
Arena titik GPS itu tepat berada di depannya. Lalu Indra melihat cincin berlianku yang ada di salah satu genggaman tangannya.
Indra pun memungut cincin yang penuh darah itu. Ia pun menyuarakan hatinya. "S#al, aku terlambat. Sakha pasti sudah membawa Flora."
"Bawa Rayhan ke rumah sakit dan tetap awasi dia. Sisanya ikut bersamaku untuk mengejar Nyonya. Mereka pasti masih di sekitar rumah ini. Cepat!" teriak Indra memberi perintah.
Indra pun langsung berlari keluar rumah itu dari pintu belakang. Ia dan anak buahnya berpencar untuk mencariku dan Sakha.
Karena aku tak memakai cincin berGPS itu, membuat Indra cukup kesulitan untuk menemukanku.
( Rumah Tua - Indramayu )
Saat ini aku sedang duduk terikat dibawah lantai dibalik sebuah kursi kayu.
Sedangkan Sakha, ia sedang asyik menikmati rokoknya diatas sebuah sofa. Dengan membubuhkan sebuah bubuk pada lukanya.
Tempat itu dari luar terlihat seperti rumah tua yang sangat usang.
Namun saat masuk kedalam, sangat berbeda jauh dari tampak depannya. Bagian dalam rumah itu sangat rapih dan mewah.
Ada sebuah ranjang mewah dan besar di sudut kiri ruangan itu, berada tepat di depanku.
Tiba-tiba Sakha pun menghampiriku. Ia berkata, "Apa yang kau pelajari selama bersama Indra sayang? Apakah dia mengajarimu beberapa gaya baru?" ucapnya padaku dengan begitu santai.
Aku tak menjawabnya. Aku sangat jijik mendengar ucapannya itu. Entah mengapa, dulu aku begitu bodoh bisa mempercayainya.
Sakha semakin mendekatiku, ia mengangkat daguku, hingga terlihat jelas wajah rapuhku.
"Diposisi seperti inipun, kau masih terlihat sangat cantik sayang. Sangat menggodaku. Tapi, kali ini aku menginginkan kau yang lebih liar dan agresif. Apakah Indra sudah mengajarimu?" ucapnya lagi.
"Cih. Aku tak sudi melayani b##ingan sepertimu Sakha. Kau selama ini hanya memanfaatkanku."
***Flashback On
Aku tak sengaja mendengar video call Indra dengan Sakha di ruang kerjanya, saat aku hendak memanggilnya untuk makan malam bersama.
"Jangan mimpi kau Sakha. Sampai matipun aku tak akan pernah melepaskan Flora untukmu. Sekarang dia istriku.
Aku akan melindunginya dari lelaki b##ingan sepertimu. Aku tahu, selama ini kau tak pernah mencintai Flora. Kau hanya mencintai Riska, kekasihmu itu.
Kau sengaja menikahi Flora untuk memanfaatkannya saja bukan? aku pun tahu kau menjual apartemen Flora untuk membeli sebuah rumah baru, yang akan kau berikan pada selingkuhanmu itu saat kalian menikah nanti.
Cih. Kau benar-benar tak pantas untuk menjadi suaminya. Enyahlah dan jangan pernah kau berani untuk mengganggu Flora lagi. Jika tidak, akan ku ratakan rumah orang-orang terdekatmu." Ucapnya pada Sakha.
"Hahahaha. Kau benar-benar sangat mencintainya Indra. Kau begitu teliti. Kalau begitu, aku tak akan sungkan lagi padamu.
__ADS_1
Yang selingkuhan itu sebenarnya Flora, bukan Riska. Aku sudah lama mencintai Riska. Dan aku terpaksa menikah dengan Flora, hanya untuk memanfaatkannya, dan memuaskan keinginan biologisku saja.
Kau sendiri tahu bagaimana Riska, dia selalu menolak jika aku menginginkannya. Andai saja aku tak mencintainya, mungkin aku akan lebih memilih hidup bersama Flora. Hahaha.
Dan kau, telah menghancurkan rencanaku. Kau harus membayar semua kerugianku Indra."
Seketika aku terkejut mendengar percakapan mereka, aku tak menyangka takdir bisa mempermainkanku seperti ini.
Dulu, aku menikahi Sakha, karena ingin terbebas dari kegilaan Indra. Namun ternyata dia hanya memanfatkanku.
Sedangkan Indra, pria yang dulu ingin ku jauhi, pria yang sangat ku takuti. Justru berbalik menjadi malaikat yang selalu siap melindungiku dengan tulus, walau terkadang cara yang ia pakai terlalu kejam.
***Flashback Off
"Aku menyesal telah menikahimu Sakha. Dasar b##ingan, kau tunggu saja, Indra pasti akan membalasmu. Ia pasti segera menemukanku." Teriakku padanya.
"Hahaha. Sekarang kau lebih percaya padanya Flora. Apa kau tak ingat. Karena dia, hidupmu jadi seperti ini.
Semua berawal dari rencananya untuk menyabotase kematian pujaan hatimu itu.
