untuk membersihkan.
Setelah itu Dimas menuju ke ruang tengah lagi, kemudian duduk di karpet. Dimas mengangkat Rey dengan menjauhkan Rey dari indra penciumannya, lalu diletakkan diantara kaki Dimas.
Naufal yang melihat tingkah Dimas hanya terkekeh, kasihan juga ucapnya dalam hati.
Dimas bingung melihat popok Rey, gimana cara bukanya? Tanya Dimas dalam hati
Dimas menggaruk kepalanya "ini gimana sih cara bukanya?!" Jerit Dimas frustasi
"Lu sobek aja kali bagian tepinya, nah udah gitu lu angkat kakinya terus bersihin deh" jelas Naufal yang langsung di anggukkan Dimas.
Butuh 20 menit untuk Dimas mengganti popok Rey, itu udah dihitung dengan kehebohan dan kealayannya. Lucu banget muka-muka Dimas pas ngeganti popok hahah.
Setelah selesai, Rey kembali tidur lalu dipindahkan ke dalam kamar lagi. Naufal dan Dimas merasa lelah setelah merawat Rey seharian.
Lihatlah, mereka sekarang tertidur di karpet yang dimana Naufal masih memasang ekspresi dinginnya saat tertidur dengan menyilangkan tangan di depan dadanya. Sedangkan Dimas, jangan ditanyakan lagi gimana ekspresinya. Pasti kalian juga bakalan tertawa terbahak-bahak melihatnya.
-
14.00🕒
Queen melambaikan tangannya pada gue disaat ia udah dijemput dengan pacarnya. Gue sekarang duduk di taman depan kelas gue sambil nunggu Raisa.
Ting!
Ponsel gue ada pesan masuk, oh ternyata dari Raisa.
Raisa
Liv, gue masih ada kelas tambahan. Lo kalo mau balik duluan gapapa ntar gue nebeng sama Putri.
Berapa makul?
Raisa
1 aja sih.
Gimana? Mau nunggu apa balik?
Nunggu ajalah, bentaran doang kan?
Raisa
Yaudah iyaa, kalo ada apa-apa bilangin ke gue
Iyaa, udah ih kaya gue anak kecil aja
Raisa
Hehehe.
(Read)
__ADS_1
Gue nyimpan ponsel gue di dalam saku celana. Tiba-tiba gue mikirin keberadaan orang tua kandungnya Rey.
Kenapa ibunya menelantarkan Rey di teras rumah kami? Apa ada masalah atau gimana ya? Dan masih banyak pertanyaan yang mengusik pikiran gue.
Sedang asik dengan pikiran gue sendiri, tiba-tiba ada yang menepuk bahu gue dan seketika gue kembali tersadar.
Gue menghela nafas dan mengelus dada, ternyata Raisa.
Raisa menautkan alisnya "heh?! Daritadi gue manggil-manggil. Lo ngapain bengong? Ntar kesurupan siapa yang repot?" Omel Raisa
"Gue gak apa-apa, udah selesai? Cepet banget" Tanya gue
"Udah bonang. Ga jadi makul tambahan, dosen mendadak ada urusan penting. Gue disini daritadi lah elunya yang gak sadar, dipanggilin juga" Raisa ngedumel
"Lahh masa? Yaudah yuk balik" ajak gue seraya berdiri
Raisa menarik tangan gue sampe gue duduk lagi "lo kenapa sih? Bilang ke gue, ada apa?" Tanya Raisa mengintimidasi
Gue menghela nafas "gue cuma kepikiran keberadaan orang tua kandungnya Rey"
Raisa menaikkan sebelah alisnya "yakin itu doang? Gak ada yang lain?"
"Itu doang sa, gak ada yang lain" jawab gue sambil menggelengkan kepala
Raisa berdiri dan menarik tangan gue "yaudah balik, ntar itu bahasnya di rumah aja sama yang lain" ucap Raisa sambil tersenyum
Gue tersenyum juga "Iya ayo"
-
Di lain tempat, Dimas sedang asik bermain game di kamar sambil tiduran tiba-tiba ponselnya bergetar menampilkan nama Rian yang pernah menjadi tim turnamen dua bulan yang lalu, dengan segera ia menggeser tombol hijau. Dimas berharap ini kabar baik.
