Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 𝟟_Flashback Flora


__ADS_3

***Mode Flashback ON


(Rumah Keluarga Sakha - Cirebon)


Flora terkejut melihat hasil testpack yang ia pegang menunjukkan garis 2. Ia sangat senang mengetahui hal itu.


Karena dalam rahimnya akan ada seorang bayi hasil buah cintanya dengan sang suami. Namun tiba-tiba senyumnya menghilang, saat ia kembali teringat dengan kejadian buruk yang menimpa suaminya.


Andai saja Flora tahu, bahwa saat itu orang lainlah yang ada disana. Bukan suami sesungguhnya. Mungkin ceritanya tak akan sedih seperti ini.


"Ray, kita akan punya bayi. Nak kamu harus kuat ya sayang. Ibu akan selalu menjagamu." Ucap Flora tersenyum sambil membelai lembut perutnya.


"Flo kamu udah siap? Loh. Flo kamu kenapa? Kenapa kamu menangis? Flo ada apa?" cecar Sakha yang sedikit panik melihat Flora menangis.


"Sakha, aku hamil Kha. Aku senang, akhirnya kelak akan ada yang menemaniku di dunia ini." Ucap Flora penuh haru.


"Alhamdulillah aku ikut senang ya Flo. Aku kesini mau ngajakin kamu makan. Kamu belum makan kan?" ucap Sakha perhatian.


"Nggak perlu Kha. Aku nanti makan diluar aja. Aku nggak enak sama keluarga kamu. Apalagi sekarang aku lagi hamil. Nanti keluarga kamu malah mikir yang nggak-nggak tentang kamu. Aku pamit ya Kha. Makasih udah bantuin aku." Ucap Flora ramah.


Entah mengapa ada sedikit rasa yang aneh di hati Sakha saat ia mendengar perkataan Flora yang ingin pergi meninggalkan rumahnya.


"Emang kamu mau kemana Flo? Kamu yakin mau pergi? Gimana anak kamu nanti Flo? Bukankah dia butuh seorang ayah? Dan status kamu di dunia hiburan tuh nggak biasa. Apa jadinya kalo mereka tahu kamu sedang hamil dan tidak mempunyai seorang suami Flo? Kamu nggak kasian sama anak kamu itu?" cecar Sakha.


"Semua itu bukan urusan kamu Kha. Jadi kamu tenang aja. Aku pasti bisa lewatin semuanya. Aku pergi ya Kha. Assalamu'alaikum." Ucap Flora tenang lalu meninggalkan tempat tinggal Sakha.

__ADS_1


"Tunggu Flo, kamu jangan nekat, gimana kalo dijalan kamu bertemu pria yang membunuh suami kamu itu? Kamu yakin dia nggak bakal nngapa-apain kamu?" ucap Sakha yang mencoba meyakinkan Flora.


Flora kembali terduduk, ia memegangi perutnya yang masih rata. Ia pun kembali menangis. Meratapi nasib buruknya itu.


"Flo, dengar, aku tulus bantuin kamu Flo. Aku juga mau jagain kamu. Flo, kita emang baru aja bertemu. Tapi dengan keadaan kamu sekarang, nggak ada cara lain lagi selain aku harus nikahin kamu." Ucap Sakha memberanikan diri.


Flora terkejut dengan perkataan Sakha. "Apa? Nikah?"


Namun ia kembali merenung memikirkan semua perkataan Sakha tadi. "Aku nggak tau Sakha orang yang seperti apa, tapi sepertinya dia orang yang baik. Yang dia katakan ada benarnya juga. Kalo aku pergi dari sini, kemungkinan Indra bisa menemukanku. Lalu bagaimana bila ia melukai anakku? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Tapi untuk bersembunyi ditempat ini aku harus menikah dengannya. Ya mungkin itu satu-satunya cara, cara itu juga bisa melindungi anakku. Akan menyakitkan bila kelak ia lahir tanpa seorang ayah."


Flora pun mengatakan keputusannya pada Sakha. "Baiklah Kha, aku akan menikah denganmu. Terimakasih Kha.


Tapi bagaimana dengan restu ibumu?"


