Suami Cadangan

Suami Cadangan
Chapter X (Nalesha Wirayudha)


__ADS_3

"Wah, ternyata di kantor kita ada yang main api sama bos sendiri."


"Yoi, Bro. Mungkin dia ingin cepet naik gaji."


"Nggak nyangka gue tampangnya aja setia nyatanya buaya juga."


Aku baru tiba di tempat kerja sudah disambut oleh ghibahan dari teman-teman kantor. Pengen banget nabokij mereka satu-satu, tapi percuma. Buang-buang tenaga.


Aku berlalu melewati mereka. Menganggap mereka tak terlihat.


"Wah, si pelaku tadi lewat tuh. Sok-sokan nggak liat kita."


Masih terdengar ghibahan mereka. "Sabar, Le. Ini ujian. Nanti kebenaran juga akan terungkap." Aku berusaha menyemangati diri sendiri.


Daripada stres memikirkan ghibahan orang julid, lebih baik aku fokus memikirkan Nazneen. Jujur, aku belum siap berpisah dengannya. Aku coba WA dia dulu.


Naz, aku tau kamu lagi pusing memikirkan masalah kita ini. Tapi jangan sampe kamu telat makan ya. I love u. :*


Entah kapan datang, tahu-tahu Mami Gia sudah ada di depan meja kerjaku. "Ale, bisa ke ruangan saya sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu."


"Baik, Mi."


Aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke ruangan Mami Gia. Sesampai di ruangan, aku dipersilakan duduk di sofanya.


"Le, saya mau minta maaf sama kamu. Akibat kelambean pembantu saya, kamu jadi malu. Saya nggak nyangka jadi seheboh ini."


Sumpah, aku ingin maki-maki. Gara-gara menahan aku pulang, rumah tanggaku di ujung tanduk. Satu sisi salahku juga mau menuruti permintaannya tadi malam. Jadi aku urungkan berkata kasar. Aku masih butuh kerja di tempat Mami Gia.


"Iya, nggak apa, Bu. Mungkin emang takdir ujian rumah tangga saya."


"Rumah tanggamu sama istri baik-baik aja, kan?"


"Nggak begitu baik sih. Cewek mana coba yang nggak marah liat akun gosip nampilin berita suaminya nginep di rumah cewek lain."


Raut wajah Mami Gia berubah jadi sedih. "Aduh, saya jadi nggak enak sama kamu. Gara-gara saya, rumah tanggamu jadi berantakan. Apa saya nemuin istrimu aja ya buat jelasin apa yang terjadi nggak seperti yang tertulis akun gosip itu?"


"Nggak usah, Mi. Nazneen sekarang lagi meeting di Jakarta."


"Oh gitu ya? Ya udah, nanti kalau istrimu pulang, tolong kabari saya. Saya mau bertemu dan minta maaf langsung dengannya."

__ADS_1


"Baik, Mi. Ada lagi yang mau Mami Gia bicarakan dengan saya?"


"Nggak ada sih. Saya cuma mau minta maaf aja kok."


"Jika tak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya pamit kembali ke ruang kerja ya."


***


12.00


Aku mengacak-acak rambut. Aku sama sekali tak bisa konsentrasi kerja. Pikiranku selalu tertuju ke Nazneen. Dia lagi apa? Sudah sampai Jakarta belum? Yang membuatku semakin khawatir adalah dia pergi bersama karyawannya yang cowok. Gimana kalau cowok itu jahat malah memanfaatkan situasi ini buat mengomporin Nazneen buat minta cerai dariku?


Aku ambil gawai. Buka WA. Chatku ke Nazneen dari jam sembilan tadi belum dibalas juga. Aku chat lagi ah.


*Naz, udah sampai Jakarta dan makan siang?


Naz, aku tau kamu marah sama aku. Tapi plis bales WA-ku biar aku tenang kamu sampai Jakarta dengan selamat*.


"Hay, Bro. Gue prihatin banget dengan masalah yang lu hadapin sekarang. Lu yang sabar ya. Badai pasti berlalu," ucap Rean duduk di sebelaku.


"Thank, Bro. Gue kira lu ikutan benci dan ghibahin gue sama kek yang lain."


