Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 21_Kebenaran Terungkap Part 2


__ADS_3

( Rumah Lusi )


"Kau masih berani mengelak? Aku menemukan ponsel ini di balkon kamar Dinda. Dia berkata, kaulah yang menyuruhnya untuk menyembunyikan ponsel ini. Mengapa kau tega melakukan semua ini Lus. Apa yang kau lakukan pada Flora? Cepat katakan." Ucap Rayhan yang semakin tak tahan untuk menahan emosinya.


"Gadis bodoh itu, benar-benar menyebalkan. Padahal sudah beberapa langkah lagi aku akan mendapatkan hati kakaknya." Seru Lusi dalam hatinya.


( Rumah Lama Indra )


"Apa yang terjadi pada padanya? Kenapa dia tiba-tiba ngambek gitu? Dasar aneh. Heumm." Ucapku tentang Indra.


Aku pun menuju kamarnya untuk menidurkan bayiku, Rhefan. Aku lalu duduk di samping bayiku itu. Memandangi wajah mungil bayiku.


***Flashback On


( Malam Pertama Flora dan Indra )


Aku duduk di depan cermin meja rias yang ada di kamar baruku. Kamar Indra yang saat ini sudah menjadi kamarku.


Indra pun tiba-tiba menghampiriku. Ia memegang pundakku dan menatapku dari balik cermin.


"Kamu selalu cantik Flo. Terimakasih sudah menjadi istriku." Ucapnya lembut padaku.


Aku hanya tersenyum simpul membalas ucapannya. Lalu ia membungkuk dan mengecup pipiku. Ia bisikkan sesuatu di telingaku. "Apakah kamu mulai mencintaiku Flora?"


Aku terkejut, gugup dan menjadi salah tingkah setelah mendengar perkataannya itu. "Ah a-aku --- ah aku mau ke toilet Ndra."


Aku pun langsung berdiri dan bergegas meninggalkannya menuju toilet. Namun dengan sigap, salah satu tangan Indra menarik salah satu tanganku.


Membuat tubuhku terseret kedalam pelukannya. Membuat wajahku dan wajahnya semakin dekat, hanya berjarak beberapa senti saja.


Entah mengapa, mataku sangat fokus memandangi wajahnya. Bahkan aku tak berpaling sama sekali. Tubuhku merasa sangat nyaman berada dipelukannya.


Namun logikaku kembali datang. Ia menari-nari di dalam pikiranku. Mengingatkan padaku lagi tentang cintaku pada Rayhan.


Indra pun membelai lembut wajahku dengan sangat perlahan. Membuat sebagian tubuhku bergetar. Tangannya terhenti di bibirku yang tertutup. Ia mengusap lembut bibirku itu dengan jarinya.


"Aku sangat penasaran bagaimana rasa bibir ini? Aku tahu kau hanya alasan saja, hendak pergi ke toilet." ucapnya sangat lembut di telingaku.


Aku hanya terdiam kaku mendengar ucapannya. Hanya jantungku yang memberi jawaban, yang semakin berdegup kencang.


"Flo, bolehkah aku merasakannya dan memilikimu seutuhnya?" ia bisikan kalimat itu lembut di telingaku.


Aku semakin gugup mendengar pertanyaannya. "Ja-Ja-Jangan Ndra. A-Aku ---."


Indra hanya tersenyum, dan langsung memeluk tubuhku. Ia membelai lembut puncak kepalaku. Dan mengecupnya mesra.


"Panggil aku sayang!?" ucapnya lembut sambil memelukku.


Aku hanya terdiam. Dan terkejut dengan ucapannya. Ada rasa bimbang dihatiku, antara menurutinya atau menolaknya.


Karena saat ini, hatiku tak seperti dulu menilainya. Rasa apa itu. Akupun tak tahu pasti.

__ADS_1


Namun selalu ku utamakan logikaku, karena perkataan dan ancaman lembutnya itu, aku terpaksa menikah dengannya.


"Kau tidak mau menuruti permintaan sederhana suamimu ini Flo?" ucapnya lembut padaku.


"Ah aku --- " cukup berat bibirku tuk berucap padanya. Dan Indrapun mengerti tentang itu.


"Ya sudah, panggil saja aku Mas, Flo!" ucap Indra kembali.


"Ah i-iya mas." Ucapku yang masih gugup.


"Astaga. Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku seperti ini? Perasaan ini! Apa aku mulai mencintainya?" seruku dalam hati.


"Sayang. Katakanlah bila kau siap. Sebelum itu terjadi, aku akan selalu membuatmu semakin jatuh hati padaku." Ucap Indra kembali yang berhasil membuat jantungku semakin berdegup kencang.


Namun aku hanya terdiam. Pertanyaan itu membuat tubuh dan mulutku terpaku.


"Flora sangat manis bila seperti ini. Menggemaskan. Aku tak akan membuatnya ketakutan lagi. Aku mencintaimu selamanya Flora." Seru Indra dalam hatinya.


"Oeeee oeeeee." Terdengar suara tangisan Rhefan dari dalam kamarku yang kini sudah menjadi kamarnya.


Sebelum menikah, Indra menyewa seorang baby sitter yang menetap di rumahnya. Dan baby sitter itu, kini tidur dengan Rhefan di kamarnya, setelah aku menikah dengan Indra dan pindah tidur di kamarnya.


"Ah itu suara Rhefan. Dia pasti haus. Aku temui Rhefan dulu Mas." Ucapku pada Indra yang langsung bergegas pergi setelah ku lepas pelukannya, tanpa menunggu jawaban darinya atas ucapanku tadi.


Indra hanya tersenyum dengan menatap punggungku yang semakin menjauh darinya "Aku tenang bisa selalu bersamamu Flora."


