Stray Baby

Stray Baby
Part 40 ~ Mulai Terungkap


__ADS_3

"Tuan Naufal!" panggil Rio. Dan siapa sangka kalau mereka berempat menoleh bersamaan.


"Om Rio?" Gumam Naufal


"Om ngapain disini?" tanya Naufal


"Tuan di minta untuk menemui tuan besar di cafe depan" ucap Rio sambil menunjuk cafe yang ada di sebrang kantor polisi.


Tadi sebelum menemui Naufal, Bram memberitahu Rio untuk menemuinya di cafe depan agar mereka lebih leluasa berbicara, mengingat ini masih pagi jadi suasana cafe tidak terlalu ramai sangat pas untuk mereka membicarakan hal serius.


"Ada apa? Bilang dia saya tidak mempunyai waktu untuk menemuinya" ucap Naufal dengan nada ketus


"Tolong temui sebentar saja tuan" ucap Rio sedikit memohon


"Baiklah, karena saya menghormati om jadi saya akan menemuinya sebentar" ucap Naufal.


"Siapa fal?" tanya Dimas sedikit berbisik kepada Naufal.


"Kalian duluan aja, gue ada urusan sebentar" ucap Naufal kepada ketiga sahabatnya.


"Tapi teman teman tuan juga diminta untuk menemui tuan besar" ucap Rio yang sempat mendengar ucapan Naufal kepada temannya.


"Mau ngapain dia menemui teman saya?" tanya Naufal dengan ketus


Cukup lama naufal berfikir, akhirnya Naufal memutuskan untuk mengajak teman temannya untuk ikut dengannya. Walaupun teman temannya itu tidak tau orang seperti apa yang akan mereka temui, yang mereka tau pasti orang ini adalah orang yang penting sampai sampai mempunyai asisten.


"Pak, tuan Naufal dan teman temannya sudah di depan" ucap Rio yang memasuki tempat dimana bram berada. Cafe yang mereka singahi sekarang adalah cafe yang bernuansa seperti restaurant jepang yang dimana pengunjung bisa memilih ruang sendiri dan ruangannya juga tertutup jadi lebih leluasa jika ada kepentingan pribadi.


"Suruh mereka masuk" suruh Bram sambil menyeruput kopinya.


Rio pun menurut dan langsung menyuruh Naufal dan teman temannya masuk. Setelah mereka masuk mereka langsung di persilahkan duduk oleh Bram.


"Saya tidak mempunyai waktu, jadi langsung ke inti nya saja" ucap Naufal dengan ketus.

__ADS_1


"Minum lah dulu" ucap bram sambil mempersilahkan Naufal dan teman temannya minum.


"Anda tidak dengar? Saya dan teman saya tidak mempunyai waktu" ucap Naufal yang langsung mendapat senggolan tangan dari Dimas yang berada di sampingnya. Menurut Dimas, Naufal sedikit tidak sopan kepada orang ini. Dan di tambah lagi ia juga sebenarnya takut, karena orang yang berada dihadapannya ini memiliki banyak bodyguard.


"Apakah kau tidak merindukan ayah?" ucapan Bram membuat keadaan seketika menjadi hening.


Berbeda dengan ketiga teman Naufal yang lainnya, mereka berusaha mencerna ucapan yang baru saja mereka dengar,


Ayah?


Beberapa menit kedepan belum ada yang membuka suara, semuanya masih dalam keadaan mode hening yang tiba-tiba saja merasakan perbedaan atmosfer. Naufal dan Bram saling berpandangan, yang dimana Naufal menatap Bram dengan tatapan tajamnya dan Bram membalas dengan tatapan kharismatik nya.


Naufal berdecih "Ayah? Apakah dirimu masih pantas disebut dengan sebutan ayah?" Ucap Naufal dingin


Bram hanya diam untuk mendengarkan keluh kesah anaknya.


"Ayah mana yang memaksakan kehendak pada putranya?" Lanjut Naufal


"Itu juga demi kebahagiaan mu-"


Kali ini ia tak bisa melawan, karena itulah adanya. Yang diucapkan Naufal memang benar. Karena tersulut emosi, ia tak sengaja terucap bahwa ia telah memutuskan hubungan dirinya dengan anaknya, tak setiap manusia tak luput dari kesalahan apalagi yang terucap.


Tapi apa daya jika Naufal mempunyai sifat yang keras kepala dan keinginannya tak bisa dibantah, jika A maka akan tetap A dan takkan pernah berubah. Seharusnya Bram yang berperan sebagai ayah bisa mengendalikan emosi dan memahami watak anaknya, karena api dibalas api maka api itu akan semakin membesar.


"Maafkan ayah, ayah sangat menyesal" ucap Bram dengan tulus


Naufal masih betah memandang Bram dengan tatapan tajamnya.


Bram yang tak mendapatkan respon baik dari anaknya pun hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia bersandar pada kursi yang ia duduki,


"Baiklah, masalah itu akan kita selesaikan nanti. Ayah mau tanya, ada apa kamu ke kantor polisi?" Tanya Bram


"Anda tak perlu tahu urusanku" sahutnya dengan ketus

__ADS_1


"Apakah ini ada hubungannya dengan anak kecil yang tinggal bersamamu?" Ucapan Bram kali ini membuat Naufal sedikit tersentak, tetapi bukan Naufal namanya jika tidak pandai menyembunyikan ekspresinya.


"Anda jangan ikut campur dan sok tau perihal saya" ucapannya membuat suasana disekitarnya menjadi tegang, apalagi ekspresi Dimas seperti menahan sesuatu yang sedari tadi ia tahan.


"Baiklah. Bagaimana jika ayah mengatakan bahwa anak kecil yang selama ini tinggal bersamamu itu nyatanya adik kandungmu?" Ucapan Bram kali ini benar-benar membuat keempat remaja yang berada dihadapannya ini menjadi kaku sekaku-kaku nya.


Terlebih Naufal, saat ini seketika tatapan tajamnya perlahan meredup kala mendengar pernyataan dari pria paruh baya di depannya ini. Dan seketika pikiran mereka berempat menjadi blank dan masih tak mengerti apa yang diucapkan oleh pria dihadapan mereka ini.


Rey? Adik kandung gue? batin Naufal


Bagaimana bisa? batin Oliv


Gue gak salah dengar kan? batin Raisa


Gimana-gimana? batin Dimas


Bram berdehem membuat keempat remaja itu memandangnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Bram tersenyum dalam hati karena ia sudah menebak ekspresi mereka saat tau kenyataan ini.


"Bagaimana bisa?" Ucapan itu lolos dari Naufal yang masih menata pikirannya


Bram terkekeh melihat ekspresi putranya kali ini, tadi saja menatap ia seperti ingin menelannya. Bram menyudahi kekehannya, ia menatap satu persatu teman putranya.


"Yang kalian dengar tadi memang benar, Rey yang selama ini tinggal bersama kalian adik kandung Naufal"


"T-tapi bagaimana bisa?" Tanya Naufal yang gugup


"Makanya kalau orang tua mau ngejelaskan itu dengerin bukan disanggah"


Naufal menghela nafasnya lalu menatap Bram kembali,


"Jadi, apa yang akan anda jelaskan?"


**

__ADS_1


Part yang ini gak ada Rey nya ya...


JANGAN LUPA FOLLOW, VOTE AND COMMENT YAA...


__ADS_2