Suami Cadangan

Suami Cadangan
Chapter I (Nazneen Faiha)


__ADS_3

Wajahku terpantul di cermin rias. Aku mengamati dengan saksama. Sanggul sudsh rapi. Blush on, bedak, maskara, alis, lipstik semua tampak sempurna tanpa ada blepotan. Aku tersenyum puas. Aku tak mau riasanku membikin malu di hari yang penting ini.


Ya, hari ini adalah hari penting bagiku. Peresmian kantor CV. AT Press. Bidang penerbitan.


Impianku memang punya kantor sendiri. Untuk mewujudkannya dari umur 19 tahun aku jadi model majalah, model iklan, brand ambassador, sampai joinan bisnis cosmetik sama sahabatku yang notabennya sebagai Selebgram di tahun 2014. Bisnis lipstik ini ternyata fantastis. Banyak dibeli oleh artis-artis.


Dari joinan bisnis lipstik, aku tertantang untuk membikin bisnis. Sempat galau mau bisnis apa, tetapi aku ingat dari kecil aku suka membaca. Kenapa tidak mencoba bisnis penerbitan? Hitung-hitung membantu para penulis pemula melahirkan karya. Aku juga lihat semakin ke sini semakin banyak oknum mendirikan penerbitan.


Pada tahun 2013, sebelum menjadi CV. AT Press, penerbitan namanya Arsha Teen masih joinan sama teman juga. Tiga tahun kemudian alhamdulillah bisa mendirikan kantor. Alasan ganti namakarena ingin membuka lebaran baru.


Mendadak pokusku beralih ke pantulan sosok yang lagi nungging-nungging sambil sambil memeluk guling. Aku mendengkus kesal. Jam segini belum bangun coba? Tadi malam aku sudah bilang jam sepuluh acara peresmiannya. Ini sudah jam setengah sembilan. Aku bangkit dari duduk dan menghampirinya.


Kugoyang-goyangkan tubuhnya. "Mas Ale, bangun dong."


Sosok yang aku bangunkan ini adalah Nalesha Wirayudha biasa dipanggil Ale. Tak lain dan tak bukan, dia suamiku.


"Apa sih? Aku masuk shift siang hari ini," omel.


Sedikit aku cerita, kenapa aku bisa menikah dengan makluk kebo yang susah dibangunin di sebelahku ini.


Dua tahun lalu usiaku sudah 33 tahun. Mama sudah terus-terusan merongrong supaya aku cepat menikah biar tidak dikatakan perawan tua sama tetangga. Saat itu aku masih belum ada bayangan menikah sama siapa. Sudah terlalu nyaman sendiri.


Tiba-tiba Ale membawa angin segar. Memintaku jadi istrinya. Aku pikir menikah dengannya bukan hal buruk. Secara sudah sahabatan lima tahun lebih. Namun, nyatanya pernikahan tak seindah yang kubayangkan.


Benar kata orang, selama apa pun kita mengenal pasangan, tetap saja ketika memulai rumah tangga berasa naik roller couster. Semua serba kaget-kagetan. Ale yang kukenal orangnya kalem, manis, penurut –dilihat dari caranya selalu menuruti permintaan mamanya— dan hidupnya tak neko-neko. Ketika menikah sifat aslinya mulai terbuka pelan-pelan. Dia ternyata cerewet melebihi mamaku, sedikit-sedikit protes, paling super rapi. Aku menaruh baru sembarangan saja, dia langsung mengomel.


"Bukan itu. Kan hari ini peresmian kantorku. Aku dah bilang tadi malam loh. Kamu harus datang."


"Males ah."


Ini juga yang membikin aku tidak bahagia menikah dengannya. Dia tidak bisa memenuhi kebutuhan biologisku. Tidak bisa jadi sandaran ketika aku lagi ada masalah. Tidak mau mememani aku ke acara penting berhubungan dengan kerjaanku. Kalau semua aku kerjakan sendiri, aku merasa masih gadis.


"Nggak bisa. Ini acara penting kamu harus datang. Nanti apa kata orang-orang dan media, suaminya nggak ada? Yang ada nanti bakal muncul gosip rumah tangga kita retak."


"Ya udah, nanti aku nyusul. Aku mau gegoleran dulu."


"Bener ya. Awas nggak datang."


