
Indra pun kembali tersenyum senang. Ia lalu menarik tubuhku kedalam pelukannya. Semakin lama, semakin erat ia memeluk tubuhku.
"Terimakasih sayang. Terimakasih. Aku tak akan menjanjikan apapun padamu Flo. Tapi aku akan berusaha untuk selalu membuatmu dan Rhefan bahagia selamanya." Ucapnya padaku lalu mengecup puncak kepalaku lembut.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Semakin erat ku dekap tubuhnya. Entah mengapa, detak jantungnya sangat membuatku tenang.
"Ray, maafkan aku. Walaupun kita tak mungkin bersama lagi. Ku harap, hubungan kita akan selalu baik. Restuilah kami Ray." Seruku dalam hati.
Indra menarik tubuhku keatas pangkuannya, sesaat setelah kita mengurai pelukan itu. Ia peluk erat pinggang mungilku. Dan tersenyum.
"Sayang, bagaimana Rayhan di hatimu?" tanya Indra tiba-tiba padaku. Membuatku sedikit terkejut saat mendengarnya.
"Entahlah Mas, yang kurasa saat ini, hanya perasaan bersalah padanya. Karena aku, ia hampir saja mati." Jawabku padanya.
"Andaikan dulu aku dan Lusi tidak merusak kebahagiaan kalian, mungkin saat ini kalian masih hidup dengan bahagia. Flo, apakah kamu tidak menyesal telah memilihku? Akulah penyebab penderitaanmu dan Rayhan selama ini." Ujarnya padaku.
"Dulu iya. Kaupun tahu itu Mas. Tapi sekarang tidak sama sekali. Aku hanya mengikuti kata hatiku Mas. Karena bagaimana pun, kamu telah mencuri hatiku ini. Selama bersamamu, aku selalu merasa aman.
Rayhan memang cinta pertamaku. Tapi saat ini kaulah pemilik hatiku Mas. Walaupun begitu, ada banyak kenanganku dengannya yang sangat sulit untuk aku lupakan. Namun semua itu bukan alasan agar aku bisa kembali padanya.
Aku hanya ingin hidup tenang bersama lelaki yang aku cintai. Bantu aku perlahan untuk membuat beberapa kenangan baru bersamamu Mas. Aku tak akan menyesalinya.
Lagipula, apa yang bisa aku harapkan bila kembali bersama Rayhan. Saat hatiku sudah tak mencintainya lagi. Ini bukan salahnya, tapi ini juga bukan salahku. Takdirlah yang menuntun kita saperti ini.
Aku masih ingat jelas, dulu saat kita SMA, kamu masih sangat culun Mas. Dulu kamu sering sekali memberiku jus alpukat dan cokelat. Lalu Rayhan yang mengambil jus dan cokelat itu, dan ia langsung memakannya.
Aku masih sempat melihat ekspresi wajahmu yang cukup kecewa saat Rayhan memakan cokelat darimu itu Mas. Benar-benar sangat jelek. Hahaha. Pffft.
Sekarang, semua itu bagaikan mimpi. Janjimu dalam surat itu, benar-benar telah kau tepati Mas." Ucapku padanya sambil tersenyum.
***Flashback On
( Taman Sekolah - Saat SMA )
Aku sedang membaca sebuah novel diatas sebuah kursi taman. Dibawah pohon yang cukup besar.
Tiba-tiba seorang pria menghampiriku. Ia berdiri tepat di depanku. Dan memberiku sebuh kotak hadiah dan setangkai bunga mawar.
Pria itu berucap. "I-Ini untukmu Flora."
Aku sedikit terkejut melihatnya, akupun tak berniat untuk menerima kotak itu. Namun pria itu langsung menaruh kotak dan bunga itu di sampingku. Ia lalu bergegas pergi meninggalkanku.
Aku segera bangkit untuk mengejarnya sambil meneriakkan namanya. Namun Rayhan datang. Dan langsung duduk di sampingku.
"Nyari siapa sih yang?" ucapnya sambil memperhatikanku.
"Ahh ini Ray, tadi Indra kesini ngasih aku hadiah dan bunga. Aku mau menolaknya, tapi dia langsung meletakkan kotak dan bunga itu diatas kursi terus langsung pergi gitu aja." Ucapku yang agak resah.
"Oooh, udah nggak apa-apa nggak usah dibalikin. Kasian. Si culun itu kan cinta banget sama kamu yang. Biarin aja, nanti juga dia cape sendiri. Coba mana kotaknya, sini aku buka."
Kotak itu berisi sebuah jepit rambut kupu-kupu yang hinggap disekuntum bunga. Dan ada sepucuk surat di dalamnya. Rayhan pun membaca surat itu dengan suara yang cukup keras.