"Hallo dim, gue dapat job buat lo dan tim kita yang lainnya. Keluarga gue ada ngadain turnamen dengan prize yang gede, mayanlah buat tambahan uang jajan kita. Mau gak lo?" Jelas Rian
"Gue mau, kapan? Tim yang lain udah lo kabarin?" Tanya Dimas
"Jam 3 sore ini di cafe biasa kita ngumpul. Yang lain udah gue kabarin, tinggal lo doang"
"Okeoke, bentar lagi gue kesana"
Tut!
Seusai Rian memutuskan panggilan, Dimas tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dimas segera melompat dari tempat tidur lalu menyambar jaket kesayangan dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
-
Kini Naufal sedang duduk di ruang tengah sendirian gak sendirian sih soalnya ada Rey juga dalam gendongannya.
Naufal sedang bermain-main dengan Rey dengan mengusap-usap kan hidung mereka yang membuat Rey tertawa khas ala bayi seusianya.
Naufal merasa makin hari Rey bertumbuh dengan cepat, lihatlah sekarang Rey udah mengerti jika diajak bermain.
Ekor mata Naufal melihat Dimas yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian rapinya, yang melewatinya saja seperti tanpa tau bahwa ada dirinya di sana.
"Mau kemana lo?! Nyelonong aja" tanya Naufal dengan mengangkat sebelah alisnya. Dimas menghentikan langkahnya saat mendengar intrupsi dari Naufal.
"Gue mau keluar bentar" ucap Dimas cengengesan
"Gak bisa!" Tukas Naufal
"Kenapa? Bentaran doang kok gak lama"
"Pokoknya gak bisa! Sekarang kan waktunya lo yang jaga Rey!?" ucap Naufal sinis
Dimas menggaruk tengkuknya "bentaran doang kok fal, gak lama beneran deh" ucap Dimas sambil mengangkat jarinya berbentuk V
Naufal menghela nafasnya "yaudah sana, jangan lama-lama. Awas aja kalo lama, lo mesti jagain Rey selama seminggu!! " Ancam Naufal
Dimas mengangkat tangannya seolah-olah hormat kepada kapten, lalu berlari keluar sebelum Naufal berubah pikiran. Dimas pergi menggunakan motor matic milik Raisa, karena mobilnya sedang dipinjam oleh Oliv dan Raisa untuk berangkat ke kampus tadi pagi.
-
Terhitung sudah sekitar 35 menit gue dan Raisa terjebak macet sejak. Gue melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kiri gue, sekarang pukul 14.35 .
__ADS_1
Tinnn tinnn!!
Gue menekan klakson dengan kuat, berharap yang paling ujung sana memberikan kesempatan untuk mereka-mereka yang dibelakang maju walau hanya beberapa senti.
"Lama banget sih" keluh gue seraya menekan klakson lagi
"Yaudahlah, tunggu aja paling bentar lagi" ucap Raisa santai
"Udah 35 menit kita kejebak macet, maju beberapa senti aja enggak" ucap gue kesal dengan memukul stir lalu mendaratkan kepala di kemudi
"Orang sabar disayang Allah liv" ucap Raisa sambil terkekeh
-
Selepas kepergian Dimas, Naufal kembali bermain dengan Rey yang membuat bocah kecil itu tertawa dan membuat Naufal ikut tersenyum melihatnya.
Drrt drrt drrt!
Ketika sedang asik bermain, tiba-tiba ponsel Naufal berdering tanda ada telepon masuk. Naufal hanya melihat sekilas nama kontak lalu ia langsung menggeser tombol hijau.
"Hallo..?" Terdengar suara wanita dari seberang sana
"Hm"
"Kamu sedang apa? Bisa kita bertemu di taman biasa? Aku mau bicara sesuatu sama kamu"
"Ya, 10 menit lagi aku kesana"
Tut!
Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Naufal memutuskan panggilan secara sepihak. Jangan heran, begitulah sifat Naufal.
Tunggu! Bagaimana dengan Rey? Sedangkan yang lainnya belum juga pulang?
Tanpa berpikir panjang, Naufal meletakkan Rey di sofa. Dengan langkah besar ia segera mengambil jaketnya di kamar dan mengambil gendongan Rey di kamar sebelah.
