
Nazneen baru saja selesai menghapus semua make up yang menempel di wajahnya. Ritualnya sebelum tidur adalah megang gawai terlebih dahulu. Mungkin membalas chat yang masuk. Dia wanita karier, maklum saja banyak chat yang masuk. Beda seperti gawaiku yang selalu sepi.
"Naz, kita pillow talk dulu yuk. Biar kayak di youtube Ussy Andhika atau Hanung Bramnatyo," usulku.
"Dih, kamu tuh obsesi banget ya meniru rumah tangga orang?" Mata Nazneen tetap tertuju ke gawainya.
"Justru itu mencontoh hal yang baik dari rumah tangga orang siapa tau bisa membuat rumah tangga kita ada perkembangan."
Walau pernikahan kami berawal dari wasiat tanpa adanya cinta, tapi aku ingin benar-benar menjalani rumah tangga yang serius bersama Nazneen. Aku ingin seperti rumah tangga pada umumnya. Harmonis. Terlalu mulukkah keinginanku itu?
"Oh iya, aku ada sesuatu buat kamu. Bentar."
Aku membuka laci meja dan mengeluarkan dua lembar kertas. "Malming ntar kita nonton yuk. Nih, aku dah beli tiket film terbaru."
Tiket film yang kubeli adalah film Jeritan Malam. Film adaptasi novel dari Kaskus. Pemainnya Herjunot Ali. Dari artikel internet yang kubaca, plot ceritanya menarik. Digadang-gadang tembus 1 juta penonton.
Dia melirik ke arah tiket yang aku pegang. "Hah? Nonton film horor? Gak salah? Kamu kan tau aku paling benci film horor. Apalagi horor Indonesia yang isinya backsound jumscare sampah doang. Kamu mau aku jantungan gegara kaget? Dasar, suami gak peka."
Dia meletakkan gawai ke atas meja. Lalu tidur memunggungiku. Aku paham maksud kata-katanya 'suami tak peka' itu karena aku tak tahu selera filmnya. Astaga, sudah lima tahun saling kenal pun tak membuatku mengetahui film favoritnya.
Setelah dipikir-pikir, selama sahabatan dengan Nazneen, aku memang nggak pernah membawa dia ke bioskop. Selalu ke tempat makan untuk uji coba resep baru. Yup, aku jurusan tata boga. Impianku jadi chef. Nyatanya takdir berkata lain. Zaman sekarang bukan kita yang memilih profesi, tapi profesi memilih kita.
Mungkin dunia editing video lebih membutuhknku, sedangkan dunia masak sudah penuh. Sejak kompetisi Master Chef Indonesia, banyak orang berbondong-bondong jadi Chef. Aku pernah mencoba ikut kompetisi tersebut, sayang nggak lolos. Mulai detik itu masak sekadar hobi saja. Sampai menikah sama Nazneen aku nggak pernah memasak lagi. Sibuk belajar editing video.
***
Lagi-lagi aku kepagian datang ke kantor. Semua karyawan belum pada datang. Namun, Mami Gia sudah datang. Dia lagi asyik melamun di sofa. Tunggu, raut wajahnya terlihat sedih. Ada apa ya?
"Pagi, Mami Gia. Tumben datang lebih awal," sapaku basa basi.
"Hari ini kan kita syuting sama Cucu Cahyati. Ya gue nggak mau aja keduluan bintang tamu yang datang dibanding gue. Bintang tamu datang satu jam lagi."
Berhubung belum jam kerja, aku duduk di sebelah Mami Gia dulu. "Mami, daritadi saya perhatikan, raut wajah Mami terlihat sedih. Kalau boleh saya kepi, Mami lagi ada masalah ya? Adsense anjlok lagi? Cerita aja, siapa tahu saya bisa bantu."
"Nggak apa-apa."
Well, aku sudah paham sedikit tentang kamus bahasa cewek. Jika cewek bilang 'nggak apa-apa' itu artinya emang lagi ada apa-apa. Mungkin urusan pribadi. Aku tak mau memaksa Mami Gia untuk cerita.
"Le, gue boleh nanya sesuatu nggak?"
