
Kantor AT aku desain sangat sederhana. Dari luar nampak seperti ruko biasa dnegan dua lantai. Namun, bagian dalamnya aku bikin selayaknya rumah yang nyaman ditinggali. Biar semua karyawan AT menjadikan kantor sederhana ini sebagai rumah kedua meŕeka. Akan aku jelaskan bagian-bagian kantor AT.
Di lantai satu ada ruang tamu, terdapat sofa model sudut jati. Konon kata internet, model yang seperti ini lagi ngetrend. Selain ada sofa, terdapat pula 3 rak buku dengan isi lengkap novel-novel loka koleksi pribadi. Tujuan agar semua karyawan saat waktu senggang, meluangkan untuk baca buku. Masa kerja di penerbitan tapi gak pernah baca buku?
Masih lantai satu, ada pula dua ruang kerja karyawan. Karyawan cowok dan karyawan cewek dipisah biar mereka fokus kerja tanpa ada tatap-tatapan mata atau saling modusin rekan kerjanya yang lain. Di sebelah ruang kerja karyawan, ruang pribadi CEO.
Lanjut lantai dua. Ada dua kamar istirahat. Kamar istirahat cewek, perabotannya ada kasur, serta meja rias yang lengkap berbagai peralatan make up. Aku sendiri selain bisnis penerbitan, terlebih dahulu bisnis make up. Sedangkan kamar istirahat cowok, selain kasur dan televisi, ada PS buat main game. Ada yang bilang, cowok itu butuh main game terlebih dahulu agar melahirkan ide-ide segar dalam bekerja.
Sebelah kamar istirahat ada musala dan kantin mini. Di kantin mini ini ada meja makan besar bisa untuk 6 orang bersama. Lalu, ada pula rak besar special menyimpan bahan makanan serta berbagai cemilan. Jadi mereka jika lapar tinggal mengambil sesuka hati. Aku tak mau karyawanku kelaparan saat bekerja.
Kok tak ada toilet atau kamar mandi? Setiap kamar sudah ada kamar mandi sekalian toiletnya.
Seteĺah menjelaskan bagian-bagian kantor AT, aku juga ingin memperkenalkan karyawan-karyawan. Berhubung masih baru, hanya ada enam karyawan.
Pertama, di posisi pemimpin redaksi bernama Sahrial Pratama. Pria bertinggi badan dan berat 55 kilo ini bela-belain jauh-jauh dari Medan ke Yogyakarta demi bekerja di kantor AT.
Kedua, di posisi editor ditempati oleh Wardah. Wanita satu ini katakternya lumayan unik. Sudah berusia kepala tiga, tetapi selalu mengaku ke orang-orang 'masih TK'. Dia inginnya dipanggil 'Dedek'. Memiliki slogan 'teken boleh digoda.'
Ketiga, Sukmawati. Posisinya sebagai marketing. Cewek satu ini memang rada telmi. Namun, kemampuannya dalam menjual buku sudah tidak diragukan lagi. Dia pernah menjadi reseler di puluhan penerbit ternama.
Keempat, Helen Amelia. Dia menjabat di posisi admin sosmed. Walau demikian, dia juga jago bagian video.
Kelima, ada Ranti. Cewek satu ini penyayang kucing. Makanya sering dipanggil 'mama koecheng'. Dia di posisi desain cover dan layouter.
Terakhir, Siti Markonah. Jika kelima karyawan di atas sudah lama berkecimpung di dunia literasi, berbeda dengan Siti. Dia janda lima orang anak ini notabennya sebagai tetanggaku, sama sekali tak punya kemampuan berhubungan dengan dunia penerbit. Aku mempekerjakannya karena kasihan. Maka dari itu aku menempatkan dia jadi pembantu umum. Tugasnya adalah cuci piring, mengepel, sampai disuruh-suruh print/fotocopi berkas.
"Selamat pagi semuanya, terima kasih sudah datang tepat waktu. Saya mengumpulkan kalian semua untuk membahas konsep AT. Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan ke kalian semua," ujarku membuka pembahasan rapat.
