Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 22_Kembali Hilangnya Flora


__ADS_3

"Traaaang." Rayhan melempar kasar pisau yang ia pegang ke lantai.


"B##ingan kau Lusi. Bisa-bisanya kalian melakukan semua itu padaku dan Flora. Siapa Indra?" ucap Rayhan yang semakin geram padanya. Namun karena Lusi sedang hamil, ia tahan emosinya itu dengan susah payah.


"Di-Di-Dia -- dia teman SD Flora, lelaki itu sejak dulu sangat mencintai Flora." Ucap Lusi yang merasa ketakutan.


"Berikan alamat dan nomer ponselnya!" seru Rayhan geram.


"A-Aku hanya mempunyai nomer ponsel dan alamat markasnya Ray." Sahut Lusi ketakutan.


"Berikan sekarang!" teriak Rayhan.


Lusi pun dengan segera mengirimkan apa yang Rayhan mau.


"Apa lagi yang kau sembunyikan? Katakan?" teriak Rayhan lagi.


"Ti-Tidak ada Ray." Sahutnya cepat.


"Jangan bohong Lusi. Katakan siapa ayah dari anak yang Flora kandung saat ini?" ucap Rayhan lagi.


"Di-Di-Dia a-anakmu Ray." Jawab Lusi menangis karena terpaksa.


"Aaaaaaaarrrgghh. Si#lan kau Lusi. B##ingan. Berterimakasihlah kau pada anakmu itu Lusi. Karena dia, aku tidak membu#uhmu saat ini. Tapi ingatlah baik-baik, aku tidak akan membuat hidupmu tenang dan bahagia. Akan ku balas rasa sakit yang aku dan Flora rasakan ribuan kali lipat lebih sakit Lusi." Ucap Rayhan padanya.


Rayhan pun berlalu meninggalkan rumah Lusi. Dengan sangat keras ia membanting pintu rumah itu, sampai beberapa bagian disekitar rumah itu bergetar hebat.


...****************...


( Rumah Lama Indra )


Saat ini, tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Dengan pandangan yang kosong, aku turun dari ranjangku.


Berjalan perlahan menuju pintu. Lalu ku buka pintu itu, aku keluar dari kamarku dengan membiarkan pintu itu yang masih terbuka.


Ku lanjutkan perjalananku atas arahan sebuah bisikan yang menuntunku untuk keluar dari rumah itu.


Dengan wajah yang masih berpandangan kosong, ku lewati ruang tamu itu dengan mudah.


Entah bagaimana caranya, pintu utama yang terkunci itu, terbuka dengan mudah olehku.


Membuat aku semakin bebas keluar dari rumah itu. Bahkan seluruh penjaga tak ada satupun yang bisa menghentikanku. Karena mereka semua tertidur tak sadarkan diri.


Bisikan itu menuntunku untuk terus berjalan keluar. Berjalan menuju gerbang rumahku.


Dengan sangat mudah, gerbang itu pun terbuka. Membuatku bebas keluar melewatinya.


Kembali ku berjalan sesuai arahan bisikan itu. Dengan pikiran dan tatapan wajah yang kosong, aku melangkaj kearah sebuah mobil yang sedang terdiam.


Dari kejauhan pintu mobil itu terbuka. Memang siap untuk menunggu kedatanganku.

__ADS_1


Dengan santai kakiku pun beranjak naik kedalam mobil itu. Sampai mobil itu menutup pintu. Lalu seketika berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


...****************...


"Tut tut tut tut tut tut tut." Nyaring suara alarm bahaya yang ada pada ponsel Indra.


Seketika Ia pun meraih ponselnya. Dan berucap, "Alarm bahaya di jam segini? Apa ada penyusup di rumahku?"


Namun Indra tiba-tiba terkejut saat melihat pintu kamarnya yang setengah terbuka.


Lebih terkejut lagi saat menengok kearah sampingnya bahwa aku sudah tidak ada bersamanya. Dengan sangat gelisah Indra pun kembali berucap, "Flora? Dimana dia?"


Indra lalu bergegas keluar kamarnya untuk mencari keberadaanku. Namun ia tak berhasil menemukanku dimanapun.


Sampai ia melihat pintu utama rumah yang sudah terbuka. Perasaannya semakin kacau.


Ia langsung berlari kearah pintu itu. Namun Flora tak ada disekitarnya.


Pandangannya kini fokus kearah gerbang rumah yang sedikit terbuka.


"Sial." Indra kembali berlari kearah gerbang. Berharap masih sempat untuk menemukanku. Namun aku sudah tak ada disekitar tempat itu.


