
...💖💖💖...
Silfia membatin, dengan menikmati sarapannya, aku harus bisa tenang Silfia, ingat ada papa dan ibu. Kau tidak sendiri, sabar. Ini akan berlalu dengan cepat. Kau bisa menghadapinya dengan mudah. Wahyu kaka ipar mu sekarang!
Nandita mendudukan dirinya di kursi bersama dengan Wahyu, mereka duduk di kursi yang ada di sebelah orang tua Wahyu.
Naimah dan Emi, sama sama memperhatikan rambut Nandita yang agak basahhh di biarkan terurai. Bahkan pakaian yang Nandita pakai menjadi sorotan tajam Radi. Dengan belahan leher yang amat rendah, memperlihatkan belahan dada Nandita yang tampak menyembul sedikit. Dan beberapa titik ke unguan yang tampak di leher mulus Nandita.
Radi membatin, benar benar anak ini membuat ku geram! Jika bukan karena Naimah, sudah ku coret kau dari daftar nama keluarga. Sudah lama pula kau.. ku usir dari rumah ini! Kelakuan mu sama buruknya dengan tingkah ibu kandung mu!
"Kenapa kau tidak duduk di samping Silfia, Dita?" tanya Naimah pada putri tertuanya.
"Maaf bu, untuk seterusnya aku akan duduk di samping suami ku!" ucap Nandita dengan menatap wajah Wahyu, "Bukan begitu, sayang?"
"Terserah kau saja!" ucap Wahyu dengan cuek.
Dari bawah meja, Nandita menendang kaki Wahyu dengan kakinya, dengan tatapan matanya yang tajam pada Wahyu.
Bugh.
"Uhh!" Wahyu mengerang.
"Apa ada, Wahyu?" tanya Emi yang mendengar erangan sang putra.
"Tidak apa bu." Wahyu tersenyum pada ibunya.
Nandita menyendokkan nasi goreng dengan lauk ayam goreng, mie goreng, kentang goreng, udang udang balado, tumis kangkung ke dalam piring Wahyu.
Nandita meletakkan piring itu di atas meja, di depan Wahyu duduk, "Kau harus makan yang banyak, sayang! Biar kau ada tenaga untuk bercocok tanam siang ini!" seru Nandita dengan suaranya yang sensualll.
Emi mengerutkan keningnya, menatap penuh selidik pada Wahyu, "Sejak kapan kamu bisa makan udang, Wahyu?"
"Sejak saat ini, mama mertua. Apa pun yang aku sajikan, itu yang akan di makan Wahyu." ucap Nandita dengan tegas.
Silfia membuang nafasnya dengan kasar, "Sejak kapan orang yang alergi udang, harus terbiasa makan udang? Itu sama saja dengan kaka membunuhnya secara perlahan!"
Nandita mengerutkan keningnya, menatap Wahyu dengan tajam, "Apa benar yang di katakan Silfia? Kamu alergi udang, sayang?"
Radi menggelengkan kepalanya, "Kau memang anak yang tidak berguna, jangan membuat mu menjadi istri yang tidak berguna pula!" decak Radi dengan beranjak dari duduknya.
"Papa mau ke mana?" tanya Naimah.
"Papa sudah kenyang." jawab Radi dengan singkat.
"Jika pak besan sudah selesai sarapan, nanti bisa kita mengobrol sebenar? Ada yang ingin aku tanyakan pada mu, pak besan!" oceh Radi dengan tatapan mengarah pada Eko.
"Boleh pak, ke betulan saya juga sudah kenyang." ucap Eko yang kini beranjak dari duduknya.
"Aku juga sudah kenyang." Silfia beranjak dari duduknya, membawa piring bekas ia makan dan membawa piring bekas ayahnya makan bersamanya.
__ADS_1
"Mau kau apakan piring piring itu, nak?" tanya Emi dengan tatapan hangat pada Silfia.
"Aku akan mencucinya, tante." jawab Silfia.
"Selain cantik, tahu apa yang tidak di makan oleh Wahyu, kau juga rajin ya Silfia. Bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Entah apa yang bisa di lakukan Dita untuk Wahyu. Jika alergi udang Wahyu saja, Dita tidak mengetahuinya!" ejek Emi dengan tatapan tidak suka pada Nandita.
