Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 26_Isi hati Flora


__ADS_3


( Depan Ruang ICU )


Aku berjalan perlahan mendekati Indra. Aku semakin menangis terisak. Tubuhku tiba-tiba lemas. Perlahan ku jatuhkan tubuhku ke lantai dengan tubuh yang bersandar pada dinding.


Indra pun bergegas menghampiriku. Ia memelukku. Dan mencoba memberiku ketenangan.


Aku menangis semakin keras di bahunya. Ia lalu dengan lembut mengusap punggungku perlahan.


"Sudah jangan menangis. Rayhan pasti baik-baik saja." Ucap Indra padaku masih dengan tangannya yang mengusap-usap punggungku.


"Entah mengapa aku selalu tak bisa melihatmu menangis Flora. Walaupun itu karena kau telah menangisi pria lain. Apakah aku terlalu bodoh Flo? Apakah karena aku yang terlalu mencintaimu? Salahkah bila aku harus egois agar bisa bahagia diatas penderitaan kalian? Tapi kamu masih mencintainya Flo. Aku tidak mau memaksamu lagi, selama kamu bisa tersenyum dan bahagia, aku akan merelakanmu untuk kembali padanya Flo." Seru Indra dalam hatinya.


Dokter pun keluar dari ruangan Rayhan. Ia memberi kabar bahwa saat ini Rayhan sedang koma.


Karena tusukan pisau itu mengenai sedikit jantungnya. Sehingga membuat kesempatan hidup Rayhan sangat tipis.


Aku sangat shock mendengar perkataan dokter. Aku merasa bersalah pada Rayhan, karena akulah yang menyebabkan semua ini terjadi padanya.


Indra pun membawaku ke taman rumah sakit. Berharap dengan begitu, bisa membuat hatiku lebih tenang.


Terdengar suara notifikasi dari ponsel Indra. Ia pun membuka ponselnya. Ia membaca sebuah pesan chat dari Farhan, asisten pribadinya.


Chat itu berisi, "Tuan, Rayhan telah melangsungkan pernikahan secara paksa dengan Lusi. Tanggal pernikahan mereka sama dengan tanggal pernikahan Anda dan Nyonya.


Sebelumnya Lusi mengaku telah hamil anak Rayhan. Namun beberapa minggu kemudian, Rayhan mengetahui bahwa anak itu bukan darah dagingnya.


Saat ini, semua aset keluarga Lusi telah menjadi milik Rayhan. Ayah Lusi sendiri yang memberikannya pada Rayhan.


Dan ayah dari anak Lusi adalah Frans. Teman SD Anda."


Indra kembali menyimpan ponselnya setelah membaca pesan chat itu.


"Kenapa kamu seperti ini Mas? Kamu nggak marah?" tanyaku padanya.


"Aku selalu mencintaimu Flora. Melihatmu bersama pria lain, memang menyedihkan. Namun, asalkan kau bisa bahagia dengannya, aku sangat rela Flo." Sahut Indra padaku.


"Tapi --- bagaimana bila aku tak menginginkan pria lain Mas?" ucapku padanya.


Indra langsung mengangkat kepalaku dari bahunya saat mendengar ucapanku. Ia langsung menghadap kearahku. Dan bertanya, "Apa maksudmu Flo?"

__ADS_1


"Ah tidak ada Mas. Aku mungkin tadi salah bicara." Kilahku padanya.


"Apa yang dia maksud, dia hanya ingin bersamaku?" seru Indra dalam hatinya.


"Flo, aku ke kantin dulu ya. Mau membeli beberapa cemilan dan air mineral. Kamu jangan kemana-mana ya? Tunggu aku disini." Ucap Indra padaku.


Namun baru beberapa langkah berjalan, ia menghentikan langkahnya dan berbalik lagi untuk menghampiriku.


"Ada apa Mas?" tanyaku padanya.


"Kamu ikut aku saja ke kantin. Jangan tunggu sendirian disini. Ayo!" Sahut Indra mengulurkan tangannya padaku.


Aku merasa sedikit aneh dengan sikapnya itu. Namun tetap ku sambut uluran tangannya.


Kami pun melangkah bersama menuju kantin.


"Sialan Indra. Dia semakin waspada untuk menjaga Flora. Aku nggak boleh lengah." Seru Sakha dalam hatinya.


( Rumah Lama Indra )


Saat ini, aku sedang berdiri dipinggir balkon kamarku, dengan tangan yang memegangi pinggiran balkon. Memandangi pemandangan sawah disekitar rumah Indra itu.


Aku terkejut lalu menengok kearahnya. "Mas Indra?" ucapku.


"Jangan menolak Flo. Aku hanya ingin memelukmu sebentar. Setelah Rayhan sadar, mungkin aku tak akan bisa memelukmu lagi.


