
"Oh, Bapak sudah di samping musala Darul Falah ya? Kalau begitu tunggu di sana. Bentar lagi saya keluar," ucap Mama di telepon.
Pasti itu taksi online yang sepuluh menit lalu dipesan. Jujur aku senang banget Mama hari ini pulang ke Jakarta. Dengan begitu aku tak perlu lagi pura-pura mesra dengan Ale.
"Taksi online Mama udah datang. Mama pulang ke Jakarta dulu ya. Kamu baik-baik sama Ale. Jadilah istri salehah. Kalau menghadapi permasalahan, bicarakan dengan kepala. Jangan sampai rumah tangga kalian berakhir di pengadilan," tutur Mama ceramah dulu sebelum pergi.
Aku hanya manggut-manggut. "Iya, Ma."
Aku dan Ale mengantar Mama keluar sampai masuk ke taksi online. Lalu kami saling memeluk serta mencium tangan Mama. Setelah taksinya berangkat, aku kembali ke kamar. Berganti baju dan siap-siap berangkat kerja.
"Naz, aku boleh minta waktumu nggak? Aku rasa kita mesti menuntaskan permasalahan kita."
"Maaf, aku nggak ada waktu. Kita selesaikan permasalahan rumah tangga kita di pengadilan."
Ekspresi Ale terkejut. "Kamu serius ingin ke pengadilan agama? Kamu lupa sama apa yang dikatakan Mamamu tadi? Mau aku ulang kalimat beliau?"
Sial. Kenapa sih Ale harus mendengar ceramah Mama tadi? Huft. Aku mendesah napas berat. "Oke. Kita bicara permasalahan kita sekarang. Namun, nggak lebih dari 30 menit ya."
Segurat senyuman muncul di bibir Ale. "Nah, gitu dong. Aku harus ngelakuin apa agar kamu maafin aku dan rumah tangga kita nggak berakhir di pengadilan agama?"
"Hmmm ... apa ya?"
Aku sendiri bingung Ale harus melakukan apa agar aku memaafkannya. Pasalnya yang membikin aku ingin bercerai dari Ale bukan karena bohong dan kasus Mami Gia saja, ada banyak hal lagi.
"Atau gini aja kamu tulis di kertas semua kekurangan aku dan kasih tau aku cara membahagiakanmu. Biar aku intropeksi diri serta berusaha memperbaiki semua kekuranganku. Gimana?"
"Ide bagus. Tapi kamu juga kudu ngelakuin hal yang sama ya. Tulis semua kekuranganku dan cara membahagiakanmu."
"Oke. Deal."
Ale keluar kamar. Mungkin dia mau nulisnya di ruang tamu. Aku mengambil buku kecil dan pena di tas tangan. Yup, aku ke mana-mana selalu bawa dua benda ini. Jaga-jaga muncul ide dadakan. Jadi idenya nggak kabur.
Jemariku menari lincah menuliskan semua kekurangan Ale.
Nyebelin.
Bawel kayak Emak-enak
Tukang ngatur
Suka naruh barang sembarang tempat
Nggak pernah ada waktu saat aku butuhkan dan nggak bisa jadi sandaran berbagi cerita.
Nggak peka dengan apa yang aku suka dan yang aku benci.
Terobsesi pernikahan bahagia orang lain. Ini yang membikin aku nggak nyaman.
__ADS_1
Cara membahagiakanku sederhana, jadilah Ale saat masih jadi sahabatku dulu dan jadilah sandaran hatiku.
Usai menuliskan semua, Ale kembali ke kamar. "Naz, aku udah selesai."
"Sama."
"Kita tukaran tulisan ya."
Aku menyerahkan buku kecil ke Ale sedangkan dia memberikan selembar kertas. Kami saling membaca tulisan dalam hati.
"Ya ampun, jadi selama ini kamu nggak bahagia sama aku karena perlakuanku. Padahal apa yang aku lakuin agar rumah tangga kita harmonis sampai praktekkin semua tips rumah tangga harmonis di internet."
Mataku berkaca-kaca membaca apa yang ditulis Ale.
Kamu itu 99% wanita sempurna dalam hidupku. Jadi aku nggak perlu nulis kekuranganmu. Aku hanya ingin kamu ada waktu untuk kita dan rumah tangga kita bahagia sampai akhir hayat.
