
Kedua kalinya gue ke Alun-alun Yogyakarta buat menemui Gia. Gue ke sini sampai bela-belain bohong sama Nazneen, soalnya Gia nggak ada angin nggak ada badai tahu-tahu bilang menyerah memperjuangkan cinta ke Ale.
"Heran gue, kok lu bisa nyerah gitu aja sih?"
"Ale resign dari kantor gue," ucap Gia dengan nada frustrasi.
Nah, ini yang membikin gue makin heran. Ada hal apa membuat Ale resign.
"Kok Ale bisa resign? Lo abis ngelakuin apa ke dia?"
"Gue abis ngaku cinta sama dia dan bilang gue rela jadi istri kedua dia." Gia tertunduk.
"Kok lo **** sih?" Refleks gue memaki Gia. "Jelas ajalah Ale resign. Harusnya lu bisa bermain cantik menikung Alenya."
"Abis Ale diajak jalan atau apa pun selalu nolak. Gue udah bingung make cara apa lagi buat dapetin cinta Ale."
"Tapi nggak langsung blak-blakan minta dijadiin istri kedua juga kali. Ah, sudahlah. Lu emang nggak guna. Sia-sia gue ngajak lu kerjasama. Hasilnya zonk."
Setelah berkata demikian, gue pergi meninggalkan Gia yang menangis. Bodo amat. Gia bukan urusan gue lagi.
***
Pukul 17.30 gue balik k kantor AT lagi karena tas ransel gue ketinggalan. Ketika lewat ruang karyawan cewek, gue melihat Ranti lagi sibuk di depan komputer.
"Ran, belum pulang lu?"
"Dikit lagi. Lagi bikin banner buat buku yang bakal di pre order besok."
Mendengar kata 'banner' otak gue langsung muncul ide licik strategi mendapatkan Nazneen. Beginilah akibat Gia gagal, mau nggak mau gue yang berjuang sendiri.
"Ran, gue boleh minta tolong nggak bikinin banner nggak? Tapi bukan banner buat AT sih."
Alis sebelah kiri Ranti terangkat. "Terus banner apa, Kak?"
"Banner lomba menulis. Adek gue kan punya komunitas gitu terus dia kerjasama ma Noveltoon. Dia mintol ke gue bikinin banner, tapi laptop gue di rumah lagi eror. Bisa?"
"Oh, gitu. Ya udah, aku bikinin. Tapi aku kelarin banner PO buku AT dulu ya. Kalimat di banner apa, Kak?"
Sembari menunggu Ranti membereskan banner PO buku AT, jari gue menari lincah mengetik tulisan buat di banner.
You are a Writer 3
Noveltoon x Komunitas Menulis Aktif
Hello, sobat Noveltoon.
Setelah sukses mengadakan You are a Writer 2, kini kami membuka season 3. Kali ini kami tak sendiri, melainkan kolaborasi bersama Komunitas Menulis Aktif.
Adapun syarat dan ketentuan :
__ADS_1
Download aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Follow akun instagram @noveltoon_id dan @mangatoon_id
Share atau repost flayer info lomba ini ke akun sosial mediamu dan tag akun instagram tertulis di atas.
Naskah asli. Bukan hasil terjemahan/plagiat.
Temanya adalah tentang wanita hebat
Naskah rutin dipublikasikan di aplikasi Noveltoon, sehari minimal 1000 kata.
Hadiah :
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 5.000.000,-
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 3.500.000,-
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 2.000.000,-
Juara harapan 1, 2 dan 3 akan mendapatkan uang tunai masing-masing sebesar Rp. 1.000.000,-
Lomba ini berakhir pada tanggal 16 September 2020.
Gue baca sekali lagi memastikan nggak ada tipo. Setelah dirasa sudah pas, gue kirim ke WA Ranti. Nggak lupa gue mengirimkan logo Noveltoon dan Komunitas Menulis Aktif. Komunitas itu beneran ada kok. Gue dulu gabung di sana. Karena ownernya tukang julit, muka dua, serakah dan berbagai sifat buruk lainnya makanya gue keluar. Eh, bisa gue manfaatin namanya.
