Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 15_Flora Melahirkan


__ADS_3

( Kamar Indra )


Flora memikirkan semua sikap Indra, ia bandingkan dengan sikap Sakha dan Rayhan. Bahkan kedua pria yang telah menikmati rasa tubuhnya itu tak memiliki rasa cinta yang besar seperti yang Indra punya.


Flora bahkan sampai berfikir, "Kalau sejak dulu aku lebih dekat dengan Indra dan sampai menikah dengannya. Apakah semua cintanya akan tetap sama seperti ini selamanya?"


"Hiks..hiks" suara tangis Flora pecah di dalam kamar itu.


Indra semakin panik melihat sang pujaan hatinya yang tiba-tiba menangis. "Floo kamu kenapa nangis? Apa kamu kangen sama Rayhan? Atau kamu kangen sama Bu Ratna?"


Bu Ratna adalah pemilik panti asuhan yang selama ini sudah Flora anggap seperti ibunya sendiri.


Flora tak menjawab, ia justru semakin terisak. Indra pun bangun dari duduknya, yang tadi berada di depan Flora, kini berpindah tepat di samping Flora.


Indra peluk tubuh yang bergetar karena tangisan itu. Ia tuntun agar kepala Flora bertumpu di bahunya. Ia belai lembut rambut kepala Flora. Memberikan ketenangan pada gadis yang dicintainya itu.


Flora hanya terdiam seakan pasrah dengan perlakuan manis Indra. Selama ini, Sakha sang suami pun tak pernah memperlakukannya selembut itu. Namun tiba-tiba Flora lemas tak sadarkan diri.


"Floo. Kamu kenapa? Ya ampun Flora." Indra pun dengan sigap menggendong tubuh Flora.


Ia membawa Flora keluar meninggalkan kamarnya. Bergegas menuju kearah mobilnya.


"Antar kami kerumah sakit Pak. Cepat!" ucap Indra panik pada salah satu supirnya.


Ia letakkan tubuh pujaannya itu dengan hati-hati, diatas sebuah ranjang yang ada di dalam mobilnya. Indra memang sengaja mendesain bagian tengah dan belakang mobil itu menjadi sebuah kamar yang cukup indah. Ia persiapkan mobil itu memang untuk Flora.


...****************...


( Ruang Bersalin Rumah Sakit )


Indra nampak cemas melihat ekspresi wajah Flora yang sedang merasa kesakitan. Saat ini Flora sedang berada di pembukaan tiga. Tahap awal dalam proses melahirkan seorang bayi. Atau disebut juga dengan Fase Laten dalam dunia kedokteran.


Entah sang bayi yang segera ingin di peluk ibunya. Atau karena faktor lain yang mengganggu hati dan fikiran Flora. Sehingga membuat sang bayi merasa ingin segera keluar dari perut ibunya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk Flora, menahan dahsyatnya sakit kontraksi itu. Karena dalam waktu 4 sampai 5 jam saja, ia sudah masuk kedalam Fase Transisi pembukaan akhir. Indra pun semakin panik, saat Flora merasakan sakit yang lebih dahsyat.


Ia genggam erat tangan Flora dengan kedua tangannya. Sesekali ia kecup tangan itu. Mencoba memberi semangat pada wanita yang ia cintai.


Flora merasakan tekanan yang begitu kuat dari calon buah hati yang ada di dalam perutnya. Mengajak sang ibu untuk segera membantunya keluar melihat dunia.


Dalam hatinya, ia selalu membaca doa-doa yang disunnahkan dibaca oleh wanita yang hendak melahirkan. Ia semakin merasakan dorongan sang calon bayi yang semakin kuat. Mengajak dirinya untuk mulai berjuang melahirkannya.


Flora pun menguatkan tekadnya. Ia mengambil rakus udara disekitarnya. Dan mulai mengeran untuk melahirkan buah hatinya itu, yang sedari tadi semakin kuat memberikan dorongan pada sang ibu.


Indra pun semakin tegang melihat ekspresi Flora. Tangannya bergetar. Peluhnya ikut bercucuran, seakan ikut berjuang dengan Flora. Padahal ia hanya melihatnya saja. Ia meneteskan air mata, melihat langsung perjuangan seorang ibu yang begitu besar untuk melahirkan anaknya.


"Oeeeee oeeeee oeeeee." Suara kencang dari bayi yang Flora lahirkan.


Indra semakin panik. Ia melihat langsung bayi itu berenang keluar dari rahim sang ibu. Ia tercengang, seakan tak percaya, jalan lahir itu melebar besar, mengikuti besarnya tubuh sang bayi.


Seketika Indra merasakan ngilu yang sangat dahsyat dalam dirinya. Jauh berbeda dari rasa membunuh yang sering ia lakukan.


Padahal selama ini, ia merupakan salah satu pembunuh bayaran yang sangat sadis di dunia bawah. Namun dalam sekejap, bisa merasa pilu dan iba, karena melihat keajaiban yang terjadi dalam proses kelahiran bayi itu.