"Maaf, mama mertua. Wahyu alergi dengan udang... aku tidak mengetahuinya, itu juga salahnya sendiri, tidak mengatakannya pada ku!" ucap Nandita dengan ketus.
"Dita, jangan bicara begitu pada mama mertua mu! Jaga sopan santun mu, nak!" tegur Naimah dengan wajah yang tidak enak hati pada Emi, besannya.
"Jika sudah dasarnya saja tidak sopan, sampai kapan pun tidak akan bisa sopan, bu." ucap Emi dengan tersenyum sinis pada Nandita.
Nandita melanjutkan makannya, mengabaikan ocehan Naimah dan Emi, yang jelas jelas sedang membicarakannya.
"Ini semua karena adik sialannn ku, dasar kau Silfia!" gumam Nandita yang masih bisa di dengar Wahyu.
"Jangan kau salahkan Silfia, ini juga salah mu yang tidak bisa menghormati orang tua ku! Kau juga! Istri macam apa yang tidak tahu, apa yang tidak bisa suami mu makan!" gumam Wahyu dengan berbisik di telinga Nandita.
Naimah dan Emi yang sudah tidak nyaman dengan meja makan, memilih meninggalkan meja makan, dan membiarkan dua orang pengantin baru itu melanjutkan sarapannya.
Nandita menghempaskan sendok yang ada di tangannya dengan kasar, hingga berdenting saat sendok itu menyentuh piring.
Ting.
"Mau mu apa sih! Tidak bisa kah kau membela ku; Aku ini sekarang istri mu! Dan dia! Dia hanya mantan mu!" Nandita menunjuk jari telunjuk kanannya ke arah Silfia, yang baru saja ke luar dari dapur karena sudah selesai dengan piring yang tadi ia cuci.
"Kalian kalo ada masalah, selesaikan lah dengan baik baik. Dan selesaikan masalah kalian berdua di kamar! Bukan di meja makan, tidak baik jika di lihat ibu dan papa!" sungut Silfia yang berlalu meninggalkan ke duanya.
"Aku benar benar merasa tidak nyaman dengan situasi rumah ini! Baru hari pertama setelah pernikahan ke duanya. Rumah ini bak neraka yang selalu ada pertengkaran. Tidak malu apa mereka berdua! Sebentar sebentar memamerkan ke mesraan, sebentar sebentar mempertontonkan perdebatan, benar benar pasangan gila." gumam Silfia dengan mengedarkan pandangannya di setiap sudut kamarnya, namun tatapannya terhenti saat tatapannya mengarah pada meja riasnya.
Tangannya terulur melihat tiket pesawat atas nama dirinya dengan tujuan Bali.
"Sayang juga jika aku tidak gunakan ke sempatan ini. Mungkin aku tidak bisa pergi ke Bali dengan mu, Wahyu sebagai suami istri. Tapi aku bisa ke sana dengan menghibur hati ku, menjernihkan kembali hati ku!" Silfia menyeringai.
Dengan tas ransel di punggungnya, membawa beberapa baju untuk ia ganti, serta hape yang selalu ada di dalam saku celana yang ia kenakan.
Siang hari di saat rumah tengah sepi tidak ada orang, Silfia meninggalkan rumah.
"Maaf papa, ibu, aku butuh waktu. Aku butuh ketenangan. Aku sayang kalian." ucap Silfia dengan meninggalkan sepucuk surat yang ia letakkan di kamar orang tuanya.
"Gak di jemput, Non?" tanya pak satpam, saat membukakan pintu gerbang untuk Silfia.
"Gak pak, saya udah pesan taksi." ucap Silfia dengan santainya.
Tidak berapa lama menunggu, sebuah taksi berhenti di depan Silfia.
"Mbak Silfia? Tadi memesan taksi?" ucap sang supir yang menurunkan kaca mobilnya, hingga wajahnya dapat di lihat oleh Silfia.
"Benar pak!" Silfa langsung mendudukan dirinya di depan, samping pak supir.
__ADS_1
"Hati hati, Non!" ucap pak satpam, sepertinya ada yang aneh. Aku coba hubungi mas Teddy aja lah kalo gitu.
