
( Rumah Bersalin )
"Kamu bisa adzan nggak?" tanya Flora lembut, yang sebenarnya Flora sudah tahu bahwa Indra teman Sekolah Dasarnya itu, merupakan juara pertama saat lomba adzan di tingkat Kota saat mereka Sekolah Dasar dulu.
"Bisa. Bisa kok Flo." Jawab Indra yang entah mengapa menjadi grogi.
"Ya udah. Tolong adzanin bayi aku dengan ikhlas ya." Pinta Flora dengan tersenyum.
Indra pun tersenyum mendengar permintaan Flora yang Flora ulang itu. "Oke Flo. Sini bayinya."
Entah mengapa seorang Indra yang merupakan manusia terkejam itu bisa merasa canggung saat menggendong seorang bayi.
"Benar kayak gini Flo?" tanya Indra yang masih bingung dengan cara menggendong bayi.
Flora mengangguk dan tersenyum pada Indra. Indra pun mulai melantunkan suara adzan yang sangat merdu di telinga kanan bayi Flora.
Disusul dengan mengalunkan suara iqomah di telinga kiri bayi itu.
Tanpa Indra sadari, Flora merekam aktivitasnya itu dalam ponsel Indra.
Indra lalu menatap lembut bayi Flora yang tersenyum padanya. Ia pun membalas senyuman manis sang bayi. Lalu mengecup kening dan pipi bayi yang sangat gembul itu.
Flora pun mengakhiri videonya dan langsung meletakkan kembali ponsel Indra diatas meja nakas.
"Flo, bayi ini mau kamu kasih nama siapa?" tanya Indra penasaran.
"Rhefan." Jawab Flora singkat.
"Rhefan? Nama yang bagus. Pasti terinspirasi dari nama ayahnya ya? Nama ayahnya juga bagus kok. Halo Tuan Muda Rhefan. Saya adalah pengasuhmu, Indra. Hehehe. Mulai sekarang Om Indra bakal bantuin mamah kamu buat jagain kamu sayang. Emmmuuuah lucunya bayi ini." Ucap Indra yang sangat menyayangi bayi Flora.
Flora seketika mengingat kembali saat-saat kepergian Rayhan, suami pertamanya. Hatinya begitu sakit mengingat kenangan itu. Sungguh sayatan luka yang masih menganga. Perih, sesak, hancurlah kembali hatinya.
Indra lalu menoleh pada Flora. Ia terkejut melihat orang terkasihnya sedang meneteskan air mata.
"Flo, kamu kenapa?" tanya Indra panik.
Ia lalu bergegas menuju kasur bayi Flora. "Sayang, kamu bobo dulu ya disini. Nanti om gendong lagi. Emmmmmuuuuaaaaah." Indra pun meletakkan bayi itu diatas ranjang bayi dengan sangat hati-hati.
Indra lalu bergegas menghampiri sang pujaan hatinya. "Kenapa Flo? Kamu inget Rayhan? Atau Sakha b@jingan itu?"
Indra duduk tepat di samping Flora. Namun mereka saling berhadapan. Indra menghapus air mata Flora dengan salah satu tangannya.
__ADS_1
"Maaf ya Flo, aku yang udah buat kamu jadi kayak gini. Kalau dengan mencintai Rayhan kamu bisa bahagia. Maka cintailah dia selamanya Flo. Selama yang kamu mau. Tapi tolong jangan hentikan aku untuk tetap mencintai kamu Flo." Ucap Indra lalu memeluk Flora.
Namun Flora menghindar, seakan menolak untuk di peluk Indra. Tapi Indra kembali memeluk Flora. Dan Flora pun kembali meronta. Tak ingin dipeluk oleh Indra.
Sehingga dengan terpaksa, Indra mengurai pelukan itu. Namun beberapa saat kemudian ia kembali memeluk pujaan hatinya itu, disaat sang pujaannya kembali menangis terisak. Flora lagi-lagi meronta.
"Tenanglah Flo. Atau kau ingin aku bersikap kasar?" ucap Indra galak.
Namun Flora semakin meronta dan berteriak. "Pergiiii."
Seketika, Indra pun melonggarkan pelukannya. Ia lalu berbalik keluar meninggalkan kamar pasien itu. Melangkah dengan kesal.
Flora terdiam. Ia hapus air matanya. Namun beberapa saat kemudian, air mata itu kembali membasahi pipinya.
...****************...
( Rumah Indra di Desa )
Flora sampai di rumah Indra. Ia dibantu oleh dua orang baby sitter untuk keluar dari mobil Indra. Sedangkan bayinya digendong oleh salah satu baby sitter yang lain.
Indra seakan tidak mempedulikan Flora dan bayinya. Ia langsung berjalan cepat menuju rumahnya saat keluar dari mobilnya.