Rumah ini pun akan menjadi sangat sepi tanpa tangisan Rhefan lagi. Aku pasti akan selalu merindukan kalian Flo." Ucap Indra padaku.


Entah mengapa, aku merasa kesal mendengar perkataannya itu. Aku pun berucap, "Kenapa kamu bicara seperti itu Mas? Kamu mengusir kami?"


Indra sedikit terkejut mendengar ucapanku. Ia pun berucap, "Bukan begitu Floo. Aku hanya ingin kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai."


"Tapi saat ini, kamulah orang itu Mas." Seruku dalam hati.


Aku hanya terdiam, tak menjawab ucapannya. Lalu ku lepas paksa pelukannya dari tubuhku.


Aku pun berjalan cepat, pindah menuju ke sebuah kursi yang ada di balkon itu.


Indra terlihat bingung dengan sikapku. Ia pun menyuarakan hatinya, "Apa yang terjadi padanya? Apa dia marah? Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengusirnya. Aku hanya ---- . Tidak, apa dia menyukaiku?"


Indra lalu menghampiriku dan duduk di sampingku. Ia pun sengaja berucap, "Bila kau mau, kau dan Rhefan bisa pindah ke rumah baruku yang ada di Kabupaten Flo. Aku akan mengirim banyak orang untuk melindungi kalian.

__ADS_1


Setelah Rayhan pulih. Kalian bisa tinggal bersamanya. Setelah itu, aku akan berusaha untuk tidak mengganggu kalian lagi. Aku akan menikahi wanita lain Flo. Ku harap, semua itu cukup untuk membalas kesalahanku padamu Flora."


"Cih. Pria ini mengapa terus membuatku kesal. Setelah berhasil mengambil hatiku, ia lalu berniat untuk pergi dengan wanita lain? Dasar bodoh, menyebalkan, apa dia tidak menyadari perubahan sikapku?" Seruku dalam hati kesal.


"Aku lelah Mas. Aku mau tidur saja." Seruku padanya lalu aku bangkit hendak pergi menuju kamarku.


Namun tiba-tiba, Indra menarik salah satu tanganku, membuat tubuhku seketika berada diatas pangkuannya.


Ia pun memeluk tubuhku mesra. Dan menatap mataku lembut. Ia lalu berucap, "Apa yang terjadi Flo? Apa kau tak ingin tinggal bersama Rayhan? Apa sekarang kau sedang cemburu?"


"Siapa yang cemburu? Aku bilang aku lelah Mas." Sahutku yang bangkit dari pangkuannya.


Indra pun langsung berucap setelah aku terlepas dari pangkuannya, "Oke. Kalau begitu, mulai besok kalian sudah bisa pindah ke rumah baruku. Kedepannya, rumah itu untukmu saja Flo.


Aku akan segera menelfon pengacara untuk mengurus surat perceraian kita. Jaga dirimu setelah tak bersamaku Flo.


Jangan mudah percaya pada ucapan seseorang yang belum terlalu kau kenal. Walaupun orang itu bersikap sangat baik padamu sekalipun."


Ia pun berlalu pergi meninggalkanku di balkon itu. Namun baru beberapa detik Indra melangkah, aku berlari untuk mengejarnya. Dan langsung ku peluk tubuhnya dari belakang. Dengan sangat erat.


"Jangan ceraikan aku dan jangan menikahi wanita lain Mas. Aku mencintaimu." Seruku padanya dengan jantung yang berdegup sangat kencang.


Indra terkejut lalu tersenyum bahagia mendengar ucapanku itu. Ia pun berbalik dan menarik pinggangku agar merapat dengan tubuhnya.


"Katakan sekali lagi Flo? Aku tak mendengarnya dengan jelas?" ucap Indra bohong padaku.


"A-Aku --- aku mencintaimu Mas. Jangan ceraikan aku dan jangan menikahi wanita lain." Ucapku kemudian dengan wajah yang masih tertunduk malu.


"Benarkah Flo? Coba kau ulangi lagi!" sahutnya sangat bahagia namun terus menggodaku.


"Maaas. Aku yakin sejak tadi kau sudah mendengar jelas ucapanku itu. Jangan terus menggodaku Mas." Ucapku dengan pipi yang memerah karena malu.


Indra pun kembali tersenyum senang. Ia lalu menarik tubuhku kedalam pelukannya. Semakin lama, semakin erat ia memeluk tubuhku.


"Terimakasih sayang. Terimakasih. Aku tak akan menjanjikan apapun padamu Flo. Tapi aku akan berusaha untuk selalu membuatmu dan Rhefan bahagia selamanya." Ucapnya padaku lalu mengecup puncak kepalaku lembut.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰....



__ADS_1


__ADS_2