Suami Lima Langkah

Suami Lima Langkah
Dua


__ADS_3

Fara berlari sambil sesekali melihat jam yang melingkar di tangan nya.


"Gawat telat nich." Sambil menambah kecepatan berlari nya menuju  hatle bis.


"Ini bis kok lama banget sih,gak tau orang buru-buru apa ya." Gerutu Fara gelisah dengan mata yang terus memandang ke arah kedatangan bis.


"Kak Fara," Teriak pemuda dengan motor sport nya.


Seketika Fara menoleh.Di lihat nya pria tampan dengan  wajah yang tak kalah tampan dengan Agil.


senyum merekah pun terbit di bibir manis Fara saat melihat Tian.


"Pucuk di cinta ulam pun tiba." Batin Fara dan langsung menaiki motor Tian tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Ayo cepetan anter kakak kerja." Ucap Fara yang sudah bertengger di atas motor dan berpegangan erat di pinggang Tian.


Tian hanya tersenyum dan langsung mengantar Fara ketempat kerja.


Flash back.


Tian melihat Fara berlari terburu-buru melewati halaman belakang,bahkan tanpa memakai alas kaki.


"Bun,kak Fara kenapa buru-buru gitu?" Tanya Tian.


"Bangun nya kesiangan,jadi telat ketempat kerja sayang.Coba Fara mau kerja di kantor bareng kakak kamu,pasti gak akan kaya gitu lagi" Jawab Diana sambil menghela nafas berat.


"Udah lah Bun,kita hargain aja keputusan kak Fara,Tian yakin kak Fara punya alasan kenapa gak mau kerja di kantor." Ujar Tian menenangkan Bunda nya.


Diana tersenyum dan mengusap rambut anak bungsu nya itu.


Tian adalah anak yang hangat dan mudah bergaul,berbanding terbalik dengan Agil yang dingin dan hanya bisa akrab dengan orang-orang terdekat nya saja.


"Kak aku pinjem motor nya ya." Teriak Tian yang melihat kakak nya di lantai atas.


"Mau kemana,bukan nya kamu gak ada pemotretan hari ini."


"Jalan-jalan lah,mumpung free,"


"Yakin bisa tenang di tempat umum?" Goda Agil pada adik nya.


Tian mengerucutkan bibir nya,tidak terima dengan  perkataan sang kakak. "Bisa kok,liat aja." Jawab Tian dan langsung pergi berniat mengantar Fara.


Flash back off.


Fara dan Tian sampai di mini market tempat fara bekerja.Fara menghel nafas lega,karna jam masih menujunkan pukul setengah sembilan.


"Makasih ya adik ku sayang," Dengan wajah yang di buat sok imut,membuat Tian mengeryitkan dahi nya geli.


"Sayang- sayang." Ujar Tian   menghela nafas jengah dengan kelakuan Fara. "Inget umur kak,gak usak sok imut gitu dech." Ejek Tian sembari melepas helm nya.


Tanpa Fara dan Tian sadari,para pengunjung supermarket sudah heboh melihat artis yang saat ini sedang naik daun karna kelihaian nya berakting serta kemampuan nya


Berpose di depan kamera sudah jangan di tanya lagi di tambah dengan ketampanan nya membuat kaum hawa senam jantung tiap kali melihat senyuman maut nya.


"Tiaaaaan," Teriak seorang gadis histeris.


Membuat Tian langsung menutup helm nya,tapi sia-sia karena seketika Tian sudah di kerumuni para Fans girls nya.

__ADS_1


Dengan ramah Tian pun menyapa para fans nya dan memberikan fans service.


Fara diam diam menyelinap keluar dari kerumunan fans Tian,walau ada sedikit rasa bersalah karna meninggalkan Tian,tapi Fara juga lega karena Ia tidak telat,dan yang pasti dia tidak di pecat.


Fara segera masuk ke dalam supermarket,ia segera mengganti pakaian nya dengan seragam dan siap bekerja.


Seperti biasa Fara mulai menata barang-barang di rak,dengan teliti dan hati-hati.


Ya Fara dikenal sebagai pegawai yang rajin dan ramah,sehingga tak jarang para konsumen akrab dengan Fara.


"Far,kok kamu bisa di anterin sama si Tian sich?" Tanya Aldo penasaran.


"Kebetulan aja ketemu di jalan."


"Masa!" Jawab Aldo tak percaya.


"Iya."


Aldo menghentakan kaki nya kesal karna tak puas dengan jawaban Fara.


"Nyesel aku nanya sama kamu Far." Ujar Aldo sambil meninggal kan Fara.


Fara pun tersenyum melihat kekesalan Aldo,sambil terus melanjutkan pekerjaan nya.


Fara yang sibuk dengan pekerjaan nya karna akhir tahun,sampai melewatkan jam makan siang nya dan waktu pun  sudah menunjukan pukul empat sore.


"Far,kamu ga pulang?" Tanya Aldo.


"Ya Allah ternyata udah jam empat."


"Thanks ya,kamu yang terbaik." Ucap Fara mengacungkan jempol nya.


