
Aku duduk di kursi 12 D. Tepat sebelahan dengan kaca. Pandanganku lurus ke depan. Ada pramugari sedang sibuk menjelaskan instruksi keselamatan selama di pesawat. Bukannya sombong, aku sudah hapal. Bosan juga harus memperhatikan apa yang sudah di luar kepala. Sebelum disuruh mematikan gawai, aku coba baca chat-chat dulu. Ada 20 pesan masuk di WA.
Chat teratas dari Mama.
*Naz, gosip di IG perlambean itu bener? Kok bisa sih Ale selingkuh dengan janda? Ada apa dengan keluarga kalian? Apa kamu kurang jadi istri yang baik jadi dia berpaling*?
Chat kedua grup keluarga Mama.
Tante Ina : Mbak @ara serius Ale selingkuh sama selebgram yang lagi naik daun itu?
Chat kedua dari Cetta Bhanumati, sahabatku di SMA. Dia punya perusahaan biro jodoh.
*Wah, gue pikir Ale itu cowok nggak neko\-neko. Ternyata sama aja kayak cowok lain. Mata keranjang. Tenang, Naz. Cowok nggak cuma dia aja. Nanti gue bantu cari laki baru*.
Chat\-chat lain hampir senada. Membahas Nalesha. Secepat ini gosip rumah tanggaku tersebar ke seluruh keluarga dan teman\-temanku? Jujur hatiku perih membaca chat\-chat ini. Sumpah, malu banget. Aku harus ngomong apa ke mereka?
***
From : Ale Deqil
Naz, abis magrib ntar gue ke rumah lo ya. Lo ada dan keluarga ada di rumah kan?
Mataku melebar membaca chat WA dari Nalesha. Baru dua jam dia mengantarku pulang, sekarang mau ke rumah lagi aja. Jemariku gatal ingin menggoda dirinya. Kuketik balasan untuknya.
*Ciyeee ... udah kangen lagi aja sama gue. Tau sih gue emang ngangenin pake banget :v*
Dia membalas pesanku lagi.
__ADS_1
*Bukan kangen sama lo, Dodol. Tapi ada sesuatu penting yang mau gue sampaikan ke lo dan ke keluarga lo. Nggak usah kepo sekarang. Ntar juga bakal tau kok. Pokoknya lo sekarang siapin diri dan mental aja*.
Aku semakin penasaran, apa yang ingin disampaikan Nalesha? Sayangnya, dia sudah mewanti\-wanti agar aku tak kepo. Detik ini juga aku tak sabar menanti magrib biar rasa penasaran ini terjawab.
***
Saat yang aku tunggu sejak tadi siang akhirnya tiba. Di depanku sudah duduk manis Nalesha dengan mengenakan kemeja lengan panjang. Tumben\-tumbenan dia rapi. Biasanya mengenakan kaos oblong dan celana robek\-robek. Jantungku semakin berdegup kencang. Suhu di ruang tamu ini menjadi gerah, seolah AC mati. Aku takut apa yang disampaikan Nalesha adalah berita buruk.
“Nak Ale, apa kabar? Oh, ya sebelumnya Om mau minta maaf dulu saat ibumu meninggal Om tak bisa takjiah ke rumahku. Om lagi di luar negeri.” Papa membuka pembicaraan dengan basa-basi.
“Iya, nggak apa, Om. Ale bisa memaklumi Om super sibuk.”
Aduh, basa-basi di antara dua makhluk di depanku ini membuatku jengkel. Kenapa tak langsung ke pokok pembicaraan saja agar rasa penasaranku terjawab?
“Jadi gini, Om ...”
Sial, kenapa ucapan Nalesha pakai terhenti segala sih? Sengaja banget bikin aku penasaran. Andai ini adegan sinetron, pasti iklan dulu. Aku ambil minum di meja untuk mengurangi rasa tegang.
“Saya mau melamar Nazneen jadi saya, Om.”
Uhuk!
Aku langsung tersedak mendengar ucapan Nalesha. Aku tak salah dengar kan? Nalesha Wirayudha yang punya cita-cita menikah usia 45 tahun mendadak mengatakan ingin melamarku? Mama menepuk-nepuk pundakku. Tak lama kemudian tersedaknya sudah agak mendingan.
Aku bergeser duduk mendekati Nalesha. Kusentuh jidatnya, aku pikir dia lagi demam makanya bicara melantur ke mana-mana. “Kok nggak panas sih? Lo lagi kesambet ya ngomong ngaco gini?”
