
( Rumah Kosong )
"Dorr." Satu buah tembakan berhasil melukai kaki Sakha yang sempat terluka tadi.
"Cepat tinggalkan tempat ini, sebelum peluruku kembali menyerangmu. Dan jangan pernah berani untuk memperlihatkan wajahmu di depanku lagi. Ingat itu!" Ucapnya pada Sakha.
Sakha tak menjawabnya, ia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
"Floraa." Ucap Indra sambil menghampiriku.
Akupun langsung menghamburkan diri kedalam pelukannya.
"Terimakasih Mas, kau telah datang. Hiks hiks." Ucapku padanya sambil menangis.
"Kau tidak apa-apa? Apa Sakha menyakitimu sayang?" ucapnya padaku sambil menghapus air mataku.
"Dia hampir saja --- Hiks hiks hiks. Aku mendengar ucapan kalian saat kalian video call waktu itu Mas. Aku --- hiks hiks hiks." Sahutku lagi yang terpotong karena tak sanggup untuk melanjutkan ucapanku.
"Sudah-sudah jangan menangis lagi Flo. Kau sudah aman sekarang. Ayo, sekarang kita pulang. Rhefan sangat membutuhkanmu." Ucapnya padaku.
"Awww." Keluhku kesakitan saat Indra menggendong tubuhku. Rupanya luka belas bara rokok itu terkena pinggangnya.
Indra reflek menurunkanku. Dan langsung mengecek kondisi kakiku yang terasa sakit tadi. Ia pun berucap saat mengangkat sedikit celana baju tidurku keatas, "Ya ampun Flora. Ada apa dengan kakimu? Apa Sakha yang melakukannya?"
Aku hanya terdiam dan menundukkan kepalaku. Lalu Indra pun berucap lagi, "Kurang ajar b##ingan itu. Beraninya dia melakukan ini padamu Flo. Aku pasti akan membalasnya."
( Rumah Lama Indra )
"Semuanya sudah siap Tuan Muda." Ucap Farhan pada Indra.
"Ya, tunggu aku memberi perintah selanjutnya." Sahut Indra lesu.
"Baik Tuan Muda." Sahut Farhan lalu meninggalkan ruangan Indra.
"Apa yang harus aku lakukan? Salahkah bila aku terus mengharapkanmu Flora?" seru Indra dalam hatinya.
Indra pun bergegas bangkit dari duduknya, ia lalu menghampiriku yang sedang menimang Rhefan di halaman samping rumah.
Indra lalu mengecup puncak kepalaku dan membelainya lembut, saat ia sudah berada di dekatku. Ia pun berucap, "Apakah Rhefan sudah tertidur pulas Flo?"
"Ya, baru saja Mas. Ada apa mas?" sahutku padanya.
__ADS_1
"Ayo kita ke rumah sakit Flo. Kau pasti ingin mengetahui keadaan Rayhan." Ucapnya lembut padaku.
Aku sedikit terkejut mendengar ucapannya. Bahkan saat aku kembali ke rumah dan bertemu Rhefan tadi, aku tidak sempat untuk memikirkan Rayhan sedetikpun.
"Rayhan? Benar. Dia? Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku sampai melupakannya? Padahal dia telah mengorbankan nyawanya untukku. Apakah di hatiku sudah tak ada namanya lagi?" seruku dalam hati bingung.
"Rayhan? --- Dia -- bukankah kau telah membunuhnya Mas. Mengapa dia masih hidup. Apa yang sebenarnya terjadi Mas?" sahutku pilu menyelidik.
Indra lalu menceritakan semua kejadian tentang peristiwa kematian palsu Rayhan itu.
"Aku salah Flo. Maafkan aku. Semua yang terjadi padamu, itu karena aku. Aku pasti akan menebusnya Flo. Kau bisa kembali padanya sekarang. Dia pasti sangat membutuhkanmu." Ucapnya pilu.
Aku hanya terdiam. Entahlah, aku tak tahu harus menjawab apa. Hatiku pun tak begitu senang mendengar tentang Rayhan. Padahal Ia adalah orang yang paling aku sayangi dulu.
"Apa yang terjadi padaku? Mengapa hatiku biasa saja saat mendengar namanya? Bukankah aku sangat mencintainya? Harusnya sekarang aku senang. Tapi hatiku justru sakit saat mendengar ucapan Indra. Apa ini? Apakah aku mencintai Indra?" seruku dalam hati.
"Flo. Apa kamu mendengarkanku?" tanya Indra padaku karena aku melamun tak menjawab ucapannya.
"Ah iya Mas. Kita berangkat sekarang. Aku tidurkan Rhefan di kamar dulu Mas." Ucapku kemudian. Lalu aku bergegas menuju kamar Rhefan.
