Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 32_Bertemu Ibu Asuh Mas Indra


__ADS_3


"Aaaaaakkh." Teriakku dan kedua baby sitter lagi.


Sontak Rhefan pun menangis karena mendengar teriakan keduaku. Membuatku lebih merasa takut lagi.


Dan Mas Indra, lalu menggendong Rhefan di pangkuannya.


"Ndra bagaimana ini? Kita tidak bisa seperti ini terus Ndra, kasian Flora, Rhefan dan kedua baby sittermu itu." Ucap Rayhan resah melihat orang-orang dalam mobil itu yang terus berusaha untuk menembakku.


"Han?" serunya pada Farhan.


Farhan pun langsung mengerti dengan apa yang di maksud oleh Indra.


Dengan cepat, Farhanpun menambah kecepatan mobil itu. Bejalan lurus menerobos beberapa mobil yang memepetnya sejak tadi.


Tubuhku dan kedua baby sitter Rhefan semakin bergetar karena takut. Mas Indra semakin erat memelukku dan Rhefan. Berusaha membuatku dan Rhefan tenang.


Farhan sengaja memasuki sebuah jalanan perumahan biasa yang terletak dipinggir kota, untuk mengecoh mobil-mobil yang terus mengikutinya itu.


Lalu, ia menghentikan mobilnya disebuah jalanan yang cukup luas.


"Mengapa kita berhenti Ndra? Kita dikepung sekarang." Ucap Rayhan cukup panik.


"Tenang Ray. Sesuatu akan terjadi. Kita semua akan baik-baik saja, asalkan kita tetap berada di dalam mobil." Sahut Mas Indra.


Lalu tiba-tiba sebuah helikopter muncul dan menembakkan sebuah stempel besar pada bagian atas mobil-mobil yang mengepung mobil Mas Indra.


Tindakan itu membuat semua orang yang ada di dalam mobil-mobil itu panik dan waspada. Mereka tidak jadi keluar untuk menghampiri mobil Mas Indra.


Lalu datang sebuah helikopter tempur khusus milik Mas Indra. Helikopter itu berhenti tepat diatas mobil Mas Indra, mobil yang kami tumpangi.


Bagian bawah helikopter itu terbuka dan mengeluarkan empat buah besi panjang yang berpencar ke setiap arah.


Masing-masing besi itu menuju kebagian atas mobil-mobil yang sudah berstempel itu.

__ADS_1


Tiba-tiba ujung besi itu mengeluarkan sebuah alat penghisap dan langsung menempel pada stempel yang ada dibagian atas mobil mereka.


Seketika ke empat mobil itu terangkat keatas, ditarik oleh besi yang terhubung dengan helikopter. Lalu besi itu memutar mobil-mobil itu bagaikan kincir.


Membuat penumpang mobil itu teriak panik dan ketakutan. Kemudian helikopter itu membawa ke empat mobil itu menuju ke sebuah danau lumpur.


Lalu dengan perlahan, diturunkanlah ke empat mobil itu diatas danau lumpur tersebut. Dan besi-besi itu seketika terlepas dari bagian atas ke empat mobil itu, kembali memendek dan masuk kedalam bagian bawah helikopter.


Semua penumpang yang ada dalam ke empat mobil itu panik. Mereka kebingungan untuk keluar, karena sebagian dari mobil mereka telah masuk kedalam lumpur.


Untung saja, danau lumpur itu tak terlalu dalam, sehingga tidak akan membuat mobil-mobil tenggelam. Karena danau lumpur itu, memang sengaja dibuat khusus oleh Indra, sebagai bentuk peringatan untuk musuh-musuhnya.


"Mas apa yang terjadi? Apa mereka orang-orangmu?" sahutku penasaran.


"Ya sayang. Mereka anak buahku. Sekarang kita aman. Biarkan saja mereka terjebak dalam danau lumpur itu. Han, ayo lanjutkan perjalanan!" seru Mas Indra. Dan mobil yang kami tumpangi pun kembali berjalan.


"Mereka semua itu siapa Ndra? Mengapa mereka menargetkan Flora?" ucap Rayhan menyelidik.


"Mereka pasti orang suruhan Pengiran Istri dan Natali." Sahutnya.


"Pengiran Istri? Siapa dia Mas?"


