
"Jangan bohong Indra. Aku sudah mengawasi Sakha. Tapi dia tidak bersama Flora. Bahkan saat ini b##ingan itu pun sedang mencari Flora.
Cepat katakan dimana kalian! Kau tak berhak membawanya. Dia istriku Indra!" teriak Rayhan semakin geram.
"Hahahaha. Tapi sekarang Flora adalah istriku Rayhan. Jadi berhentilah kau untuk mendapatkannya kembali. Dia sedang mengandung anakku." Sahut Indra dengan bangga.
"Kau jangan mengaku-aku Indra. Flora sejak awal telah mengandung anakku. Cepat katakan dimana kalian? B##ngsek!" ucap Rayhan sangat geram.
"Hahaha. Berhentilah bermimpi Ray. Saat ini, Flora sudah sangat mencintaiku. Bahkan dia sudah lama melupakanmu. Jadi berhentilah untuk mencarinya. Flora sudah lama menganggap dirimu telah mati Ray. Hahaha." Sahut Indra padanya.
"Maafkan aku Ray. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk menyatukan kalian kembali. Saat ini Flora mulai menyukaiku, dan dia mulai bisa melupakanmu. Aku tidak akan mengecewakannya lagi. --- Tunggu aku menemukanmu Flora. Aku tidak akan lengah seperti ini lagi. Maafkan aku Flora." Seru Indra dalam hatinya.
"Si##an kau Indra. Kaulah yang membuat Flora mengira bahwa aku telah mati. B##ingan kau Indra. Aku pasti akan membu##hmu." Sahut Rayhan geram.
"Hahaha. Lakukanlah bila kau bisa Rayhan. Hahahaha." Balas Indra lalu menutup panggilan telfon itu.
"Si#l. Rayhan sudah mencurigaiku. Aku harus segera menemukan Flora." Seru Indra dalam hatinya.
"Aaaaaaaaarrrrrggghhhh. B##ngsek kau Indra. Aku pasti akan mendapatkan Flora kembali." Kesal Rayhan sembari memukul-mukul stir mobilnya.
Hari semakin terang. Tiba-tiba Rayhan melihat Sakha dari kejauhan. Ia pun bergegas mengikuti mobil pria itu.
Sakha berhenti di halaman rumah kosong, tempat ia mengurung Flora.
Beberapa saat kemudian, Sakha pun mulai menyadari bahwa ia sedang di awasi oleh seseorang.
Untuk berjaga-jaga, ia lalu menyuruh anak buahnya untuk segera memindahkan Flora dari pintu belakang.
Sakha keluar dari mobilnya. Dan tiba-tiba Rayhan menyerangnya dari belakang. Ia memukul punggung Sakha dengan sebuah kayu balok yang cukup besar.
Membuat tubuhnya terjengkang ke tanah. Sakha pun bangkit dengan menahan rasa sakitnya.
"Siapa lo? Kenapa terus ngikutin gue?" ucap Sakha pura-pura kesal. Padahal ia tahu bahwa Rayhan mengikutinya pasti karena mencariku.
"B##ngsek kau Sakha. Kau menikahi Flora karena kau hanya ingin menikmati semua kekayaannya. Dasar b##ingan. Bahkan kau menggunakan kekayaan Flora untuk bersenang-senang dengan wanita itu. Keterlaluan. Kau harus mati Sakha." Ucap Rayhan geram padanya.
Pertarungan pun tidak bisa dihindari. Rayhan dengan gusar langsung menyerang Sakha.
Dengan sigap Sakha pun menghalau serangan Rayhan. Pertarungan itu semakin tegang. Namun terlihat masih seimbang.
Dan beberapa menit kemudian, Rayhan berhasil membuat Sakha tumbang. Tubuhnya pun ambruk luruh ke tanah.
Rayhan tersenyum kecut menatap Sakha yang tergeletak di tanah. Ia pun menendang kaki Sakha dengan sangat kesal.
Rayhan lalu bergegas memasuki rumah kosong itu. Ia berkeliling mencari keberadaanku. Berharap agar secepatnya menemukanku.
Langkahnya terhenti saat mendengar teriakanku yang di seret keluar menuju pintu belakang.
__ADS_1
Lalu ia langsung berlari menghampiri suara teriakanku, "Floraa!"
Suaranya berhasil menghentikan langkah anak buah Sakha. Aku pun terkejut mendengar suara itu, suara yang sangat ku kenal.
Rayhan kembali berlari mencari keberadaanku. Langkahnya terhenti, saat ia berhasil melihat tubuhku yang hendak di seret oleh kedua anak buah Sakha.
"Floraaa." Teriaknya sendu saat melihat wajahku.
Aku pun tercengang melihat wajah pria yang kembali memanggil namaku itu. Mataku tak lepas menatap wajah itu. Tubuhku masih bergetar. Air mataku deras mengalir keluar, "R-R-Rayhan."
"Flora." Ucapnya lagi dengan senyuman bahagianya. Ia pun bergegas menghampiriku dan melawan kedua bandit itu.
Pertarungan pun kembali terjadi. Tak terelakkan. Rayhan menyerang kedua bandit itu dengan sangat buas penuh emosi kekesalan.
Dia pun berhasil menumbangkan kedua bandit anak buah Sakha itu. Mereka babak belur tergeletak di lantai.
Rayhan lalu menengok kearahku. Ia berlari menghampiriku. Dan menghambur memeluk tubuh mungilku.
"Flora. Sayangku. Maafkan aku karena sangat terlambat menemukanmu. Aku berjanji hal ini tidak akan pernah terjadi lagi." Ucapnya terisak sambil memeluk erat tubuhku.
