Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 19_Pernikahan


__ADS_3

( Rumah Sakha)


"Halo. Ada kabar apa?" tanya Sakha pada seseorang diseberang sana.


"Anak buahku pernah melihat Flora di pedesaan yang terletak di kaki gunung bos. Ia menggendong seorang bayi. Namun saat aku hendak menangkapnya, seorang pria tiba-tiba datang menjemputnya. Saat ini, mereka ada disebuah rumah yang tampak sederhana. Saya akan terus mengawasi mereka bos." Ucap anak buah Indra yang sejak tadi tengah mengawasiku.


"Kerja bagus. Terus awasi mereka. Dan kirim lokasinya padaku." Ucap Sakha yang senang mendengar kabar tentangku.


"Akhirnya kita akan segera bertemu Flora. Tunggulah aku sayang. Hehe." Ucap Sakha lagi.


...****************...


( Kantor Rayhan )


"Beberapa hari ini, aku terus mengawasi Sakha. Namun tak ada kabar sedikit pun tentang Flora. Flo dimana kamu sayang?" ucap Rayhan sedih yang merindukanku.


"Brakk." Suara keras pintu yang terbuka dari luar.


Rupanya Lusi dan ayahnya yang membuka pintu itu.


"Ada apa ini om?" tanya Rayhan pada ayah Lusi.


"Lihat ini!" ayah Lusi (Lukman) melempar kasar beberapa foto vulgar Rayhan dengan Lusi diatas meja kerjanya.


Rayhan pun melihat beberapa foto itu. Ia terkejut saat melihat foto-foto itu.


"Lus. Apa-apaan ini? Aku nggak pernah berduaan seperti ini sama kamu Lus!" bantah Rayhan dengan penuh emosi.


"Plaakk." Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Rayhan.


"Beraninya kau bicara seperti itu dihadapanku, setelah kau menghamilinya Ray. Nggak tau adat. B@jingan kamu Ray. Kalau bukan karena putriku yang sangat mencintaimu, pasti sekarang aku sudah menghajarmu habis-habisan Ray. Aku tidak mau mendengar alasan apapun, lusa kau harus menikahi Lusi." Ucap ayah Lusi yang sangat emosi pada Rayhan.


"Kamu saat itu memaksaku Ray. Kamu langsung memelukku dan membawaku kedalam kamarmu, saat aku datang menemuimu sore itu. Dan kamu --- kamu melakukan itu padaku Ray. Hiks hiks. Aku sudah mencoba untuk mengingatkanmu Ray, tapi aku kalah tenang darimu. Kamu justru lebih kasar menyerangku. Aku nggak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah Ray. Hiks hiks hiks." Penjelasan Lusi pada Rayhan yang sebagiannya adalah kebohongan.


***Flashback On


(Rumah Rayhan Semarang)


Rayhan terkejut saat membuka pintu rumahnya. Saat itu, ia sedang sangat frustasi karena menghilangnya diriku. Ia terkejut dan bahagia saat melihat wajahku yang berada di depannya saat itu. Yang sebenarnya, itu adalah Lusi, bukan aku.

__ADS_1


Entah karena rasa rindunya yang begitu besar padaku, atau karena fikirannya yang benar-benar sedang dalam kondisi tak baik. Karena sore itu, ia pun telah meminum beberapa botol anggur.


Rayhan langsung memeluk erat tubuh Lusi. Menciumnya dan membawa tubuh itu kedalam kamarnya.


"Flora, aku sangat merindukanmu sayang. Darimana saja kau selama ini? Mereka selalu menyalahkanmu, mereka semua menuduhmu. Tapi aku tidak percaya itu sayang. Aku yakin, kau hanya mencintaiku selamanya." Ucap Rayhan parau sembari menindih tubuh Lusi yang saat ini sudah berada diatas ranjang bersamanya.


"Iya sayang. Aku memang selalu mencintaimu, selamanya." Sahut Lusi yang membelai mesra wajah Rayhan dan ia pun mengecup singkat bibir Rayhan.


Setelahnya, Rayhan dengan rakus membalas kecupan singkat itu. Dan melakukan hubungan terlarang itu bersama Lusi, yang ia kira itu adalah aku.


***Flashback Off


"Beruntung saat itu kau benar-benar dalam keadaan tidak sadar Ray. Dan kau sendirilah yang telah memberikan tubuhmu padaku." Seru Lusi dalam hatinya.


"Bagaimana jadi seperti ini? Saat itu aku melakukannya dengan Flora, bukan Lusi. Jika itu Lusi, mengapa saat aku terbangun, tidak ada siapa pun disampingku? Ya Tuhan, mengapa harus ada kejadian seperti ini? Bagaimana bila Flora kembali nanti, apa yang harus aku katakan padanya?" Seru Rayhan dalam hatinya.