"Poin pertama, jalur penerimaan naskah ada dua sistem. Sistem semi mayor dan indie. Semi mayor khusus naskah berbobot atau penulis yang sudah punya followers di platform si orange. Jika penjualan di preorder pertama mencapai 1000 eks, maka kita kontrak ekslusive 10 tahun. Bukunya beredar di toko buku seluruh Indonesia. Memakai jual putus.
Poin kedua, tentang editor. Saya mau AT itu unik. Maka dari itu buka lowongan enam editor. Nanti akan ada level pedas dari level satu sampai dua. Penulis bisa memilih editor sesuai dengan mentalnya. Karena saya tahu tidak semua penulis mentalnya tahan dipedesin.
Poin ketiga, soal marketing. Susuk tolong buka lowongan marketer dari sabang sampai merauke. Keuntungan buat mereka 10-15 ribu. Kalian ada ide lain untuk menunjang penjualan buku AT?"
Wardah mengangkat tangan. "Iya, Wardah ada apa?"
"Saya punya usul, gimana kalau bikin toko buku online instagram dengan nama BenLaris?"
Giliran Sahrial yang angkat tangan."Kenapa namanya harus BenLaris tanpa embel-embel AT?"
"Biar namanya unik dan di balik nama itu terselip doa biar terbitan kita laris manis," jawab Wardah.
"Saya sih setuju ide Wardah. Gimana dengan yang lain?"
"Setuju." Lima karyawan menjawab serentak.
Aku melirik ke arah Ranti dan Helen. "Helen Ranti, kalian dari tadi diam saja, apakah ada yang mau ditanyakan atau memberi usul?"
"Sementara belum ada. Saya mengikut saja." Ranti menjawab sekenanya.
"Sama sama seperti Ranti," timpal Helen.
"Baiklah. Kalau begitu Ranti tolong banner buat lowongan editor atau marketer ya. Untuk tulisan di banner minta ke Wardah dan Sukma."
"Siap."
"Poin terakhir, saya ingin memberi tugas tambahan ke Sahrial. Berhubung kita belum punya HRD, jadi tugas interview calon karyawan, saya limpahkan ke kamu saja ya."
"No problem. Dengan senang hati saya menerima tugas tambahan."
"Oke. Sampai sini ada pertanyaan atau sanggahan?"
Hening. Tanda mereka setuju dengan apa yang aku sampaikan. "Baiklah, saya rasa cukup sampai di sini rapat hari ini. Terima kasih atas perhatiannya. Saya mohon kalian bisa saling kerjasama. Kesuksesan AT ke depan di tangan kalian." Aku menutup rapat dengan membaca hamdalah.
__ADS_1
***
"Kamu mau berangkat ke kantor sekarang?" Kudengar suara Ale ketika meneguk STMJ.
"Iya."
"Tolong bikinin aku nasi goreng dululah. Aku lagi pengen banget makan itu."
Hah? Masak nasi goreng? Sekelebat sekelebat bayangan kenangan waktu sahabatan dulu kembali teringat di benakku. Nalesha itu ambil jurusan tata boga. Dia jago masak. Yang paling sering dia masak adalah nasi goreng. Katanya paling simpel, tapi rasa nggak kalah dari chef hotel.
Aku nggak habis pikir, kenapa sekarang tiba-tiba memintaku memasak nasi goreng. Padahal dia tahu dari dulu aku nggak bisa masak. Ada aja masalah dalam masakanku. Keasianan lah. Gosonglah. Makanya selama berumah tangga aku nggak mau masak. Takut Nalesha keracunan masakanku dan aku jadi tersangka membunuh Nalesha.
"Kamu nggak liat? Aku sudah rapi begini. Kalau masak, nanti bajuku bau bumbu. Lagian, 'kan ada Bibi. Tinggal minta aja sama Bibi."
"Aku maunya dimasakin nasi goreng sama istriku. Masa selama satu tahun berumah tangga aku nggak pernah makan masakan istriku?"
"Sekali males tetap males."
"Oh gitu, ya udah aku laporin mama kamu ah. Aku bilang aja kamu nggak mau menuruti permintaan. Pasti kena omel."
