
Mataku membulat ketika melihat sebuah bingkisan tergeletak di meja kerja. Terlebih saat membaca surat tertempel di atasnya. ‘Semoga suka sama bingkisan ini. Alfian.’
Aku menghela napas berat. Cowok satu itu tak berubah. Masih saja suka memberikan kejutan bingkisan. Dia pikir dengan bingkisan ini bisa menghapus luka yang telah torehkan di hatiku? Tak akan.
Aku membawa bingkisan itu keluar ruangan. Lalu membuang ke tong sampah tepat di depan ruangan Alfian. Sengaja, biar lihat. Jadi dia tak perlu mengirim bingkisan lagi. Setelah melakukan itu, aku kembali ke ruangan.
Ketika sampai di ruanganku lagi, aku buru-buru buka komputer. Mulai lihat-lihat ******* guna mencari naskah potensi. Sebagai owner, aku tak mau berpangku tangan mengandalkan karyawan.
Mencari naskah di Dunia Orange ini tak semudah yang kubayangkan. Kemungkinan Cuma ada tiga hal. Ide bagus, tapi teknik kepenulisan PUEBI serta tanda baca berantakan. Teknis menulisnya rapi, idenya biasa saja. Paling menyebalkan ketika menemukan naskah ide unik dan teknik menulis rapi, malah sudah diterbitkan oleh penerbit lain.
Bosan mencari naskah, aku mencoba beralih membuka email. Ada satu email belum terbaca. Dari duniabiru@noveltoon.co.id. Noveltoon merupakan platform menulis tandingan *******. Banyak penulis baru yang mencoba mempublikasikan tulisannya di sana. Maka dari itu aku tertarik mengajukan proposal kerjasama dengan mereka guna untuk menjaring naskah-naskah keren diterbitkan di AT Press. Senyum merekah terlukis cerah di bibirku. Setelah sekian lama akhirnya proposal yang aku kirimkan ke mereka mendapat jawaban.
Dear Ibu Nazneen
Terima kasih atas kiriman proposalnya. Jujur saya tertarik atas tawaran kerjasama yang Anda ajukan. Namun, untuk membicarakan sistem kontrak lebih lanjut, silakan Anda datang ke kantor kami.
Cukup sekian informasih dari saya. Terima kasih atas perhatiannya.
Regadrs,
Revi
General Manager Noveltoon.
Rasa bahagia yang tadi meletup-letup di hati langsung sirna tatkala membaca kalimat terakhirnya. Masa aku harus datang ke kantor mereka di Jakarta? Betapa malasnya aku pergi keluar kota seorang diri. Inginnya ditemani suami. Namun, hatiku yakin dia tak mau menemani.
Ting!
Gawaiku berbunyi. Muncul notifasi pemberitahuan ada pesan masuk di Whatsapp. Dari Nalesha. Panjang umur dia. Baru diomongin sudah muncul. Tak ada salahnya mencoba meminta Ale menemani ke Jakarta. Kali aja mau.
Naz, kita makan siang bareng yuk!
Jari-jariku mengetik sebuah balasan, ‘Boleh. Sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu. Mau maksi di mana?’
Dia membalas pesanku lagi. ‘Gimana kalau kita maksi di warung favoritku aja?’
Aku buru-buru mematikan komputer agar segera menemui Nalesha.
***
Nalesha sangat menyukai gudeg. Gudeg paling enak di Yogyakarta itu Gudeg Yu Djum. Menurut informasi di internet Gudeg Yu Djum sudah berdiri sejak 1951. Selain rasanya enak, kebersihannya pun terjamin. Tempatnya juga asri. Masih menggunakan bangunan Joglo. Tak heran Nalesha memilih tempat ini sebagai warung makan favoritnya.
__ADS_1
Ketika memasuki Warung Yu Djum, aku sudah disambut dua pelayan cantik mengenakan seragam kebaya batik.
“Selamat siang, apakah sudah memesan kursi?”
“Saya ke sini menemui suami saya.” Aku celingak-celinguk mencari sosok Ale. Sesaat kemudian pandanganku tertuju ke meja nomor lima. Kulangkahkan kaki menuju meja itu.
"Hei, sudah lama nunggu? Sori agak lama datang. Tadi beresin kerjaan dulu," ucapku.
"Baru aja nyampe kok. Bay the way, katanya ada yang mau diomongin sama aku. Apa?"
Huft. Istri baru datang, bukannya dicium atau dipeluk dulu malah langsung ditanyain. Dasar, suami tak ada hangat-hangatnya ke istri.
Aku menarik kursi. "Gini, proposal kerjasamaku di-acc sama perusahaan platform incaranku."
"Oh, bagus dong."
"Tapi masalahnya mereka minta aku datang ke kantor mereka di Jakarta buat membahas sistem kontrak lebih lanjut. Kamu mau nggak menemaniku ke Jakarta?"
Guratan kebimbangan tergambar jelas di wajah Ale. Dari sana aku tahu, jawaban yang akan keluar dari mulutnya. "Pasti nggak bisa ya? Udah aku duga. Kamu emang nggak pernah nemenin aku saat lagi butuh."
