
Nazneen baru pulang kerja. Dia membanting tas tangannya ke sofa. Aku perhatikan wajahnya kusut bak baju sudah berbulan-bulan nggak diseterika.
"Kamu kenapa? Lagi ada masalah ya di kantor?"
Sebenarnya aku ingin bilang bahwa sudah resign dari Mami Gia. Sepertinya bukan waktu yang tepat. Sekarang ini lebih baik mendengarkan keluh kesahnya saja dulu.
"Platform yang kemarin aku samperin ke Jakarta, ternyata dengan enaknya malah kerjasama dengan penerbit atau komunitas lain."
"Lah, kok bisa? Terus gimana tindakanmu?"
"Ya mau nggak mau, aku besok harus ke Jakarta lagi untuk meminta penjelasannya secara langsung."
Alisku terangkat sebelah kiri. "Ke Jakarta lagi? Sama siapa? Cowok lagi?"
"Iya, sama Alfian. Cowok yang kemarin nemenin aku ke Jakarta. Kenapa? Nggak suka?" Nada Nazneen mulai ketus. "Kalau nggak suka atau nggak percaya aku pergi sama cowok, kamu boleh ikut kok."
Aslinya ingin sekali ikut. Namun, jika nanti ikut nanti aku malah jadi obat nyamuk. Sama sekali nggak mengerti dunia penerbitan. Bisa jadi kehadiranku membikin Nazneen nggak nyaman. Padahalkan aku lagi berusaha membahagiakan Nazneen dengan membuatnya nyaman jadi istriku.
Nazneen melambaikan tangannya di depanku. "Hello, kok malah bengong. Mau ikut nggak? Kalau mau, biar aku suruh beli tiket pesawat lagi buat kamu."
"Nggak usah. Aku percaya kamu kok. Namun, selalu kabari aku ya biar aku tenang."
Nazneen tersenyum simpul seraya memelukku. "Nah, gitu dong. Rumah tangga kan harus didasari rasa percaya."
***
Pukul 14.00
Aku sengaja datang ke kantor Nazneen untuk mencari tahu soal Alfian. Pasalnya sejak pukul 12.00 gawai Nazneen tidak aktif. Padahal harusnya sudah mendarat di Jakarta. Firasatku sedari tadi nggak enak. Seolah mengatakan terjadi sesuatu terhadap istriku.
Sialnya, lima orang karyawan Nazneen yang cewek nggak ada satu pun yang tahu tentang Alfian. Mereka memintaku menunggu Sahrial, pemred AT Press yang notabennya satu ruangan dengan Alfian. Dia sekarang keluar makan siang.
Sembari menunggu Sahrial, aku mencoba menelepon Nazneen lagi.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkaua. Silakan coba beberapa saat lagi."
__ADS_1
Shit, masih nggak aktif.
"Nah, itu Abang Ialnya datang," ucap karyawan Nazneen yang memakai kacamata.
Aku menoleh ke samping. Oh, jadi ini namanya Sahrial. Mirip Ojan Sketsa.
"Dia siapa sih?" tanya Sahrial ke cewek hijab lebar.
"Nggak usah bisik-bisik. Gue denger kok. Kenalin, gue Nalesha Wirayudha. Panggil aja Ale. Gue suaminya Nazneen." Aku bernapas sejenak. "Kedatangan gue ke sini mencari tahu tentang Alfian. Soalnya daritadi HP Nazneen nggak aktif. Nazneen lagi pergi ke Jakarta sama Alfian. Takutnya dia diapa-apain sama Alfian."
"Maaf sebelumnya jika saya lancang. Bu Nazneen akhir-akhir emang lebih dekat sama Mas Alfian, editor di sini, sejak kepergian mereka meeting ke Jakarta itu. Kemarin Mas Alfian minta saya bikinkan poster lomba menulis Noveltoon, tapi bukan logo AT. Melainkan logo penerbit sebelah," sahut cewek berkulit putih.
Aku makin mencium ketidakberesan terhadap Alfian.
"Pak Ale, bukan bermaksud ngomporin nih, sampean nggak tau kalau Alfian itu mantan Bu Nazneen?"
Fix, kepergian ke Jakarta modusnya Alfian saja biar bisa berduaan dengan Nazneen. Dia belum move on dan berusaha merebut istriku.
"Wah, nggak bener nih. Gue bisa lihat komputer tempat kerja Alfian? Siapa tau di komputer itu gue bisa mengetahui keberadaan mereka berdua."