Aku langsung memeluk Rean. "Terharu gue, ternyata masih ada yang percaya gue."


Rean usaha melepas pelukanku. "Apa sih pake peluk-peluk segala. Jijik tau. Ntar ada yang liat terus kita difoto dan kirim ke Lambe Turah lagi gimana?"


Aku cengengesan. "Kok gue nggak mikir ke sana ya? Repleks seneng karena masih ada yang percaya gue. Bini gue aja nggak percaya gue. Dia malah kabur ke Jakarta buat meeting sama karyawannya yang lain." Repleks lidahku mengalir begitu saja menceritakan apa yang aku rasakan.


"Hush, lu nggak boleh ngomong gitu. Lu harus percaya bini lu nggak akan ngelakuin hal aneh-aneh. Kalau lu ikutan nggak percaya, masalah lu makin runyam."


"Gitu ya. Abis gue daritadi frustrasi mikirin dia. Chat gue nggak kunjung dibales coba. Bingung gue gimana caranya bikin percaya sama gue."


"Cewek butuh waktu kali. Kepercayaannya akan kembali seiring terungkapnya kebenaran. Nah, sambil nunggu Nazneen bales chat lu, kita makan siang aja yuk! Gue traktir deh, biar galau lu berkurang."


Mendengar kata traktiran, otakku semangat. "Ayo, mumpung perut gue laper banget nih."


" Yeee ... denger traktiran aja semangat. Dasar pencinta gretongan."


"Hahaha."

__ADS_1


Aku beruntung mengenal Rean. Situasi apa pun dia tak pernah meninggalkanku.


***


Sudah pukul sembilan malam, aku masih bertahan di kantor Mami Gia. Malas pulang. Toh, di rumah nggak ada Nazneen. Istriku itu apa kabar? Sudah makan belum? Meetingnya sukses nggak? Karyawannya modusin dia nggak? Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiranku.


Aku coba cek WA. Berharap dia sudah membalasnya. Huft, aku kecewa. Harapanku pupus. Jangankan dibalas, dibaca aja belum.


Aku malah larinya membaca chat di grup 'Sepercucuan Wirayudha' mereka heboh rumah tanggaku. Yang cewek membela Nazneen, menyalahkan atas perbuatanku. Sedangkan yang cowok terutama Aldi malah memojokkan Nazneen.


Aldi


Positif Thinking gaess. Mungkin Ale selingkuh karena bininya susah hamil. Atau nggak muasin. Dia pinter milih janda. Janda kan semakin di depan. Terkenal pula.


Membaca chat dari Aldi hatiku perih. Aku nggak pernah memikirkan efek perbuatanku membuat Nazneen malu di depan keluargaku. Pantes saja dia marah besar. Aku merasa bersalah padanya.


Aku tiba-tiba merasakan sesuatu menyentuh pundakku. Jangan-jangan ...


Aku menoleh ke samping. Ternyata Rean. "Le, lum pulang lu?"


"Males pulang gue. Toh, Nazneen juga nggak ada di rumah. Lu sendiri kenapa lum pulang?"


"Ni, mau pulang. Jangan gitu lah. Lu mesti istirahat. Tuh, udah kucel gitu. Siapa tau Nazneen dah di rumah."


"Ya udah deh gue pulang."


"Mau pulang bareng gue nggak?"


"Boleh deh."


Aku pun mematikan komputer dan mengemasi barang. Ketika mau memasukkan HP ke tas, tiba-tiba ada notifasi WA. Dari Aldi lagi.


Aldi


Gaesss ... Coba deh cek akun @lambenyinyir ada hot gosip loh. Rumah tangga sodara kita makin seru.


Aku penasaran. Coba buka IG. Seketika mataku melotot. Emosiku naik ke ubun-ubun. Rasa bersalah ke Nazneen langsung lenyap.


Rean terlihat mengintip HP-ku. Dia menepuk-nepuk pundakku. "Sabar. Jangan kepancing emosi. Lu harus tanya langsung ke bini lu dulu. Siapa tau itu foto editan." Rean berusaha memenangkanku. "Ya udah, gue traktir minum es campur deh biar hati lu adem."

__ADS_1


__ADS_2