"Aduh, gimana ya? Editanku masih banyak. Nggak enak ninggalin kerjaan. Lagipula Mami Gia belum tentu ngizinin karyawannya cuti. Sekarang aja udah ada dua karyawan yang cuti nikah. "
Seketika memanyunkan bibir. "Dih, katanya mau rumah tangga kita harmonis. Giliran istrinya minta ditemenin malah nggak mau. Padahal aku kemarin mau loh nemenin kamu ke nikahan keluargamu yang nyebelin itu."
"Au ah." Aku bangkit dari kursi dan menyambar tas.
"Kamu mau ke mana?"
"Mau balik kantor."
"Kita belum mesen makanan loh."
"Makan aja sendiri. Moodku udah ambyar makan sama kamu."
Aku berlalu meninggalkan Nalesha seorang diri.
***
Kopi Janji Jiwa bertengger cantik di meja kerjaku. Mata langsung berbinar. Kopi ini merupakan kopi favoritku. Namun, seketika mukaku berubah masam melihat nama pengirimnya. Alfian. Dia lagi. Dia lagi. Belum menyerah juga rupanya. Entah dari mana dia tau minuman favoritku.
Ingin sekali membuang pemberiannya. Satu sisi sayang. Terlebih liurku sudah menetes agar segera meminumnya. Mubazir juga. Bisa saja aku buang terus beli sendiri. Malas. Antrinya panjang. Aku paling sebal kalau diminta mengantri. Pesan gofood bakal lama. Hausnya sekarang. Terlebih setelah berantem sama Ale rasa haus jadi meningkat jadi tiga kali lipat.
__ADS_1
"Akhirnya kamu menerima pemberianku." Suara orang menyebalkan ada di belakangku.
Aku membalikkan badan. "Jangan geer. Gue nerima kopi ini karena sayang aja. Mubazir dibuang. Ngapain kamu di sini? Bukannya ini masih jam kerja?"
"Aku cuma memastikan bahwa kopi ini sampai di perut penerimanya."
"Naz, aku tahu aku pernah memberikan luka terdalam di hatimu. Tapi tak bisakah kamu sedikit saja berdamai denganku? Bukankah hidup lebih indah jika kita berdamai dengan luka?"
Aku tersenyum kecut mendengar kalimatnya yang sok puitis itu. "Shit. Kamu pikir gampang berdamai dengan luka? Luka tetap luka. Dia akan terus membekas dalam hati. Sekalipun nantinya lidahku memutuskan berdamai denganmu."
Alfian memasukkan tangan ke kantong celananya. "Terserah sih kalau kamu belum bisa berdamai dengan luka yang pernah aku torehkan. Tapi tolong, hargai keberadaanku di kantor ini. Nggak enak tau dicuekin bos sendiri. Dianggep hantu. Nggak terlihat matamu. Lagipula kita sama-sama dewasa, masa melibatkan hati ke dalam urusan pekerjaan?"
Ucapan Alfian barusan menohok jantungku. Secara tidak langsung dia mengatakan aku masih belum dewasa. Entah kenapa aku tidak bisa marah. Apa yang diucapkannya ada benarnya juga. Harusnya aku profesional. Tanpa melibatkan perasaan ke dalam urusan pekerjaan.
Aku mengembuskan napas panjang. "Oke kita berdamai. Mulai detik ini aku akan menganggapmu sebagai karyawanku. Tidak lebih. Jadi nggak usah pake modus. Apalagi ngajak balikan. Silakan balik ke ruang kerjamu."
Senyum manis terukir di bibirnya. "Nah, gitu dong. Oke, aku balik kerja dulu ya. Bu Nanas."
***
Jika biasanya yang mengunci pintu kantor AT Press adalah Siti, sekarang giliranku yang melakukan hal tersebut. Hari ini aku yang paling terakhir pulang karena keasyikan mencari naskah di platform serta menyiapkan presentasi buat meeting ke kantor Noveltoon.
"Sore Bu Bos yang cantik. Mau saya anterin pulang nggak?"
Aku menoleh ke samping. Ternyata Alfian. "Astaga, kamu bikin saya kaget aja. Kamu ngapain belum pulang?"
"Nungguin Bu Bos lah. Takut dicap karyawan durhaka pulang duluan. Gimana tawaran saya? Mau nggak saya anterin pulang?"
"Kan sudah saya bilang kalau di kantor nggak usah make modus."
"Nggak modus kok, tapi tulus."
"Nggak. Makasih. Saya bisa pulang sendiri. Lagian bawa mobil kok."
Aku terus berjalan ke parkiran. Sesampai di parkiran, aku melihat ban mobil kempes. "Sial make kempes segala lagi."
Hatiku yakin ini pasti ulah Alfian agar aku mau pulang dengannya. Cowok satu ini memang menyerah. Dia akan melakukan apa pun demi keinginannya tercapai.
"Tawaran saya tadi masih berlaku loh," tutur Alfian.
"Jawaban saya tetep sama. Makasih. Saya bisa pulang sendiri naik taksi online." Aku menolak tawarannya dengan ketus.
__ADS_1
Bisa berabe kalau aku diantar pulang sama Alfian. Takutnya Ale pulang cepat dan langsung mengamuk. Belum lagi julitan tetangga. Gini-gini aku masih tahu tugas istri menjaga martabat dan harga diri suami.