
"Akhirnya, sampai juga," decakku begitu taksi yang aku tumpangi berhenti depan rumah.
Aku melirik jam melingkar di pergelangan tangan kiri. Pukul dua dini hari. Ini semua gara-gara delay pesawat dan sekalian mengantar Ale ke kosnya dulu.
"Berapa Pak totalnya?" Aku menanyakan jumlah argo ke sopir taksi.
"300 ribu aja, Mbak."
Aku membuka dompet lalu mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan. "Makasih ya, Pak."
Aku turun dari taksi. Pak sopir membantu mengangkat koperku di bagasi. Setelah itu aku seret koper tersebut sampai ke halaman rumah. Pandanganku terhenti melihat sosok Ale berdiri tegap sambil berkacak pinggang di depan pintu.
Aku mendengkus. "Huft, bakal ngedrama dulu deh baru bisa tidur nyenyak."
"Oh, masih ingat pulang kamu?"
Sial, itu kan kata-kataku tadi pagi. Kenapa sekarang Ale malah membalikkan perkataanku ke aku?
"Emang kamu yang nginep di rumah janda padahal ngakunya lembur."
"Alah, kamu nginep nggak ngenip tetap aja menjatuhkan martabat suami."
Mataku melotot. Tak terima ucapan Ale barusan seolah mengatakan aku istri yang tak benar. "Maksudmu apa sih? Justru aku pulang malam ini juga demi menjaga martabat suami biar nggak terjadi hal nggak diinginkan. Tau gitu aku nginep di hotel aja, kalau ujung-ujung dicap berbuat aneh-aneh."
Ale mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celana. "Lalu ini apa maksudnya?"
Sekali lagi aku melotot melihat diriku sendiri di foto postingan @lambenyinyir sambil sandaran di pundak Alfian.
Admin akun gosip itu siapa sih? Tanganku gatal ingin mengirimkan santet online ke dia. Seenaknya aja mengambil fotoku tanpa izin.
"Bisa ya, seorang istri yang katanya nggak berbuat aneh-aneh malah sanderan di bahu cowok lain di tempat umum."
Ingin aku maki-maki dia. Baru sanderan di bahu cowok saja dia sudah marah-marah, apa kabar dia sendiri yang menginap di rumah janda? Aku harus tenang. Badanku serasa rontok, seolah tak ada tenaga berdebat. Aku berusaha menenangkan diri. Tarik napas dalam lalu embuskan secara perlahan.
"Gini ya, Le. Aku baru pulang. Badanku tu capek banget. Aku butuh istirahat dulu. Lagian percuma juga kan, aku jelasin gimana pun juga kamu nggak akan percaya. Hati dan pikiranmu lagi panas terbakar api cemburu. Maka dari itu besok pagi aja kita bahas lagi. Permisi."
__ADS_1
Aku lanjut menyeret koper memasuki rumah.
***
Tak sengaja aku meraba sebelah kanan. Kosong. Mataku terbuka. Ale ke mana? Apa sudah berangkat kerja? Kalau iya, baguslah. Dengan begitu pagiku tak perlu ngedrama dulu.
Ketika aku menoleh ke kiri, sudah ada nasi goreng di meja. Di sebelahnya ada secarik kertas.
*Dear Istriku Sayang.
Walaupun aku sebel sama kamu. Tapi aku nggak mau kamu sakit gegara telat makan. Dimakan ya sampe abis. Maaf kalau ke asinan. Dan maaf juga kalau aku nggak pamit dulu. Tadi Rean WA katanya aku harus buru-buru ke kantor, ada video harus diposting sebelum jam 10 pagi.
Love Ale*
Ini yang aku suka dari Ale. Separah apa pun dia sama aku dia tetap romantis. Aku menyuap nasi goreng. Hmmm ... enak.
Ale memang jago masak sejak SMA. Terlebih dia memilih ekstra kulikuler jurusan tata boga. Awal-awal persahabatanku dengannya, dia sering pamer masakan. Dia selalu memintaku menjadi orang pertama mencicipi masakannya. Setelah sekian lama berumah tangga baru kali ini dia masak lagi untukku.
