
Sudah tiga puluh menit aku menunggu Mami Gia di depan ruangannya, tapi nggak kunjung datang. Tumben dia telat. Biasanya selalu tepat waktu.
"Le, ngapain lu di sana? Nunggu Mami Gia ya?" tegur Rean.
"Iya nih. Ada sesuatu yang mau gue sampein ke beliau."
"Alah, paling minta naik gaji atau ngajuin cuti," cibir Luthfi.
Entah kenapa makhluk satu itu suka banget julitin aku. Aku sendiri nggak tau salah apa ke dia. Sialnya, yang dia katakan benar. Aku memang meminta cuti untuk menemani Nazneen ke Jakarta.
"Le, ada apa di ruangan saya?"
Mami Gia, orang yang sedari tadi kutunggu akhirnya datang. "Ada yang ingin saya sampaikan."
"Ya udah yuk masuk."
Setelah memasuki ruangan Mami Gia, aku disuruh duduk di kursi kerjanya. Semakin deg-degan dan ragu. Pantas ngga ya minta cuti sekarang.
"Kamu ada masalah? Cerita aja, siapa tau saya bisa bantu."
"Gini, saya mau minta cuti. Mau nemenin istri ke Jakarta lusa. Saya tau kok kantor lagi banyak yang cuti. Kalau nggak diizinin juga nggak apa."
"Kata siapa nggak boleh? Ya bolehlah. Apalagi kamu dari awal kerja belum ada minta cuti."
Wajahku berbinar mendengarnya. "Serius, boleh?"
"Iyalah. Masa prank doang? Tapi dengan satu syarat, semua editanmu dan editan karyawan lagi cuti harus kelar sebelum kamu berangkat."
"Wah, makasih banyak, Mi. Saya janji sebelum ke Jakarta semua udah beres. Mulai malam ini dan besok saya lembur."
***
Jarum jam telah menunjukkan pukul 22.00. Aku masih bertahan di kantor. Stok editan buat tayang lima hari ke depan masih banyak. Apalagi editor satunya lagi cuti menikah. Mau nggak mau tugas editannya dilimpahkan ke aku.
Heran aku itu banyak banget yang cuti nikah. Apakah lagi musim nikah? Apakah menikah di mata mereka enak? Padahal menikah adalah awal kepusingan.
Ting!
Terdengar notifikasi pesan masuk ke ponsel pintarku. Aku melepaskan tangan dari mouse komputer. Lalu beralih meraih benda yang tadi berbunyi. Ternyata pesan WA dari Nazneen.
Kamu pulang nggak hari ini?
Aku berniat mau menginap di kantor, tapi nggak jadi. Kasian Nazneen sendirian di rumah. Terlebih tadi siang aku membikin dia kesal. Jika aku nggak pulang, dia semakin kesal kepadaku. Aku rasa menyenangkan istri jauh lebih berpahala daripada lembur. Toh, soal editan bisa dilanjut besok.
Aku balas WA Nazneen.
Iya, aku pulang bentar lagi kok.
Buru-buru aku menyimpan hasil video yang sudah aku edit. Setelah itu aku mematikan komputer. Beres. Saatnya bersiap pulang. Ketika balik badan aku kaget ada Rean berdiri tegak di depanku. Aku pikir semua karyawan Mami Gia sudah pada pulang.
“Eh, lo Re. Ngangetin aja. Ngapain lo di sini? Tumben belum pulang?”
“Gue lagi mikirin konsep buat syuting besok. Lo sendiri mau pulang?”
“Yoi.”
“Emang tugas editan dari Luthfi udah kelar?”
__ADS_1
“Belum sih, cuma kan bisa dilanjut besok. Gue udah ditungguin bini di rumah.”
“Ciyeee ... yang udah punya bini. Enak dong pulang kerja ada yang nungguin. Lah, gue? Yang nungguin gue pulang paling bantal guling.”
