
( Rumah Lusi )
"Oke. Oke. Aku kirim sekarang Ray." Sahut Lusi yang tubuhnya masih bergetar.
Rayhan langsung membuka chat dari Lusi. Ia membaca isi chat itu dan berlalu pergi meninggalkan rumah Lusi.
"Akhirnya aku bisa menemuimu lagi Flora. Tunggu aku sayang. Entah benar atau tidak kabar tentangmu yang mengatakan bahwa kau telah menikah dengan pria lain. Aku tidak akan pernah percaya itu, selama aku tidak mendengarkan berita itu sendiri darimu" Suara hati Rayhan.
Rayhan langsung mengendarai mobilnya menuju alamat yang Lusi beri. Sepanjang perjalanan ia merasa selalu tersenyum karena merasa sangat senang akan segera bertemu dengan sang istri.
Rayhan menatap foto Flora yang ada dibagian depan mobilnya. Ia kembali tersenyum memandang wajah cantik istrinya itu.
...****************...
( Rumah Baru Sakha )
Rayhan berhenti tepat di seberang rumah yang cukup besar. Rumah berlantai dua milik keluarga Sakha. Ia memperhatikan rumah itu dari dalam mobilnya.
Dan beberapa saat kemudian, terlihat mamah Sakha, Riska dan Sakha keluar dari rumah itu. Rayhan fokus memperhatikan mereka.
"Sayang, yang sering main kesini ya? Biar mamah nggak kesepian." Ucap mamah Sakha.
"Iya mah. Aku pamit ya." Ucap Riska.
"Sakha kamu pelan-pelan aja bawa mobilnya ya, yang penting selamat nak." Ucap Mamah Sakha manis.
"Oke mah." Jawab Sakha bahagia.
Sakha dan Riska lalu masuk kedalam mobil. Dan pergi meninggalkan halaman rumah itu.
Rayhan sedikit terkejut mendengar percakapan mereka, "Sakha? Diakah suami Flora yang dimaksud Lusi?"
Rayhan lalu mengirimkan sebuah chat pada Lusi, "Kirim foto pria itu!"
__ADS_1
Lusi mendengus kesal membaca pesan dari Sakha. "Cih. Kau akan membalas semua ini Ray."
Ia lalu mengirimkan foto Sakha pada Rayhan. Rayhan pun langsung melihat wajah pria itu.
"Benar dia orangnya. Semoga saja Lusi hanya berbohong padaku, tentang pernikahan Flora dengan pria itu." Ucap Rayhan yang kemudian berlalu mengekori mobil yang Sakha bawa.
Ia menjaga jarak mobilnya dengan mobil Sakha untuk mengawasi keadaan disana. Dan mengikuti kemana pun Sakha pergi.
Saat ini mobil yang Sakha bawa telah sampai dihalaman rumah barunya. Sakha keluar dari mobilnya. Namun saat hendak memasuki rumahnya, ia terpaksa menghentikan langkahnya itu, karena ponselnya berbunyi. Ia pun langsung menekan tombol hijau pada layar ponselnya itu.
"Iya halo! Gimana, kalian udah nemuin Flora?" ucap Sakha pada seseorang diseberang telfonnya.
"Belum bos. Tapi petugas pantai memberikan informasi bahwa ia pernah melihat Flora disekitar pantai dengan seorang pria. Namun petugas itu tidak tahu kemana mereka setelahnya." Laporan anak buah Sakha.
"Lanjutkan pencarian kalian." Perintah Sakha.
"Pantai? Seorang pria? Jangan-jangan pria yang membunuh suami Flora sebelumnya.
Rayhan seketika terkejut mendengar perkataan Sakha yang menyebut namanya. Bahwa ia telah meninggal.
...****************...
( Rumah Indra di Desa )
Flora terkejut memandangi kamar Indra yang berisi ratusan atau bahkan ribuan foto dirinya. Didinding kamar Indra terdapat berbagai frame yang berisi foto Flora. Frame itu terdiri dari berbagai ukuran, mulai dari ukuran yang lebih besar dari 30R sampai ukuran yang paling kecil.
