
...🥀🥀🥀...
Josua menyeringai, akhirnya aku mendapatkan mu, hahaha, masuk perangkap kau, Nona!
Silfia yang tidak tahan dengan rasa berat di kepalanya, langsung terhuyung ke belakang namun dengan sigap, tangan kekar Josua menangkapnya dan menggendong nya. Josua membawa Silfia ke hotel, tempat mereka menginap.
Josua menatap dengan genit wajah Silfia yang kini berada dalam gendongannya, "Hai baby! Kita akan bersenang senang malam ini!" seru Josua saat Silfia membuka matanya sedikit.
Pandangan Silfia buram, "Turunkan aku! Kau mau membawa ku ke ---" Silfia tidak melanjutkan kata katanya, matanya terpejam saat hilang lah sudah ke sadarannya.
"Kalo udah rejeki emang gak bakal ke mana! Gw bakal dapet pelayanan ranjang yang menguntungkan, di tambah lagi dengan tubuhnya ini... gw rasa, gw masih bisa buat dapetin ke untungan yang lebih. Gw bisa jual lo setelah gw nikmatin tubuh lo ini!" kekeh Josua dengan seringai liciknya.
Beberapa pasang mata, mengarah pada pria yang ia lihat tengah menggendong seorang wanita, mereka memiliki pemikiran sendiri, saat melihat wanita tidak sadarkan diri berada dalam gendongan seorang laki laki.
"Apa yang ingin Tuan lakukan pada wanita itu?" tanya salah seorang ibu yang baru saja ke luar dari lobby hotel dengan penuh selidik.
"Saya akan kembali membawanya ke kamar yang pastinya!" ucapnya dengan santai.
"Lepaskan wanita itu! Anda pasti ingin berbuat jahat padanya kan!" tuduh si ibu dengan geram, memancing orang orang yang ada di sekitarnya jadi ingin tahu, seketika orang pun menggerombol.
"Jaga bicara anda Nyonya! Wanita ini istri ku!" Josua mengakui wanita yang ada dalam gendongan nya adalah istrinya.
"Maaf kalo begitu, saya pikir Tuan ini orang jahat." ucap si ibu dengan malu, yang percaya saja dengan pengakuan pria yang ada di depan nya.
"Mengganggu saja!" sungut Josua berlalu pergi memasuki lift, sialan itu wanita tua, hampir saja, bagus nya ini cewe masih dalam pengaruh minuman yang tadi gw kasih.
Dengan langkah kaki yang lebar, Josua mempercepat langkah kakinya saat ke luar dari lift untuk menuju kamarnya.
Langkah Josua yang sudah berada di depan pintu kamarnya terhenti. Saat ada sebuah tangan kekar yang mencengkrammm bahunya dengan suara baritonnya.
Puk.
"Jangan terburu buru, bung! Mau kau apakan tunangan ku itu?"
Josua membalikkan tubuhnya, menatap dengan geram saat ada lagi orang yang akan menghambat langkahnya untuk membawa wanita yang ada dalam gendongan nya.
Josua menatap sinis pria yang ada di hadapannya, pria berwajah tampan, dengan setelah jas bermerk ternama yang melekat pada tubuhnya, sepasang sepatu bermerk yang tidak kalah fantastis harganya.
Batin Josua, hanya barang kw saja bangga! Pria pecundang tidak akan bisa menipu ku!
"Cihhh jangan mengada ngada kau ya, siapa bilang wanita ini adalah tunangan mu? Dia ini istri ku!" ucap Josua dengan penuh keyakinan, mencoba mengelabui orang yang ada di depannya kini.
Teddy berusaha tenang, menghadapi pria yang berani mengakui Silfia adalah istrinya.
"Benarkah begitu? Siapa namanya? Aku jamin, wanita ini tidak akan mengenai mu saat ia sadar nanti!" ucap Teddy yang melihat Silfia tidak sadar, apa yang terjadi dengan mu, Fia.