Pak satpam yang sudah mendapatkan amanah dari Teddy, tanpa ragu langsung menghubungi Teddy lewat hapenya.
"Siang mas Teddy, ini saya mas... pak Mamat, satpam yang bekerja di rumah Non Silfia."
[ "Ah iya, ada apa pak?" ] ucap Teddy di seberang sana.
"Baru beberapa menit yang lalu Nona Silfia meninggalkan rumah dengan tas ransel di punggungnya, mas. Saya curiga bapak dan Nyonya tidak tahu ke pergian Nona. Karena bapak dan Nyonya sedang tidak berada di rumah. Nona juga pergi dengan menggunakan taksi. Tidak seperti biasanya Nona bersikap seperti ini, mas!"
[ "Makasih pak atas infonya, nanti saya akan coba cek ke mana Silfia akan pergi." ] ucap Teddy yang lantas mematikan sambungan teleponnya.
Beberapa jam kemudian, Silfia menginjakkan kakinya di depan hotel tempat ia akan menginap selama di Bali.
"Aku datang Bali. Semoga aku bisa kembali ke Jakarta dengan pemikiran dan hati ku yang jernih kembali."
Bugh.
"Maaf Tuan, aku tidak sengaja!" ucap Silfia dengan membungkukkan tubuhnya sedikit dan berlalu.
Tubuhnya yang lelah, tidak memperhatikan orang yang tidak sengaja ia tabrak saat ke luar dari lift. Sedangkan pria itu dengan seringai licik, menatap punggung wanita yang tadi menabraknya.
Beberapa jam di kamar hotel, akhirnya rasa bosen menyelimuti hati Silfia. Silfia menikmatiii indahnya pantai di langit yang senja seorang diri. Menyusuri bibir pantai dengan bertelanjang kaki, menikmati butiran pasir dan hempasan ombak yang menerpa kakinya. Dengan tangannya yang menenteng sendal yang tadi ia kenakan.
Sepasang mata dengan menyeringai, sepaket dengan senyum licik menghiasi wajah pria bule dengan kepala plontos, tubuh tegap atletis, dengan berkulit gelap, duduk di kursi pantai dengan memandangi Silfia, wanita yang tidak ia kenal. Yang mencuri perhatiannya sejak tadi.
"Akhirnya aku menemukan mu!" seru pria itu dengan menggoyangkan minuman kemasan yang ada di tangannya. Dengan ini, akan membawa mu untuk menghangatkan ranjang ku!
Pria asing itu beranjak dari duduknya, dan menghampiri wanita yang tadi menabrak tubuhnya di depan lift. Dengan membawa minuman kemasan di tangannya.
"Minum untuk mu, Nona cantik!" serunya setelah berdiri di samping wanita yang sudah ia incar. Tangannya terulur menyodorkan minuman yang ia bawa.
Silfa menoleh dan keningnya mengkerut, "Tidak terima kasih, Tuan! Aku tidak haus!" siapa pria asing ini, menyeramkan... tiba tiba saja berdiri di samping ku.
"Kau tidak perlu takut pada ku! Aku hanya menawarkan kau minum, ini masih baru Nona! Tidak mungkin aku memberinya obat kan?" ucap pria asing yang tau arah pikiran wanita yang ada di hadapannya.
"Wajarkan! Aku hanya was pada, Tuan." ucap Silfia dengan tangan yang meraih minuman kemasan yang di berikan pria asing itu.
Silfia membuka tutup minumannya dan menenggaknya sedikit, "Rasanya cukup enak." gumam Silfia.
"Aku Josua! Siapa nama mu!"
"Aku Silfia. Terima kasih atas minumannya." kepala ku berat sekali, apa karena aku terlalu lama kena sinar matahari sore!
Josua menyeringai, akhirnya aku mendapatkan mu, hahaha, masuk perangkap kau, Nona!
🥀🥀🥀 Bersambung 🥀🥀🥀
...🍂🍂🍂🍂...
__ADS_1
Semoga kalian suka dengan ke haluan author gabut 🤭🤭
Jangan lupa like dan ti ggalin jejak komen, oke 😉