Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 17_Menemukan Flora dan Rhefan


__ADS_3

***POV Flora


( Rumah Mbok Laksmi )


"Oh nak Flora. Panggil saja saya mbok Laksmi Nduk. Oh ya kamu kenapa Nduk, tadi berlarian dari kebun singkong itu?" Sahut mbok Laksmi padaku.


"Saya dan anak saya baru saja kabur dari rumah penculik mbok." Ucapku sedih.


"Masya allah. Mengapa bisa seperti itu Nduk?" tanya Mbok Laksmi penasaran.


"Saya juga nggak tahu pasti mbok. Tapi mereka mengancamku dan bayiku ini mbok, sudahlah yang penting sekarang kita berdua aman di sini. Terimakasih ya mbok." Ucapku lagi padanya.


"Aku nggak mau jadi tawanan Indra lagi. Statusku masih menjadi istri Sakha. Tapi aku juga nggak mau balik kerumah Sakha. Mamah Sakha pasti akan melukai Rhefan. Hemmm, padahal belakangan ini aku merasa aman di rumah Indra. Dia juga sebenarnya baik sama aku. Tapi karena dia, aku jadi seperti ini. Kalo dia nggak bunuh Rayhan. Pasti aku dan Rayhan sudah hidup bahagia bersama Rhefan. Tapi belakangan ini kenapa ya, setiap dekat dengan Indra, ada yang aneh dalam hatiku. Ahh sudahlah dia bukan siapa-siapa aku. Aku hanya ingin hidup tenang bersama Rhefan." Seruku dalam hati.


"Nduk kamu kenapa? Kok ya ngelamun?" tanya mbok Laksmi padaku.


"Ahh aku nggak apa-apa mbok. Hanya lelah." Jawabku bohong lagi padanya.


...****************...


( Rumah Indra di Desa )


Satpam yang bernama Ilham itu bergegas menghampiri Indra saat aku membohonginya tadi. Ia langsung bertanya pada Indra, saat ia sudah berhadapan dengannya , "Maaf Tuan saya baru sampai, apa yang perlu saya lakukan Tuan?"


Indra sedikit bingung dengan ucapan Ilham, "Apa maksudmu? aku tidak membutuhkan apapun saat ini."


Ilham pun ikut menjadi bingung karena jawaban Indra itu. "Maaf Tuan, saya tadi baru saja melihat Nyonya Flora di gerbang rumah, Nyonya menggendong bayinya. Nyonya berkata bahwa saat ini Tuan sedang membutuhkan saya. Karena itu saya langsung bergegas kemari Tuan."


"Aku tidak berpesan seperti itu pada Nyonya. Mungkin dia salah dengar. Ya sudah kembalilah bekerja." Ucap Indra menjelaskan.


Tiba-tiba Indra menyadari ada sesuatu yang janggal.


"Depan gerbang? Astaga, jangan-jangan dia kabur. Sial. Mengapa dia sangat nekad. Pasti karena sikapku tadi. Aisssh. Floraaaaa." Ucapnya kesal karena mengetahui aku yang kabur dari rumahnya.


"Ilham, pergi bawa semua orang, cepat keluar cari Nyonya. Sekarang." Teriak Indra yang sangat panik pada Ilham.


( Jalanan Sekitar Rumah Indra )


Indra pun bergegas menaiki mobilnya. Berjalan keluar dari rumah itu membelah jalanan desa yang semua tepinya masih berupa hamparan padi dan beberapa kebun singkong dan pohon jati.


Beberapa mobil bodyguard Indra pun mengekori mobilnya dari belakang. Namun beberapa mobil lainnya berjalan berlawanan arah dari mobil Indra. Mereka pun bergegas mencari keberadaanku.

__ADS_1


Indra tiba-tiba menghentikan mobilnya, sesaat setelah melewati sebuah perempatan jalan. Satu mobil bodyguardnya pun ikut berhenti di belakang mobil Indra.


Sedangkan beberapa mobil bodyguard lain yang tadi mengikutinya, jalan berpencar dari arah yang Indra tuju.


