Suami Cadangan

Suami Cadangan
Chapter XIV (Nalesha Wirayudha)


__ADS_3

Istriku Sayang


Le, Mamaku hari ini datang ke rumah kita. Kamu pulang kerja temui aku di Yu Djum ya. Ada yang mau aku diskusikan sama kamu. Penting!


Kalau saja aku nggak ingat lagi di kantor, mungkin aku sudah teriak saking kagetnya. Ngapain coba Mama Mertua jauh-jauh dari Jakarta ke Yogyakarta? ****** aku bakal disidang.


Pandanganku teralihkan ke jam digital di layar HP. Pukul 16.55. Sip, lima menit lagi waktu kerja abis. Bergegas aku mematikan komputer dan mengemasi barang-barang.


"Hari ini nggak lembur lu, Le?" tegur Rean


"Masa lembur tiap hari sih. Kerjaan gue dah beres kali. Nah, gue di WA bini katanya kudu pulang cepet. Mami mertua datang."


"Pasti terkait gosip viral kemarin ya. ****** lu disidang. Hahaha." Rean tertawa terbahak-bahak. Rean itu definisi teman lucknut. Bahagia di saat temannya sengsara.


Ketika semua selesai, aku berdiri. Tiba-tiba muncul Mami Gia. "Le, udah mau pulang?"


"Iya, Mama mertua saya datang ke Yogyakarta makanya disuruh pulang cepet."


"Yah, nggak bisa lembur gitu? Saya minta kamu temenin artis yang bakal collabs ma saya."


"Maaf banget Mi, nggak bisa. Sudah janji pulang cepet soalnya." Mataku tertuju ke Rean di sebelahku. "Mami ajak Rean aja ketemu artis itu."


"Kok gue?" Rean menatapku dengan tatapan heran.


"Emang Rean mau lembur demi nemenin saya ketemu artis."


Aku meremas pundak Rean. "Ya pasti mau dong. Matanya seger liat artis. Ya udah ya saya pamit pulang dulu."


Aku melambaikan tangan ke Mami Gia dan Rean.


***


Ketika masuk ke Yu Djum Nazneen sudah duduk syantik di meja yang biasa aku duduki. Aku menghampirinya. "Maaf telat, tadi diajak Mami Gia ngobrol dulu."


"Nggak apa. Aku juga baru nyampe," jawab Nazneen ketus disertai senyum masam.


Aku tahu dia masih cemburu sama Mami Gia. "Kamu tenang aja cuma ngobrol kerjaan kok. Tadi dia minta aku lembur buat nemenin dia ketemu artis yang bakal collabs ma dia, tapi udah aku tolak. Bay the way, ngapain ngajak ketemu di sini?"

__ADS_1


"Aku mau ngajak kamu diskusi Mama. Mama pasti bakal heboh nanyain ada apa dengan rumah tangga kita. Nah, kita harus kompak pura-pura mesra di depan Mama biar Mama mengira rumah tangga kita baik-baik aja."


Jujur aku nggak setuju dengan ide Nazneen. "Kenapa harus pura-pura sih? Kenapa nggak kita mesra beneran aja?"


Mata Nazneen melotot. "Emang segampang itu aku maafin pengkhianatan kamu?"


Aku mengacak rambut frustrasi sama cewek di depanku ini. "Harus berapa kali sih aku bilang, aku tu nggak mengkhianati kamu."


"Ya tetep aja kamu bohong sama aku. Ngakunya lembur eh ternyata di rumah janda."


Skakmat. Soal ini aku memang nggak bisa menampik. Aku mengaku salah karena kemarin bohong. Mungkin kalau jujur nggak akan serumit ini. Apalah daya nasi sudah jadi bubur.


"Jadi kamu nggak setuju nih ideku? Ya udah, jangan nyesel kalau Mama bakal ngamuk dan minta kamu untuk menceraikan aku."


Aku berpikir sejenak. Kalau nggak nerima ide dari Nazneen, bisa aja dia akan mengadu ke mamanya yang nggak-nggak. Akibatnya mamanya murka lalu bawa pulang Nazneen pulang ke Jakarta atau memaksaku menjatuhkan talak. Nggak. Aku nggak mau hal itu terjadi.