***Flashback Off


Tiba-tiba ponsel Indra berdering, mengeluarkan sebuah alunan nada lagu.


"Ada apa?" ucapnya saat mengangkat panggilan telfon itu.


"Ada beberapa orang yang sangat mencurigakan bos, mereka sudah beberapa hari mengawasi rumah anda. Haruskah ku tangkap mereka bos?" ucap seseorang dari seberang telfon.


"Tidak perlu, biarkan dan tetap awasi mereka. Jangan biarkan mereka berhasil membawa Nyonya. Mereka pasti orang-orang Lusi atau Sakha. Lakukan rencana balasan!" ucap Indra pada anak buahnya dari seberang telfon itu.


Indra langsung menelfon seseorang setelah mengakhiri panggilan telfon dari anak buahnya.


"Han, siapkan semuanya. Aku, Flora dan Rhefan akan menetap di Pulau." Perintah Indra pada Asisten Pribadinya, Farhan.


"Baik Tuan." Sahut Farhan lalu mematikan sambungan telfonnya.


"Mereka bekerja sangat keras untuk mencari Flora, tapi ada kemungkinan itu adalah orang-orang Rayhan. Aku harus memperketat penjagaan untuk Flora dan Rhefan." Seru Indra dalam hatinya.


...****************...


( Rumah Lusi )


Lusi hanya terdiam tak memberi jawaban apapun pada Rayhan.


Hal itu membuat Rayhan semakin geram. Ia lalu mengambil pisau buah yang ada di meja nakas kamar itu. Dan langsung mendekati Lusi dengan menggenggam pisau itu.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau lakukan Ray? Jangan mendekat, menjauh dariku Ray!" ucap Lusi dengan tubuh yang bergetar karena takut.


Rayhan berjalan perlahan semakin mendekati Lusi. Sedangkan Lusi, ia pun berjalan perlahan, namun mundur menjauhi Rayhan.


Sampai tubuh Lusi terhenti karena sebuah tembok.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang kalian lakukan pada Floraku? Mengapa dia bisa pergi meninggalkanku dan menikah dengan pria lain? Jawab atau kau akan kehilangan anakmu ini!" ucap Rayhan mengancam Lusi.


"Apa kau gila Ray? Ini anakmu. Bagaimana bisa kau ingin membunuhnya." Sahut Lusi yang mencoba melawan.


"Hahahaaa. Aku memang sangat bodoh sebelumnya Lusi. Lihat ini!" ucap Rayhan lalu memperlihatkan selembar surat pernyataan dari dokter tentang kehamilan Lusi.


"Kau hamil tiga bulan! Lalu anak siapa itu? Aku sangat ingat, saat kau kerumahku, itu satu bulan yang lalu.


Jadi bagaimana bisa kau mengandung anakku, bahkan aku yakin tidak melakukan apapun padamu saat itu.


Dalam ingatanku, aku hanya memeluk Flora sampai tertidur. Mungkin hanya ilusiku saja yang melihatmu sebagai Flora dan langsung membawamu ke ranjangku saat itu.


Jadi, saat itu kau sudah tahu, bahwa kau sedang hamil dan memanfaatkan keadaanku? Aku terpaksa menerimamu bukan karena anak itu Lus, tapi karena ancaman papahmu.


Beliau sangat berpengaruh dalam bisnisku.


Tunggu sampai semua saham dan asetnya menjadi milikku. Setelah itu, aku pasti akan membuangmu Lusi" ucap Rayhan pada Lusi yang berhasil membuatnya terkejut.


"Si#lan. Mengapa dia bisa mendapatkan kertas itu. Hancur sudah semua harapan dan rencanaku." Seru Lusi dalam hatinya.


"Si#lan kau Ray. Papah tidak akan mudah menyerahkan semuanya padamu." Teriak Lusi geram pada Rayhan.


"Hahaha, kalianlah yang membuatku menjadi seperti ini Lusi. Aku harus menjadi licik agar bisa terbebas dengan mudah dari jeratanmu." Sahut Rayhan dengan ekspresi yang sangat menakutkan.


Rayhan lalu kembali mengusap ujung pisau itu pada pipi Lusi. Lalu ia gores sedikit pipi itu hingga mengeluarkan sedikit darah yang tak mengalir. "Cepat katakan, apa yang kau lakukan pada Flora? Jangan membuat kesabaranku hilang."


Rayhan lalu menunjukkan pisau yang terdapat sedikit darah itu pada Lusi. Ia mengusap-usap bagian tengah pisau itu dengan jari telunjuknya.


Hal itu berhasil membuat Lusi semakin merasa takut. Tubuhnya pun semakin bergetar.


"F-F-Flora ----- " Lusi menceritakan semua yang ia lakukan pada Flora, termasuk kerjasamanya dengan Indra.


"Traaaang." Rayhan melempar kasar pisau yang ia pegang ke lantai.


"B##ingan kau Lusi. Bisa-bisanya kalian melakukan semua itu padaku dan Flora. Siapa Indra?" ucap Rayhan yang semakin geram padanya. Namun karena Lusi sedang hamil, ia tahan emosinya itu dengan susah payah.


"Di-Di-Dia -- dia teman SD Flora, lelaki itu sejak dulu sangat mencintai Flora." Ucap Lusi yang merasa ketakutan.


"Indra? Indra teman SD Flora hanya si culun itu? Apakah benar-benar dia orangnya?" seru Rayhan dalam hatinya.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰.....



𝓚𝓪𝓻𝔂𝓪 𝓴𝓮𝓭𝓾𝓪 𝓪𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻,

__ADS_1


__ADS_2