"Cih mengganggu saja kau! Persetan dengan omong kosong mu!" Josua membalikkan tubuh nya, hendak memasuki kamar hotelnya.
__ADS_1
"Hentikan langkah mu! Atau aku akan melapor kan mu ke polisi, dengan tuduhan menculik tunangan ku!" ucap Teddy dengan yakin.
"Aku tidak perduli dengan omong kosong mu, pak!" Josua tetap melangkah membawa tubuh Silfia masuk ke dalam kamar hotelnya.
Tubuh Silfia di baringkan di atas tempat tidur. Tidak berapa lama datang seorang wanita yang bertugas di resepsionis, 2 orang securty dan seorang pria berjas hitam.
"Maaf Teddy, apa aku terlambat?" tanya seorang pria berjas hitam, yang ternyata kenal dengan Teddy.
"Ada seorang pria yang mengakui tunangan ku sebagai istrinya! Aku sudah pastikan pada resepsionis mu, jika istri ku datang ke hotel ini seorang diri... namun sepertinya ada yang ingin memanfaatkan tunangan ku!" seru Teddy dengan panjang lebar, matanya melirik tajam ke arah Josua yang kini kembali menghampiri pintu depan kamar hotel yang masih terbuka.
Josua menyeringai, saat tatapan matanya mengarah pada 2 orang pria berbadan besar berseragam security.
"Ke betulan ada bapak security di sini, jadi saya tidak perlu repot repot lagi untuk memanggil kalian." ucap Josua dengan senyum liciknya.
Pria berjas hitam tersenyum penuh arti, dasar pria sinting, ini nih yang membuat reputasi hotel ku menjadi buruk.
"Kau bawa lah tunangan mu ke luar dari kamar ini!" ucap pria berjas hitam pada Teddy.
"Kau memang dapat di andalkan kawan!" ucap Teddy dengan menepuk bahu Roy.
Teddy masuk ke dalam kamar hotel itu dengan sengaja menyenggol bahunya Josua.
Bugh.
Josua membola, dengan tatapan nyalang, dan nada tinggi ia berseru, "Apa apaan ini? Kenapa anda malah memihak padanya? Saya ini memang benar suaminya! Hotel macam apa ini! Hai jangan coba coba anda menyentuh istri ku!" Josua hendak menghampiri Teddy yang terus masuk ke dalam dan hendak meraih tubuh Silfia dengan menggendongnya dengan tangan kekarnya.
Grap.
"Anda tidak terbukti sebagai suami dari Nona itu! Biarkan Tuan itu membawa tunangannya." ucap Roy, dengan tegas, pria berjas hitam.
"Terima kasih atas bantuan mu, Roy! Aku berhutang pada mu!" seru Teddy pada Roy.
"Tidak masalah kawan, kau juga sering membantu ku! Bawa lah tunangan mu segera! Akan ku suruh pelayanan hotel untuk mengantarkan minuman hangat ke kamar kalian." ucap Roy dengan melirikkan pandangannya pada resepsionis yang berdiri di samping nya, seolah meminta karyawannya itu untuk melakuakan apa yang baru saja ia katakan pada Teddy.
Sang resepsionis mengangguk patuh.
Resepsionis dan Teddy melangkah meninggalkan Roy, Josua dan dan scurity.
"Siapa anda sebenarnya? Berani beraninya mengusik ku dan istri ku!" gerutunya dengan kesal, berusaha memberontak, saat melihat wanita yang baru ia bawa ke kamar hotelnya, kini di bawa pergi begitu saja oleh pria yang mengaku tunangannya.
"Aku, Roy... pemilik dari hotel ini. Dan Pria yang membawa wanita yang kau akui sebagai istri mu, adalah sahabat ku, Teddy. Mulai detik ini juga, kau bisa kemasi barang mu dari hotel ini, dan nama mu akan di blacklist dalam daftar tamu." ucap Roy dengan tegas.
