Suami Cadangan

Suami Cadangan
Chapter XI (Alfian Nur Budiarto)


__ADS_3

"Shit, pake acara macet segala lagi! Padahal udah milih keberangkatan jam sembilan biar udah gak jam kerja." Nazneen melirik jam yang melingkar di tangannya. "Ini udah jam sebelas siang, ternyata masih aja macet," gerutu Nazneen.


Dalam hati gue malah bahagia banget terjebak macet kayak gini. Itu artinya waktu gue sama Nazneen lebih lama lagi.


"Namanya juga Jakarta, Bu. Kalau nggak macet ya berarti pas lebaran."


"Bener juga ya."


Nazneen kembali sibuk dengan gawainya. Mungkin dia balesin chat yang membludak efek tersebarnya gosip tentang lakinya. Kasian dia jadi kena imbas perbuatan yang tak dia lakukan.


Gue memperhatikan Nazneen dengan saksama. Dia kenapa makin cantik? Jauh lebih cantik daripada saat bersama gue. Mungkin benar kata pepatah, seorang akan terlihat lebih cantik jika sudah dimiliki orang lain. Saat berduaan dalam mobil gini jantung gue berdegup 3 kali lebih kencang. Ah, jadi ingat masa-masa pacaran dulu.


"Oi, kok bengong? Ngeliatin saya gitu amat, lipstik atau make up saya ada yang belepotan ya? Tadi berangkat ke bandara buru-buru soalnya."


"Nggak kok. Bu Naz cantik."


"Oh, iya kalau di luar kantor nggak usah manggil 'Bu' panggil 'Naz' kayak zaman ..." ucapan Nazneen menggantung.


Gue tahu dia mau ngomong apa. "Kayak zaman kita pacaran dulu ya?"


"Eh, kamu masih inget kan materi apa yang akan disampaikan ke Noveltoon nanti?"


Nazneen mengalihkan pembicaraan. Mungkin dia nggak mau lagi membahas kenangan masa lalu saat masih pacaran.


"Masih dong. Nggak jauh-jauh niat kita kerjasama itu untuk meminang naskah-naskah, menerbitkan 5 besar lomba besar sama minta pihak Noveltoon minta sponsor event AT kan?"


"Yup. Sama membahas profit keuntungan buat mereka jika mereka bekerjasama dengan AT."


"Kalau mereka nanya sejak kapan AT berdiri dan udah berapa banyak buku yang terbit, aku harus jawab apa?"


"Jawab aja udah enam tahun yang lalu berdirinya. Udah 377 judul buku terbitan AT."


"Kalau nanya udah berapa eksemplar penjualan AT, aku harus jawab apa?"


Nazneen kembali memegang gawai. "Coba cek email. Aku ada kirim file pdf tentang Company profile AT. Jadi kalau mereka nanya-nanya soal AT yang nggak aku jabarin tadi malam, berarti ada di file itu."


"Oke siap. Bay the way, udah dikabarin lum Mbak Revi kalau kita sudah otw ke kantor mereka?"

__ADS_1


"Oh iya, belum. Untung kamu ingetin. Bentar, aku WA mereka dulu."


Hoam!


Gue menguap lebar. Mata gue berat banget. Efek mau pergi sama mantan yang dicintai, jadi tadi malam nggak bisa tidur. Makanya sekarang mengantuk. Gue ambil HP. Gue buka google maps. Jarak ke kantor Noveltoon yang terletak di Thamrin kurang lebih dua jam. Masih sempat lah tidur dulu. Akhirnya gue bersandar di kaca mobil. Hitungan menit sudah berkelana di alam mimpi.


***


"Yan, bangun! Udah nyampe ini."


Nazneen menggoyang-goyangkan tubuh gue. Mata gue arep-arep ngeliat pemandangan sekitar. Nazneen turun dari mobil duluan. Sedangkan gue masih berusaha mengumpilkan nyawa.


Selang lima menit, gue baru turun dari mobil. Gue takjub sama kantor Novetoon. Pertama kalinya gue menginjakkan kantor platform menulis nomor 2 di Indonesia.


"Waw, gila. Gede banget kantornya."


"Iya, katanya sih pusat Noveltoon itu di Shanghai. Nah, sebelah kanan kantor ini pusat perbelanjaan. Sebelah kirinya apartemen. Dua hal itu masih satu lingkaran."


Gue semakin geleng-geleng takjub. Dalam hati berdoa semoga suatu hari nanti AT kantornya semegah kantor Noveltoon. Kalau hal itu terjadi, gue juga yang bahagia. Syukur-syukur kalau gue jadi suami Nazneen.