Lalu, Naufal memasangkan gendongan itu di badannya dan meletakkan Rey di bagian depan. Ya, dia akan membawa Rey ke taman.
Setelah mengunci pintu, Naufal naik di atas motor milik Oliv lalu keluar dari perkarangan rumah dengan kecepatan sedang. Jarak dari rumah ke taman tak terlalu jauh jadi tak memerlukan waktu yang cukup lama untuk segera sampai di sana, jadi tak perlu membawa dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya Naufal di taman, ia melihat wanita yang menelponnya tadi duduk di salah satu kursi taman seraya mengotak-atik ponselnya. Setelah menyimpan motornya, Naufal melangkahkan kakinya menuju kesana.
Merasa ada yang memperhatikan sontak wanita itu mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan pemandangan yang pertama ia lihat adalah bayi dalam gendongan kekasihnya itu.
Ya! Wanita yang menelpon Naufal tadi adalah kekasih Naufal, namanya Nadya. Nadya adalah kekasih Naufal sejak kelas 11 SMA yang pernah sekelas dengannya. Jika diperhatikan Nadya lumayan cantik, kulitnya putih bersih, rambutnya sedada berwarna coklat alami, matanya akan berbentuk bulan sabit jika tersenyum, hidung mancung serta bibir mungil. Nadya menyukai Naufal karena kepintaran Naufal dalam mata pelajaran apapun maka dari itu dia berusaha mendekati Naufal dengan cara apapun juga. Dan bravo! Nadya berhasil menaklukkan hati Naufal, lalu mereka pacaran dalam diam. Maksudnya bukan diam-diam dalam artian lain gaes, tetapi hubungan mereka tak ada yang tau selain mereka berdua dan Allah yang tau. Kalo gak salah namanya backstreet gitu deh
Naufal heran mengapa tiba-tiba Nadya mengajaknya ketemuan di taman, biasanya Nadya akan meminta jemput Naufal di rumah. Naufal berusaha menyingkirkan pikiran negatif tentang Nadya.
Naufal masih diam dan memperhatikan Nadya yang betah melihat Rey dalam gendongan Naufal dengan wajah yang tak bisa diartikan. Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak Nadya, ini anak siapa? Anak Naufal? Tanya Nadya dalam batin.
"Kamu mau bicara apa?" Tanya Naufal memecahkan keheningan
"I..ini anak siapa fal?" Tanya Nadya tergagap
Naufal terkejut dengan pertanyaan Nadya namun dia berusaha menetralisir wajahnya menjadi datar kembali.
"Kamu gak perlu tau. Kamu mau bicara apa? Jangan berbelit?!" Tanya Naufal seperti membentak
Nadya tersentak dengan bentakan Naufal, apa yang harus gue katakan?" Tanya Nadya dalam hati dengan cemas bahkan tak sadar tangannya meremas dress yang digunakannya. Naufal merasa heran dengan gerak-gerik Nadya.
Mata Nadya melihat kesana kemari untuk mencari alasan yang tepat, namun matanya berhenti pada satu objek yaitu, Rey.
"Aku mau putus" ucap Nadya pelan namun masih di dengar Naufal
Naufal mengangkat sebelah alisnya "kenapa?"
"A..aku mau kita putus fal, aku rasa sekarang kamu berbeda dari yang dulu. Kamu gak pernah bisa meluangkan waktu buat aku. Aku rasa kamu selingkuh dari aku" tuduh Nadya dengan sedikit tergagap
"Aku memang gak punya banyak waktu untuk bisa bertemu denganmu, karena hidupku bukan hanya tentang kamu saja. Dan perlu kamu ketahui, aku.gak.pernah.selingkuh!" Tukas Naufal dengan menekan kalimat terakhirnya
Nadya berdiri dari tempat duduknya "m..mana mungkin k..kamu gak selingkuh, buktinya ada di depan mata fal. Ini a..anak kamu kan? Iyakan?" Nadya masih menuduh Naufal seraya menunjuk Rey dengan tangan yang bergetar serta suara yang tergagap.
"Aku bisa jelaskan ke kamu siapa anak ini, yang jelasnya ini bukan anak aku"
__ADS_1
**
JANGAN LUPA FOLLOW, VOTE DAN KOMEN YA GAESSSS!!