“Makanya buruan nikah biar ngerasain indahnya ditungguin bini pulang kerja. Hahaha.” Aku melemparkan ketawa meledek ke Rean.
Dia menowel bahu. “Sialan lo. Bentar lagi gue juga nikah kok.”
“Ya udah, gue pulang dulu. Selamat lembur. Hati-hati, bentar lagi Mbak Kun yang ada di kantor ini bakal muncul mau kenalan sama lo. Hihihi.”
Aku mencoba menggoda Rean dengan menakutinya. Rean itu paling anti atau takut dengan segala tentang makhluk lelembut. Konon katanya dulu dia pernah diculik Wewe Gombel. Sejak saat itu dia trauma terhadap segala hal mistis.
“Oi, Ale kampret. Nggak usah nakutin gue deh. Tapi horor juga sih sendirian di kantor. Ya udah deh gue pulang bareng lo aja.”
***
Shit!
Motorku mogok. Mana mogoknya di gang sepi pula. Aku mencoba menyeret motor, siapa tahu sekitar sini masih ada bengkel yang buka. Setelah berjalan sekitar lima menit lebih, aku nggak kunjung menemukan tanda-tanda keberadaan bengkel. Seketika menyesal lewat jalan ini. Niatnya biar cepat sampai rumah, malah apes. Masa pulang jalan kaki?
Mataku menangkap sosok wanita sedang digangguin dua preman berbadan besar, gondrong dan tatoan. Ingin sekali aku menolong wanita itu. Namun, menghampirinya seorang diri sama saja mengantar nyawa. Terlebih aku sama sekali nggak bisa bela diri. Aku balik arah dan mencoba mencari bantuan. Kebetulan berpapasan dengan seorang pemuda.
“Mas, tolongin saya dong. Di ujung sana ada cewek lagi digangguin dua preman,” ucapku memohon pertolongan.
“Alah, itu paling ulah Jono dan Joni. Warga kampung sini nggak ada yang berani sama mereka. Mereka terkenal begis. Nggak segan menggorok leher orang yang berani ganggu dia,” jawab pemuda itu. Kemudian dia pun berlalu.
Astaga, kampung apaan ini? Masa semua warga nggak ada yang berani sama dua preman? Terus aku harus gimana?
Mondar-mandir cari akal. Aku teringat di ponsel pintarku ada nada dering sirine polisi. Wajahku berbinar. Akhirnya ada cara menyelamatkan cewek itu. Kenapa nggak terpikir dari tadi ya? Buru-buru aku ke tempat cewek tersebut diganggu.
Ngiungggg...
“Bro, gawat. Ada polisi datang. Ayo kabur.”
Mereka berdua pun lari kocar-kacir. Aku tertawa dalam hati. Katanya preman itu terkenal bengis, tahunya mendengar suara sirine polisi aja takut. Ah, sudahlah. Aku lanjut mendekati cewek yang diganggu tadi. Betapa kagetnya aku ternyata Gia.
“Loh, Mami Gia kok bisa ada di sini?”
Dia bukannya menjawab pertanyaanku malah memelukku erat sambil menangis di dadaku. “Le, makasih banget ya udah nyelametin aku. Aku nggak tau apa jadinya kalau nggak ada kamu.”
Ada perasaan aneh yang menyusup hatiku ketika dipeluk Mami Gia. Perasaan hangat.
Tiba-tiba ...
Bruk!
Mami Gia pingsan. Secepat kilat aku menggendongnya dan memasukkannya ke mobil nggak jauh dari tempat kami berdiri. Untungnya mobil ini nggak mogok jadi bisa cepat-cepat pergi dari sini. Soal motorku, biar besok kuambil.
***
Tinnnn!
Aku membunyikan klakson mobil ketika tiba di depan rumah Mami Gia. Tergopoh-gopoh Bi Desi – ART Mami Gia membukakan pintu pagar. Usai mobil masuk halaman, aku turun menggendongnya.