Indra lalu mangambil ponselnya. Ia cek keberadaanku dan Rhefan. Karena tadi ia sangat panik. Ia sampai lupa, bahwa ia sudah memasang alat rahasianya pada cincinku.


Dalam cincin itu terdapat chip super mini yang langsung terakses kedalam ponsel Indra. Alat itu bisa memberikan informasi tentang keberadaanku. Bahkan chip kecil itu bisa memberikan semua gambar aktivitasku yang sejak tadi sudah terekam secara otomatis.


Indra pun menyuntikkan sebuah cairan khusus pada tubuh Rhefan. Cairan itu sama fungsinya seperti sebuah chip yang ada dalam cincinku.


Namun cairan itu memiliki fungsi lain. Yaitu dapat menangkal dan melawan semua virus dan bakteri berbahaya yang mungkin menyerang tubuh Rhefan.


Cairan itu lebih bagus bila disuntikkan pada tubuh bayi yang baru lahir. Karena saat itu tubuh sang bayi belum terkontaminasi dengan berbagai cairan obat atau bahan kimia apapun.


"Tidak terlalu jauh dari sini. Hemmm, mulai berani ya sekarang kamu Flo." Ucap Indra yang semakin gemas dengan tingkahku.


Indra pun memutar balikkan mobilnya. Ia lalu berbelok ke kiri, melewati beberapa rumah penduduk desa. Satu mobil bodyguardnya pun setia mengikuti mobilnya.


Indra menghentikan mobilnya. Saat titik GPS dalam ponselnya sudah menunjukkan keberadaanku.


Indra pun turun dari mobilnya. Disusul juga oleh beberapa bodyguard yang mengikutinya sejak tadi.


"Kalian tetap disini." Ucap Indra yang memerintah beberapa bodyguard dan supirnya.


Dari luar, ia mendengar jelas suara tangisan Rhefan. Ia pun tersenyum. Dan langsung bergegas mempercepat langkahnya.


"Tok tok tok. Permisi." Suara seorang pria dari luar pintu yang terdengar olehku.


"Biar mbok saja yang buka Nduk, kamu lanjutkan saja memberi ASI bayimu itu." Ucap mbok Laksmi padaku.


Mbok Laksmi terkejut melihat seorang pria tampan yang berpakaian sangat rapih tepat berada di depannya. Karena orang-orang seperti itu sering mereka lihat hanya dari dalam TV saja.


"Maaf cari siapa ya Le?" tanya mbok Laksmi menyelidik.


"Saya mencari istri dan anak saya bu. Saat hendak kemari, ada seorang bapak yang memberitahukan alamat rumah ibu kepada saya. Bapak itu berkata bahwa ada seorang wanita dengan seorang bayi yang singgah di rumah ibu. Apakah mereka benar ada di dalam bu?" ucap Indra yang begitu sopan pada mbok Laksmi.


"Oh ya benar Le. Mereka ada di dalam. Mbok menemukan istrimu pingsan, di saung dekat kebun singkong yang ada di belakang sana. Jadi mbok dan bapak-bapak yang lain membawanya kemari. Ayo, mari masuk Le." Ucap mbok Laksmi ramah pada Indra tanpa merasa curiga sedikitpun.


Aku terkejut melihat Indra yang saat ini sedang menatapku sendu. Aku hendak berteriak dan mengusirnya dari rumah Simbok. Namun dengan cepat Indra berlari dan memeluk tubuhku. Membuatku tak sempat untuk mengeluarkan suara.


"Flora istriku. Sayang akhirnya aku menemukanmu. Dimana Rhefan? Apa kalian baik-baik saja. Aku sangat cemas sayang." Ucap Indra yang sangat manis terdengar di telingaku.

__ADS_1


Aku hanya terdiam menyaksikan sandiwara Indra yang sempurna itu. "Jangan memaksaku untuk menghancurkan rumah ini dan semua penghuninya sayang." Ancaman lembut Indra yang seketika membuat tubuhku kaku untuk melawan.


Lagi-lagi, aku hanya bisa terdiam. Manut dan pasrah. Mengikuti sandiwara Indra. Aku sangat mengerti maksud perkataannya itu. Aku tidak mungkin mengorbankan mbok Laksmi dalam masalahku ini.


"Sayang mengapa kamu tak menjawabku?" tanya Indra lagi padaku.


"Ah a-aku nggak apa-apa mas. Beruntung ada mbok Laksmi yang mau menolongku dan Rhefan." Ucapku berusaha lembut padanya.


"Nggak perlu sungkan Nduk, waktu itu mbok kebetulan lihat saja. Oh ya Le, istrimu bilang ia berlari karena baru saja kabur dari rumah penculik dan penculik itu hendak berniat jahat pada mereka. Kamu harus lebih ketat menjaga mereka Le. Jangan sampai penculik itu menangkap mereka kembali." Ucap Simbok yang khawatir padaku dan Rhefan.


"Astaga mengapa mbok harus mengatakan hal itu pada Indra." Seruku dalam hati yang merasa malu pada Indra.


Indra sedikit terkejut mendengar perkataan Simbok. "Benar-benar ya kamu Flo. Jadi kamu menganggapku seorang penculik ya. Cih. Sejahat itukah aku Flo. Awas ya kamu. Aku akan membuatmu benar-benar menjadi seorang tawananku Flora." Seru Indra dalam hatinya yang gemas dengan kelakuanku.


"Tenang saja Bu. Kedepannya saya pasti akan menjaga mereka dengan sangat baik. Saya pastikan kejadian ini tak akan pernah terulang lagi. Terimakasih ya Bu, karena sudah menolong istri dan anak saya. Ini diterima ya Bu. Sebagai tanda terimakasih kami. Maaf Bu saya tidak membawa amplop, jadi langsung saya berikan seperti ini. Tolong jangan ditolak Bu." Ucap Indra tulus pada mbok Laksmi sambil memberikan 50 lembar uang seratus ribu padanya.


"Masyaallah Le. Mbok ikhlas menolong istri dan anakmu. Tak perlu seperti ini Le. Dan panggil Mbok saja Le, nggak usah Ibu." Ucap mbok Laksmi sopan yang menolak pemberian uang dari Indra.


Akupun terpaksa ikut bicara agar sandiwara Indra benar-benar menjadi sempurna.


"Mbok terima saja ya uangnya. Kami pun ikhlas memberikannya pada mbok." Ucapku lembut pada Simbok.


"Hemmm, baiklah. Mbok akan terima uang ini. Terimakasih ya Nduk, Le. Semoga kalian selalu sehat dan selalu hidup bahagia bersama, sampai maut yang memisahkan." Sahut mbok Laksmi yang akhirnya mau menerima uang dari Indra.


"Aamiin." Sahut Indra semangat menanggapi doa dari Simbok.


Sedangkan aku hanya tersenyum melihat mbok Laksmi yang berdoa seperti itu.


...****************...


( Dalam Mobil Indra )


"Ngapain kamu jemput aku dan Rhefan dari rumah Simbok? Aku ini bukan siapa-siapa kamu. Aku masih istri Sakha. Jangan seperti ini terus Ndra." tanyaku kesal pada Indra.


"Bukankah kamu dan Rhefan adalah tawanan yang aku culik Flo. Penculik biasanya menginginkan suatu tujuan dari tawanannya. Aku ini sekarang adalah penculik kalian. Maka aku tidak akan melepaskan kalian dengan mudah. Sampai kapanpun itu." Sahut Indra dengan santainya.


"Cih. Harusnya aku tidak memulai drama penculikan itu." Seruku lemas dalam hati karena menyesal.


Indra membawa Flora dan Rhefan kearah yang berbeda dari arah jalan pulang ke rumah lama Indra (Rumah Indra di Desa). Sedangkan mobil bodyguardnya berbelok kearah rumahnya. Tak mengikuti mobil Indra lagi.


"Loh kok kalian jalannya misah? Kita mau pulang atau mau kemana?" tanyaku penasaran pada Indra.

__ADS_1


Indra tersenyum simpul mendengar ucapanku tadi, "Pulang? Dimanakah tempat pulang yang kau maksud itu sayang?"


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰..........


__ADS_2