Salah satu tangan Indra sampai membantu memegangi tubuh sang bayi. Menjaganya agar tak jatuh ke lantai.


Beberapa suster dan dokter langsung berhamburan memasuki ruangan bersalin itu. Semua petugas medis dibuat tercengang dengan apa yang mereka lihat. Jelas-jelas beberapa saat yang lalu, sang ibu masih dalam pembukaan tiga.


Beberapa petugas medis pun, dengan sigap membersihkan bayi Flora. Dan melakukan beberapa tahap lanjutan dalam penanganan ibu melahirkan dan bayi yang baru dilahirkan.


"Hosh hosh hosh." Deru nafas Flora lemas setelah berhasil melahirkan bayinya.


"Flo kamu nggak apa-apa?" tanya Indra yang masih setia menggenggam tangan Flora dengan salah satu tangannya.


Flora hanya menggeleng pelan. Dan memberikan seulas senyumnya pada Indra. Indra pun mengusap lembut peluh yang ada pada kening Flora dengan lengannya. Tanda nyata perjuangannya saat melahirkan sang buah hati.


Seorang suster pun datang menghampiri mereka. Menggendong seorang bayi mungil yang berjenis kelamin laki-laki. Hendak melakukan proses Inisiasi Menyusui Dini pada Flora dan bayinya.

__ADS_1


Indra pun dibuat canggung oleh keadaan itu. Pasalnya saat ini suster menuntun Flora untuk membuka seluruh pakaiannya. Hingga menampakkan dua buah p@yudara Flora yang mulus menonjol itu. Guna merangsang naluri sang bayi untuk menemukan letak p@yudara ibunya.


Indra menelan salivanya melihat pemandangan itu. Ia menahan hasratnya kuat, berusaha bersikap tenang seperti biasanya.


Berbeda dengan Flora, ia sama sekali tak canggung untuk membuka pakaiannya itu di depan Indra. Karena mata dan hatinya, hanya terfokus pada malaikat kecilnya itu.


Bayi mungil yang masih dipenuhi vernix (kulit putih pada bayi baru lahir) itu menggeliat bebas diatas dada Flora. Berjuang dengan instingnya untuk mencari keberadaan ****** sang ibu.


Beberapa saat kemudian, suster memberikan bayi laki-laki mungil dan montok itu pada Flora. Bayi itu kini sudah berselimut kain bedong biru bermotif hewan laut.


Flora merasa senang bukan kepalang, melihat wajah mungil bayinya yang tak tersirat duka. Ia mengecup lembut kening bayinya. Membelai lembut kepala dan pipi bayi itu. Berulang-ulang ia mengecup kening bayinya. Sangat bahagia.


Terasa hilang sudah, semua beban hidupnya saat menatap wajah mungil polos itu. Menjadi semangat baru dalam hidupnya yang belakangan ini terasa nestapa saat hidup dengan suami barunya, Sakha.


Namun berbeda saat ia tinggal beberapa hari dengan Indra. Lelaki itu justru sangat baik padanya. Sangat menyayanginya. Padahal sebelumnya, ia sungguh takut bukan main bila bertemu dengan Indra. Karena saat melihatnya, kembalilah teringat kilasan memori tentang kepergian suami tercintanya, Rayhan.


"Ndra, kamu mau nggak ngadzanin bayi aku?" ucap Flora lembut dengan hati-hati.


Indra terkejut mendengar permintaan Flora. Bukan karena ia tak bisa adzan. Namun karena spesialnya sunnah itu.


Biasanya ayah dari bayilah yang mengadzani sang bayi yang baru lahir. Namun saat ini, situasi yang Flora alami tidak sebahagia itu. Sehingga membuat ia meminta pada Indra untuk melakukannya.


"A-apa nggak apa-apa Flo? Aku yang adzanin bayi kamu?" ucap Indra yang masih dalam proses membiasakan diri karena terkejut.


"Ya udah kalo kamu nggak mau juga nggak apa-apa kok? Aku nanti minta tolong sama dokter aja." Sahut Flora tenang.


"Ah bukan nggak mau Flo. Aku cuma terharu aja. Kamu kan tau aku kayak gimana. Rasanya kurang pantas buat ngadzanin bayi kamu." Ucap Indra menjelaskan.


"Kamu bisa adzan nggak?" tanya Flora lembut, yang sebenarnya Flora sudah tahu bahwa Indra teman Sekolah Dasarnya itu, merupakan juara pertama saat lomba adzan di tingkat Kota saat mereka Sekolah Dasar dulu.


"Bisa. Bisa kok Flo." Jawab Indra yang entah mengapa menjadi grogi.


"Ya udah. Tolong adzanin bayi aku dengan ikhlas ya." Pinta Flora dengan tersenyum.

__ADS_1


Indra pun tersenyum mendengar permintaan Flora yang Flora ulang itu. "Oke Flo. Sini bayinya."


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰............


__ADS_2