Gue mengikutin langkah Nazneen. Di lobi kantor sudah berdiri dua wanita cantik. "Selamat datang di kantor Noveltoon. Saya tersanjung Bu Nazneen menyempatkan diri mengunjungi kantor kami. Yuk, ke ruang rapatnya."


***


"Saya pribadi cukup tertarik terhadap penawaran yang diajukan AT. Terlebih kami bulan depan ada rencana mengadakan lomba menulis tema perempuan hebat. Namun, sebelumnya kami ada beberapa pertanyaan terlebih dahulu. Itu bisa disampaikan oleh Mbak Lily," ucap Revi.


"Pertanyaan pertama, AT biasanya meminang naskah dari mana saja? Apa yang dilakukan oleh AT untuk mempromosikan karya penulis-penulis AT?"


******. Pertanyaannya nggak ada yang diaksih tau Nazneen kemarin. Mana status gue masih jadi editor magang. Gue mesti jawab apa? Gue melirik Nazneen. Lirikan gue seolah mengatakan, 'Naz, lu aja deh yang jawab. Gue bingung mesti jawab apa.'


Sialnya Nazneen malah melamun. Dia mulai kehilangan fokus. Sudah dari dalam pesawat dia memberi amanah kalau nggak pokus maka gue lah yang mengambil alih menjawab pertanyaan mereka. Situasi kayak gini mau nggak mau gue mesti inisiatif ngarang jawaban sendiri.


"Kami biasa meminang naskah di Dunia Orange, grup-grup kepenulisan, dan berbagai situs ternama. Soal, trik marketing kami biasa membuatkan Bedah Buku di grup Whatsapp atau telegram. Kadang bisa juga melalui live Instagram."


Detik demi detik terus bergulir. Nggak terasa sudah dua jam rapatnya.


"Saya rasa rapat kami sudahi saja. Kami pribadi tertarik bekerja sama dengan AT. Namun, kembali lagi kami belum bisa memutuskan sekarang. Harus dapat persetujuan dari pusat dulu."

__ADS_1


"Oh, tidak apa-apa, Mbak. Kami siap menunggu," jawab Nazneen.


Giliran sudah kelar aja baru bersuara. Daripada nggak sama sekali. Kami pun serentak berdiri dan saling berjabat tangan.


"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak atas waktunya menyempatkan datang ke kantor kami," ucap Mbak Revi ramah.


"Sama-sama. Terima kasih juga atas undangannya."


"Oh iya, kalian abis ini mau ke mana? Mau makan bareng sama kami dulu?" tawar Mbak Lily.


"Makasih. Namun, mohon maaf kami buru-buru. Kami langsung pulang. Sudah pesen tiket buat keberangkatan jam enam petang."


Kenapa pake ditolak sih? Padahal gue berharap makan bareng dulu biar ketinggalan pesawat jadi waktu gue sama Nazneen bisa lebih lama. Pulangnya besok aja.


***


Mata gue tertuju ke arah papan pengumuman jadwal keberangkatan pesawat.


Keberangkatan Cgk - Kulon Progo Terunda. 18.00 ➡️ 21.00.


"Shit, kenapa make delay sih? Mana tiga jam pula," gerutu Nazneen lagi.


"Tau nih. Tau delay, kita terima ajakan Mbak Lily buat makan bareng aja." Gue mencoba ikut menggerutu. Padahal dalam hati gue bahagia tertunda seperti ini. Jadi banyak waktu berdua sama Nazneen.


"Huum. Mana gue udah capek banget pula. Bawaannya tuh udah nggak sabar rebahan di kasur."


"Naz, kamu capek? Nih, pahaku siap jadi bantal buat kamu rebahan."


"Ngaco kamu. Ntar ada admin Lambe Turah memoret kita. Wajahku ntar viral besok. Masalahku makin runyam. Mending aku senderan di kursi aja. Aku tidur dulu ya. Kalau udah mau berangkat bangunin."


"Siap."


Dalam waktu kurang 10 menit Nazneen sudah molor. Ini kesempatan gue beraksi. Berbicara soal admin Lambe Turah, gue jadi ingat teman. Muncul ide cakep buat merebut Nazneen dari suaminya yang lucknut. Asli, gedek gue sama lakinya Nazneen. Sudah dapat istri yang cantik, mandiri, wanita karier, baik dan sopan masih saja mengejar janda.


Gue pelan-pelan menyandarkan kepala Nazneen ke bahu gue. Tangan kiri mengambil gawai. Lalu memotret. Wajah gue sengaja dicrop. Biar nggak ketahuan Nazneen sandaran di bahu siapa. Foto tersebut gue kirim ke teman sebagai admin Lambe Nyinyir.


Sis, tolong lo post foto ini di akun tempat lu kerja ya. Terserah captionnya apa. Kalau bisa komporin biar besok viral.

__ADS_1


__ADS_2