"Ayo aku anter ke caffe,sekalian mau nongkrong bentar."


"modus."


Aldo pun hanya tersenyum,karna niat nya untuk makan gratis ketauan.


Aldo pun segera mengantarkan Fara ke Caffe,tidak butuh waktu lama mereka pun sampai.Karna jarak Caffe dengan mini market yang tidak begitu jauh.


"Makasih ya Al,"


"Sama-sama," Jawab Aldo sambil memegangi perut nya.


"Ayo masuk," Ucap Fara yang tak tega melihat Aldo kelaparan.


"Tenang besok berangkat kerja aku jemput." Ucap Aldo,sambil mengikuti Fara masuk.


Aldo pun menyantap rice bowl dan milk shake nya dengan lahap.


Setelah hanya tersisa mangkuk dan gelas kosong,Aldo pun pergi,karna dia Tau,Fara pasti sedang sibuk di dapur.


Karena keahlian nya memasak,Fara di percaya sebagai koki di Caffe tempat nya bekerja


sesekali Fara meringis menahan nyeri di perut nya,hal itu pun tak luput dari pandangan kepala Dapur.


"Fara, are you oke?" Tanya Arum.

__ADS_1


"oke Mbak," Dengan wajah pucat dan keringat yang mengucur di dahi nya.


"Oke gimana,muka dah kaya mayat hidup gitu." Ucap Arum cemas.


"Aku gak apa-apa Mbak,lagian ini udah pesanan terakhir."


"Kamu yakin kuat?" Tanya Arum lagi khawatir.


"Kuat mba,kan tulang besi otot kawat." Jawab Fara dengan senyum nya.


"Ya udah,habis ini kamu langsung pulang aja,gak usah nunggu tutup."


"Aaaaaa siappp."


Fara sudah selesai dengan pesanan terakhir nya,Fara pun bergegas untuk pulang.


Senja sudah berganti malam,untuk kali ini Fara sengaja pulang menggunakan jasa grab,karna Ia sudah tak sanggup  lagi jika harus berjalan menuju halte bis.


Rumah  sederhana yang di kelilingi dengan rumah-rumah mewah,membuat kontras  pemandangan di komplek rumah Fara.


Ya rumah sederhana itu milik Fara,rumah pemberian dari ayah Agil.


Ibu Fara bekerja sebagai pembantu sedangkan Ayah nya sebagai supir di kediaman Agil,karna jarak rumah orang tua Fara jauh,Ayah Agil membangunkan rumah tepat di belakang keadiaaman nya.


Dengan langkah gontai Fara masuk kedalam rumah.Ia pun langsung merebahkan tubuh nya di atas kasur yang sudah sedikit keras.


"Ibu,Ayah,Fara kangen." Dengan suara parau menahan rasa sakit di perut nya.


-------------------


Hari ini Aldo berangkat lebih pagi karena harus menjemput Fara terlebih dahulu.


Sesampai nya di depan rumah Fara,berulang kali Aldo menghubungi Fara,namun Fara tak menjawab satu pun panggilan Aldo.


"Apa Fara udah berangkat duluan ya ?" Batin Aldo.


Aldo menyalakan mesin motor nya,tapi Aldo ragu dan mematikan nya kembali. "Tapi kok lampu nya masih nyala,Fara juga gak ngasih kabar kalau berangkat duluan." Guman Aldo menatap rumah Fara dan langsung turun dari motor nya.


Aldo mengetuk rumah fara,namun tak ada jawaban.Aldo pun memutar knop pintu yang ternyata tak terkunci,dengan ragu Aldo masuk dan memanggil-manggil Fara namun hasil nya tetap nihil.


Aldo mencoba menghubungi Fara,dan terdengar suara ponsel,Aldo pun mencari sumber suara,dan betapa terkejut nya Aldo saat melihat Fara tergeletak di lantai kamar nya.


"Fara...Fara..." Panggil Aldo panik.Aldo pun  segera menghubungi ambulans.karna tubuh Fara yang panas dan wajah nya yang pucat seperti mayat.


Sambil menunggu Ambulans,Aldo berusaha menyadarkan Fara,beberapa kali Aldo mengecek hidung Fara."Alhamdulillah masih nafas." Ujar Aldo.


Suara sirine ambulans nyaring terdengar,Aldo pun sedikit bernafas lega dan Fara pun segera di larikan ke rumah sakit.


Sesampai nya di rumah sakit,Fara langsung di bawa ke ruang IGD,Aldo pun setia menemani Fara.


"Bagaimana keadaan teman saya Dok?" Tanya Aldo panik.


"Anda tidak perlu khawatir,asam lambung teman anda naik,cukup di rawat beberapa hari,insaallah keadaanya pulih kembali.


"Terima kasih Dok." Jawab Aldo lega mendengar penjelasan sang Dokter.


Fara pun di bawa keruang rawat inap dan Aldo pun dengan setia nya menemani Fara,karna Aldo tau,Fara tak mempunyai siapa-siapa lagi setelah kematian orang tua nya empat tahun lalu.

__ADS_1


__ADS_2