Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 29_Asal-Usul Indra


__ADS_3


"Indraaaa lama banget sih angkatnya!? Aku kan kangeeen. Kamu lagi dimana sih Ndra? Mami Papi dan orang tua aku mau ketemu kamu. Mereka mau membahas kelanjutan perjodohan kita sayang." Ucap Natalia padanya.


"Kelanjutan perjodohan apa sih Nat, aku sudah membatalkan pertunangan itu sejak lama. Sudahlah aku malas berdebat denganmu. Jangan ganggu aku Nat. Aku sudah menikah." Sahutnya pada Natalia.


"Menikah? Jangan bercanda kamu Ndra. Di dunia ini. Hanya aku yang boleh menikahimu." Ucapnya kesal.


Indra tak memperdulikan ucapannya. Ia justru langsung menutup panggilan itu.


"Cih. Dasar merepotkan! aku harus segera meninggalkan Kota ini." Seru Indra.


( Rumah Baru Rayhan )


Aku dan Indra mengantar Rayhan ke rumah barunya, sepulang dari rumah sakit. Rayhan pun berucap, "Ini rumah baruku, hanya kalian berdua yang tahu. Aku sengaja menyembunyikan rumah ini dari Lusi, agar aku bisa menghindarinya.


Ah ya Flo. Rencananya rumah yang di Semarang itu akan aku berikan pada Rhefan, tapi terpaksa harus aku jual. Karena Lusi sudah tahu rumah itu. Aku hanya khawatir dia akan bertindak macam-macam.


Dan sebagai gantinya, rumah inilah yang akan ku berikan untuk Rhefan.


Oh iya Ndra, aku sangat ingin bertemu dengan Rhefan. Aku harap kalian tidak keberatan, bila kapan-kapan aku mampir ke rumah kalian untuk menemuinya."


"Tentu saja tidak Ray. Kau bisa datang kapanpun yang kau mau, karena pintu rumahku selalu terbuka untukmu." Sahut Indra padanya.


( Rumah Lama Indra )


"Sudah lama Ray?" sapa Indra menghampirinya.


"Nggak Ndra. Aku baru saja sampai. Apa kau mencari Flora? tadi Flora bilang, dia mau membuat minuman." Ucap Rayhan saat melihat Indra yang celingak-celinguk mencariku.


"Ah iya Ray. Ya sudah, aku temui Flora sebentar ya Ray. Emmmmuuuah. Lucunya anak ini." Ucapnya pada Indra sambil mengecup gemas pipi Rhefan.


Rayhan hanya tersenyum menatapnya. Lalu ia kembali fokus bermain dengan putranya.


( Dapur )

__ADS_1


Indra menghampiriku lalu memeluk tubuhku dari belakang. Ia pun mengecup mesra bagian samping kanan kepalaku.


"Mas. Jangan ganggu aku. Minuman ini tumpah nanti." Keluhku padanya.


Indra pun langsung menarik tanganku. Dan langsung mengurung tanganku itu ke dalam dekapannya.


"Sebentar saja sayaaang. Aku selalu rindu, aroma tubuhmu ini. Selalu saja membuatku candu." Sahutnya lembut dengan semakin erat memelukku.


"Maaas. Kapan aku bisa mengaduk kopinya kalau begini?" Ucapku lagi.


"Rayhan belum haus sayang. Tenang saja. Aku akan pergi ke luar kota siang ini Flo. Mungkin akan kembali dalam beberapa hari. Jadi aku akan meminta jatahku sekalian untuk beberapa hari kedepan. Hehe." Ucapnya dengan santai.


"Emang mau kemana Mas?" tanyaku penasaran.


"Ke Papua sayang. Ada proyek besar dengan klien dari Australi." ucapnya lagi sambil menjelajah pelan pegununganku.


"Semoga lancar ya Mas proyeknya." Sahutku padanya sambil menikmati petualangan tangannya itu.


Saat ini otak dan mulutku seakan ingin menghentikan aksinya itu, namun tubuh dan hatiku sangat menikmatinya.