...****************...


( Rumah Penduduk di Desa )


Indra pun segera mengecup mesra tanganku, sesaat setelah ia menyematkan cincin berlian itu di jari manisku.


"Ray, maafkan aku. Aku tidak bisa membalas kematianmu. Dulu, aku memang sangat membencinya karena dia telah membunuhmu. Tapi sekarang, aku tidak membencinya lagi Ray. Indra sebenarnya baik. Dia sangat baik padaku. Tidak seperti Sakha, Sakha selalu membuangku. Ray, restuilah kami." Seruku dalam hati sembari meneteskan air mataku.


Indra pun bangkit dan segera memeluk tubuhku. Ia belai lembut rambut kepalaku. Semakin erat ia memelukku. "Terimakasih Flora."


...****************...


( Rumah Lama Indra )


Ribuan bunga mawar merah, pink dan putih menghiasi halaman rumah Indra. Tempat itu akan menjadi saksi pernikahanku yang ketiga kalinya. Ya. Pernikahanku dengan Indra.


"Wanita mana yang berharap akan mengalami nasib sepertiku ini. Aku berharap ini adalah pernikahan terakhirku. Semoga pilihanku kali ini benar. Ray, kumohon restui kami." Seruku dalam hati saat menatap tempat yang akan menjadi saksi pernikahanku itu.


Saat yang ditunggu-tunggu pun datang. Saat dimana Indra mengucapkan sebuah kalimat ijab qobul dengan sangat jelas dan lantang.


Kalimat yang ia ucapkan hanya dengan satu kali tarikan nafas. Kalimat yang mengikatku dengannya dengan sebuah pernikahan.


Kata sah terdengar dari beberapa saksi dan wali hakimku. Disusul dengan pembacaan doa dari pak penghulu yang melengkapi proses pernikahanku itu.

__ADS_1


Lalu kami pun saling bertukar cincin. Kali ini, Indra memasukkan cincin berlian lain di jari manis tangan kananku. Karena cincin pernikahanku dengan Rayhan, telah ku pindahkan ke jari tengah tangan kiriku.


Aku pun mencium punggung tangan Indra. Cukup lama. Dan setelahnya Indra pun mengecup lembut keningku, cukup lama juga, karena seorang fotografer sedang mengambil fotoku dan Indra saat itu.


...****************...


Tanpa aku dan Rayhan ketahui, Rayhan pun melangsungkan pernikahannya dengan Lusi. Dihari yang sama dan tanggal yang sama dengan pernikahanku dengan Indra. Hanya jam dan tempat saja yang membedakannya.


Rayhan terpaksa menerima pernikahan itu. Karena memang telah terbukti, anak dalam rahim Lusi itu merupakan darah dagingnya.


Setelah mereka menikah, Lusi dan Rayhan tinggal di rumah Lusi. Ia tak ingin Lusi tinggal di rumahnya yang ada di Semarang itu.


Karena rumah itu, Rayhan buat khusus memang untukku. Bahkan Rayhan meminta Lusi untuk tidak mengusik rumah itu, sebagai salah satu syarat pernikahannya dengan Lusi.


...****************...


( Rumah Lama Indra )


Indra sedang menggendong Rhefan di taman samping rumahnya. Ia mengayunkan tubuhnya sambil bersenandung untuk menidurkan anakku, yang kini sudah menjadi anaknya itu.


"Mas, ini minum dulu kopinya. Sini, berikan Rhefan padaku." Ucapku lembut padanya.


"Iya sayang, makasih ya." Sahut Indra dengan senyuman manisnya sembari memberikan Rhefan dari gendongannya padaku.


Indra mengecup keningku lembut. Lalu membelai mesra salah satu pipiku. Ia pun mengecup pipi gembul Rhefan yang ada dalam gendonganku.


Setelahnya, Indra pun duduk dan meminum kopi yang sudah ku seduh untuknya itu.


"Mas, setelah menidurkan Rhefan, aku mau belanja ya, nanti aku bawa salah satu pelayan." Tanyaku lembut padanya.


Tiba-tiba Indra kembali mengingat kejadian setahun yang lalu, saat dimana ia dan Lusi bersekutu untuk menculikku dan menipuku tentang kematian Rayhan.


"Jangan pergi. Nanti kita pergi saat pekerjaanku selesai. Catat saja semua barang yang ingin kamu beli. Biar orang dapur yang membelinya." Sahutnya dengan nada yang sedikit cemas.


"Tapi mas aku ----" ucapku terpotong oleh perkataannya.


"Nggak ada tapi sayaaang. Patuhlah." Sahutnya lagi lalu berbalik pergi meninggalkanku dan Rhefan.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰.....

__ADS_1


__ADS_2