Akhirnya aku berangkat sendiri tanpa Ale.


***


Rangkaian acara persemiannya sendiri sederhana. Pembukaan diisi oleh membaca doa dan kalam Ilahi. Dilanjutkan sambutan. Acara ketiga potong pita. Penutup, doa, conferensi pers, dan ramah tamah.


Sekarang sudah memasuki pembacaan kalam Ilahi. Aku bukannya mendengarkan, sibuk gelisah sendiri sambil sedikit-sedikit menengok jam tangan. Sudah hampir jam dua belas siang Ale belum datang juga. Aku coba telepon tidak diangkat.


Sialan. Dari dulu tidak pernah berubah. Setiap aku minta temani ke sebuah acara, jawabannya, "nanti aku nyusul." Nyatanya tidak pernah ditepati.


"Pada acara peresmian, dimohon Bapak Sahrial Pratama Harahap selaku Pemimpin Redaksi CV. AT Press untuk mendampingi Ibu Nazneen Faiha selaku pemilik CV. AT Press untuk menggunting pita."


Aku berdiri dan berjalan menuju ke tempat gunting pita. Semua mata tertuju padaku. Aku memaksakan senyum palsu di saat hati lagi tidak enak. Gara-gara Ale.


Sedikit aku ceritakan tentang Sahrial. Aku menemukannya saat dia mengikuti lomba menulis yang aku adakan saat masih Arsha Teen. Kemampuan menulis Sahrial lumayan oke. Tak tahu kenapa hatiku yakin dia punya potensi lebih. Maka ketika mendiriksn kantor, aku tak ragu menjadikannya sebagai pemimpin redaksi.


Akhirnya aku dan Sahrial menggunting pita secara bersamaan. Tepuk tangan riuh menggema di ruangan ini.


"Bapak-bapak, ibu-ibu serta hadirin yang terhormat, dengan terguntingnya pita, itu artinya CV. AT Press resmi dibuka. Para hadirin mohon tetap tinggal di tempat. Pihak panitia akan membagikan cenderamata pada Para Hadirin sekalian."


Cenderamatanya sendiri berupa buku terbitan Arsha Teen.


"Hadirin, demikianlah rangkaian acara Peresmian CV. AT Press telah selesai. Selanjutnya hadirin dipersilakan menuju ruang Santap siang, untuk mengikuti acara ramah tamah dan santap siang bersama. Buat para wartawan nanti akan dilanjutkan conferensi pers setelah makan siang."


"Atas nama penyelenggara, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat hal-hal yang tidak berkenan sepanjang pelaksanaan acara ini. Akhirnya, kami ucapkan terima kasih atas perhatian anda.


Selamat siang dan Wassalamualaikum Wr.Wb ."


MC menutup acara dengan baik. Semua pada berdiri dan menuju tempat makan. Sampai sekarang pun, Ale belum datang juga."

__ADS_1


***


Pukul 12.30


Semua tamu sudah pada pulang. Tersisa wartawan. Untuk confrensi pers. Aku sengaja mengundang mereka agar AT Press dikenal publik. Siapa tahu kan artis-artis pada menerbitkan buku di sini.


"Terima kasih yang masih bertahan hingga detik ini. Tanpa membuang waktu, conferensi pers detik ini jiga saya buka. Ada yang mau bertanya ke Bu Nazneen?" MC membuka acara.


Wartawan yang rambut yang rambung gondrong, celana robek-robek mengangkat tangan.


"Ya, Anda mau bertanya apa?"


"Saya mau bertanya, apa motivasi Mbak Nazneen mendirikan penerbit? Padahal kan sudah sukses bintang iklan, brand ambassador, bisnis lipstik dan lain-lain."


"Saya dari kecil suka membaca. Saya mengidolakn Bunda Asma Nadia. Beliau mempunyai tagline 'satu buku sebelum mati' Kenapa tidak mencoba bisnis penerbitan? Hitung-hitung membantu para penulis pemula melahirkan karya. Aku juga lihat semakin ke sini semakin banyak oknum mendirikan penerbitan." Aku menjawab pertanyaannya dengan detail.


"Ada yang mau bertanya lagi?"


Giliran cewek berambut pendek dan wajahnya seperti keturunan Tionghoa. "Iya, silakan Mbak berbaju pink, mau nanya apa?"