Sial, dia sekarang main mengancam. Dari mana coba dia dapat inspirasi mengancam lapor ke Mama? Tak ada pilihan lain selain menurut. Buru-buru aku ke dapur.
Sesampai di dapur aku malah bengong efek bingung harus masukin apa dulu. Beginilah jika terlalu lama nggak menyentuh peralatan memasak.
"Ye, malah bengong. Keinget masa pacaran kita dulu ya?"
"Emang kita pernah pacaran?"
"Oh iya ya, kita kan teman tapi menikah. Maksudnya zaman kita sahabatan. Dulu aku pernah ngajarin kamu masak nasgor, eh pas aku tinggal ke toilet malah nasgornya gosong."
Aku senyum-senyum sendiri ingat masa itu. Waktu itu Nalesha manis banget. Dia nggak pernah mengomel bahkan masakanku yang gosong tetap dimakan dan katanya tetap enak. Berbanding terbalik dengan Nalesha yang sekarang.
Aku nggak mau ingat-ingat kenangan lagi. Waktuku sudah terbuang banyak. Aku harus secepatnya selesai masak agar bisa pergi ke kantor.
Kutuangkan garam super banyak ke nasi goreng di depanku ini. "****** lo gue kerjain. Makan nih nasi goreng super asin."
Langkah terakhir mengaduk sampai rata. Tak sampai 10 menit, nasi goreng siap dimakan.
"Nih, udah jadi," ucapku seraya meletakkan nasi goreng di meja makan. "Aku sudah boleh ke kantor, kan?"
Ale terlihat mencicipi hidangan dariku. Belum lima menit, dia sudah terbatuk-batuk. Aku tersenyum geli.
"Nasi goreng apaan ini? Asin banget sumpah. Kamu kebelet mau nikah lagi?"
"Itu risiko kalau nyuruh istri masak di bawah tekanan dan ancaman. Lagipula kamu kan tau daridulu masakanku nggak pernah beres. Dulu aja gimana pun masakanku tetep dibilang enak. Kok sekarang ngeluh dan ngomel?"
"Iya juga ya. Ya udah deh kamu ke kantor sana aja lah."
Huft. Aku bernapas lega. Akhirnya terbebas drama Ale. Selalu saja seperti ini, setiap pagi Ale selalu menciptakan drama-drama membuatku kesal.
***
Gara-gara Ale manja minta dimasakin nasi goreng, aku jadi tiba di kantor pukul 8.30. Telat 30 menit dari jam operational AT.
Saat di parkiran, aku berpapasan dengan pria bertubub gempal dan berkulit cokelat. Jantungku berdegup lebih cepat. Pasalnya pria itu tak lain dan tak bukan Alfian. Mantanku.
Aku putus dengannya lima tahun lalu dikarenakan dia ketahuan modusin banyak cewek sekaligus. Sebenarnya setahun sebelum aku menikah dengan Ale, Alfian mengajak balikan. Namun, aku tolak mentah-mentah. Bagiku, balikan sama mantan sama seperti membaca novel kedua kalinya. Sudah ketebak gimana endingnya. Sudah pasti terluka lagi. Pertanyaanku satu, "ngapain kamu di sini?"
Astaga, aku lupa. Alfian seorang novelis sejak sepuluh tahun lalu. Justru aku tertarik dunia literasi berkat dia.
"Aku habis interview editor. Aku nggak nyangka AT Press ternyata milikmu. Jodoh memang tak lari ke mana ya. Sejauh apa pun kamu menghindar dariku, Tuhan selalu punya cara mempertemukan kita."
Bulshit, aku tak percaya ucapannya. Firasatku mengatakan ada udang di balik bakwan. Pasti dia melamar editor di AT dengan tujuan ada modus tersendiri.
__ADS_1
Aku harus bicara dengan Sahrial. Mempertimbangkan kehadiran Alfian di kantor AT. Aku belum siap satu perusahaan dengan mantan.
Di pintu kantor aku berpapasan dengan Siti. Dia mau buang sampah. "Pagi Bi Siti," sapaku ramah.
"Pagi juga Bu Nazneen."
"Oh iya AT Family udah pada datang?"