Nalesha menyingkirkan tanganku dari jidatnya. “Naz, aku ngucapin ini dalam keadaan sehat wal afiat dan kondisi sesadar-sadarnya. Aku serius mau nikah sama kamu.”
Nalesha semakin ngaco. Yang tadinya bicara menggunakan lo-gue, kini berubah menjadi aku-kamu. Macam orang pacaran aja!
“Males banget gue jadi bini lo,” ujarku ketus.
__ADS_1
Pandangan Nalesha beralih ke Mama dan Papa. “Om dan Tante merestui Nazneen menikah dengan saya, kan?”
“Tante sih merestui banget kalian menikah. Kalian sudah saling mengenal lama. Daripada nanti muncul fitnah karena kedekatan kalian, mending segera diresmikan saja. Iya kan, Pa?” Mama menatap Papa seolah minta dukungan beliau.
“Benar itu. Nak Ale sudah Om anggap seperti anak Om sendiri.”
Apa-apaan ini Mama dan Papa langsung bilang merestui saja tanpa menanyakan kepadaku dulu.
“Ma, Pa, ada yang ingin Nazneen bicarakan dengan kalian berdua. Yuk. Sori ya, Le. Kami tinggal dulu. Bentar aja kok.”
Aku beranjak dari sofa dan membawa Mama Papa ke dapur. Sesampai di dapur.
“Mama Papa apa-apaan sih main langsung merestui aja tanpa nanya aku dulu,” ucapku dengan nada jengkel.
“Kamu tuh apa-apaan, ada yang ngelamar bukannya dipikirin dulu malah main tolak. Kurangnya Ale apa sih? Dia udah punya pekerjaan tetap, sopan, baik, cerdas, agamanya bagus dan paling penting kamu dah kenal dia sejak lama. Ingat umur. Umurmu sudah 33 tahun. Mama tuh malu kalau kondangan ada acara keluarga selalu saja mereka menanyakan ‘kapan punya mantu?’ belum lagi julitan tetangga yang bilang kamu perawan tua. Kalau kamu nggak nikah sekarang kapan lagi? Orang yang melamar kamu nantinya, belum tentu sebaik Ale,” cerocos Mama panjang kali tinggi kali lebar.
Aku terdiam sejenak. Aku tak peduli dengan omongan orang. Namun, satu sisi aku kasihan sama Mama. Beliau pasti sakit ketika anak perempua satu-satunnya dijulitin perawan tua. Oh, Tuhan aku harus gimana? Haruskah aku menerima lamaran Ale?
“Naz, Mama selama ini nggak pernah minta apa pun sama kamu. Kali ini aja Mama minta kamu mempertimbangkan lamaran Ale baik-baik.” Mama memegang tanganku disertai melemparkan tatapan memelas.
Kalau sudah seperti ini aku jadi tak tega.
“Iya, deh Naz akan pikirkan lamaran Ale baik-baik.”
***
“Kepada penumpang Citilink yang kami sayangi. Tiga puluh menit lagi kita akan mendarat di bandara Soekarno Hatta. Persiapkan barang bawaan Anda, jangan sampai ada yang tertinggal.”
Suara informasi dari pramugari meletup-letup sehingga membuyarkan seluruh lamunanku. Rasanya baru tadi aku duduk di pesawat ini, sekarang sudah mau mendarat. Waktu memang cepat berlalu. Namun, kapan masalahku ini berlalu? Apa ini karma karena niatku menikah dengan Ale bukan karena ibadah melainkan takut dijulitin orang?
“Naz, aku perhatikan kamu dari tadi melamun aja. Aku tau kamu sekarang sedang menghadapi masalah berat. Kamu harus ingat, kita dalam perjalanan mau meeting. Ayolah profesional. Singkirkan dulu masalah pribadi. Kamu fokus konsentrasi sama materi yang akan kita bahas di kantor Titikoma nanti.” Alfian menegur.
Apa yang dikatakan Alfian benar. Seharusnya aku menyingkirkan masalah pribadi dulu. Namun, ternyata sulit berkonsentrasi pada pekerjaan saat lagi ada masalah gini. Lalu, muncul ketakutkan gagal saat meeting nanti.
“Yan, gue minta tolong sama kamu nggak?”
Alfian mendelik. “Minta tolong apa?”
“Kalau misal di kantor Noveltoon nanti gue mulai melamun, tolong backup gue. Lo yang ambil alih menjelaskan ke mereka tentang prospek AT. Masih ingat kan materi yang pernah gue bilang ke lo?”
__ADS_1
“Sebuah kebanggaan buat saya mendapatkan tugas sekeren ini dari Bu Nazneen Faiha,” goda Alfian disertai senyum memikat.