"Kenapa dia marah? Harusnya aku yang marah, karena dia sudah membunuh Rayhan. Cih. Dasar pria egois. Dia pikir dia siapa?" seru Flora dalam hatinya.
"Mba, berikan bayiku, aku mau menggendongnya. Kalian masuk saja dulu, aku ingin pergi ke taman bersama bayiku ini." Ucap Flora sopan.
"Baik Nyonya." Serentak ketiga baby sitter itu menjawab Flora dan pergi meninggalkan Flora bersama bayinya.
Dengan menahan sedikit rasa sakit, Flora pun pergi meninggalkan rumah Indra. Ia sedikit berlari, agar tidak ada orang yang melihatnya.
Mendadak ia berjalan pelan, saat melihat satpam yang ada di depan rumah Indra menatapnya dari kejauhan.
"Sore Nyonya. Mau kemana Nya? Kok tumben jalan kaki? Biar saya anter naik mobil ya Nya?" cecar satpam itu.
"Ahh nggak perlu pak. Saya cuma mau jalan-jalan dekat sini. Oh iya pak, tadi Tuan Indra memanggil bapak, ada perlu katanya." Jawab Flora berbohong.
"Oh baik Nya. Saya kesana sekarang." Sahut satpam itu yang bergegas memasuki rumah majikannya.
Dengan kekuatan yang tersisa, Flora pun berlari sebisanya, pergi meninggalkan kediaman Indra.
Ia tahu, beberapa saat lagi beberapa bodyguard Indra pasti mengejarnya. Karena itu ia sengaja berlari masuk kedalam kebun singkong, yang ada disamping rumah besar Indra.
__ADS_1
Flora terus berjalan cepat, sesekali ia kembali berlari. Namun beberapa saat kemudian ia kembali berhenti. Ia sangat berharap agar bodyguard Indra tak bisa menemukannya.
Flora berhenti di salah satu saung dekat sawah. Ia pun duduk sejenak dalam saung itu.
Salah seorang petani, sejak tadi memperhatikan Flora yang sedang kelelahan itu. Ia pun berjalan menghampiri Flora.
Flora melepas jaket yang ia pakai. Lalu meletakkan jaket itu diatas saung. Dibentangkannya jaket itu seperti sebuah sprei. Dan perlahan ia membaringkan tubuh bayinya pada jaketnya itu.
Flora mengusap aliran peluhnya yang semakin deras bercucuran. Akibat perjalanannya tadi. Ia pun mengibas-ibaskan tangannya kearah wajahnya, seakan tangannya itu adalah kipas anyaman.
Namun tiba-tiba Flora tergeletak disamping bayinya, tak sadarkan diri.
"Masya allah, kenapa wanita ini?" teriak ibu-ibu petani itu sangat panik.
...****************...
"Oeee oeeee oeeeee" cukup keras suara tangis bayi Flora.
Membuat sang ibu segera tersadar dari pingsannya. Flora mencari keberadaan bayinya itu. Namun ia terkejut, karena lagi-lagi saat terbangun dari pingsannya. Ia selalu berada di tempat yang asing.
"Ya ampun dimana ini? Kapankah aku berada di kamarku saat aku tersadar dari pingsan. Kenapa selalu ditempat yang asing? Ah Rhefan? Bayiku? Dimana bayiku? Dia menangis? Dia pasti haus." suara hati Flora.
Ia lalu turun dari ranjang kayu itu, hendak mencari sumber suara bayinya.
"Ya ampuuun ndok, mau kemana? Iniloh bayimu tadi nangis, jadi mbok ajak dia jalan-jalan keluar sebentar. Mbok nggak tega bangunin kamu. Nih, ayo susui dulu bayimu!" ucap ibu-ibu petani itu.
"Mbok yang membawa saya dan bayi saya kemari?" tanya Flora menyelidik. Ia ingat terakhir kali, ia sedang duduk diatas saung yang berada di pinggir sawah dengan bayinya.
"Hahaa, ya bukan toh ndok. Mbok mana kuat angkat kamu dan bayimu ini sekaligus. Mbok cuma gendong bayimu saat kesini. Dan kamu digendong oleh bapak-bapak petani yang saat itu ada di sawah ndok." Jawab ibu-ibu petani itu.
"Hehehe. Mbok lucu juga. Iya maksud saya begitu mbok. Tapi terimakasih ya mbok, udah nolongin saya dan bayi saya." Sahut Flora bahagia.
"Oh ya mbok. Saya Flora, ini anak saya Rhefan mbok." Ucap Flora ramah.
"Oh nak Flora. Panggil saja saya mbok Laksmi ndok. Oh ya kamu kenapa ndok, tadi berlarian dari kebun singkong itu?" Sahut mbok Laksmi.
"Saya dan anak saya baru saja kabur dari rumah penculik mbok." Ucap Flora sedih.
"Masya allah. Mengapa bisa seperti itu ndok?" tanya Mbok Laksmi penasaran.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰........
__ADS_1