Namun ukuran foto 1R dan 2R yang paling banyak dalam kamar itu. Karena Indra mendesain foto-foto itu menjadi tirai yang sangat cantik. Yang terdapat di beberapa sisi tengah kamar Indra dan dibeberapa dinding kamarnya.
Tak hanya itu, Flora semakin dibuat terkejut saat ia melihat beberapa furnitur dalam kamar itu yang terpampang wajah cantiknya. Seperti pada lemari baju, lemari hias, laci, meja, pinggiran kursi, AC, ranjang, motif tirai dan sprai serta berbagai furnitur lainnya.
Tubuh Flora lemas melihat semua fotonya itu, membuat ia harus berpegangan pada bagian tepi ranjang agar bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
Kembali Flora terkejut melihat sebuah meja rias yang didesain sangat cantik elegan. Terdapat pula beberapa fotonya pada meja rias itu. Ada beberapa lampu juga disisi-sisi bagian cerminnya. Dan beberapa stiker kecil bergambar wajah Flora yang semakin menambah kesan imut pada meja rias itu.
__ADS_1
"Buat apa meja rias cewe kayak gini?" ucap Flora bingung.
Dan yang lebih membuat Flora shock adalah beberapa alat kosmetik yang masih terlihat baru dan terdapat stiker wajahnya. Bahkan semua kosmetik itu bermerk namanya. Flora. Berimbuhkan beberapa emoji love kecil.
"Masya allah Indra. Kenapa bisa seperti ini?" ucap Flora yang masih shock dengan pemandangan kamar Indra.
Flora lalu merasa ingin buang air kecil. Ia kemudian langsung berjalan mencari kamar mandi didalam kamar Indra itu.
Dalam setiap langkahnya, ia tak hentinya memperhatikan setiap stiker dan fotonya yang hampir berada disemua bagian kamar itu. Flora memandang sekilas dan tersenyum melihat stiker wajahnya yang ada dalam pintu kamar mandi itu.
Flora pun bergegas masuk. Namun saat Flora masuk, Flora lagi-lagi dibuat terkejut melihat pemandangan kamar mandi itu.
Karena stiker dalam kamar mandi itu sebagian besar adalah gambar full body Flora. Yang hanya memakai pakaian dalam saja.
Walau semua stiker badan itu memang bukan tubuh asli Flora. Namun tetap saja membuat Flora merasa malu melihatnya.
"Ya ampun Indra. Lututku sampai lemas melihat semua ini. Bahkan hiasan keramik pada dinding kamar mandipun tak lepas dari stiker wajahku. Sejak kapan kamu melakukan ini Ndra?" kesah Flora yang hampir tak percaya dengan pemandangan fotonya itu.
"Tap.. tap.. tap.." suara sepatu Indra yang ingin memasuki kamarnya.
Ia semakin mempercepat langkahnya saat melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Ia pun memasuki kamarnya dengan tergesa dan menyusuri setiap bagian kamar itu. Sampai di pintu kamar mandinya, Ia reflek menghentikan langkahnya. Karena melihat sang pujaan hati yang terduduk lemas disana.
"Flora! kamu kenapa? Flo apa kamu terluka?" tanya Indra panik.
"Aku nggak apa-apa Ndra." Ucap Flora lemas.
Dengan sigap Indra menggendong tubuh Flora dan membawanya kearah ranjangnya. Ia letakkan tubuh Flora dengan sangat hati-hati diatas ranjang itu. Lalu Indra memberikan segelas air putih untuknya.
Indra cemas melihat ekspresi wajah Flora dengan pandangan kosong itu, "Apa yang terjadi Flora? Kenapa kamu bisa sampai dikamarku ini?"
Flora hanya terdiam. Telinganya mendengar jelas pertanyaan Indra itu, namun mulutnya sangat enggan untuk membuka suara memberi jawaban.
Flora memikirkan semua sikap Indra, ia bandingkan dengan sikap Sakha dan Rayhan. Bahkan kedua pria yang telah menikmati rasa tubuhnya itu tak memiliki rasa cinta yang besar seperti yang Indra punya.
__ADS_1
Flora bahkan sampai berfikir, "Kalau sejak dulu aku lebih dekat dengan Indra dan sampai menikah dengannya. Apakah semua cintanya akan tetap sama seperti ini selamanya?"
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰........