
Mobil yang melaju tadi tak dapat dihindar, hingga tubuh Naufal sudah terpental jauh yang mengakibatkan tubuhnya penuh dengan darah dimana mana.
Bryan yang berada di dalam mobil hitam mengkilap itu pun gemetaran serta panik, bukan ini yang ia mau. Bukan Naufal yang ingin di tabraknya, melainkan Rey lah yang ingin di tabraknya. Saat ia tersadar dari lamunannya saat itu juga ia terkejut, mobil yang dikendarainya hilang kendali. Dikarenakan kurang fokus, bukannya ia menginjak rem tetapi malah menginjak pedal gas dan akhirnya ia menghantam kuat pohon yang ada di halaman rumahnya.
"Naufal!!" teriak mereka berempat. Mereka pun berlari cepat ke arah Naufal yang sudah penuh dengan darah.
Oliv langsung memangku kepala Naufal yang mengeluarkan banyak darah. "Naufal, bangun!!" ucap Oliv sambil menepuk-nepuk pelan pipi Naufal. Dimas dan Raisa pun tak kalah histeris melihat tubuh sahabatnya yang benar benar tidak berdaya sekarang.
"Naufal!! Cepat bawa dia ke rumah sakit" titah Bram yang baru saja datang ke anak buahnya. Anak buahnya pun langsung mengangkat Naufal dan membopongnya ke arah mobil mereka.
"Om, Naufal gak kenapa kenapa kan om?" tanya Oliv yang langsung menghampiri Bram. Pasalnya disini pasti yang lebih terpukul adalah Oliv, karena orang yang seharusnya tertabrak adalah dia bukan Naufal.
"Jawab om!" teriak Oliv
Bram pun masih bungkam seolah tak mau menjawab. Dimas dan Raisa membawa Oliv untuk masuk ke mobil dan menyusul Naufal. Sedangkan Rey, ia sedang menangis. Rey paham jika abangnya ~ Naufal baru saja tertabrak, tak lupa pula mereka membawa Rey ikut mereka.
-
Saat ini mereka semua sedang berada di ruang tunggu rumah sakit. Termasuk Lidya. Lidya tadi juga sempat pingsan saat mendengar kabar ini, sudah dua jam sejak Naufal di bawa kesini tak ada satupun dokter yang keluar dan memberi keterangan kalau Naufal baik baik saja.
Tiba tiba seorang dokter yang di lengannya masih ada bercak darah itu keluar dari ruangan yang mereka tunggu.
"Dimana keluarga pasien?" tanya dokter tersebut
"Saya ayahnya dok" ucap Bram yang langsung maju ke depan dokter itu
"Baiklah. Bapak bisa ikut saya sebentar, ada yang ingin saya bicarakan" ucap dokter itu. Bram pun mengangguk dan langsung mengikuti dokter itu menuju ruangannya.
-
__ADS_1
Jika tadi mereka menunggu dokter keluar, sekarang yang mereka tunggu adalah Bram. Karena mereka penasaran apa penjelasan dokter tentang hasil pemeriksaan Naufal.
Tak sampai setengah jam Bram keluar dari ruangan dokter. Jika dilihat penampilannya, sepertinya Bram tidak akan memberikan kabar baik, melainkan ia akan memberikan kabar buruk. Wajah lesu dan tak bersemangat itu tak henti hentinya ia tampilkan.
"Gimana keadaan Naufal yah?" tanya Lidya yang langsung menghampiri Bram. Oliv, Raisa dan Dimas yang menggendong Rey pun ikut menghampiri Bram.
"Naufal.." ucap Bram parau yang menggantungkan kalimatnya
"Kenapa om? Naufal kenapa?" tanya Raisa yang tak sabar dengan apa yang dikatakan Bram
"Dia koma" ucap Bram sambil menundukan kepalanya
Mendengar dua kata yang dilontarkan Bram membuat Lidya melemah dan seketika tubuhnya melemas. Raisa dan Oliv pun langsung menopang tubuh Lidya yang tak mampu berdiri lagi. Mereka berdua mendudukan Lidya di kursi yang berada di ruang tunggu.