"Udah, Bu."
"Abis Bi Siti buang sampah, minta Sahrial da Wardah ke ruangan saya ya."
"Siap, Bu."
***
"Pagi, Bu Naz. Kata Siti, ibu memanggil kami?" ucap Wardah begitu memasuki ruanganku. Dia tak sendiri ada Sahrial di sebelahnya.
"Iya, ada yang mau saya tanyakan pada kalian berdua. Duduk dulu biar enak bicaranya." Aku menunjuk dua kursi di depanku.
Mereka pun duduk. "Jadi, Bu Naz mau menanyakan apa ke kami?" Kali ini giliran Sahrial yang bertanya.
"Begini, saya mau mau menanyakan perihal perkembangan lowongan editor. Gimana? Sudah ada berapa orang yang melamar?"
"Sejak banner resmi disebar di seluruh sosial media AT, banyak yang kirim CV serta surat lamaran ke email. Namun, baru satu orang yang memenuhi kriteria penerbitan kita." Wardah mencoba menjelaskan.
"Siapa namanya?" Aku pura-pura tak tahu dulu orang yang melamar di AT.
"Alfian. Alasan memenuhi kriteria kita karena dia penulis ternama. Berpengalaman menjadi editor freelance di beberapa penerbit indie."
Aku melirik Sahrial. "Sudah kamu interview Alfian?"
"Sudah, Bu. Baru tadi pagi," jawab Sahrial sekenanya. Dia memang pelit bicara.
"Hasil interviewnya gimana?"
"Alhamdulillah, dia bersedia jadi editor AT."
"Menurut kalian nih, kalau misal nih kita gak jadi nerima dia di AT gimana?"
Wardah melotot. "Loh? Kenapa, Bu? Dia orang berpotensi bagus loh. Nggak sayang disia-siakan? Belum lagi ntar dia akan koar-koar di sosmed karena di-php AT."
Aku berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Wardah benar. Terlihat tidak profesional membatalkan penerimaan karyawan setelah resmi diterima. Jika tak mungkin menolak Alfian masuk ke AT, maka satu-satunya jalan adalah aku sebisa mungkin menghindari pertemuan dengannya.
"Oh, gitu. Kalian kembali ke ruangan masing-masing ya."
Sepeninggal mereka berdua, aku menatap layar komputer. Bingung harus ngapain. Kan kantor masih baru. Iseng buka Facebok. Nggak tau kenapa terbesit niat mengintip halaman Facebook Alfian. Dia sekarang statusnya sama cewek yang mana lagi ya?
Kuketik nama "Alfian N. Budiarto" di kolom pencarian. Untung makhluk satu itu belum aku unfriend atau blokir, jadi masih bisa melihat isi timeline-nya.
Rata-rata isi timeline Facebook Alfian promosi buku yang dia edit dan link tulisannya di sebuah platform. Nggak ada yang menarik. Ketika aku berniat menyudahi kepo, aku melihat sebuah status menggelitik. Status empat bulan yang lalu.
Putus lagi. Sekeras apa pun aku berusaha mengalihkan cinta ke yang lain, selalu saja hatiku tertuju ke kamu. Mungkinkah suatu hati kita bisa bersatu lagi?
Aku penasaran 'kamu' yang dia maksud itu siapa? Aku? Nggak mungkin aku. Alfian itu fuckboy. Banyak punya cewek.
Ting!
Bunyi notifasi whatsapp. Dari Alfian. Panjang umur tuh makhluk. Baru dighibahin, muncul.
Hello, Bu Nazneen yang cantik. Baru tiga puluh menit ketemu kok aku udah kangen kamu ya? Aku udah nggak sabar kerja di kantormu agar aku bisa selalu memandang wajahmu.
Ada kantong plastik nggak sih? Rasanya mau muntah baca gombalan Alfian. Jika dulu gombalan itu membikin aku tersipu malu, sekarang justru malah ingin menampol Alfian memakan ulekan sambal agar dia tak bisa menggombal lagi.
__ADS_1
Akhirnya WA dari Alfian aku baca doang. Tanpa ada niat membalasnya.