"Aaaaaaarrrrgghh. Floraaaa." Teriak Indra cemas bercampur geram.


Ia pun kembali memasuki halaman rumahnya. Dan mengamati apa yang terjadi pada seluruh anak buahnya. Ia pun kembali berucap, "S#aaaal. Mereka membius anak buahku."


"Byuuur"


"Kebanjiran-kebanjiran." Teriak satpam A.


Sedangkan satpam B hanya terdiam dengan mengusap wajahnya yang basah.


"Otakmu yang kebanjiran. Cepat sadar. Aku Indra, bos kalian." Teriaknya kesal.


Suara Indra itu mampu membangunkan kesadaran kedua satpam itu seketika.


"Maafkan kami Tuan." Ucap kedua satpam itu yang mendadak hormat.


"Bangunkan yang lain, dan cepat cari Nyonya sekarang!" Teriak Indra lagi pada mereka.


Indra pun bergegas ke ruang kerjanya, ia memperhatikan gerakanku dengan pandangan kosong itu keluar dengan sangat mudah dari dalam kamarnya sampai menuju mobil yang berada di luar rumahnya. Ia pun berucap, "Sia#an, mereka pasti memakai dukun. Cih. Dasar Pengecut. Ini pasti ulah Sakha. Kur#ng ajar b##ingan itu!"


Ia pun bergegas kearah garasi mobilnya. Dan menaiki salah satu mobilnya lalu berjalan keluar mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumahnya.


Mencoba untuk mencariku dengan bantuan petunjuk arah yang menuju tempat dimana aku berada.


Dalam perjalanannya, Indra pun memberi pesan pada baby sitter Rhefan, "Aku pergi untuk mencari Nyonya yang hilang, kau jagalah Tuan Muda dengan nyawamu."


( Rumah Kosong - Indramayu )

__ADS_1


Aku membuka mataku perlahan. Lalu ku putarkan kepalaku untuk melihat sekeliling kamar yang tampak asing itu. Akupun berucap, "Dimana ini? Mengapa aku harus merasakan hal ini lagi? Dimana Rhefan"


Kilasan kenangan burukku kembali bermain di otakku. Membuatku kembali merasakan takut itu. Tubuhku bergetar.


"Kreeeet." Suara pintu yang terbuka dari luar.


Membuatku langsung terduduk bangun dari posisi berbaringku diatas ranjang.


Aku memeluk erat kakiku yang terlipat itu. Dengan kepala yang ku tundukan kebawah.


"Hahaha, bos pasti sangat senang dengan hasil kerja kita hari ini. Hahaha. Wanita itu sangat cantik. Andai dia bukan istri bos, pasti aku sudah menikmatinya. Hahaha." Ucap pria A.


"Hahahaha, jangan mimpi, wanita itu adalah milik gue, sebelum lo memilikinya. Hahaha." Sahut pria B.


Aku semakin takut mendengar ucapan mereka. Tubuhku semakin bergetar hebat. Untuk sekedar melihat mereka pun, aku sama sekali tak berani.


Entah siapa pria yang mereka sebut bos itu. Tebakanku mungkin adalah Sakha.


...****************...


Hari semakin pagi, saat Indra mencari keberadaanku.


Ia dengan cermat mengamati petunjuk jalan yang ada pada layar ponselnya. Jalan yang menuju lokasiku saat ini.


Yang terhubung langsung dengan sistem GPS rahasia yang ada di sela-sela berlian cincinku.


Tiba-tiba ponsel Indra berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomer tak di kenal.


Karena penasaran. Ia pun mengangkat panggilan itu. "Halo. Siapa ini?"


"Katakan apa istriku Flora ada bersamamu?" ucap Rayhan geram.


"Apa ini Rayhan?" seru Indra dalam hatinya.


Saat ini, Rayhan sedang berada di sekitar markas Indra.


"Aku tidak mengerti perkataanmu. Kau mungkin salah sambung Tuan. Aku sibuk." Ucap Indra jutek hendak mengakhiri panggilan telfon itu.


"Jangan bohong Indra. Aku sudah mengawasi Sakha. Tapi dia tidak bersama Flora. Bahkan saat ini b##ingan itu pun sedang mencari Flora.


Cepat katakan dimana kalian! Kau tak berhak membawanya. Dia istriku Indra!" teriak Rayhan semakin geram.


"Hahahaha. Tapi sekarang Flora adalah istriku Rayhan. Jadi berhentilah kau untuk mendapatkannya kembali. Dia sedang mengandung anakku." Sahut Indra dengan bangga.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰....



__ADS_1


__ADS_2