Suami Cadangan

Suami Cadangan
Chapter VIII (Nazneen Faiha)


__ADS_3

Aku kepagian datang ke kantor. Belum ada satu pun karyawan yang sudah tiba. Wajar sih ini baru pukul 08.30. Sedangkan jam kerja pukul 09.00. Ini gara-gara Ale. Semalam tidak pulang, jadi aku malas di rumah pagi-pagi. Berasa sepi. Tak ada perdebatan seperti biasa.


"Eh, Bu Nanas. Tumben datang lebih awal? Jadi malu bos datang duluan dibanding karyawan," ujar Alfian yang baru datang.


Tadinya aku ingin jawab alasan sebenarnya datangbke kantor lebih awal. Namun, aku urungkan. Tidak etis membuka aib rumah tangga di depan pria lain. Pria itu statusnya sudah jadi mantan pula.


"Hari kan Senin, jaga-jaga aja biar gak kena macet. Biar saat kalian sudah datang bisa langsung meeting. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian." Aku berbohong padanya.


"Mak Bos udah datang? Udah liat gosip terhot di instagram Lambe Turah belum?" Wardah yang baru datang heboh sendiri. Sialnya aku tak mengerti apa yang dia maksud.


Aku mendelik padanya. "Gosip apa sih? Penting banget gitu saya tahu gosip itu?"


"Iya, bener. Penting banget Mak Bos tahu gosip itu."


Aku jadi penasaran. Aku ambil ponsel pintar dari tas. Lalu membuka akun instagram. Di beranda langsung ada postingan Lambe Turah. Mataku seketika melotot tajam menatap layar ponsel.


Akun gosip terpopuler di instagram mempublikasikan foto pria tidur posisi duduk di sofa. Di sebelah pria itu terlentang seorang selebgram janda. Selebgram tersebut aku kenal sebagai Gia. Sialnya lelaki bersebelahan dengan Gia tak lain dan tak bukan adalah suamiku sendiri.


Lebih membikin panas lagi ketika membaca captionnya.


"Aku nggak nyangka di zaman sekarang masih ada cowok super baik. Dia rela berkorban demi menyelamatkan bosnya dari dua preman bengis. Dia juga setia menjaga bosnya sampai tenang. Uh, ambyar hatiku. Andai aku jadi Non Gia, udah aku lamar cowok ini."


Marah, sedih, kesal bercampur jadi satu. Aku tak menyangka Ale tega melakukan ini padaku. Aku tahu Ale menikahiku tanpa cinta karena wasiat ibunya. Tak begini caranya menyakiti hatiku. Melakukan ini sama saja menginjak-injak martabatku sebagai istri. Padahal selama berumah tangga dengannya, aku mati-matian menjaga nama baiknya. Inikah balasan dia untukku?


"Bu Nanas jangan kepancing emosi dulu. Belum tentu apa yang dilihat sesuai kebenaran. Foto bisa dimanipulasi. Daripada suuzhon mending nanti Bu Nanas tanya langsung ke suami Bu Nanas tentang kebenarannya. Daripada pikiran Bu Nanas panas sama akun gosip, mending semangat kerja saja." Alfian mulai mengeluarkan kalimat bijaknya.


Apa yang dikatakannya ada benar juga. "Kamu benar. Daripada suuzhon mending kerja. Oh iya, saya ke ruangan dulu. Begitu semua karyawan sudah datang, tolong suruh mereka ke ruang meeting ya. Ada yang mau saya sampaikan ke kalian."


"Siap, Bos."


***


Semua karyawan sudah menduduki kursi masing-masing di ruang meeting. Ini waktunya aku membuka pembahasan.


"Begini, saya ingin menyampaikan kabar baik ke kalian semua.


"Kabar apa?" Tanya mereka antusias.


"Proposal kerja sama AT dengan platform Noveltoon diacc sama mereka. Namun, mereka meminta saya datang langsung ke Jakarta guna membahas konsep kerja sama lebih lanjut. Di antara kalian siapa yang berkenan menemani saya ke Jakarta? Nggak nginep kok. Berangkat subuh, sore udah pulang." Mataku tertuju ke Wardah, Helen dan Sukma. Aku maunya yang menemaniku itu cewek. Biar aman dari fitnah.


"Saya sih ingin menemani Bu Nanas, tapi kan ibu tahu saya rempong punya anak balita. Ribet bawa anak. Ditinggal dia nangis kejer begitu liat emaknya pergi bawa tas gede," jawab Wardah diiringi nada tak enak.


