
Indra membawa Flora dan Rhefan kearah yang berbeda dari arah jalan pulang ke rumah lama Indra (Rumah Indra di Desa). Sedangkan mobil bodyguardnya berbelok kearah rumahnya. Tak mengikuti mobil Indra lagi.
"Loh kok kalian jalannya misah? Kita mau pulang atau mau kemana?" tanyaku penasaran pada Indra.
Indra tersenyum simpul mendengar ucapanku tadi, "Pulang? Dimanakah tempat pulang yang kau maksud itu sayang?"
Aku pun mendadak jadi salah tingkah mendengar perkataan Indra. Jantungku berdegup sangat kencang. "Emmmm, lupakan saja."
...****************...
"Kita sudah sampai. Ayo turun. Hati-hati Flo. Pelan-pelan ya turunnya." Ucap Indra sangat perhatian padaku.
"Kita dimana Ndra? Apa ini rumah kamu yang lain?" ucapku penasaran.
"Nanti kamu juga tahu Flo. Sini berikan Rhefan padaku. Kau tunggulah sebentar disini Flo. Aku akan ambilkan sesuatu untukmu." Ucap Indra sangat lembut padaku.
Tiba-tiba ruangan itu menjadi sangat gelap. Tak ada seberkas cahaya pun disana. Aku pun menjadi sedikit ketakutan.
"Ndra, lampunya mati. Aku nggak bisa lihat apapun. Apa nggak ada senter atau lilin Ndra?" Ucapku agak teriak yang masih dengan perasaan takutku.
Namun sejak tadi Indra tak berkata apapun. Membuatku semakin ketakutan.
"Ndraaa! kamu dimana? Kamu denger aku kan?" tanyaku lagi sambil beberapa kali memanggilnya.
Namun tiba-tiba terdengar jelas suara bayi yang sedang menangis. Aku pun reflek berlari mencari suara itu. Di dalam kegelapan. Aku berjalan perlahan, mencari keberadaan anakku.
Semakin jauh aku melangkah kearah cahaya yang ada didalam salah satu ruangan rumah itu. Aku pun semakin bergegas menuju ruangan itu. Karena terdengar semakin jelas suara tangisan anakku.
Saat aku telah memasuki ruangan itu, tiba-tiba ruangan itu kembali gelap gulita. Seberkas cahaya itu hilang entah kemana.
"Brugh" suara pintu yang tertutup dari luar ruangan itu.
"Ya ampun, apalagi ini? Aku benar-benar hanya ingin hidup aman dengan bayiku. Rhefan. Hiks hiks." Suaraku yang menangis karena takut.
Tubuhku lalu luruh ke lantai. Ku peluk kakiku yang terlipat dengan kedua tanganku. Isak tangisku semakin keras terdengar dalam ruangan itu. Karena aku yang merasa semakin takut.
Seketika lampu ruangan itu kembali menyala. Namun aku masih terisak dan menunduk dalam ketakutanku. Hingga suara lembut Indra mampu menghilangkan rasa takutku seketika.
Aku terkejut saat membuka mataku. Ternyata ruangan yang gelap itu menyimpan pemandangan yang sangat indah dan romantis.
Ruangan itu di penuhi dengan berbagai macam bunga dan tirai-tirai lampu yang menjuntai sangat cantik.
Di bagian tengahnya terdapat sebuah tenda yang cukup besar. Tiap tiang tenda itu dihiasi oleh kain yang melilitnya dan beberapa bunga serta lampu-lampu yang menjuntai indah.
Tepat disampingku dalam ruangan itu, tampak Indra yang sedang duduk dan membawa sebuah gitar. Ia menatapku bahagia.
__ADS_1
"Flora, selama ini kamu tahu, bagaimana besarnya cintaku untukmu. Flo, lagu ini mewakili perasaanku padamu. Lagu ini ku nyanyikan khusus, hanya untukmu, Flora."
Ia pun mulai memainkan gitar itu. Dan menyanyikan sebuah lagu.
Jangan tanya bagaimana esok
Ki tak ingin menerka perasaan ini
Yang ku tahu, hari ini ku mencintaimu
Yang ku tahu, ku sangat menyayangimu
Biarlah semua berlalu
Jalani seperti apa adanya
Bunga 'kan mekar meski kemarau melanda
Bunga 'kan mekar meski kemarau melanda
Bukan ku ingin memastikan
Akulah cinta sejatimu
Akulah takdir yang engkau nantikan
Ku ingin kau merasa tentram
Biarlah berada disampingku
Karna diriku sangat menyayangimu
Ku akan membuktikan cinta di hatimu
Satu rasa menggapai bahagia
Ku pinang dirimu sebagai teman hidupku
Berjanjilah kasih, setia bersamaku.
Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini. Indra di depanku itu benar-benar sangat romantis. Sangat tahu, apa dan bagaimana yang ku suka.
Indra lalu berjalan menghampiriku. Salah satu kakinya pun berlutut. Ia keluarkan sebuah kotak perhiasan yang ada sebuah cincin berlian di dalamnya. Ia tunjukan cincin itu padaku.
"Apa jawaban dari laguku Flo? Ambillah cincin ini, bila kau menerimaku?" ucap Indra tegas namun terdengar lembut di telingaku.
__ADS_1
Aku terdiam. Aku tak tau harus berbicara apa. Aku resah. Aku bimbang. Hati kecilku ingin sekali berkata, ya.
Namun logikaku selalu mencoba tuk menyangkal hal itu. Aku tak mungkin menikah dengannya. Karena statusku masih seorang istri dari lelaki lain.
"Flo, kumohon. Beri aku kesempatan. Kita bisa menikah sirih. Dan aku berjanji, aku tidak akan pernah menyentuhmu selama kau tak menginginkannya. Kau tahu aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia menurut caraku. Tidak peduli itu benar atau salah. Jangan memaksaku untuk bertindak kasar Flo. Sejauh ini, aku hanya ingin mempunyai status untuk melindungimu dan Rhefan."
Aku menangis mendengar perkataannya. Ku pejamkan mataku. Ku bulatkan tekadku. Lalu dengan semua keberanianku yang tersisa, aku pun menjawab pinangannya itu.
"Ya aku terima pinanganmu Ndra." Jawabku sembari meneteskan air mata.
Biarlah ku lupakan Sakha. Namun ku akan tetap mencintai Rayhan. Saat ini, aku mencoba mengikuti kata hatiku untuk merasakan dicintai oleh Indra.
Biarlah ku sisihkan saja tentang bagaimana perasaanku padanya. Karena Indra pun telah berjanji agar bisa selalu membuatku bahagia.
Aku pun mengambil kotak cincin itu dari tangan Indra. Disusul dengan Indra yang langsung memelukku erat. Ia menangis terisak. Dan aku pun sama.
"Terimakasih Flora." Ucap lembut Indra lalu melepas cincin pernikahanku dengan Sakha.
Ia simpan cincin itu kedalam saku jasnya. Lalu ia menyematkan cincin berlian darinya itu pada jari manisku yang kosong.
Sedangkan jari manisku yang lainnya telah dimiliki oleh sebuah cincin pernikahan lain. Dan Indra pun tahu, cincin yang ada di jari manis tangan kananku itu adalah cincin pernikahanku dengan Rayhan.
...****************...
( Kantor Rayhan )
"Praaang." Suara frame yang terjatuh dari atas dinding.
Frame itu berisi foto pernikahanku dengan Rayhan. Suara itu berhasil membuat Rayhan teralihkan dari pekerjaan kantornya. Rayhan pun memungut foto pernikahan itu.
"Flora. Apa yang terjadi? Semoga ini bukan pertanda buruk untuk hubungan kita. Dimana kamu sekarang Flo. Aku sangat merindukanmu." Ucap Rayhan yang menatap foto itu sembari meneteskan air mata.
...****************...
( Rumah Orang Tua Sakha )
"Ini sudah 3 bulan. Tapi aku belum juga menemukan keberadaan Flora. Sialan wanita itu. Aku belum mendapatkan warisannya. Dia tidak akan ku lepaskan dengan mudah." Ucap Sakha yang kesal padaku.
Sakha mengambil ponselnya yang berdering diatas meja karena sebuah panggilan masuk. Ia pun mengangkat panggilan itu.
"Halo. Ada kabar apa?" tanya Sakha pada seseorang diseberang sana.
"Anak buahku pernah melihat Flora di pedesaan yang terletak di kaki gunung bos. Ia menggendong seorang bayi. Namun saat aku hendak menangkapnya, seorang pria tiba-tiba datang menjemputnya. Saat ini, mereka ada disebuah rumah yang tampak sederhana. Saya akan terus mengawasi mereka bos." Ucap anak buah Indra yang sejak tadi tengah mengawasiku.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰......
__ADS_1