Sakha senang dengan keputusan yang Flora ambil. "Alhamdulillah. Maaf ya Flo. Aku bukan memaksa kamu. Aku hanya ingin melindungimu dan calon anakmu itu. Soal ibuku kamu nggak usah khawatir, aku pasti bisa membujuk mamah untuk merestui pernikahan kita."


( Pinggir Pantai )


Flora berdiri didepan Guardrail jalan disekitaran pantai. Ia memandang lurus kedepan memperhatikan gulungan ombak lautan. Air matanya mengalir deras saat ia mengingat semua kejadian yang menimpanya belakangan ini. Ia menangis terisak. "Hiks.. hiks.. hiks.. Ray, mengapa kamu pergi begitu cepat. Bahkan kita belum sempat pindah ke Semarang. Apa keputusanku menikahi Sakha itu salah Ray. Hiks.. Hiks.. Hiks... Aku hanya butuh perlindungan Ray. Untukku dan untuk anak kita. Tapi aku tak ingin selalu diperlakukan buruk oleh mereka. Bahkan selama kita menikah, Sakha menemuiku hanya untuk memuaskan hasrat seksualnya saja. Setelah itu dia kembali menghilang dengan dalih kesibukan. Ray apa yang harus aku lakukan? Hiks.. hiks.. hiks...


"Kau susah payah pergi dari tempatku hanya untuk menangis disini? Heuh. Kau benar-benar wanita yang tidak tahu di untung." Ucap Indra yang entah sejak kapan sudah berada beberapa meter disamping Flora.


Flora terkejut mendengar suara lelaki disampingnya itu. "In-dra! Ka-kamu.. Ngapain kamu disini? Kamu ngikutin aku?" ucap Flora yang sedikit cemas dengan pria itu.


"Hahahaa. Untuk apa aku repot-repot mengikutimu sayang. Lihatlah, bahkan sekarang kita bertemu tanpa sengaja bukan? Jadi sekarang kau sedang mengandung anak Rayhan? Cih. Pria itu, sudah mati saja masih ingin menguasai perhatianmu dariku. Ckckckck." Ucap Indra dengan santai.

__ADS_1


Flora memegangi calon bayinya, ia khawatir, Indra akan melakukan sesuatu pada bayinya.


Flora pun menggeser perlahan kakinya untuk menjauhi tempat itu. Ia lalu segera berbalik. Dan hendak berlari.


Namun saat ini kedua bodyguard Indra telah siaga berdiri didepannya. Flora terkejut dan kembali melihat Indra.


"Pamitlah dulu jika kau ingin pergi sayang!? agar aku tak perlu cemas untuk mencarimu!" ucap Indra dengan pandangan lurus ke pantai.


"Lepaskan aku Ndra!?" ucap Flora lirih.


Mendengar itu, Indra justru langsung menghampiri Flora dan memeluknya.


"Diam, jangan bergerak, atau ku bunuh bayimu sekarang." Ucap Indra tenang namun kata-katanya begitu mengancam.


Flora pasrah dengan keadaan itu. Yang ia pikiran saat ini hanya keselamatan bayinya. Indra semakin erat memeluk tubuh itu. Membelai rambutnya. Mencium aroma tubuh Flora. Begitu lama. Membuatnya tenang. Dan bahagia. Ia sangat senang sampai meneteskan air matanya.


"Kamu nangis Ndra?" ucap Flora penasaran.


Indra langsung mengusap air matanya dan setitik air dihidungnya dengan salah satu lengannya. Ia kembali memeluk erat tubuh itu. Sesaat kemudian, Flora memejamkan matanya, tak sadarkan diri di pelukannya. Indra pun langsung membawa tubuh Flora kedalam mobilnya.


...****************...


( Rumah Rayhan - Semarang )


Rayhan membaringkan tubuhnya diatas ranjang kamarnya. Matanya menatap langit-langit kamar itu. Namun otaknya memutar semua kilasan momen yang telah ia lalui dengan Flora.

__ADS_1


"Kamu dimana sayang? Ini kamar kita sekarang. Aku sangat merindukanmu Flora" Lirih Rayhan dengan menitikkan air mata.


Bersambung......


__ADS_2