
Nasi goreng, gudeg, oseng-oseng tempe sudah tersaji di meja makan. Aku sengaja masak spesial untuk Ale. Dalam rangka memberikan kejutan.
Aku melirik jam dinding. Sudah pukul 06.00 sore. Ale pulang kerja. Sejak dia resign dari Mami Gia, dia diterima kerja sebagai editor video sebuah perusahaan animasi Yogyakarta. Aku mengambil HP mencoba menelepon Ale.
"Aku pulang!" teriak Ale.
"Panjang umur kamu. Padahal mau nelepon nanyain jam berapa pulang."
Mata Ale berbinar tatkala melihat tiga makanan favoritnya tersaji di meja makan. "Wah, enak nih."
"Semua aku yang masak loh."
"Tumben rajin," ucap Ale dengan nada mengejek.
Aku memanyunkan bibir. "Emang nggak boleh sekali-kali aku masak untuk suaminya? Ini dalam rangka ngasih kejutan spesial."
Dahi Ale mengernyit. "Kejutan apa?"
"Bentar aku ambil barangnya dulu."
__ADS_1
Aku pergi ke kamar untuk mengambil sebuah kotak kecil. Lalu kembali lagi ke ruang makan dan memberikan kotak itu ke Ale. "Kejutannya ada dalam kotak ini."
"Aku buka ya."
Ketika kotak sudah dibuka Ale. Cowok di depanku ini malah melemparkan tatapan bingung. "Tespack? Dua garis merah? Ini punya kamu?"
Sumpah, aku gemas. Rasanya pengen nabok Ale. "Iyalah. Masa tespack tetangga yang aku tunjukin ke kamu?"
"Itu artinya?"
"Artinya kita akan jadi Papa Mama."
Ale memelukku erat dari belakang. Ia juga menghujaniku dengan kecupan mesra dari kening, pipi, bibir sampai ke leher. "Makasih ya, Sayang udah berkenan mengandung anak kita."
Terbukti sejak aku dan Ale saling bicara tentang apa mauku dan mau dia, kami berusaha saling membahagiakan. Akhirnya lama-lama cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Bonusnya lagi Tuhan menitipkan anugerah luar biasa dalam rumah tangga kami.
"Karena kamu udah ngasih aku hadiah, aku juga mau ngasih hadiah buat kamu. Mau jalan-jalan nggak?"
"Mau. Tapi ke mana?"
__ADS_1
"Liat aja besok."
***
Ale membawaku ke Puncak Becici, sebuah bukit panorama indah dan banyak dikunjungi wisatawan. Lokasinya sih nggak jauh dari kantor AT Press. Kurang lebih 30 km. Kabar burung beredar bukit ini menjadi favorit Obama ketika di Yogyakarta.
Baru lima menit main ayunan. Bola mataku menangkap sosok yang kukenal, sosok yang nyaris menghancurka rumah tanggaku dengan Ale. Siapa lagi kalau bukan Alfian dan Gia?
"Wah, romantis banget Bu Naz dan Pak Ale."
Shit. Aku sudah pura-pura nggak lihat eh malah dia menegur duluan. Aku membuang muka males lihat muka munafiknya mereka.
"Kok kalian bisa bareng?"
"Karena gue sadar, jodoh gue ternyata Gia." Alfian mengambil sebuah undangan dari totebag. "Ini undangan pernikahan kami bulan depan. Kalian datang ya."
Aku takjub. Nggak menyangka mantanku aan menikah dengan mantan bos suamiku. Hidup memang penuh kejutan ya. Aku harap setelah ini mereka bahagia dan nggak ganggu pernikahanku dengan Ale lagi.
The end
__ADS_1
***
Thank u buat yng udah setia mengikuti kisah Nazneen dan Ale dari awal sampe akhir. Mon maaf nih readers, harus gue tamatin. Udah 25k kata. Pas sama outlinenya. Gue nggak sanggup manjang-manjagin cerita. Gue juga fokus lomba platform sebela. Namun, kisah AT Series ada sekuelnya kok. Tokohnya karyawan AT Press yang lain. Tunggin aja. Lope u all 💝💝💝