"Apa? Kau pikir aku tidak sanggup untuk membayar selama aku menginap di hotel ini hah?" ucap Josua dengan geram.
Sedangkan di kamar lain.
Teddy membaringkan Silfia di atas tempat tidur berukuran besar, salah satu sweet room yang ada di hotel itu, kamar yang cukup mewah, megah dengan segala fasilitasnya yang di jamin dapat membuat nyaman para penghuninya.
__ADS_1
Teddy membelai pipi Silfia, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah cantiknya.
"Jangan pernah lari dari ku, Silfia! Karena aku tidak akan sanggup jauh dari mu, sedetik pun aku tidak bisa tanpa melihat mu!" gumam Teddy.
Tanpa sadar, dengan pengaruh obat yang di beri Josua mulai bereaksi pada tubuh Silfia.
Silfia menggenggammm tangan besar Teddy dengan meracau.
"Panasss, jangan pergi! Tolong aku!" ucap Silfia dengan lirih, ke dua mata yang masih terpejam.
Teddy mengerutkan keningnya, menatap Silfia dengan tanda tanya, Apa yang terjadi dengan mu? Apa yang sudah pria berengsekkk itu berikan pada mu?
"Biar ku panggil kan dokter." Teddy mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Silfia, namun usahanya sia sia belaka.
Silfia bergerak dengan liar, tubuhnya menggeluat, peluh mulai ke luar dari keningnya.
Teddy mendekatkan kepalanya, berbisik di telinga Silfia, berharap wanita itu mengerti dengan usahanya untuk membantunya, lepas dari pengaruh obat tidur yang sudah di campur dengan obat perangsanggg.
"Kau tenang saja, ada aku, aku tidak akan meninggalkan mu! Percaya lah pada ku! Aku akan panggilkan dokter untuk mu!"
Grap.
"Jangan pergi! Tolong aku!" racau Silfia dengan lirih, ke dua tangan nya melingkar di leher Teddy.
"Silfia, aku tidak bisa melakukan ini pada mu! Kau pasti tidak menginginkan nya di saat kau sadar nanti. Kau pasti akan sangat membenci ku jika aku melakukan ini pada mu!" ucap Teddy.
"Mmmmmphh."
Ke duanya tenggelam dalam ciuman yang dalam, lampu yang terang kini berubah menjadi remang. Membuat suasana semakin mendukung ke duanya untuk melakukan penyatuannn.
Di bawah selimut yang tebal, ke duanya bergulat dengan suara erangannn, desahannn, lenguhannn yang meluncur bebas dari bibir Silfia.
Teddy yang awalnya merasakan kesulitan untuk melakukan penyatuan, mencoba dengan perlahan menembus, menerobosss mahkota yang selama ini di jaga Silfia dan tidak terjamah oleh senjata mana pun.
"Eeeemmmhh, uuuhhhhhh aahhhhh."
Tengah malam baru ke duanya ambruk dan terbaring di atas tempat tidur, dengan perasaan yang lega untuk Silfia, terbebas dari rasa yang membelenggu dengan pengaruh obat yang sama sekali tidak pernah ia sentuh.
Sedangkan Teddy di selimuti perasaan bersalah pada Silfia, ke bodohannya yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menjamah Silfia. Tidak mampu melawan hasratnya untuk tergoda juga pada akhirnya oleh Silfia.
Jam 5 subuh, setelah ia melakukan sholat subuh, Teddy langsung menghubungi orang tua Silfia, Radi. Meminta izin untuk menikahi Silfia pagi itu juga.
🥀🥀🥀 Bersambung 🥀🥀🥀
...🍂🍂🍂🍂...
Semoga kalian suka dengan ke haluan author gabut 🤭🤭
__ADS_1
Jangan lupa like dan tinggalin jejak komen, oke 😉