Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 30_Aksi Sakha


__ADS_3


"Sebenarnya, saat SMA, aku hanya berpura-pura culun Ray. Aku adalah putra mahkota dari Sultan Brunei. Dan Natali, dia tahu statusku itu. Karena dia sangat dekat dengan ibu kandungku.


Tapi sejak kecil, aku diasuh oleh Ibu Ratu Istri. Aku mempunyai kembaran Ray. Dan kembaranku diasuh oleh Ibu kandungku sejak kecil. -------- " Indra menceritakan tentang semua asal usulnya pada Rayhan.


"Hah? Apa kau sedang berdongeng padaku Ndra?" ucapnya yang tidak percaya dengan perkataan Indra.


"Cih. Sudah sebesar itu, untuk apa aku berdongeng untukmu Ray." Sahutnya agak kesal.


"Jadi kau benar-benar Putra Mahkota dari Sultan Brunei Ndra? Hemmm, pantas saja, sejak dulu, Natali selalu mepetin kamu.


Dulu aku sangat penasaran, apa yang membuat bule seperti Natali begitu terobsesi pada pria cupu seperti kamu Ndra.


Ternyata semua itu karena statusmu. Lalu apakah Flora mengetahui hal ini Ndra?" ucapnya penasaran.


"Belum Ray. Setelah pulang dari Papua. Aku berencana untuk memberitahunya." Sahutnya pada Rayhan.


...****************...


"Ya Pengiran Istri. Apa Anda masih mengingatku?"


***Pengiran Istri : Sebutan untuk istri Sultan yang kedudukannya berada dibawah Permaisuri.


"Bagaimana aku bisa melupakanmu Pengiran Muda Mahkota. Dan mengapa kau masih memanggilku dengan sebutan itu? Bukankah aku ini Ibu Kandungmu?"

__ADS_1


"Benarkah? Bukankah puteramu hanya satu Pengiran Istri? Ibuku hanyalah Raja Istri." Sahutnya datar.


"Sayaaang, sampai kapan kau akan memperlakukan ibumu seperti ini? Tidak bisakah kau melupakan semua kejadian itu?" ucap Ibu Kandung Indra.


"Cih. Melupakan katamu? Lalu bagaimana dengan nasib bayi yang kau buang itu? Bayi itu mungkin sudah mati bila Raja Istri tak menemukan dan merawatnya.


Bukankah kau sangat jijik dan malu padaku Pengiran Istri? Karena itulah kau membuangku. Sudahlah aku sangat sibuk saat ini." Sahutnya lalu langsung mematikan panggilan telfon itu.


( Rumah Lama Indra )


"Sayang, ingat, usahakan jangan keluar rumah selama aku tak ada, oke?" Ucapnya padaku.


"Iya Mas. Akan selalu ku ingat pesanmu itu Mas. Hati-hati di jalan ya." Sahutku padanya.


"Iya sayang. Kalian berdua juga hati-hati ya." Ucapnya lagi lalu mengecup singkat bibirku, kemudian keningku dan beralih pada kedua pipi Rhefan yang gembul itu.


Aku pun membawa Rhefan masuk kedalam. Berjalan menuju kamarnya. Karena saat ini, Rhefan sudah tertidur pulas.


( Satu Hari Kemudian )


Sebuah tangan pria menarikku dan menutup mulutku saat aku baru saja keluar dari kamar Rhefan. Pria itu menarik tubuhku kedalam kamarku. Sekuat tenaga, aku memberontak, lalu aku pun berhasil terlepas dari cengkramannya.


Aku menoleh untuk melihat wajah pria itu. Sontak aku terkejut saat melihat wajah itu. Wajah yang sangat ku kenal. "Sakha!"


"Hehehe. Kita bertemu lagi sayang? Bagaimana kabarmu? Apakah kau sangat merindukanku?" ucapnya dengan menatapku tajam.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau ada disini Kha. Jangan mendekat. Pergi menjauh dariku Sakha. Pergi." Teriakku cemas lalu berjalan mundur untuk menghindarinya.


Namun Sakha semakin mendekatiku. Sampai tubuhku tertahan di dinding. Ia mengunci pergerakanku dengan kedua tangannya yang mengukung tubuhku.


Ia keluarkan sebuah belati kecil dari balik kantong belakang celananya. Lalu ia arahkan belati itu kearahku sambil berucap, "Temani aku malam ini. Atau belati ini akan membuat lukisan pada wajah cantikmu."


Aku terdiam kaku mendengar ucapannya. Tubuhku bergetar cemas. Namun ku kumpulkan sedikit keberanianku untuk melawannya. "Tidak Kha. Kau tidak bisa mengancamku seperti ini. Menjauhlah dariku Kha. Jangan sampai kau menyesal."


Namun Sakha tetap tak mengindahkan ucapanku. Dia selalu berusaha untuk mendapatkanku.


Dan Tiba-tiba, ia mengecup paksa bibirku. Membuatku semakin memberontak. Sampai aku pun berucap, "B##ingan kau Sakha. Segera menjauh dariku Br##gsek."


"Hahaha. Aku sangat senang melihatmu teriak frustasi seperti itu sayang. Kau semakin terlihat cantik. Hehehe. Tetaplah seperti itu Sayang." Ucapnya lembut namun Aku benar-benar muak mendengarnya.


"Braak." Suara keras pintu kamarku yang terbuka paksa dari Luar.


Aku terkejut namun cukup merasa tenang, saat melihat seseorang yang berhasil membuka pintu kamarku itu.


Karena tembok dalam kamarku, merupakan tembok yang mempunyai kualitas terbaik untuk mengedapkan suara dari dalam ruangan kamarku itu.


Sakha cukup terkejut saat melihat seseorang berhasil membuka pintu kamarku. Seseorang itu pun berucap, "Menjauhlah darinya Sakha. Kau pecundang yang hanya berani melawan wanita. Cih. Memalukan!"


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...


__ADS_1



__ADS_2