Suami Cadangan

Suami Cadangan
Chapter XIII (Alfian Nur Budiarto)


__ADS_3

Nazneen menghentikan laju mobilnya tepat di Gamplong Alam Studio. Dari artikel yang gue baca di internet, pembangunan tempat ini didanai oleh Mooryati Soedibyo --bagian dari PH Sultan Agung-- dan kemudian dihibahkan kepada warga desa setempat. Resmi dibuka untuk tempat wisata edukasi 2018. Mendadak viral ketika dipakai untuk syuting film Bumi Manusia.


Berhubung sudah pada tahu sama Gamlong, jadi gue nggak perlu jelasin lagi ada apa aja di tempat ini.


"Naz, ngapain kita ke sini?"


"Gue juga nggak tau. Ibarat pepatah mengikuti ke mana kaki melangkah. Nah, kalau gue mengikuti ke mana tangan gue menyetir. Berhubung udah capek, ya udah ke sini. Lu nggak suka? Biar gue cari tempat lain."


"Suka banget. Gue dari dulu pengen ke sini. Nggak kunjung kesampaian."


"Ya udah, yuk turun."


Akhirnya kami turun. Jika biasanya tempat wisata lain biaya masuknya mahal, di Gamplong justru suka rela saja. Katanya buat biaya perawatan saja.


"Naz, kita ke mana dulu nih?"


"Lu laper nggak?"


"Dikit sih."


"Ya udah kita nyemil di sana aja." Nazneen menunjuk sebuah rumah. Menurut gue lebih cocok disebut gubuk.


Ketika sampai di tempat, gue terkejut. Banyak orang. Ternyata tempat ini warung kopi. Diatur sedemikian rupa biar terkesan seperti warung zaman dulu. Bahkan pelayannya pun berbaju lusuh memebawa kertas lecek berwarna cokelat dan pena bulu ayam. The best emang. Gamplong bisa membuat pengunjung berasa di era tahun zaman dahulu kala.


"Permisi, Mas, Mbak, mau pesan apa?"


Pelayan itu memberikan buku menunya yang didesain seperti papan pengumuman raja. Ada tempe mendoan, pisang goreng, telo, tahu goreng."


Gue melirik Naz. "Mau pesen apa, Naz?"


"Gue tempe mendoan sama es teh aja."


Melihat-lihat menu, gue memilih pisang goreng sama es teh. "Mas, saya pesen tempe mendoan 1porsi, pisang goreng 1 dan es teh 2."


"Baik mohon ditunggu."


Sembari menunggu pelayan mengantar makanan, gue selfi-selfi dulu.


"Yan, sebelum pelayan datang, gue boleh curhat nggak?"


Ucapan Naz langsung membuat gue menghentikan aktivitas selfi-selfi. "Boleh lah. Curhat masa dilarang? Keluarin aja semua uneg-uneg lo. Gue siap dengerin."


Nggak tau kenapa bawaannya tuh pengen merekam apa yang dicurhatkan Nazneen. Firasat gue mengatakan berguna dikemudian hari. Berhubung lagi megang HP, langsung gue klik tombol play di aplikasi perekam suara.


"Gue lagi kacau banget nih. Tadi malam pas nyampe rumah gue berantem lagi sama Ale. Ale marah besar gegara liat foto di akun gosip yang di mana ada wajah gue senderan di bahu lo. Untung wajah lo nggak keliatan." Nazneen mulai bercerita. "Lebih bikin gue kacau lagi tadi pagi Mama gue dari Jakarta datang. Beliau pasti marah-marah dan usaha biar kami nggak berantem lagi. Gue tau banget Mama itu paling nggak suka perceraian. Perceraian di mata beliau itu aib. Beliau nggak mau gue jadi janda karena stigma masyarakat janda itu jelek. Gue bingung mesti gimana?" Dia melanjutkan ceritanya.