( Rumah Sakit )
Aku menatap tubuh Rayhan yang telungkup diatas brankar, dari balik jendela ruangan ICU.
Aku meneteskan air mata melihatnya. Hatiku pun tak karuan. Entah itu rasa sayang yang masih tersisa, atau hanya sebuah rasa empati belaka.
Yang jelas, saat ini perasaanku padanya sudah tak seperti dulu.
Aku semakin merasakan, bahwa saat ini, hatiku sudah di penuhi oleh Indra.
"Ray. Maafkan aku. Aku mengingkari janji kita. Aku tidak bisa setia padamu. Anak kita sudah lahir Ray. Dia sangat tampan sepertimu. Tapi hatiku, --- saat ini, hatiku bukan milikmu lagi Ray. Maaf. Hiks hiks." Seruku dalam hati.
Indra hanya menatapku datar dari belakang. Ia lalu duduk di sebuah kursi panjang dekat ruang ICU itu.
Beberapa saat kemudian, tim dokter datang untuk mengontrol keadaan Rayhan. Lalu aku berjalan menghampiri Indra untuk duduk disampingnya.
"Keluarga Bapak Rayhan?" tanya seorang dokter yang keluar dari ruang ICU.
Indra menoleh padaku yang sedang melamun, sesaat sebelum ia menjawab pertanyaan sang dokter, "Ya dok. Disini!" Indra pun bergegas bangkit dan langsung menghampiri dokter.
"Maaf, apakah ada yang bernama Flora? pasien terus memanggil nama itu. Bila ada, tolong segera masuk untuk menemui pasien." Ucap sang dokter.
__ADS_1
"Ah iya, sebentar dok. Saya panggilkan orangnya." Sahut Indra pada dokter itu.
"Flora, Rayhan terus memanggil namamu, temuilah dia Flo." Ucapnya padaku.
Aku tak menyahut ucapannya. Membuat Indra berucap lagi padaku. "Floraaa. Kau tak mendengarkanku?" ucapnya lagi dengan sedikit menggoyangkan pundakku.
"Ah maaf Mas. Ada apa?" jawabku kemudian.
"Sayaaang. Apa yang kau pikirkan? Dokter memintamu untuk menemui Rayhan. Dia terus saja memanggil namamu. Temuilah dia Flo." Sahutnya padaku.
"Ah iya Mas." Ucapku padanya. Lalu aku bergegas untuk memasuki ruang ICU.
"Bip bip bip. Ninut ninut ninut. Tut tut tut." Suara beberapa alat bantu medis yang dipasang pada tubuh Rayhan.
Aku tersentak saat melihat tubuh Rayhan yang dipasangi oleh beberapa selang infus. Aku pun perlahan menghampirinya.
Tubuhku semakin bergetar, saat aku melihatnya dari samping brankar. Terdengar semakin jelas sahutan bunyi alat medis itu. Memberikan suasana yang cukup memilukan.
"Flora. --- Floraa." Ucapnya lemas memanggilku dengan tubuh yang telungkup.
"Iya Ray, aku disini. Cepatlah pulih Ray." Sahutku dengan menggenggam salah satu tangannya. Air mataku terus mengalir.
"Flora. Syukurlah kamu baik-baik saja. Maafkan aku karena terlambat untuk menemuimu. Tapi setiap saat, aku selalu berusaha untuk mencarimu Flora. Flo, benarkah kau sudah memiliki anak? Apakah itu anakku Flo?" ucapnya sangat lemas.
"Tidak apa-apa Ray. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Ya Ray, aku sudah melahirkan seorang anak lelaki. Dan dia anakmu Ray. Dia sangat tampan sepertimu." Jawabku dengan memaksakan untuk tersenyum sambil meneteskan air mata.
"Syukurlah. Siapa nama anak kita Flo? Aku dengar, kau sudah menikah dengan Indra, benarkah itu Flo?" tanyanya lagi padaku.
"Nama anak kita Rhefan Ray. Aku --- " Ucapku terhenti saat mendengar salah satu alat bantu medis itu berbunyi sangat keras.
Akupun reflek berteriak memanggil dokter. Dokter pun bergegas mengecek kondisi Rayhan. Lalu aku kembali keluar dari ruang ICU itu.
Aku berjalan perlahan mendekati Indra. Aku semakin menangis terisak. Tubuhku tiba-tiba lemas. Perlahan ku jatuhkan tubuhku ke lantai dengan tubuh yang bersandar pada dinding.
Indra pun bergegas menghampiriku. Ia memelukku. Dan mencoba memberiku ketenangan.
Aku menangis semakin keras di bahunya. Ia lalu dengan lembut mengusap punggungku perlahan.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰....
__ADS_1