Tak terasa nasi goreng sudah beralih ke perutku. Kenyang. Aku masih mager untuk mandi. Toh, dini hari hari aku sempat chat ke grup AT Family mengabarkan bahwa hari ini libur kerja dulu karena capek.
Aku bingung pagi ini enaknya ngapain ya? Mau olah raga, telat. Matahari sudah keburu tinggi. Jadilah mengambil HP buat baca-baca chat yang masuk.
Oiii ... Naz. Buruan buka pintu. Mama udah depan rumahmu nih. Jamuran tau di teras.
Buru-buru aku beranjak untuk membuka pintu.
Ketika pintu terbuka aku malah salah pokus menatap koper besar yang dibawa Mama. "Loh, Ma. Ngapain ke sini? Lagi berantem ya sama Papa?"
Mama menoyor jidatku. "Berantem, Mbahmu."
"Terus ngapain bawa koper gede?"
"Kamu sendiri kenapa kemarin ke Jakarta tapi nggak ke rumah?" Mama malah bertanya.
"Lah, wong aku ke Jakarta itu cuma buat meeting doang. Malamnya langsung pulang, jadi ngapain ke rumah Mama."
__ADS_1
"Maka dari itu Mama cus pesen tiket ke Jogja karena penasaran apa terjadi sama rumah tanggamu sampe menghebohkan sejagat Indonesia."
"Ma, bahasnya di dalam aja yuk biar enak."
Ketika Mama masuk ke rumah, beliau celingak-celinguk. Aku yang peka langsung tau siapa yang dicari beliau.
"Nyari Ale ya, Ma. Percuma. Dia nggak ada di rumah. Udah berangkat kerja."
"Di mana sih kantornya? Bawa Mama ke sana dong, Mama mau ngelabrak Ale beserta janda gatel itu."
"Nggak usah, Ma. Nanti malah memperkeruh keadaan. Aku bisa kok nyelesaikan masalah rumah tanggaku sendiri."
"Tapi kamu sebagai istri jangan lembek dong. Kami harus tegas. Jangan mau diinjak-injak suami. Blablabla." Mama mengoceh panjang kali tinggi kali lebar.
Duh, bisa panas kuping mendengar ocehan Mama seharian. Satu pertanyaan terbesit di benakku. Apa aku masuk kerja aja ya?
Seketika aku menepuk. "Astaga, Ma. Aku lupa hari ini ada meeting dadakan di kantor. Aku berangkat kerja dulu ya. Nanti malam kita bahas masalah ini sama Ale. Mama baik-baik di rumah ya. Kalau laper tinggal ke dapur aja. Bentar lagi Mbak datang."
"Yeee ... kebiasaan deh. Mama kasih tau malah ngeloyor pergi. Oi, Mama belum kelar ceramah!" teriak Mama yang masih mengoceh.
Aku tak peduli. Terus melangkah ke kamar buat mandi dan siap-siap ke kantor. "Ceramahnya lanjut nanti malam aja, Ma."
***
Kedatangaku di kantor disambut tatapan heran sama Alfian. "Loh, Bu Naz, katanya nggak masuk kantor. Tapi kok sekarang datang? Apa cuma mau ambil barang doang?"
"Tadinya sih mau nggak masuk aja, tapi mendadak Mama saya datang ke rumah. Daripada dengerin beliau ngoceh seharian mending saya ngantor aja."
"Hahaha ... bisa aja kamu."
"Yan, kamu sibuk nggak?"
"Tadi sih Mbak Wardah cuma nyuruh nyari naskah potensi di platform baru buat dipinang doang. Kenapa emang?"
"Bisa nggak nemenin saya. Saya lagi suntuk nih. Kita ke mana gitu."
__ADS_1
"Bisa sih. Ya udah aku pamit ke Mbak Wardah dan Sahrial dulu."
Aku tunggu Alfian di mobil. Lima menit kemudian dia muncul. Kami pun berangkat. Padahal aku sendiri belum tahu tujuannya ke mana. Kita lihat hati mau pergi ke mana.