Kami pun mengurai pelukan itu. Aku masih tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini. Lalu ku belai pipinya, "Kau -- kau benar-benar Rayhan? Selama ini kau masih hidup Ray?"
"Ya sayaang. Aku Rayhan. Cinta pertamamu. Selama ini kau telah di tipu oleh Lusi dan Indra. Mereka yang merencanakan kematian palsu ku. Flora aku sangat merindukanmu sayang. Selama ini aku selalu mencarimu. Akhirnya aku bisa menemukanmu. Aku sangat bahagia sayang. --- Ayo sayang, kita harus segera meninggalkan tempat ini." Ucap Rayhan padaku.
Kami pun bangkit dan hendak meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba Sakha datang dari belakang kearah kami.
Seketika Rayhan pun melepas pegangan tangannya dari tanganku. Tubuhnya lemas luruh ke lantai.
Bekas tusukan itu langsung mengalirkan banyak darah di pakaian Rayhan dan lantai rumah itu.
"La-ri Flo-ra. Ce-pat per-gi da-ri si-ni. Ce-pat Flo." Ucapnya terbata dan lemas yang masih mengkhawatirkanku.
Aku menangis menatap wajah Rayhan yang kesakitan. Ku gelengkan kepalaku, saat ia menyuruhku pergi.
"Hahaha. Inilah akibatnya karena kalian berani melawanku. Flora. Akhirnya kita bertemu lagi sayang. Aku sangat merindukan tubuhmu sayang. Ayo kemarilah Flora. Ikutlah pulang bersamaku. Hehehe." Ucap Sakha.
Aku hanya menggeleng mendengar ucapannya. Tubuhku semakin bergetar, saat Sakha yang masih memegang pisau itu semakin mendekatiku.
Ia memegang tanganku dengan salah satu tangannya yang tak memegang pisau. Ia hendak menarikku kearahnya.
Namun Rayhan dengan sigap menangkap kakinya. Ia menahan kaki itu agar tidak sampai mendekatiku.
"Ce-pat la-ri Flo-ra. Ja-ngan pe-du-likan a-ku. Ce-pat per-gi Flo." Ucap Rayhan lagi yang masih mengkhawatirkanku.
Sakha pun berusaha keras untuk melepaskan tangan Rayhan dari kakinya. Lalu ku gigit tangan Sakha yang menggenggam erat tanganku.
Membuatku seketika terbebas darinya. Aku pun bergegas pergi meninggalkan mereka. Dengan perasaan yang berat untuk meninggalkan Rayhan. Bagaimana bila Sakha melukai Rayhan lagi.
__ADS_1
"Aaaaaarrrrgggh." Teriakkan Rayhan berhasil membuat langkahku terhenti. Aku pun berbalik menatap mereka.
"Kembali atau ku bun#h Rayhanmu ini Flora." Teriak Sakha mengancamku.
Ku tatap wajah Rayhan yang menahan sakit itu. Ia menggeleng. Berharap agar aku tak mendengarkan ucapan Sakha.
"Pergi Floraaa. Aku tak akan tenang bila kau bersamanya. Cepat lari Flo." Seru Rayhan dalam hati dengan terus menggelengkan kepalanya.
Perlahan akupun mundur. Dan dengan cepat Sakha kembali menikam punggung Rayhan dengan pisau itu.
Kembali terdengar jerit lara dari Rayhan. Membuat Rayhan tak sadarkan diri seketika.
Dadaku sesak melihat pemandangan itu. Membuat hatiku semakin sakit. Aku semakin menangis terisak.
Aku pun langsung berlari meninggalkan tempat itu. Dan dengan langkah gontai, Sakha ikut berlari mengejarku.
Sepanjang perjalanan aku menangis. Terus mengingat tentang kejadian yang menimpa Rayhan tadi.
Namun tiba-tiba kakiku tersandung oleh batang kayu. Membuat tubuhku terjatuh ke tanah. Sakha pun tersenyum melihat keadaan itu.
Ia mendekatiku dan langsung menangkap tubuhku. "Lepaskan aku Kha. Biarkan aku pergi Sakha. Lepaskan!"
Seketika aku tak sadarkan diri. Saat Sakha membungkam mulut dan hidungku dengan sapu tangannya yang sudah ia beri obat bius.
Sakha pun berhasil membawaku pergi.
Beberapa saat kemudian, Indra dan beberapa anak buahnya baru saja sampai di rumah kosong lokasi keberadaanku.
Ia dan beberapa bawahannya langsung mencari keberadaanku. Namun rumah itu nampak sepi.
Indra kembali melihat GPS pada ponselnya. Barang kali memberikan informasi baru. Namun titik itu tetap terhenti di rumah itu.
Indra pun kembali menyusuri setiap sudut rumah itu. Sampai ia berhasil menemukan tubuh Rayhan yang terluka.
Perlahan ia balikan tubuh itu. Ia terkejut saat melihat wajah itu adalah Rayhan. Ia melihat luka Rayhan. Dan mengamati bagian tubuh Rayhan lainnya.
Karena titik GPS itu tepat berada di depannya. Lalu Indra melihat cincin berlianku yang ada di salah satu genggaman tangannya.
Indra pun memungut cincin yang penuh darah itu. Ia pun menyuarakan hatinya. "S#al, aku terlambat. Sakha pasti sudah membawa Flora."
"Bawa Rayhan ke rumah sakit dan tetap awasi dia. Sisanya ikut bersamaku untuk mengejar Nyonya. Mereka pasti masih di sekitar rumah ini. Cepat!" teriak Indra memberi perintah.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...
__ADS_1