"Ran, cek WA-mu coba. Udah gue kirim kalimat buat banner ya."
Gue melihat Ranti menggerak-gerakkan kursor mouse menyimpan banner PO buku AT. Lalu dia membikin banner yang gue minta. Dalam 10 menit jadi. Dia kirim hasilnya ke WA.
Gue tersenyum puas melihat hasilnya. Yes, langkah pertama sudah beres. Tinggal langkah kedua dan tiga untuk mendapatkan Nazneen seutuhnya.
"Wah, makasih banyak ya, Ran."
"Sama-sama, Kak."
"Ya udah yuk kita pulang. Mau aku anterin?"
"Nggak usah, Kak. Udah dijemput pacar."
***
Tiga puluh menit gue mondar-mandir gelisah menunggu kedatangan Nazneen.
"Oi, kau ngapain mondar-mandir nggak jelas gitu? Kau bingung belum bayar kos ya?" tegur Sahrial.
Aku mendengkus kesal. "Kepo aja sih, lu. Enak aja bilang gue belum bayar uang kos."
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Barusan Nazneen lewat ruangan gue ini. Buru-buru gue ke ruangannya.
__ADS_1
"Bu Naz, gawat," ucap gue begitu memasukin ruangan Nazneen.
Nazneen mendelik ke arah gue. "Segawat apa sih sampe lupa ketuk pintu?"
Gue menepuk jidat. "Maaf kelupaan. Saking paniknya."
"Saya mau menunjukkan sesuatu ke Bu Naz."
Gue mengambilkan gawai dari celana. Lalu memperlihatkan banner buatan Ranti ke Nazneen.
"Ini bukannya konsep dari Noveltoon yang diajukan buat kerjasama dengan AT ya? Tapi kenapa mereka justru share duluan? Mana logonya penebit atau komunitas lain pula."
Mata Nazneen melotot. "Iya nih, apaan coba maksudnya."
Yes, Nazneen mulai kepancing.
"Bentar, gue WA Mbak Lily atau Mbak Revi dulu buat minta penjelasan."
Giliran gue yang melotot. Waduh, gawat. Bisa ketahuan nih kalau banner itu palsu. Gue berpikir keras mencari alasan yang pas.
"Percuma WA atau telepon mereka. Nggak bakal nyambung. Mereka udah ganti nomor. Biar nggak dimaki-maki sama kita."
"Terus kita diem aja gitu dizolimi?"
"Ya kita samperin lagi aja kantor Noveltoon. Minta penjelasan langsung. Kalau perlu baku hantam sekalian." Gue sengaja semakin mengompori Naznen biar makin meleduk.
"Bener juga kata lu. Baku hantam secara langsung lebih afdol daripada lewat WA. Ya udah, lu pesen tiket pesawat buat kita besok ke Jakarta."
"Oke, Bos. Siap, Bos."
Gue senyum-senyum sendiri. Nazneen gampang banget dikibulin. Baguslah. Dengan begitu tinggal selangkah mendapatkan Nazneen seutuhnya.
***
Di Bandara Kulon Progo.
Jadwal keberangkatan pesawat jurusan Yogyaarta ke Jakarta pukul 09.15. Itu artinya dua jam lagi. Ketika mau masuk pintu utama, langkah Nazneen terhenti di depan outlet Janji Jiwa.
"Naz, kamu mau minum Kopi Janji Jiwa dulu? Masih sempet kok. Kan kita check-in online."
"Mupeng sih. Tapi antrinya panjang banget. Males ngantri gue."
"Mau gue aja yang ngantri? Kamu masuk dulua aja."
"Boleh."
"Mau kopi apa?"
"Kopi pandan deh."
"Oke."
__ADS_1
Nazneen masuk duluan. Demi Nazneen gue rela antri panjang. Kurang apa lagi coba cinta gue ke Nazneen? Harusnya gue yang dapatin dia, bukan Ale-Ale itu.
Lima belas menit mengantri, kopi pesanan sudah ada di tangan gue. Sebelum gue serahin ke Nazneen, gue masukin obat tidur dulu.