
Nalesha menyibak gorden kamar. Seberkas cahaya matahari mengenali mata. Aku mengerjap, lalu menyeret selimut untuk menutupi mata. Silau.
"Yeee aku buka gorden biar kamu cepat bangun eh kamunya malah narik selimut."
Huft. Nalesha pasti mau ngedrama lagi. "Ini kan hari minggu. Aku mau gegoleran seharian."
"Walaupun Minggu, bukan berarti kamu males-malesan. Temanin aku olahraga yuk."
"Males ah. Masih ngantuk."
"Yakin nih males? Kamu udah agak gendutan loh."
Aku melompat dari tempat tidur menuju meja rias. Di bagia perut memang terlihat lemak. Sepertinya memang harus olahraga. Sebelum orang lain yang mengatakan aku gendut.
"Ya udah yuk kita olahraga."
***
Hosh ... Hosh
Baru satu putaran keliling kompleks sudah ngos-ngosan. Beginilah akibat jarang olahraga. Aku mengatur napas dulu. Baru celingak-celinguk mencari sosok Nalesha. Ternyata lagi asyik sama cewek cantik.
Sekarang aku paham, tujuannya olahraga itu apa. Melintaslah pedagang asongan jual teh manis. Mendadak muncul ide buat mengerjai Nalesha.
"Pak, saya beli satu bungkus teh anget manis ya."
Bapak menjual membikinkan teh anget manis. Setelah itu dimasukkan ke plastik. "Ini tehnya."
Aku menerima teh tersebut. "Berapa?"
"Dua ribu aja, Neng."
Aku merogoh saku celana training. Untungnya ada uang lima ribuan dan obat pencahar. Entah kapan aku memasukkan dua benda ini. Aku berikan ke Bapak pedagang teh uang lima ribuannya. "Kembaliannya buat Bapak aja ya?"
"Wah, makasih, Neng."
Pedagang asongan berlalu. Sebelum teh ini berpindah tangan ke Nalesha, aku masukin obat pencahar dulu.
Aku menghampiri Nalesha. Cewek tadi sudah pergi. "Kamu pasti capek. Nih, minum tehnya dulu," ujarku disertai senyum semanis mungkin biar dia nggak curiga.
"Wah, manisnya istriku. Gini kan enak."
Nalesha meminum teh yang aku kasih.
1 ... 2 ... 3 ... 4 ...
Aku berhitung dalam hati. Hitungan kelima tiba-tiba Nalesha mengatakan, "Naz, kita pulang aja yuk. Mendadak perutku mules."
Dia pun mengibrit lari menuju rumah. Sedang aku tertawa terbahak-bahak obat pencaharnya sudah bereaksi. "****** lu. Makanya jangan bikin kesel gue."
__ADS_1
Aku menyusul Nalesha pulang.
***
Aku sedang asyik baca-baca chat dan berselancar di dunia maya. Sedangkan Nalesha lagi tidur pulas setelah dua jam lalu aku kasih obat diare. Aku yang membikin dia mules, aku juga yang bertanggung jawab menyembuhkannya.
Ada banyak notifikasi yang masuk. Teratas grup 'Sepercucuan Wirayudha' Wirayudha sendiri nama kakek buyut Ale. Jadi jelas grup ini grup keluarga Ale.
Grup yang biasa sepi mendadak ada 100 chat lebih. Ternyata karena Putri, sepupu Ale mengirimkan undangan pernikahan. Lalu di bawahnya pada mengucapkan selamat.
Well, sebenarnya aku paling malas datang ke acara keluarga Ale. Mereka tuh rempong kepo sama urusan orang. Suka mempertanyakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab Tuhan. Misal, sewaktu sahabatan dulu mereka sering menanyakan 'kapan kalian nikah?'
Terakhir datang ke tujuh bulanan Siska, Tante Ale, banyak yang menanyakan 'kapan punya anak? Kalian nggak menunda, kan?'
Aku bukannya sengaja menunda kehamilan. Walau tak cinta, tetapi aku sudah menjalankan kewajibanku sebagai istri. Namun, sepertinya Tuhan tahu kondisi rumah tangga kami. Makanya Tuhan belum memberi kepercayaan anak ke aku dan Ale. Secuek-cueknya aku sama perkataan orang, jika terus-terusan mendengar pertanyaan menyebalkan soal anak, lama-lama bikin muak juga.
Mengenai pernikahan Putri, inginnya tak datang. Aku yakin Ale pasti membujukku datang. Lihat nanti, aku bisa menolak permintaan Ale atau tidak.
"Hey, kamu lagi ngapain?"
Oh, ternyata Ale sudah bangun. Entah drama apalagi yang akan dia ciptakan.
"Lagi baca-baca chat grup WA aja."
"Naz, kamu sudah baca chat di grup Sepercucuan Wirayudha?"
"Udah. Ada kabar pernikahan Putri, kan?"
"Loh, bukannya kamu lagi mencret? Nanti keciprit di celana loh."
"Udah agak mendingan sih. Nanti malam sebelum berangkat, minum obat lagi biar nggak keciprit.
"Aslinya tuh males banget datang, keluargamu pasti rempong kepo soal anak. Secuek-cueknya aku sama perkataan orang, jika terus-terusan mendengar pertanyaan menyebalkan soal anak, lama-lama bikin muak juga."
"Aku tau perasaanmu, tapi masa kita nggak datang? Mamanya Putri dulu sering banget bantu keuangan Mama pasca Ayah meninggal. Belum lagi beliau selalu menghibur Mama setiap ada masalah. Ayolah, kamu mau ya datang ke sana?" bujuk Ale dengan nada memohon.