"Bisa, Pak. Mari."
"Paling atas emang ada e-ticket dan bookingan hotel di Jakarta sih."
"Tolong kirim dua itu ke email aleale1986@gmail.com ya."
Bersamaan dengan masuknya email dari Sahrial, masuk juga pesan Whatsapps dari nomor nggak dikenal.
Kalau lu mau bini lu selamat, temui gue di hotel Arini di dekat bandara Kulon Progo.
Dia juga mengirimkan share lokasi. Aku buru-buru ke tempat tersebut sebelum cowok laknat itu menyentuh Nazneen.
***
Aku sudah ada di lobi hotel Arini. Hotel kelas melati lah. Seketika aku melihat cowok lagi asyik minum kopi. Itu pasti Alfian.
__ADS_1
"Lu Alfian?"
Alfian menatapku seraya menyunggingkan senyum licik. "Oh, jadi ini suaminya Nazneen? Masih ganteng gue ke mana-mana."
"Di mana bini gue?" ucapku tanpa basa-basi. Aku mengambil HP lalu klik perekam suara. Ucapan Alfian bisa jadi bukti kuat atas penculikan.
"Santuy dong, Bro. Ngopi dulu lah."
"Udah deh nggak usah basa-basi. Tinggal bilang aja di mana Nazneen."
"Oke, kalau nggak mau basa-basi."
Dia mengeluarkan HP dari jaketnya. "Nih, dengerin sendiri ucapan Nazneen."
"Apa lu bahagia dengan pernikahan sama Ale? Apa yang membuat lu mau menikah dengan Ale?"
"Gue sama Ale itu udah sahabatan lama banget. Gue menikah sama Ale, sekitar dua tahun lalu karena wasiat ibunya dan didesak Mama. Umur 33 tahun tapi belum nikah-nikah. Mama udah nggak tahan dibully tetangga punya anak perawan tua. Awalnya gue kira bakal bahagia menikah sama sahabat gue sendiri. Nyatanya bahagia bentar doang. Nyebelinnya Ale makin hari makin kelihatan. Yang membuat gue nggak nyaman itu Ale terobsesi sama pernikahan bahagia orang lain, nggak bisa jadi sandaran gue dan sekarang lu tau sendiri apa yang dia perbuat."
"Denger sendiri kan, Nazneen nggak bahagia jadi bini lu. Maka dari itu, tujuan gue ngajak lu ke sini karena mau mengajukan negosiasi." Dia menyodorkan kertas di meja ke aku. "Lu tangan surat perceraian ini maka Nazneen akan gue bebasin. Kalau nggak mau, ya paling besok Nazneen pulang dalam kondisi jadi mayat."
Tiba-tiba Nazneen muncul di belakang Alfian. Syukurlah dia nggak kenapa-kenapa dan sekarang tahu busuknya Alfian. Namun, aku nggak memberi tahu Alfian ada di belakangnya. Aku ingin memancing Alfian mengatakan sesuatu yang membikin Nazneen murka.
"Sebelum gue tanda tangan, gue nanya satu hal dong. Tujuan lu masuk kantor Nazneen apa sih?"
"Ya jelas demi duit lah. Di antara banyaknya mantan gue, Nazneen doang yang paling tajir dan **** dimanfaatin. Makanya gue bela-belain masuk kantornya buat ngerebut Nazneen dari lakinya."
"Oh, jadi itu tujuan kamu masuk AT Press? Mulai detik ini kamu saya pecat secara tidak hormat."
Alfian menoleh. Seketika wajahnya pucat pasi. "Naz, aku bisa jelasin semua."
"Nggak perlu dijelasin. Semua dah jelas banget busuknya kamu."
"Sayang, kamu mau aku laporin Alfian atas tuduhan peculikan? Mumpung aku punya bukti rekaman ucapannya barusan."
"Nggak perlu. Cara terbaik ke orang yang jahatin kita adalah memaafkannya. Kalau kita membalas, kita sama jahatnya dengan dia."
__ADS_1
Aku tersenyum bangga pada Nazneen. Setahun lalu menikahi dia demi surat wasiat doang. Kini aku malah bersyukur banget menikah dengannya. Dia memiliki hati mulia dn tidak pendendam. Pilihan seorang Ibu memang atas restu Allah.
Lanjut atau tamat nih?