"Boleh. Nanya apa?"
"Menurut lu arti bahagia itu apa sih?"
"Saya sendiri belum tahu pasti arti bahagia itu apa. Karena sampai saat ini pun saya masih terus mencari kebahagiaan."
__ADS_1
"Saya lagi bingung, pacar saya melamar saya, tapi ntah kenapa saya nggak bahagia dilamar." Akhirnya Mami Gia mau cerita permasalahannya sama aku. "Kamu pernah nggak sih ngalamin hal itu?
"Pernah lah. Saat menikah sama Nazneen juga saya nggak merasa bahagia."
"Hah? Jadi kamu menikah tanpa ada kebahagiaan?"
Pertanyaan Mami Gia membuatku sadar telah melakukan kesalahan. Keceplosan membongkar aib rumah tangga sendiri.
Pandanganku beralih ke parkiran kantor. Di sana karyawan sudah pada datang. Kulihat jam dinding, lima menit lagi jam mulai kerja. Ini kesempatanku kabur dari pertanyaan Mami Gia. "Mami udah mau jam kerja, saya ke ruangan kerja dulu ya."
***
Cucu Cahyati sudah tiba sejak lima menit lalu. Seluruh karyawan dikumpulkan. Seperti biasa sebelum syuting briefing terlebih dahulu. Rean memberikan pengarahan segala sesuatu serapi mungkin. Aku mendapat tugas tambahan memegang papan list pertanyaan. Aku diminta berdiri di sebelah kanan meja rias. Biar Mami Gia gampang melihat tulisannya dan tidak tersorot kamera.
Kami berpencar mengambil posisi tugas masing-masing. Dalam hitungan ketiga, kamera mulai nyala.
"Hai gaes, kembali lagi bareng gue. Gia makhluk Tuhan paling syantik nan bahenol sejagat dunia maya." Mami Gia membuka opening videonya. "Kali ini special. Gue nggak make up sendirian. Namun, sudah kedatangan selebgram yang lagi naik daun. Siapa lagi kalau bukan Cucu Cahyati."
Kameramen mengarahkan kamera fokus ke Cha. "Hai semuanya." Cha ikut say hello ke kamera.
"Spesialnya hari ini gue bakal makeupin Chaa sambil QnA, gaess. Kira-kira Chaa bakal tambah cantik nggak ya? So, pantengin video gue sampai habis ya."
"Pertama-tama kita pakai foundation dulu." Tak lama kemudian Mami Gia garuk-garuk kepala ketika melihat banyaknya foundation koleksinya di meja rias. "Aduh, gue bingung mau makein foundation yang mana ya?"
"Untung kamu bilang. Jadi aku tahu harus memakai yang mana." Mami Gia mengambil foundation produk istriku.
"Untuk kulit berminyak, cocoknya memakai foundation merk NazFound. Soalnya memiliki tekstur cair yang ringan dan mampu menyerap minyak berlebih pada wajah. Jadi kalau make foundation ini wajahmu terlihat lebih segar dan sehat."
Mata Mami Gia ke arah papan yang kupegang. "Eh, ceritain dong gimana sih awalnya bisa foto makan daun itu? Emang sengaja mau viral atau gimana?"
"Sumpah, sama sekali nggak tau bakal viral. Abis putus sama pacar, aku nggak sengaja lewat perkebunan teh. Nah, iseng aja foto makan daun. Terus posting ke instagram, dengan caption 'daripada terus-terusan makan hati menjalin cinta denganmu, lebih baik aku makan daun aja.' eh ternyata banyak yang share dan menjadikan fotoku sebagai meme. Mungkin ekspresiku memang memeable. Hahaha."
Usai memakai foundation, Mami Gia lanjut mengambil bedak. "Berhubung kulitmu berminyak, jadi memakai bedak marcks aja ya."
"Pas banget, Kak. Aku dari kecil memakai bedak ini."
Mami Gia melirik lagi ke papan pertanyaan. "Setelah fotomu viral gimana sih perasaanmu?"
"Seneng campur nggak nyangka."
"Ada perasaan terkena star syndrome sih begitu sekarang diundang banyak tivi atau banyak endorsan?"