"Gini deh, nanti kalau ada yang nanya perihal anak, biar aku yang jawab. Kamu cukup senyum aja. Gimana?" tawar Ale.
Huft, jika seperti ini tak ada pilihan lain selain mengalah. Menuruti permintaan Ale datang ke pernikahan Putri.
***
Pernikahan Putri memakai konsep adat outdoor yang kasual serta diselipkan sentuhan Jawa klasik seperti dekorasi yang dilakukan oleh Dalang Indonesia, lupa nama Dalangnya siapa. Pelaminan kayu digantikan oleh backdrop berbalut batik. Tak ada kursi. Hanya ada meja-meja ditambahkan beberapa bantal sebagai tempat duduk tamu. Sehingga tamu berasa santai makan di lesehan.
Pertama datang kami disambut oleh Aldi, Kakak Putri yang pertama. Di sebelahnya ada istrinya yang tampak sedang hamil. Sedikit informasi Aldi menikah enam bulan lalu. Aku tak hadir karena lagi sibuk-sibuknya mengurus bisnis di Jakarta.
"Eh, Ale apa kabar? Istrimu makin cantik aja." Aldi basa-basi.
"Ah, bisa aja. Makasih pujiannya," jawabku sekenanya disertai senyum manis.
__ADS_1
"Gimana istrimu udah hamidun?"
Astaga, baru datang. Bukannya disuruh isi nama di buku tamu dulu malah ditanya aneh-aneh.
"Belum."
"Hah? Gimana sih kamu payah. Masa kalah sama aku yang baru nikah enam bulan, langsung tokcer dong."
Aku tersenyum kecut mendengar ocehannya. Hello, dikira punya anak sama seperti perlombaan yang di mana ada menang dan kalah?
"Doain aja semoga kami nyusul kalian. Ya udah, kami salaman sama pengantinnya dulu." Ale menggandengku. Aku bernapas lega. Akhirnya terbebas juga dari cowok berlambe lemes.
***
Dengan mengenakan pakaian mantenan adat Jawa Timur, Putri terlihat semakin cantik dan manglingi. Auranya terlihat bersinar cerah.
Aku pernah nonton film Mantan Manten, di sana diceritakan bahwa jika pengantin bisa bikin pangling harus melakukan banyak ritual yang diarahkan dukun manten. Puasalah, siapkan sesaji dan sebagainya. Waktu aku nikah, tak ada ritual-ritual seperti itu. Malas. Ribet. Toh, kami menikah cuma terpaksa. Cukup ijab qobul aja.
Tibalah giliran di depan mempelai. Usai salaman dan cipika-cipiki. "Selamat ya menempuh hidup baru ya, Put. Moga samawa."
"Aamiin. Makasih, Mbak. Doa terbaik juga buat Mbak Naz dan Mas Ale," tutur Putri kalem.
Selanjutnya salaman ke orang tua Putri. "Selamat ya Tante akhirnya punya mantu juga dari Putri," tandas Ale memberikan ucapan selamat ke Mama Putri.
"Makasih Ale. Eh, gimana bojomu wes isi?"
Ini kedua kalinya aku mendengar pertanyaan serupa. Astaga, harus berapa kali aku mendengar pertanyaan menyebalkan itu?
Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Ale pun juga menjawab sama seperti ditanya Aldi tadi. "Belum, Budhe. Mohon doanya aja."
"Yo wes Budhe doangakno ben bojomu cepet isi. Ben engko anak kalian bisa main bareng karo anake Putri." (Ya sudah, Budhe doakan biar istrimu cepet isi. Biar nanti anal kalian bisa main bareng sama anaknya Putri.)
Aku hanya bisa mengaminkan doa Mamanya Putri. Siapa tahu terkabul. Namun, jika boleh jujur aku inginny terkabul nanti-nanti saja saat cinta telah hadir dalam pernikahanku dan Ale. Orang kami saja masih tiap hari bertengkar, gimana sambil mengurus anak?
Lama-lama jengeh juga selalu ditanya pertanyaan yang sama. Ale mana sih? Bukankah dia yang berjanji akan membantu menjawab? Aku menoleh ke kanan dan kiri. Ternyata Ale lagi asyik mengobrol dengan saudaranya yang lain.
Ya sudahlah. Aku pulang duluan saja. Sebelum pulang, aku WA dia dulu.
Le, aku pulang duluan ya. Kalau mau tau alasannya kita bicarain di rumah.
***
Di ruang tamu aku asyik menonton drama Korea genre kriminal. Drama yang kutonton The Good Detective. Ketika seru-serunya di menit tiga puluh. Ale datang.
"Kamu kok pulang duluan sih? Tadi kamu dicariin yang lain tau pas sesi foto bersama."
"Salah sendiri ninggalin aku. Kan kamu janjinya kalau ditanya soal kehamilan bantuin jawab, nyatanya kamu malah asyik mengobrol sama sodara yang lain. Ya udah aku pulang aja. Ditanya pertanyaan yang sama terus itu memuakkan."
"Ya udah aku minta maaf karena udah ingkar janji. Maafin keluargaku juga bikin kamu kesel."
__ADS_1
Moodku ambyar. Sudah nggak berhasrat lagi melanjutkan nonton drama Korea. Aku pergi ke kamar mengambil bantal, guling dan selimut. Lalu balik keluar menyerahkan tiga benda itu ke Ale.
"Karena kamu bikin aku kesel hari ini, hukumannya kamu tidur di luar. Bye."