
"kak Fara." Suara Bariton menggelegar keseluruh penjuru ruangan, membuat semua penghuni menatap tajam pada pria yang sedang berdiri di depan pintu seraya mengedarkan pandangan nya mencari sosok wanita yng membuat nya gelisah sepanjang malam.
Namun dengan cepat semua penghuni ruangan menunduk hormat,setelah mengetahui siapa yang datang,yang tak lain aktor sekaligus adik dari sang empunya perusahan tempat mereka bekerja.
Desi dengan hormat menghapiri Tian yang masih celingukan." Maaf Tuan,ada yang bisa saya bantu?"
"tolong panggilkan Fara, akh bukan Naya kesini." Jawab Tian membenarkan bicara nya.
Belum sempat Desi menjawab,Naya datang sambil membawa tumpukan kertas yang baru saja selesai Ia Foto copy.
Tanpa aba-aba,Tian langsung menarik tangan Naya dan alhasil membuat semua kertas berserakan di lantai,membuat Naya geram.
"Apa Anda tidak punya sopan santun,menarik orang seenak nya."Bentak Naya meninggikan suara nya sambil menatap tajam ke arah Tian.Membuat orang-orang yang mendengar pun melotot bahkan menutup mulut mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar.
__ADS_1
"Wah,besar juga nyali nya ." Ucap salah satu kariawan.
Tian tak menghiraukan ucapan Naya,yang ada di kepalanya sekarang adalah penjelasan dan kembali menarik Naya keluar dari ruangan."Kita perlu bicara."
Dengan kasar Naya menghempaskan tangan Tian."Apa Anda tidak lihat saya sedang bekerja,dan saya mohon jangan buat keributan disini,jika ada yang ingin Anda bicarakan,tunggu sampai jam kerja selesai." Tegas Naya dan kembali masuk kedalam ruangan tanpa menunggu jawaban dari Tian.
Tian menghela nafas kasar,dan memutuskan untuk menunggu Naya di lobi."Bagaimanapun aku harus mendapatkan jawaban nya sekarang." Batin Tian sambil menyandarkan kepala nya ke sofa,setelah sampai lobi.
"Adik nya Bos?" Ucap Naya dengan wajah bingung."Boro-boro kenal,tau aja enggak sama adik nya Bos."
"Lahhhh.....terus yang kamu bentak tadi siapa?"
"Okh,aku sih gak kenal sama Dia,tapi anak aku yang kenal,kata nya sih Om nya teman anak ku Wi," Jawab Naya sambil terus memandangi layar monitor.
__ADS_1
"Kamu di rumah punya TV gak?" Tanya siwi
"Punya,kenapa emang nya?"
"TV nya cuma buat pajangan apa di liat?"
Naya menghembus kan nafas kasar,mendengar pertanyaan Siwi yang sama sekali tidak bermutu."Dari pada nanyain yang gak jelas,mending selesaiin tuh kerjaan kamu Wi." Sambil menunjuk ke arah berkas yang menumpuk di meja Siwi.
"Wah dasar teman gak punya akhlak,ngatain aku gak jelas."Gerutu Siwi yang salah menafsirkan perkataan Naya. "Naya ku sayang,kalau kamu mau tau ya,orang yang kamu bentak-bentak tadi itu adik nya Bos,sekalian nanti kalau kamu sampai rumah,nyalain TV,siapa tau Dia nongol di Tv."
Seketika Naya menghentikan jari-jari lentik nya yang sedang menari indah di atas keyboard.Fikiran nya pun melayang mengingat kejadian-kejadian masa lalu yang berputar di kepala nya."Akh tidak mungkin." Ucap Naya.
"Apa yang gak mungkin,kalau gak percaya,tanya aja sama orang satu kantor." Seru Siwi dan kembali melanjutkan pekerjaan nya,karena kesal di anggao berbohong oleh sahabat nya.
__ADS_1