“Loh, Non Gia kenapa?”
“Panjang ceritanya, Bi. Sekarang tolong tutup pintu mobil Mami Gia ya.”
__ADS_1
Aku mengelonyor masuk ke rumah Mami Gia. Di ruang tamu ada sofa panjang. Kuletakkan tubuh Mami Gia di sofa tersebut. Nggak lama kemudian Bi Desi masuk.
“Loh, kok nggak sekalian diantar ke kamar aja?”
“Saya takut ke kamar cewek. Takutnya ada setan lewat menggoda iman saya, lalu terjadi hal tidak diinginkan,” jawabku disertai senyum.
“Den, gimana ceritanya sih Non Gia bisa pingsan?”
“Tadi lewat gang sepi, eh tau-tau ketemu Mami Gia sedang diganggu dua preman. Saya sendiri juga nggak tahu gimana ceritanya Gia bisa ada di tempat seperti itu. Setelah preman itu pergi, Mami Gia tau-tau pingsan dipelukan saya.”
“Oh, gitu ceritanya.”
“Berhubung Gia sudah aman ada di rumah ini, saya mau permisi pulang dulu. Sudah ditunggu istri saya.”
“Baik, Mas. Makasih ya sudah menolong Non Gia.”
“Sama-sama, Bi. Sebagai manusia kan harus tolong menolong. Apalagi Mami Gia kan bos saya.”
Ketika aku beranjak pergi, tanganku dipegang seseorang. “Le, please jangan pergi. Aku takut dua preman itu ngikutin kita terus dia datang ke sini nyakitin aku,” ujar Mami Gia dengan tatapan memelas bak anak kecil takut ditinggal orang tuanya.
Melihat tatapan memelasnya itu, aku jadi nggak tega meninggalkannya. Huft, terpaksa menginap deh sampai keadaan Mami Gia tenang. Aku mengambil ponsel pintar dari kantong celana. Ingin mengirim pesan WA ke Nazneen.
Maaf, Naz aku nggak jadi pulang. Mami Gia mendadak minta aku kelarin editan buat tayang besok. Mau nggak mau aku harus lembur sampai pagi.
Aku terpaksa bohong. Kalau jujur, Nazneen akan semakin murka.
***
Pukul 02.30
Aku keluar dari toilet. Nggak sengaja melihat foto keluarga. Mami Gia di tengah. Sepertinya di kedua sisi beliau orang tuanya. Namun, mereka ke mana? Dari tadi nggak keliatan? Apa di kampung atau luar negeri ya?"
"Mas Ale, ini tehnya biar anget."
Bibi menaruh teh di meja makan. Aku duduk di meja makan tersebut seraya menyeruput tehnya.
"Wah, makasih. Bibi belum tidur?"
"Saya habis salat tahajud."
"Udah ngantuk belum? Kalau belum, saya menanyakan sesuatu."
Dahi Bibi berkerut. "Nanya apa ya, Mas?"
"Tadi nggak sengaja liat foto keluarga Mami Gia. Orang tua Mami Gia ke mana? Daritadi nggak keliatan."
Ekspresi wajah Bibi menjelma jadi murung.
"Mereka kecelakaan waktu Non Gia umur 17 tahun. Di saat umur 23 tahun dia nikah dengan pria lebih tua seumur papanya. Eh, malah KDRT."
Muncul perasaan bersalah karena menanyakan hal sensitif dan iba terhadap Mami Gia. Namun, aku sendiri nggak bisa melakukan apa-apa. "Maaf saya nanya hal menyakitkan."
"Nggak apa, Mas. Ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Nggak ada."
"Kalau nggak ada lagi, ma ke kamar."
__ADS_1
Sepeninggal Bibi ke kamar, mataku jadi suer berat. Dalam hitungan detik sudah berkelana di alam mimpi dengan posisi duduk menelungkupkan tangan di atas meja makan.