"Saya mau nanya, kenapa namanya AT Press?"


"Sebelum CV. AT Press, terlebih dahulu namanya Arsha Teen disingkat AT. Karena sudah terbiasa nyebut AT, jadilah diteruskan saja."


Pertanyaan berikutnya tidak jauh-jauh dari sistem menerbitkan buku di AT Press. Aku jawab saja seperti ini, "AT memiliki 2 sistem. Untuk novel, bisa seleksi rasa mayor. Gratis total. Syaratnya naskah kudu cakep bin mulus, lalu isi formulir di web AT.


 Sedangkan kumcer, kumsi dan lain-lain menggunakan sistem gratis bersyarat; wajib beli buku terbitnya 15 eks dengan DP 200k, sisanya dihitung selesai layout atau berbayar. Syarat lebih lanjut cek aja web kami www.atpressofficial.com."


Ada juga yang menanyakan kenapa logo AT Press love berwarna pink ada cincin melingkar? Aku jawab logo itu ada filosofinya. Love pink simbol cinta AT ke penulis. Sedangkan cincin melingkar simbol ikatan lebih serius. Nah, aku selaku pemilik ingin mengikat penulis dengan penuh cinta, kejujuran, amanah dan kenyamanan.


Detik demi detik terus bergulir tak terasa sudah dua jam acara conferensi pers ini.


"Ada yang ingin bertanya lagi?"


Hening. Tak ada jawaban dan Tak ada yang mengangkat tangan.


***


Pukul 17.00


Baru acara benaran selesai. Belum sepenuhnya beres, mesti beres-beres. Sebagai owner aku tetap membantu AT Family --sebutan karyawanku-- dulu. Sekadar nyapu dan memunguti tisu misalnya.


Berhubung masih baru, jadi karyawanku baru enam. Nanti aku perkenalkan mereka satu per satu.


"Oiii ... AT Family kalian capek nggak?"


"Ya, capek lah. Namun, aku bahagia akhirnya punya kantor. Tiga tahun lalu aku ikut lomba Arsha Teen eh sekarang sudah jadi pemimpin redaksi, " ujar Sahrial.


Aku senyum-senyum sendiri nostalgia masa-masa sulit Arsha Teen. Masih serba online. Editing, bikin cover, layout, daftar isbn semua kerja sendiri. Sekarang punya enam karyawan offline.


Jika Sahrial aku temukan dari lomba Arsha Teen, lima karyawan lainnya aku temukan dari berbagai tempat. Ada yang hasil rekomendasi teman. Ada yang reseller Naz Cosmetic yang ternyata juga jago jualan buku, bahkan ada yang tetanggaku sendiri.


Aku berharap ke enam karyawan ini awet kerja denganku. Mendampingiku sukses bareng-bareng.


"Gimana kalau kita makan-makan? Kalian bebas deh mau makan di mana. Anggep aja sebagai perayan suksesnya peresmianacara hari ini."


"Horee ..." Teriak AT Family serentak


***


Ternyata AT Family memilih makan di pendopo lawas. Kata karyawan cewek yang masih jomlo, siapa tahu bisa foto bareng sama Bang Tri Suaka. Penyanyi yang biasa manggung di sini, mendadak viral karena suaranya mirip Ariel Noah dan Andhika Kangen. Ganteng juga. Channel youtubenya 'Musisi Jogja Project' memiliki subcriber dua jutaan lebih.


Kami juga sepakat memesan menugudeg dan es teh. Sembari makanan belum datang, ngobrol ngalor ngidul dulu. Helen Amelia, memintaku menceritakan perjuanganku membangun AT. Aku ceritakan secara detail. Dari pernah ditipu partner percetakan, dikibulin induk, ngadepin penulis bawel.


"Wah, hebat. Kalau aku jadi Bu Naz, nggak bakal kuat." Sukma terkesima mendengar ceritaku. "Terus Bu Naz bakal tetap jadi bintang iklan sekalipun AT dah ada?"


"Tergantung sih. Kalau bayarannya gede, dan nggak bikin AT keteteran ya, why not? Siapa tau hasil di bidang lain membikin kantor AT lebih gede lagi ke depannya."

__ADS_1


"Aamiin."


Makanan pun datang. Kami menyantap dengan lahap.