Pandanganku beralih ke Helen. "Aduh, saya juga gak bisa. Kalau saya pergi, yang mandiin Nenek siapa? Sekalipun ada suster, dia nggak mau mandiin Nenek saya."


Ah, aku lupa. Helen sedari kecil memang hanya tinggal sama neneknya. Sejak setahun lalu neneknya lumpuh dan buta. Mau tak mau Helen lah yang merawat neneknya itu.


Harapanku tinggal Sukma. "Kalau kamu gimana, Suk?"


"Saya juga nggak bisa, Bu. Saya tiap pagi bantu ibu bikin kue buat dijual ke sekolah-sekolah. Kalau saya pergi, ibu saya nggak bisa jualan dong? Adik-adik saya nanti nggak dapat uang jajan."


Jujur aku kecewa di antara mereka bertiga, tak ada yang bisa menemaniku ke Jakarta. Namun, apa boleh buat. Sebagai bos tak bisa memaksa.


"Kalau Bu Nanas berkenan, saya mau menemani ibu ke Jakarta," sambar Alfian.


Dari sekian banyak karyawanku, kenapa harus Alfian yang mengajukan diri menemaniku ke Jakarta. Inginnya sih langsung menolaknya, tetapi siapa tahu dia bisa dibutuhkan saat meeting dengan tim Noveltoon. Lagipula daripada pergi sendiri, lebih baik berdua kan? Anggap saja lagi dinas. Toh, tak menginap. Sepertinya aman pergi sama dia.


"Terima kasih, atas ketersediaan Anda menemani saya ke Jakarta. Besok kita berangkat. E-tiket nanti saya kirimkan ke emailmu. Buat Sahrial, tolong jaga kantor dan karyawan baik-baik. Buat kalian bertiga ... " Tanganku menunjuk Wardah, Helen dan Sukma. "Kalau ada apa-apa laporannya ke Sahrial, jangan ke saya. Sekiranya itu saja yang saya sampaikan ke kalian. Meeting hari ini cukup sudahi sampai di sini."

__ADS_1


***


Benefit :


-Pihak Noveltoon akan dapat banyak member dari event yang diadakan oleh AT Press.


-Semakin memperkenalkan Noveltoon di semua sosial media AT Press.


-Mendapatkan komisi 20% dari harga penjualan novel yang terbit di AT Press.


(Jika naskah Noveltoon diterbitkan dalam bentuk cetak.)


Aku sengaja pulang lebih lama lagi, selain malas ketemu Ale, aku sibuk mempersiapkan bahan presentasi buat meeting besok.


"Loh, Bu Naz belum pulang?" tegur Alfian yang tahu-tahu masuk ruanganku. Aku pikir semua karyawan sudah pulang.


"Lagi sibuk, nyiapin bahan meeting besok."


"Kalau boleh tau besok kita meeting dengan Noveltoon bahas apa saja?"


"Membahas kerjasama. Kemarin tuh saya mengajukan proposal kerjasama dengan Noveltoon dalam tiga hal. Memasukkan terbitan AT Press ke Noveltoon. Kedua meminang naskah-naskah Noveltoon versi cetak di AT Press. Ketiga mengadakan lomba menulis bersama. Selengkapnya saya kirim aja bahan presentasinya ke emailmu ya."


"Oke."


Aku menggerakkan kursor mengirim file ke Alfian lewat email. "Nah, udah kirim. Coba cek."


Alfian mengambil gawai dari saku kemejanya. "Oh, iya. Udah masuk. Nanti malam aku pelajari filenya."


***


Bleezer warna navy, celana panjang warna item, pakaian dalam, pembalut, perlengkapan mandi, make up, semua sudah masuk koper. Apalagi ya yang kurang? Lima menit mencoba mengingat-ingat akhirnya tahu juga apa yang kurang. Changeran HP. Kuambil benda itu lalu dimasukkan ke koper.


"Mau ke mana kamu? Kok ngemasin koper?" Terdengar suara Ale di belakangku.


"Oh, masih inget pulang juga?" Aku bertanya dengan nada menyindir.


"Kok malah nanya balik sih? Tinggal jawab aja pertanyaanku."


"Ke Jakarta buat meeting sama platform. Kan aku sudah bilang kemarin."


"Jadi juga pergi? Sama siapa perginya? Sendiri?"


"Sama karyawanku."


"Cowok atau cewek?"