Mereka semua menenangkan Lidya. Saat ini Lidya sudah lebih tenang, tidak menangis lagi tapi masih sering melamun.
-
"Naufal.." lirih Lidya
"Bangun nak, bunda kangen sama kamu" ucap Lidya parau. Air mata yang berada di pelupuk matanya pun perlahan jatuh, ia tak kuat melihat anaknya sekarang terbaring lemah dengan alat alat yang menempel di tubuhnya.
Hati Lidya sakit, dunianya seakan runtuh dalam sekejap. Baru dua hari ia dipertemukan lagi dengan anaknya setelah bertahun tahun terpisah, tapi Tuhan kembali memisahkannya.
-
Tak lama kemudian Bram dan Lidya keluar dari ruangan Naufal. Karena pengunjung alias keluarga pasien hanya diberikan beberapa menit saja untuk melihat pasien.
Saat keluar mereka masih melihat Oliv, Dimas, Raisa dan Rey yang masih menunggu mereka.
__ADS_1
"Tante, maafin Oliv. Seharusnya yang ada di sana Oliv, bukan Naufal hiks maafin Oliv tante" ucap Oliv parai sambil menunduk di hadapan Lidya, ia tak bisa menahan tangisnya. Air matanya kembali mengalir, seharusnya dirinya yang tertabrak bukan Naufal.
"Tak apa sayang, ini adalah pilihan Naufal. Kamu jangan merasa bersalah ya hiks" jawab Lidya yang juga tak bisa menahan air matanya lagi.
Oliv, Raisa dan Dimas memasuki ruangan Naufal. Naufal terbaring lemah dengan kepala yang di balut perban dan beberapa alat yang terpasang di tubuhnya, sakit rasanya melihat sahabat mereka yang tidak berdaya.
"Fal, lo dengar gue kan?" ucap Oliv sambil menggenggam tangan Naufal
"Bangun fal! Maafin gue" titah Oliv dengan mengguncang pelan lengannya walau ia tau itu suatu hal yang tidak mungkin.
"Ini salah gue seharusnya bukan lo yang ada di sini, tapi gue. Gue fal yang harus disini" ucap Oliv parau dengan mendaratkan kepalanya di lengan Naufal, ia tak mampu menahan air matanya lagi.
Oliv menegakkan kepalanya, "Bangun fall!!!" teriak Oliv yang tak kuat melihat Naufal seperti ini. Kaki Oliv seketika melemas dia pun terduduk di samping kasur Naufal. Raisa yang berdiri di sebelah Oliv langsung membopong tubuh Oliv. Raisa juga tak kalah sedihnya sedari mereka masuk ke ruangan ini. Raisa sudah menangis terlebih lagi dengan ucapan Oliv tadi.
"Bro. Lo gak bosan ya tidur terus? Bangun ngapa bro" lirih Dimas parau yang berdiri di sisi kanan Naufal
"Gue kangen kita main lagi, sejak kejadian Rey di culik kita gak pernah bercanda lagi. Gue mohon bangun fal" ucap Dimas yang juga sudah menangis
"Permisi jadwal kunjungan sudah berakhir, pasien butuh istirahat" ucap suster yang baru saja masuk.
Mereka pun mengangguk.
"Besok kita kesini lagi ya fal" ucap Oliv parau
Saat mereka keluar, ternyata masih ada Lidya, Bram dan Rey yang masih setia menunggu. Mereka pun mengajak Bram, Lidya dan Rey untuk pulang dulu dan kembali lagi besok, karena melihat waktu yang semakin menjelang malam. Lidya awalnya menolak tapi Bram memaksa, karena Lidya juga perlu istirahat. Bram juga mengatakan untuk menitipkan Rey di tempat Oliv, Raisa, dan Dimas untuk sementara ini.
-
End gak nih??
__ADS_1