
...🥀🥀🥀...
"Aku sangat mencintai mu, Fia." Teddy memeluk tubuh Silfia, menghujaninya dengan kecupan di kening.
"Aku tidak menyangka, pernikan ku akan jadi seperti ini!" gumam Silfia.
"Tapi setidaknya pernikahan kita ini tetap lah sakral, ada wali orang tua mu meski mereka menyaksikan lewat video call. Mereka juga memberikan restu untuk status kita yang baru." terang Teddy.
Setelah acara ijab kabul selesai, sudah mendapatkan selamat dari para saksi, kini tinggal lah Roy, Teddy dan Silfia yang tersisa di ruangan itu.
"Terima kasih ya! Kalo bukan karena mu, acara ku tidak akan berjalan dengan sukses." ucap Teddy dengan menjabat tangan Roy.
"Jangan sungkan pada ku, selama ini kamu lah yang sudah banyak membantu ku. Selamat ya atas pernikahan kalian." ucap Roy dengan serta menjabat tangan Silfia.
"Terima kasih." ucap Silfia pada Roy.
"Ini aku serahkan pada mu, sebagai hadiah pernikahan kalian." Roy menyerahkan sebuah map coklat berukuran cukup besar pada Teddy.
Teddy mengerutkan keningnya, "Kunci apa ini, Roy?" tanya Teddy.
"Coba saja kamu buka, tapi maaf ya jika ukurannya terlalu kecil. Semoga bisa membawa ke bahagiaan untuk keluarga kecil kalian." ucap Roy.
__ADS_1
"Bikin penasaran aja!" Teddy membuka map coklat itu, dan mengeluarkan isinya.
Silfia melihat apa yang di pegang Teddy, matanya menatap dengan tanda tanya, "Sertifikat dan kunci?" tanya Silfia, masih belum mengerti dengan hadiah pemberian Roy, sahabatnya dari Teddy yang kini telah menjadi suaminya.
Teddy yang sudah mengerti akan hadiah yang di berikan Roy, tampak sungkan untuk menerima hadiah dari Roy.
"Ini berlebihan, Roy" ucap Teddy yang sungkan untuk menerima hadiah pemberian Roy.
"Jangan merendah, selama ini kamu sudah banyak membantu ku. Jika bukan karena bantuan mu, mungkin hotel ini tidak akan mampu bertahan hingga saat ini." ujar Roy, mengingat kebaikan Teddy padanya.
"Terima kasih ya! Aku terima hadiah mu ini... semoga setelah ini. Aku mendapat undangan pernikahan dari mu!" ucap Teddy dengan penuh harap pada Roy. Pria yang masih betah melajang, dengan ke sibukannya mengurus resort.
"Do'akan saja, aku bisa bertemu dengan wanita yang bisa menggetarkan hati ku!" Roy melirik kan pandangannya pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "Kalo begitu aku duluan ya! Masih ada yang harus aku kerjakan." Roy undur diri dari hadapan Teddy dan Selfia.
Silfia dan Teddy kembali ke kamar mereka, kamar yang menjadi saksi penyatuan ke duanya.
"Sepertinya aku menginginkan mu lagi, Fia! Bolehkan aku melakukan nya lagi?" tanya Teddy dengan menatap penuh damba punggung Silfia yang mulus tanpa celah.
"Beruang! Aku meminta mu untuk membantu ku melepas hiasan di kepala ku, bukan untuk menggoda ku!" ucap Silfia dengan wajah menunduk malu, wajahnya semakin merona mendengar ucapan Teddy.
Tangan Teddy menyentuh punggung Silfia dengan jemarinya, memberikan kecupan dan gigitan kecil di punggung yang tampak menggodanya.
__ADS_1
Teddy membalikkan tubuh Silfia, membuat ke duanya kini saling berhadapan.
Teddy memeluk erat tubuh Silfia, berkata dengan lembut di ceruk leher Silfia.
"Sekarang kita sudah sah menjadi suami istri, aku boleh kan meminta hak ku? Tapi jika kamu masih butuh waktu, aku akan menunggu nya sampai kau siap!" ucap Teddy dengan penekanan.
Silfia membatin, jika aku menolak, aku akan berdosa. Sekarang ini Teddy sudah menjadi suami ku, sesuatu hal yang wajar saja jika ia menginginkan haknya.
Silfia menganggukkan kepalanya, membuat Teddy langsung bergerak cepat membantu Silfia, melepas hiasan yang ada di kepalanya.
Teddy menanggalkan kebaya yang tadi membalut tubuh indah Silfia. Baru lah ia menanggalkan pakaian yang melekat pada tubuhnya sendiri.
Teddy mulai merangkak naik ke atas tubuh Silfia yang kini terbaring malu di atas kasur berukuran besar.
"Tatap aku, Fia!" seru Teddy dengan berbicara di wajah Silfia, membuat wajah Silfia tersapu nafas Teddy yang segar dengan mint.
Dengan malu Silfia menatap Teddy, membuat Teddy menyeringai
🥀🥀🥀 Bersambung 🥀🥀🥀
...🍂🍂🍂🍂...
__ADS_1
Semoga kalian suka dengan ke haluan author gabut 🤭🤭
Jangan lupa like dan tinggalin jejak komen, oke 😉