"Cowok."


"Kamu apa-apaan sih? Kamu itu istrinya aku, masa perginya sama cowok? Mana nggak izin pula. Sama aja kamu mencoreng nama baikku. Apa kata orang coba?"


"Abis gimana dong suamiku sendiri malah nginep di rumah janda. Padahal ngaku kerja lembur. Itu namanya menjaga martabat istri? Udah lupa sama perjanjian pra nikah kita? Mana fotomu udah terpampang nyata di akun gosip pula. Jutaan umat udah liat kali. Nggak tau lagi deh klo mamaku liat, nanti aku akan bilang apa ke Mama. Telanjur malu."


Pikiranku flashback ke masa saat memutuskan menikah dengan Nalesha dan mengajukan perjanjian pra nikah.


***


Saya yang bertanda-tangan di bawah ini :

__ADS_1


 


Nama : Nalesha Wirayudha


NIK ; 6303155609860001


Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta, 27 Juli 1986


Profesi : Editor Video


Bersedia menandatangi perjanjian pra nikah dengan Saudari Nazneen Faiha. Adapun pasal\-pasal pra nikah antara lain :


 


Kedua belah pihak harus saling menghargai profesi masing-masing.


Kedua belah pihak harus saling menjaga nama baik dan martabat satu sama lain


Bersedia menyediakan tempat tinggal yang layak.


Bersedia menyediakan Asisten Rumah Tangga.


Jika salah satu berselingkuh maka bersedia membayar denda sebesar Rp. 500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah).


Surat perjanjian pra nikah ini ditandatangani atas kesadaran penuh dan tanpa paksaan siapapun.


Tertanda, Jakarta 10 Februari 2018.


Nalesha Wirayudha.


Setelah semalaman penuh berpikir terkait lamaran Nalesha, aku memutuskan untuk menerima pinangannya. Dengan satu syarat dia harus menandatangi surat perjanjian pra nikah yang aku ajukan.


“Apa-apaan ini mau nikah aja make tanda tangan pra nikah segala!”


Sudah aku duga Nalesha pasti protes dengan apa yang kuajukan padanya. “Denger ya, Le. Gue sudah merelakan diri menikah tanpa cinta sama lo. Dan gue nggak mau hidup gue menderita. Terserah sih. Kalau nggak mau tanda-tangan ya gue juga nggak bakal mau menikah sama lo.”


Nalesha terdiam seraya memperhatikan kertas perjanjian pra nikah di atas meja. “Oke, gue mau menandatangani surat perjanjian pra nikah ini.”


***


Nalesha melambaikan tangannya di depan mataku. “Loh, kamu kok malah bengong?”


Seketika aku tersadar dari lamunanku.


“Sori. Aku tadi ingat masa-masa menandatangi surat perjanjian pra nikah. Kini perjanjian pra nikah tersebut tak ada gunanya karena kamu dengan mudahnya melanggar pasal nomor dua.”


"Tapi Naz, aku nggak melanggar pasal perjanjian pra nikah itu. Aku nggak selingkuh. Apa yang kamu lihat nggak seperti kenyataannya. Aku cuma mau niat nolong Gia. Nggak lebih. Terus Mami Gia trauma dan takut preman balik lagi, makanya minta ditemanin. Tadi malam aku tidurnya di meja makan. Aku sendiri juga ngga tau kenapa paginya ada di samping Gia." Ale berusaha panjang kali tinggi kali lebar. Namun, aku nggak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Terus kamu bilang, kamu ngigo jalan ke sebelah Mami Gia sambil merem? Nggak masuk akal. Udah lah. Simpan aja alasanmu pas aku pulang nanti."


"Naz, aku ikut. Kemarin tu aku udah minta cuti ke Mami Gia. Diizinin. Tadinya hari ini mau ngasih tau, ada udah keburu ada tragedi nggak ngenakin."


"Nggak usah. Aku perlu waktu sendiri dulu. Lagian aku ke Jakarta nggak nginep. Malam udah pulang ke sini lagi. Kalaupun terpaksa nginep paling ke rumah Mama dan Papa."


"Udah ah. Males ngomong sama pembohong. Toh, lebih juga nggak masalah. Dari awal juga aku dinikahin cuma karena wasiat Ibu."


Aku menutup koper. Lalu menyeretnya keluar kamar. Ya, aku malas seranjang dengan Ale. Terpaksa malam ini aku tidur di kamar tamu terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2