***


"Kamu ke mana aja jam segini belum pulang?" ucap pria brewok yang tadi membukakan pintu.


Huft, istri baru pulang bukannya disambut senyuman malah pertanyaan yang kurang enak didengar. "Ya di kantor lah. Kan kamu tahu sendiri hari ini peresmian AT Press. Lagian kamu aku tungguin nggak datang-datang."


"Sori tadi aku mendadak ditelepon bos disuruh segera datang. Ada meeting dadakan dengan klien. Acara peresmiannya masa semalam ini?"


"Habis acara peresmian lanjut conferensi pers, ngebantu beres-beres, terus makan malam sama karyawan-karyawanku sebagai perayaan suksesnya acara peresmian ini."


"Tapi kamu itu sudah jadi seorang istri. Harusnya kamu bisa membatasi kegiatanmu."


"Kamu lupa perjanjian pranikah kita? Pasal 1 ayat 1 adalah kedua belah pihak tidak boleh saling membatasi kegiatan masing-masing. Lagipula aku menikah sama kamu demi memenuhi wasiat almarhumah ibumu yang meminta kamu cepat menikah denganku."


"Aku ingat itu. Tetap saja harusnya kamu ..."


Aku hapal betul apa yang akan diucapkan Nalesha Wirayudha. Sebelum dia ceramah panjang kali tinggi kali lebar, aku sela ucapannya. "Stop! Aku capek. Mau ke kamar dulu. Besok aja kita berdebatnya."


Setelah mengucapkan kalimat itu aku menyeret kaki ke kamar. Meninggalkan Nalesha dengan wajah semakin ditekuk.


***


Pukul 7.15 aku sudah siap berangkat ke kantor. Namun, sebelum berangkat, aku minum STMJ -susu, telur madu jahe- ini adalah minuman wajib di keluargaku setiap pagi.


Baru meneguk setengah, bola mataku menangkap sosok Nalesha keluar dari kamar. "Pagi, Naz. Udah mau berangkat ke kantor kamu?"


"Iya."


"Nggak sarapan dulu?"


"Nanti di kantor aja. Hari ini ada meeting pagi dengan tim redaksi."


Dia menghampiriku lalu duduk di meja makan. "Naz, aku rasa kita perlu bicara sekarang."


Gelas yang tadi kupegang, kutaruh di meja.


"Bicara apa lagi? Masih soal tadi malam."


"Huft, kalau soal itu nanti aja. Aku buru-buru nih."


"Nggak bisa. Harus sekarang."


"Oke, lima menit."


"Sampai kapan sih kamu kayak gini terus? Sudah setahun kita berumah tangga, tapi masih gini-gini aja. Aku pengen loh kayak keluarga lain yang terlihat romantis. Sedangkan kamu, diajak piknik aja sibuk mulu."


"Kan sudah kubilang, kalau kamu mau lebih banyak waktu bersamaku, ayo kamu masuk ke perusahaan. Dengan begitu kamu selalu ada di dekatku."


"Nggak bisa. Apa kata orang coba, yang ada nanti tetangga-tetangga pada julid 'Nalesha ternyata suami takut istri. Bekerja sebagai bawahan di kantor istrinya sendirinya."


"Ya elah, hari gini masih peduliin kata orang," cibirku. "Kalau kamu tetap mempertahankan hal itu, terima aja keluarga kita nggak seperti keluarga yang lain."


Beberapa detik berselang mengucapkan kalimat itu ponselku berbunyi. Buru-buru kuambil dari tas kerja. Aku tatap layarnya, panggilan masuk di whatsapp. Dari Pimred AT Press.


"Selamat pagi Bu Nazneen. Jadi meeting pagi ini?"


"Jadi dong. Ini saya udah otw ke kantor. Suruh anak-anak nunggu ya."


"Oke."


Klik. Telepon terputus. Kumasukkan kembali ponsel ke tas. "Mas, aku berangkat ke kantor dulu ya. Udah ditunggu karyawan. Soal ini nanti kita bahas lagi."


Buru-buru aku cium tangan Nalesha. Walau pernikahan ini kujalani setengah hati, tetapi di artikel tentang pernikahan yang kubaca, sebagai istri yang baik setiap ke manapun perlu cium tangan suami terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2