🌸
Sebuah Janji
Teruntuk kamu yang ku kagumi
__ADS_1
Entah bagaimana rasa ini harus terungkap
Semua hanya berkecamuk dalam hati
Tanpa mau keluar dalam gelap
Aku mampu berkata namun hanya dalam sunyi
Sebenarnya aku tak mau berharap
Terlalu sakit jika hanya aku yang menginginkanmu
Saat ku tahu benar kau takkan pernah menanggapi
Teruntuk kamu yang menjadi doaku di malam hari
Entah bagaimana aku harus bertindak
Bak hujan yang datang dengan kilat
Tiba tiba mengingat harap padamu membuatku sesak
Aku mampu menyembunyikan rasa
Namun tak untuk selamanya
Kelak, jika Tuhan berkehendak
Kau akan tahu alasanku masih tetap berpijak
Dengarlah wahai gadis yang ku kagumi
Setiap saat dia membuatmu tersenyum manja
Namun ketahuilah, besarnya cintaku tak sebanding dengan luasnya angkasa.
Selama angin masih setia berhembus
Aku akan selalu bernafaskan namamu
Dan selama mentari terus memancarkan sinarnya
Aku tak akan pernah lelah untuk mencintaimu selamanya
Dengarlah janjiku wahai pujaan hati
Suatu saat langit akan menjadi saksi
Dan tanah yang kau pijak akan menjadi tempatku
Tempatku untuk menikmati cinta yang tulus darimu
🌸
"Ckckckck. Puisi yang indah. Apa dia mau ngambil kamu dari aku Flo? Hahaha. Emangnya kamu mau sama dia ya?" seru Rayhan padaku mengejeknya.
"Iiiihh, kamu kok nanya gitu sih! Emangnya kamu rela, aku jadi miliknya?" sahutku agak kesal padanya.
__ADS_1
"Silahkan saja, bila si culun itu bisa Flo. Haha. Tapi aku sangat ragu untuk hal itu. Karena aku yakin, kamu akan selalu mencintaiku Flora." Ucapnya lembut padaku.
***Flashback Off
"Ucapan Rayhan saat itu menjadi salah satu penyemangatku untuk terus mencintaimu Flo." Ucapnya kemudian.
"Makasih ya Mas. Sudah mencintaiku dengan sangat tulus. Semoga selamanya kamu seperti itu Mas." Sahutku padanya.
"Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu sayang. Terimakasih karena kamu sudah membalas cintaku." Serunya padaku.
Lalu dengan lembut ia kecup bibirku. Dan perlahan mulai menikmati rasa bibirku itu sembari terus menjelajah kedalamannya. Cukup lama dan semakin dalam.
Indra pun mengangkat tubuhku perlahan. Dengan bibir kami yang masih melekat mesra. Lalu ku lingkarkan tanganku pada lehernya.
Ia membawaku masuk kedalam kamar.
Mengajakku terbang menikmati istana cinta kita.
( Beberapa bulan kemudian )
"Sayaaang, bersiaplah. Kita akan ke rumah sakit. Farhan memberi kabar bahwa saat ini Rayhan sudah sadar." Teriak Indra dari ruang kerjanya.
"Rayhan sadar? Syukurlah. Semoga ini awal yang baik untuk hubungan baru kita." Seruku dalam hati.
Akupun bergegas menemui Indra setelah aku selesai berganti pakaian. Aku merangkul lehernya mesra dengan pelengkap ku kecup salah satu pipinya.
"Apa masih sibuk Mas? Tadi nyuruh aku bersiap, tapi kamu bahkan belum berganti celana." Ucapku padanya saat melihatnya masih memakai celana boxer.
"Sebentar lagi sayang. Hehe. Kamu kan biasanya lama kalo bersiap yang." Sahutnya dengan santai.
"Cih. Dasar pria. Lama itu tergantung kemana tempat tujuan kita Mas. Kita kan pergi mau menengok Rayhan. Bukan mau kondangan." Seruku agak kesal lalu berdiri di sampingnya dengan tangan yang ku lipat.
"Huuft akhirnya selesai juga." Ia lalu menarik salah satu tanganku dengan salah satu tangannya saat aku hendak keluar dari ruang kerjanya.
Tubuhku pun seketika berada di depannya. Lalu ia menarik tubuhku kedalam pangkuannya. Sekilas ia mengecup bibirku, lalu berkata, "Sebentar saja aku memelukmu sayang, ini sangat nyaman."
"Aku tidak yakin ini akan sebentar?" tebakku dalam hati.
Benar saja. Yang ia katakan sebentar adalah dengan memberikan beberapa segel di beberapa bagian leher dan dadaku.
"Maaas, katanya sebentar? Jendela ruangan ini terbuka lebar tuh. Di luar sana ada tukang kebun Mas." Ucapku mengingatkan.
Namun ia tak mengindahkan ucapanku. Ia justru semakin rakus menikmatiku dengan tangannya yang semakin bebas menjelajah tubuhku.
"Mas Indraaa."
...****************...
( Rumah Sakit )
Aku lebih dulu masuk untuk menemui Rayhan. Saat ini Rayhan sedang bersama Farhan, asisten pribadi Mas Indra.
"Flora?!" ucapnya lemas saat melihatku datang.
Aku lalu duduk di sampingnya. Farhan pun segera keluar meninggalkan kami. Sedangkan Mas Indra, ia berdiri di luar ruangan, tepat dibalik pintu.
Dari tempatnya itu, cukup terdengar jelas obrolanku dengan Rayhan.
"Flora." Ucap Rayhan lagi.
__ADS_1
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...