Nazneen tertunduk. Rambutnya terjuntai ke wajahnya. Nggak lama kemudian air matanya jatuh. Gue pindah tempat duduk ke sebelahnya.


Gue mengelus-ngelus pundak Naz. "Sabar ya, Naz. Ini ujian rumah tangga buat lu," ujar gue akting. Padahal gue bahagia banget. Usaha gue tadi malam berhasil. Namun, satu sisi sedih melihat air mata Naz.

__ADS_1


Dua pertanyaan di benak gue. Apa Naz bahagia dengan pernikahannya? Apa yang membuat Naz mau menikah dengan Ale? Gatel pengin menanyakan itu, tapi takut Naz makin sedih. Kalau nggak ditanyain gue penasaran setengah ******. Aduh, serba salah gue.


"Naz, gue mau nanya 2 hal."


"Nanya apa?"


"Lu janji ya nggak bakal tersinggung?"


"Iya."


"Apa lu bahagia dengan pernikahan sama Ale? Apa yang membuat lu mau menikah dengan Ale?"


Akhirnya dua pertanyaan itu keluar dari mulut gue. Daripada gue mati penasaran.


"Gue sama Ale itu udah sahabatan lama banget. Gue menikah sama Ale, sekitar dua tahun lalu karena wasiat ibunya dan didesak Mama. Umur 33 tahun tapi belum nikah-nikah. Mama udah nggak tahan dibully tetangga punya anak perawan tua. Awalnya gue kira bakal bahagia menikah sama sahabat gue sendiri. Nyatanya bahagia bentar doang. Nyebelinnya Ale makin hari makin kelihatan. Yang membuat gue nggak nyaman itu Ale terobsesi sama pernikahan bahagia orang lain, nggak bisa jadi sandaran gue dan sekarang lu tau sendiri apa yang dia perbuat." Nazneen menceritakan secara panjang lebar. Air matanya makin deras mengalir di pipinya.


Untung gue bawa sapu tangan. Gue keluarkan dari celana. Lalu gue serahin ke Nazneen. "Nih, sapu tangan. Kamu usap sendiri ya. Kalau aku yang usapin ntar ada admin Lambe Turah yang memotret kita. Hahaha." Gue berusaha melawak. Malah garing. Nazneen sama sekali nggak tertawa.


Jujur gue prihatin mendengar ucapan Nazneen. Dia menikah tanpa cinta selama dua tahun. Dia berusaha mati-matian mempertahankan rumah tangga seperti itu sampai dua tahun. Pasti hatinya sangat tersiksa. Semakin membikin gue bertekad merebut Nazneen dari Ale.


"Seandainya nih, gue ngajuin diri jadi suami cadangan lu gimana? Kalau suami utama nggak bisa bahagiain lu, gue siap membahagiakan lu."


Nazneen mendelik seraya menjotos lenganku pelan. "Dih, ngaco lu. Yang ada gue dihujat jutaan umat karena poliandri. Hahaha."


Gue bersyukur Nazneen bisa ketawa lagi. Setidaknya meringankan kesedihannya.


"Yan, makasih ya. Udah dengerin cerita gue. Gue udah bingung mau cerita ke siapa lagi."


Pelayan datang membawa pesanan kami. Dia meletkkan semua menu di meja. "Mari. Silakan di makan."


Ketika gue mencicipi pisang gorengnya, baru gue gigit sedikit seketika langsung melempar ke piring. "Shit. Ini pisang goreng apa sih? Keras banget."


Nazneen cekikikan. Mungkin eksperi gue lucu kalau lagi kesal. Nggak apalah gue diketawain. Yang penting berhasil membuat Naz tertawa lagi.


"Kata nenekku, pisang goreng zaman dulu emang keras. Semua makanan juga. Makanya nenek-nenek kita banyak yang menginang. Biar gigi mereka kuat. Kalau kamu nggak suka, nih makan tempe mendoanku aja. Nggak keras kok. Masih banyak pula. Aku nggak abis makan semdirian."