Hampir saja aku terlena, dan melupakan dimana kita saat ini. Karena aku, saking menikmatinya. Lalu akupun berucap, "Maaaas. Kopinya dingiiiin."


Dan seketika, dapur itu terpisah menjadi dua bagian dengan sebuah sekat besar ditengahnya. Aku terkejut melihatnya. "Mas kenapa kamu mendesain sekat itu di dapur?"


"Karena aku ingin melakukannya disini denganmu sayang." Sahutnya santai disela-sela aksinya yang sedang asik mengecup leherku.


"Ya ampun Mas. Kau sudah berfikir seperti itu. Tapi bagaimana bila seandainya aku tak bersamamu Mas." Sahutku penasaran.


"Maka sekat itu tak akan pernah digunakan sayang. Sudahlah, lagipula saat ini kau sudah menjadi milikku. Jangan berkata yang tidak-tidak lagi, oke?" jawabnya parau lalu semakin rakus menikmatiku.


"Maaaaas ---- " seruku sambil meracau.


"Aku akan melakukannya perlahan sayang." Sahutnya lagi.


"Mas Indraaaa. ------ " racauku semakin keras karena ucapannya yang tak bisa dipercaya.

__ADS_1


...****************...


Beberapa menit kemudian, Mas Indra menghampiri Rayhan dengan membawa secangkir kopi hangat untuknya.


"Apakah kau tersesat dalam perjalanan kemari Ndra. Aku baru tahu, ternyata rumahmu ini begitu luas. Lihatlah jam itu, hampir 1 jam perjalananmu Ndra. Hehe." Ucap Rayhan iseng.


"Cih. Bisa-bisanya kau berkata seperti itu dengan sangat santai Ray. Apakah kau tidak cemburu?" sahutnya menyelidik.


"Heuh. Aku seperti ini, karena belajar darimu dulu Ndra. Seperti ini, jauh lebih tenang dan bahagia untukku. Apalagi dengan adanya Rhefan. Sudah cukup bagiku dengan melihat kalian bahagia." Seru Rayhan padanya.


"Makasih Ray. Aku sangat senang karena kau merestui kami. Kedepannya, bila kau butuh bantuan, jangan sungkan untuk memberitahukannya padaku." Ucapnya pada Rayhan.


"Baiklah Ndra. Akan selalu ku ingat hal itu." Sahut Rayhan lagi.


"Oh ya Ray. Aku berencana untuk membawa Flora dan Rhefan ke rumah orang tuaku. Dan setelahnya, kami bertiga akan menetap di Pulau pribadiku.


Kami akan kembali, setelah Rhefan besar nanti Ray. Aku harap kau tidak keberatan Ray." Ucapnya pada Rayhan.


"Cih. Apa alasanmu Ndra? Apakah kamu takut aku akan mengambil kembali Flora darimu?" sahutnya agak kesal.


"Tidak Ray bukan begitu. Nenek dan ibuku sangat ingin bertemu dengan Flora. Apalagi sekarang ada Rhefan. Mereka pasti semakin bahagia.


Dan aku cukup cemas dengan Natali Ray. Dia lebih cerdik dari Lusi. Aku harus lebih berhati-hati." Ucapnya pada Rayhan.


"Natali? Bule yang selalu membully Flora saat SMA dulu Ndra? Wanita itu, dia masih mengharapkanmu?" cecar Rayhan menyelidik.


"Sebenarnya, saat SMA, aku hanya berpura-pura culun Ray. Aku adalah putra mahkota dari Sultan Brunei. Dan Natali, dia tahu statusku itu. Karena dia sangat dekat dengan ibu kandungku.


Tapi sejak kecil, aku diasuh oleh Ibu Ratu Istri. Aku mempunyai kembaran Ray. Dan kembaranku diasuh oleh Ibu kandungku sejak kecil. -------- " Indra menceritakan tentang semua asal usulnya pada Rayhan.


"Hah? Apa kau sedang berdongeng padaku Ndra?" ucapnya yang tidak percaya dengan perkataan Indra.


"Cih. Sudah sebesar itu, untuk apa aku berdongeng untukmu Ray." Sahutnya agak kesal.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰....

__ADS_1




__ADS_2