"Oke. Aku setuju sama idemu."


Pelayan datang membawa dua porsi menu Besek yang berisi gudeg, krecek, paha bawah ayam dan telur tiga biji. Rupanya Nazneen. Baguslah. Jadi aku tinggal makan.


***


"Sebenarnya rumah tangga kalian ada apa sih?" Mama mertua langsung menanyakan pokok permasalahan.


Aku dan Nazneen saling berpandangan. Pandangan kami seolah menanyakan siapa yang harus menjawab pertanyaan beliau.


"Nggak ada apa-apa kok, Ma. Cuma salah paham aja. Terus ada orang iseng yang bumbu-bumbui narasi biar rumah tangga kami retak."


Aku bernapas lega Nazneen duluan yang menjawab pertanyaan beliau.


Tangan Mama menunjuk ke wajahku. "Terus kenapa kamu bisa nginep di rumah janda genit itu?"


Aku mulai menceritakan awal pulang kerja sampai menginap di rumah Mami Gia secara panjang kali tinggi kali lebar tanpa ada yang dilebih-lebihkan ataupun dikurangi. "Memang salah aku sih sempet bohong ke Nazneen." Aku tertunduk malu.


"Aku dah maafin Ale kok, Ma. Rumah tangga kita udah mesra kembali. Iya kan, Sayang?"


Nazneen memelukku manja. Aku membalas pelukan itu dengan kecupan di keningnya. Duh, nikmatnya. Sudah lama nggak merasakan pelukan hangat istri. Terakhir rasanya awal menikah. Saat malam pertama. Sehabis itu kami mulai berantem.

__ADS_1


"Syukurlah kalau rumah tangga kalian baik-baik aja. Mama kira rumah tangga kalian retak makanya bela-belain ke Yogyakarta untuk jadi penengah masalah kalian. Siapa tau bisa mendamaikan kalian."


"Mama tenang aja ya selama jantungku berdetak, aku nggak akan biarin siapapun meretakkan rumah tangga kami."


"Co Cweet banget sih kamu, Yang."


Nazneen mencubit pipiku gemas. Sialnya lumayan sakit cubitannya itu.


***


Saat aku keluar dari kamar aku sudah melihat Nazneen di dapur bersama mamanya. Ini kesempatan aku bermesraan lagi dengannya.


"Pagi, Sayang," sapaku nada manja.


"Pagi juga, Sayang. Nih, aku sudah masakin masakan favorit kamu. Nasi goreng ala Chef Nazneen."


Aku peluk dia dari belakang sambil mengecup lehernya. Nazneen menggeliat berusaha melepaskan pelukanku. "Ih, apaan sih. Pagi-pagi udah genit. Malu tau diliatin Mama."


"Nggak apa kali, Naz. Mama justru senang liat kaliam mesra kayak gini. Jadi Mama bisa tenang pulang ke Jakarta."


"Hah? Mama pulang hari ini?" tanyaku kompakan dengan Nazneen.


"Cepet banget pulangnya. Kita belum jalan-jalan loh." Aku basa-basi. Padahal dalam hati bahagia mertua cepat pulang dengan begitu hatiku nggak was-was takut dimarahin. Satu sisi sedih juga, itu artinya sehabis Mama Mertua pulang drama keromantisan yang diciptakan Nazneen harus berakhir.


"Pengennya sih lama-lama, tapi Papanya Naz nanti ngamuk ditinggal lama-lama."


"Jam berapa pesawatnya berangkat?"


"Sembilan pagi ini."


"Mau kami antar ke bandara nggak, Ma?" Kali ini Nazneen yang menawarkan bantuan ke Mama.


"Nggak usah. Mama bisa ke bandara naik taksi online kok. Udah, kalian berangkat kerja aja."


Mama mertuaku memang paling pengertian. Jadi aku nggak perlu repot-repot izin ke Mami Gia datang telat.


"Mama cuma minta satu. Tolong jaga keutuhan rumah tangga kalian ya," lanjut Mama mertua.

__ADS_1


"Mama tenang aja, aku akan mati-matian menjaga Nazneen dan keutuhan rumah tangga kami."


Sehabis itu kami sarapan bersama.


__ADS_2