Daripada perutnya kosong, aku memakan tempe mendoan punya Nazneen. "Ini baru enak."


Nggak kerasa tempe mendoannya abis.


"Ya udah, yuk pulang."


"Hah? Bentar banget. Kita muter-muter dulu lah sambil selfi-selfi."


Nazneen diam sejenak. "Okelah. Namun, bentar aja ya. Bentar, aku WA Ale dulu biar dia hari ini pulang cepet. Kalau nggak pulang bareng Mama bakal ngomel."


"Oke."


***

__ADS_1


Nggak tau kenapa gue malam ini pengin mengamati instagram Gia. Sebenarnya Gia adalah mantan gue setelah Nazneen. Gue putus sama dia karena nggak tahan. Dia suka marah-marah, posesif, cemburuan dan curigaan. Cowok mana sih yang kuat sedikit-sedikit ditelepon, ditanyain lagi di mana, sama siapa. Telat balas dituduh lagi selingkuh.


Instagram Gia nggak ada sesuatu menarik. Hanya ada foto di mana pun saat dia berada dan foto atau video endorsan.


Gue coba klik link website yang tertulis di profilnya. Www.giahumairo.com. Ternyata isi websitenya banyam puisi-puisi. Gue iseng baca puisi paling atas.


Sejak pertama aku menemukanmu, aku sudah melihat ada keindahan di dalam dirimu.


Saat mengetahui tentangmu, ternyata tak ubahnya kamu seperti pelangi. Indah. Namun, sulit digapai.


Gue yakin banget ini bukan puisi, tetapi curhatannya tentang Ale. Senyum licik mengembang di bibir gue. Sepertinya gue bisa memanfaatkan Gia.


Gue telepon Gia via WA.


"Hallo, lo ngapain lagi sih menghubungi gue?"


"Hallo juga mantanku. Apa kabar?"


"Nggak usah basa-basi. Lo ngapain nelepon gue?"


"Mau ngajak ketemu. Tepatnya ngajak kerjasama sih."


"Kalau gue nggak mau?"


"Lo pasti mau lah. Soalnya berhubungan dengan Ale."


"Oke. Lo tentuin aja tempat dan waktunya. Gue selalu siap."


Sambungan telepon terputus. Segampang itu tenyata mengajak Gia bertemu lagi setelah sekian lama. Langkah bagus buat gue untuk memuluskan rencana berikutnya.


***


Gue bertemu Gia di pohon kembar Alun-alun Yogyakarta. Semua sudah pada tahu mitos di tempat ini. Jadi nggak perlu gue kasih lagi. Alasan gue memilih ke sini karena pertama kali ketemu.


Mata gue sibuk mencari sosok Gia. Tiba-tiba terpaku pada satu titik nggak jauh dari tempat gue berdiri. Sosok wanita mengenakan dress, topi pantai dan kacamata hitam. "Nah, itu dia Gia."


Gue berjalan menghampirinya.


"Sori, lama nunggu. Tadi gue beresin urusan kantor dulu."


"Udah deh. Nggak usah bertele-tele, langsung aja bilang tujuan ngajak gue ketemu apa?"


"Gue mau lo semakin gercep ngerebut Ale dari Nazneen biar Nazneen balik ke gue. Terserah gimana caranya."


Gia menurunkan kacamata hitamnya ke hidung. "Kalau gue nggak mau lo bakal ngapain?"


"Masih inget video atau foto adegan kita ciuman waktu pacaran? Kalau dua hal itu terpampang di akun gosip, gimana nasib karier lo ke depannya ya?" Gue menyunggingkan senyum licik.


Wajah Gia memucat. "Jadi foto dan video itu masih ada di lo? Oke, gue bakal ngelakuin apa yang lo mau."

__ADS_1


Hati gue benar-benar puas. Gia terlalu mudah dibohongi. Padahal gue sendiri sudah lupa di mana menyimpan vide dan foto itu.


__ADS_2