Sayang sekali. Bahkan saat ini, mungkin Rayhanmu itu benar-benar sudah mati karena tikaman dariku itu. Hahaha." Ucapnya padaku.
Tiba-tiba beberapa orang datang memasuki ruangan itu. Tiga orang pria, dengan dua orang wanita.
Namun salah satu wanita tampak sedang menangis. Ia pun terlihat sangat ketakutan.
Sakha pun menyapa mereka. Ia sangat segan pada pria pengusaha itu.
Entah apa yang ia ucapkan padanya. Namun mereka tersenyum mengerikan saat menatapku.
Lalu pria dan salah satu wanita itu pun memulai aksinya. Rupanya pria itu telah menyewa dua gadis itu untuk memenuhi hasrat lelakinya. Bahkan ia pun sampai merekam aksinya nanti.
Aku benar-benar risih, saat melihat salah satu wanita yang berpakaian seksi itu mulai menggoda si pria.
Mereka pun memulai foreplay dengan sangat agresif. Sampai melakukan penyatuannya. Tepat dihadapanku.
Sakha memaksa wajahku untuk menatap kegiatan panas di depanku itu. Aku benar-benar jijik melihatnya.
Ku paksa memejamkan mataku, namun Sakha dengan sadis menempelkan rokok yang masih berbara itu pada salah satu kakiku.
"B##ingan kau Sakha. Cepat hentikan semua ini!" teriakku padanya.
"Kau harus belajar darinya Flora. Lihatlah wanita itu. Aku suka bila kau seperti itu." Ucapnya dengan memaksa wajahku untuk kembali melihat kegiatan panas itu.
Beberapa jam kemudian, pria itu menuntun salah satu wanita yang lain. Wanita itu terlihat masih sangat muda. Mungkin dia masih duduk di bangku SMA.
__ADS_1
Pria itu memaksa gadis muda itu untuk mengikuti permainannya. Dengan wanita yang sudah bermain lebih awal dengannya.
Pria itu dengan rakus menerobos masuk tanpa permisi lagi kepada gadis muda. Membuat gadis itu meringis kesakitan.
Dengan wanita agresif yang terus menambah kenikmatan pada si pria.
"Sakha b##ingan. Sialan kau. Hentikan semua itu. Kau benar-benar gila Sakha. Lepaskan aku. Hentikaaaaaan." Teriakku lagi yang tak tahan untuk melihat adegan itu.
"Plak." Tamparan keras mendarat di pipiku yang di sebabkan olehnya.
Membuat pipiku panas dan sakit. Aku semakin geram dengan tingkahnya itu. Aku mengutuk diriku sendiri. Karena telah salah, dulu telah mempercayainya.
Beberapa jam setelahnya, semua orang itu pergi meninggalkan kami. Tersisa hanya dan Sakha lagi.
Ia pun menatapku dengan penuh nafsu. Merasa segera ingin memakanku.
Ia semakin mendekatiku dan mulai membelai pahaku. Seketikpa aku memberontak cepat.
"Menjauh dariku b##ngsek. Sialan. Jangan sentuh aku lagiiii. B##ingan kau Sakha. Pergiiii." Teriakku kesal dan takut.
Namun Sakha justru semakin tergoda karena teriakkanku itu. Ia pun berucap, "Hahaha. Berteriaklah sesukamu sayaang. Pada akhirnya kaupun akan menikmati permainan ini."
"Tidaak. Jangan lakukan Sakhaa. Lepaskan aku. Lepaskaaaaan." Teriakku lagi saat Sakha mulai mengecup salah satu bagian kakiku.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari depan. Rupanya itu suara pintu yang di dobrak paksa oleh Indra.
Dengan cepat, Ia pun bergegas memasuki rumah itu. Untuk mencari keberadaanku.
Di belakangnya, berjejer beberapa anak buahnya dengan membawa senjata mereka.
"Menjauh darinya sekarang! Atau kau akan kehilangan kepalamu. Kau tahu, saat ini rumah orang tuamu dan rumah Riska sudah dikepung oleh beberapa anak buahku.
Sekali aku memberi perintah, maka api besar akan melahap habis rumah mereka seketika. Cepat menyingkir dari Flora. B##ngsek." Teriak Indra geram. Tangannya sangat siap untuk menarik pelatuk senjata api itu.
Kedatangan Indra, sungguh membuat hatiku sangat lega. Kini aku bisa sedikit bernafas dengan tenang.
"Cih. Sialan kau Indra. Kau selalu mengacau. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan kembali mendapatkan Flora. Ingat itu!" ucapnya pada Indra sambil bangkit dan menjauhiku.
"Dorr." Satu buah tembakan berhasil melukai kaki Sakha yang sempat terluka tadi.
"Cepat tinggalkan tempat ini, sebelum peluruku kembali menyerangmu. Dan jangan pernah berani untuk memperlihatkan wajahmu di depanku lagi. Ingat itu!" Ucapnya pada Sakha.
Sakha tak menjawabnya, ia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰....
__ADS_1