"Apa? Jadi -- Jadi kau anak Sultan Mas? Kau seorang Putra Mahkota?" aku sangat terkejut mendengar cerita Mas Indra. Tak pernah aku sangka status asli suamiku itu.


"Sayang, jangan cemas, selama ada aku, mereka tidak akan bisa untuk mengusikmu dan Rhefan. Lagipula Ibu sangat menyanyangi kalian. Beliau selalu ingin segera bertemu denganmu dan Rhefan, saat aku menceritakan tentang kalian." Sahutnya menenangkanku.


Aku hanya terdiam mendengar ucapan Mas Indra. Entahlah apa yang harus aku ucapkan padanya. Aku hanya merasa, semua yang Mas Indra katakan itu hanya lelucon belaka.


...****************...


( Kediaman Sementara Raja Istri )


Setelah melewati jalan yang cukup panjang dari gerbang utama itu, akhirnya kami telah sampai di kediaman sementara Raja Istri, wanita yang mengasuh Mas Indra sejak bayi.


"Beberapa pelayan dan pengawal berjejer menyambut kedatangan kami. Begitupun dengan Raja Istri. Beliaun langsung berlari menghampiri Mas Indra, saat netranya melihat Mas Indra yang baru saja keluar dari mobilnya.

__ADS_1


"Putraku! Pengiran Muda Mahkota! Ibu sangat merindukanmu sayang." Sang Ratu pun segera memeluk putranya.


Lalu pandangannya beralih kearahku dan Rhefan. Beliau tersenyum melihat kami. Tentu saja Beliau tahu siapa aku dan Rhefan, karena Mas Indra sudah sering memperlihatkan wajah kami kepadanya.


"Kau pasti Pengiran Anak Istriku. Di Istana kami begitulah sebutan untuk seorang menantu perempuan Nak. Kau benar-benar cantik sayang. " Ucap sang Ratu sambil memeluk dan membelai kepalaku.


"Benar Baginda Raja Istri." Sahutku penuh hormat.


"Jangan memanggil seformal itu sayang. Panggillah aku Ibu, seperti Zafeer memanggilku." Sahut Sang Ratu. Beliau pun kembali berucap dan langsung menggendong Rhefan, saat Beliau menatapnya.


"Masyaallah lucunya. Kamu pasti Pengiran Muda. Ah sayangku Rhefan. Kamu sangat menggemaskan."


Aku dan Mas Indra hanya tersenyum saat mendengar ucapan Sang Ratu. Kami pun segera memasuki rumah mewah itu, setelah Sang Ratu mempersilakan kami masuk dan memimpin jalan.


Saat ini kami sedang duduk di sebuah ruang keluarga yang cukup besar dan mewah. Sang Ratu pun berucap, "Besok Ibu masih ada jadwal sayang. Dan akan kembali ke Brunei lusa. Kalian akan ikut Ibu ke Istana kan?"


"Baiklah Ibu, begitu memang lebih aman. Karena sebelumnya orang-orang Pengiran Istri telah menghadang kami." Sahut Mas Indra.


"Pengiran Istri? Apakah dia masih menjodohkanmu dengan gadis Jerman itu?" tanya Sang Ratu.


"Benar Ibu. Walaupun dia yang telah melahirkanku, tapi Ibuku hanya Kau seorang Ibu." Sahut Mas Indra lagi.


"Nak, mengapa kau masih seperti ini? Pengiran Istri pasti sangat merindukanmu sayang. Bagaimanapun juga, karena dialah kau bisa ada di dunia ini." Ucap Sang Ratu.


"Sudahlah Ibu, aku lelah. Aku pamit untuk beristirahat." Sahut Mas Indra lagi dengan malas yang langsung pergi begitu saja.


"Mas Indra!?" dia pun bahkan tak menghiraukan panggilanku.


"Kejarlah dia Nak. Biar Rhefan disini bersama Ibu." Ucap Sang Ratu padaku.


"Baik Ibu." Aku pun bergegas menemui Mas Indra di dalam kamar.


"Mas kenapa seperti itu? Kenapa kau pun mengabaikanku?" ucapku sedih pada Mas Indra saat memasuki kamar.


"Flora sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengabaikanmu. Aku benar-benar sangat emosi bila kembali mengingat wanita itu." Ucap Mas Indra sedih yang sedang memelukku erat.

__ADS_1


Bersambung...



__ADS_2