"Alhamdulillah, nggak. Sampai sekarang pun aku merasa bukan artis. Orang yang meminta foto, aku anggep teman lama yang sudah lama nggak ketemu. Jadi foto-foto."
"Wah, keren. Itu artinya kamu sangat rendah hati."
__ADS_1
Detik demi detik terus bergulir. Tak terasa sudah 30 menit lebih Mami Gia make up Cha. Wajah Cha kini terlihat lebih cantik.
"Taraaaa ... inilah wajah Cha sesudah dimake up. Cantik kan?"
Cha kedip-kedip mata melihat dirinya di cermin. "Ini seriusan diri aku? Kok cantik ya bak Putri Elsa. Hahaha."
"Wah, makasih banget ya Cha udah berkenan mampit ke sini. Terus bersedia aku acak-acak wajahmu. Moga nggak kapok ya."
"Harusnya aku yang makasih karena sudah diundang. Berkat datang ke sini, aku jadi tahu tentang make up."
"Oke, gaes. Sekiranya tutorial make up bareng Cha hari ini cukup sampai di sini. Minggu depan enaknya make up-in siapa lagi ya? Tulis di komentar ya. Jangan lupa subcribe, koment dan pencel tombol loncengnya. Sampai jumpa di video berikutnya.
Huft, akhirnya syuting berakhir dan berjalan lancar. Tanganku sudah pegel banget memegang papan pertanyaan.
***
Semua karyawan sudah pulang. Hanya aku yang di kantor. Aku mau membereskan kamera dan peralatan syuting dulu. Tukang beres-beresnya lagi cuti menikah. Nggak ada salahnya kan membantu pekerjaan orang lain?
"Le, kamu belum pulang?" tegur Mami Gia. Aku pikir dia sudah lama pulang."
"Aku mau membereskan kamera dan peralatan syuting dulu. Tukang beres-beresnya lagi cuti menikah. Nggak ada salahnya kan membantu pekerjaan orang lain? Nanti giliran aku cuti gantian dia yang bantu kerjaanku."
"Baik bener sih kamu. Aku boleh nemenin? Aku lagi males pulang nih."
"Ya bolehlah. Kan ini kantor Mami Gia. Masa aku berani melarang?"
"Kamu cerita atau nanya apa gitu biar nggak krik-krik jangkrik."
"Mami, aku mau nanya dong, cewek itu sukanya dikasih kejutan apa sih biar bahagia dan cintanya nambah untuk cowok?" Aku sengaja menanyakan itu karena nggak tau lagi cara membahagiakan Nazneen dan membuat dia jadi romantis ke aku.
Semua tips di internet telah dicoba, selalu gagal serta berakhir apes.
"Kalau masih singel sih cewek itu bahagianya dikasih kepastian."
"Kemarin kata Mami ada cowok ngasih kepastian buat nikahin Mami kok malah nggak bahagia?"
"Nggak tau juga. Hati memang susah ditebak. Hahah."
"Terus cewek yang udah nikah bisa bahagia karena apa?"
"Kalau udah nikah, kayaknya cewek suka perhatian kecil dan selalu ada saat dia butuhin. Aku dulu cerai karena dia terlalu sibuk dengan dunianya dan nggak pernah ada saat aku butuhkan."
Ucapan Mami Gia membikin aku jadi mikir, apa selama ini aku nggak pernah ada saat dia butuhkan? Aku coba ingat-ingat lagi. Saat dia WA bilang genteng bocor aku nggak mau benerin karena takut ketinggian. Akhirnya dia memanggil tukang. Saat dia mengajakku ke pesta nikahan atau ulang tahun temannya, aku nggak mau ikut. Aku introvert akut. Nggak suka keramaian. Paling fatal sepertinya saat peresmian kantornya, aku nggak datang. Memilih ke kantor Mami Gia. Ada kerjaan dadakan.
Mulai detik ini aku ingin menjadi yang dibutuhkan Nazneen. Sekalipun melawan ketakutanku. Aku nggak mau rumah tanggaku berakhir perceraian seperti Mami Gia.
__ADS_1