"Naz, kalau kamu ngasih kesempatan sekali lagi, aku janji akan memperbaiki semua kekuranganku dan membikin kamu nyaman akan sifatku. Kalau aku gagal, baru aku ikhlas kamu menggugat perceraian kita."
Nggak ada alasan untuk aku menolak permintaan Ale yang satu ini. "Oke, kamu aku kasih kesempatan sekali lagi. Tapi janji ya jangan nyebelin lagi."
"Siap, big boss. Aku janji nggak nyebelin lagi."
Drrrrt ... Drrrt
HP-ku bergetar. Di layarnya ada telepon WA dari Sahrial.
Aku menggeser icon telepon hijau ke atas tanda menerima panggilannya.
"Halo, Bu Nazneen. Kira-kira hari ini Bu Naz datang ke kantor nggak."
"Iya, bentar lagi saya ke kantor kok. Ada apa?"
"Alhamdulillah. Gini, saya mau minta tanda tangan Bu Naz untuk MoU penulis ******* yang kemarin dipinang Bu Wardah."
"Ya udah. Tunggu tiga puluh menit lagi ya."
Sambungan telepon Sahrial terputus.
"Kamu udah mau ke kantor ya?"
"Iyalah. Uda ditelepon pemred nih. Kenapa? Mau ngomel?"
"Nggak lah. Justru aku mau nawarin diri untuk mengantaran kamu ke kantor. Boleh?"
"Nah, gitu dong. Dari kemarin-kemarin kek nit nganterin bininya ke kantor."
***
Sesampai di kantor AT Press. Ale membukakan pintu mobil serta mengecup kening. "Kamu semangat kerjanya ya."
Ya ampun, Ale romantis banget. Untung suda jam kerja, jadi nggak ada AT Family yang liat dan cie-ciein kami.
__ADS_1
"Kamu juga semangat kerjanya. Nggak usah genit sama Mami Gia. Oh iya, kamu ke kantor naik apa?"
"Ojek online paling."
"Nggak usah. Kamu bawa mobilku aja. Nanti jemput aku ya."
"Siap, Boss."
Sepeninggal Ale, aku ke ruangan Sahrial dulu untuk menandatangi MoU. Setelah beres, ke ruangan. Hal pertama kulakukan adalah membuka email. Ada satu email dari Mbak Lily.
Hello, Mbak Nazneen. Pihak Noveltoon setuju mengadakan lomba menulis bersama AT Press. Maka dari itu saya lampirkan konsep lombanya.
Terima kasih atas perhatiannya.
Regards,
Lily.
Aku buka file dari Mbak Lily.
Taklukkan takutmu.
Genre : horor, thriller, misteri psikologi.
Jumlah kata persyaratan : min 25k kata sampai 40k kata.
Waktu perlombaan 1 April 2020 - 30 Juli 2020.
Bagus juga konsep dari Noveltoon. Sekarang tanganku beralih mengirimkan pesan WA ke Alfian.
Alfian, tolong ke ruangan saya sekarang!
Belum lima menit, Alfian sudah datang.
"Ada apa ya Bu Nazneen memangil saya?"
"Barusan Mbak Lily mengirimkan email ke AT. Dia bilang Noveltoon setuju kerjasama mengadakan lomba menulis dengan AT Press."
Aku jelaskan secara rinci isi file yang dikirimkan Mbak Lily. "Gimana menurutmu konsep lomba yang mereka ajukan? Kita ambil nggak nih? Konsep tambahan lomba dari kita, nanti dirapatkan bareng-bareng sama AT Family yang lain," tanyaku meminta pendapat Alfian.
Hening. Aku melirik ke arah Alfian. Ternyata dia sibuk main HP.
Brak!
Aku menggebrak meja. "Oi, kamu dengerin saya nggak sih? Sumpah, saya tuh paling nggak suka kalau saya bicara nggak diperhatikan."
Raut wajah Alfian memucat. "Maaf, Bu. Tadi saya nggak fokus. Barusan sepupu saya WA dia mengabari bahwa Tante saya meninggal. Saya minta izin keluar sebentar buat ke rumah sakit ya."
"Terserah. Nggak usah balik sekalian," jawabku ketus.
Asli, aku menyesal meminta pendapat Alfian. Tahu gitu aku tadi meminta Sahrial atau Wardah aja ke ruangan ini.
__ADS_1