
( Rumah Orang Tua Rayhan )
"Sebenarnya apa yang terjadi pada malam itu? Mengapa aku tak ingat apapun?" ucap Rayhan yang teringat kembali dengan pernikahan paksanya itu.
Mamah Riyanti ikut sedih melihat keadaan Rayhan yang seperti itu. Beliau pun menghampiri Rayhan, mencoba untuk menghiburnya.
"Apa yang kamu pikirkan Ray?" tanya mamah Riyanti.
"Kejadian malam itu mah, aku sama sekali nggak ingat apapun tentang malam itu. Yang aku ingat, saat itu aku sedang bersama Flora mah. Lalu aku memeluknya. Dan aku nggak ingat apapun lagi mah. Tapi bagaimana Lusi bisa hamil? Dan bagaimana bila nanti Flora tiba-tiba kembali mah?" ucap Rayhan yang hatinya semakin tak tenang.
"Sabar sayang, mamah yakin kalian akan dipertemukan lagi. Dan untuk masalah Lusi, semoga saja Flora akan mengerti keadaan itu Ray. Oh iya, beberapa bulan ini, adikmu dan Lusi sering sekali pergi bersama. Mamah sedikit cemas dengan hubungan mereka Ray. Karena perkataan mereka lewat telfon sangat mencurigakan. Mamah samar-samar mendengar Dinda berucap, wanita ****** dan kata-kata kasar lainnya. Kamu coba temui adikmu dan cari tahu apa yang mereka lakukan ya Ray." Ucap mamah Riyanti.
...****************...
( Kamar Dinda )
Rayhan memaksa masuk kedalam kamar adiknya, saat adiknya tak menyahut panggilannya dari luar.
"Dinda." Ucapnya lagi.
Ia pun berjalan menuju balkon kamar, mencoba mencari keberadaan adiknya. Karena dari tempatnya berdiri, pintu balkon itu terbuka.
Namun tak ada siapa pun di balkon itu. Ia pun memutuskan untuk kembali masuk kedalam.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti, saat ia tak sengaja melihat bagian kecil dari benda yang sangat ia kenal. Karena penasaran, ia pun mendekati benda itu.
Benda yang bersembunyi dibalik dedaunan hias, yang ada di dalam sebuah pot yang cukup besar.
Rayhan pun memungut benda itu. Seketika ia terkejut, melihat benda yang ada di tangannya itu. "Ponsel Flora? Bagaimana bisa ada di tanaman ini? Apa Flora kemari sebelumnya? Aku ingat betul, pagi itu nomer Flora masih aktif. Dan nomornya mulai tak aktif saat aku pergi mendadak bersama mamah ke Bali. Pasti terjadi sesuatu! --- Dinda! Dia pasti mengetahui sesuatu!"
Rayhan pun bergegas masuk kedalam kamar itu. Dengan perasaan hati yang gelisah.
Tak perlu lama ia mencari keberadaan adiknya itu. Karena saat beberapa langkah ia memasuki kamar, Dinda pun keluar dari pintu kamar mandinya.
Rayhan pun menatap nyalang pada Dinda. Membuat Dinda merasa takut saat melihat ekspresi wajah kakaknya.
"Jelaskan, mengapa ponsel ini bisa ada di balkon kamarmu?" tanya Rayhan galak sambil menunjukkan ponselku pada adiknya.
Seketika Dinda pun terkejut dengan membuka mulutnya. Melihat ponselku yang saat ini digenggam oleh kakaknya.
"Jawab Dinda! Kau tidak tuli dan tidak buta! Lihat baik-baik ponsel ini! Mengapa ponsel Flora bisa ada di balkon kamarmu? Apa yang kau lakukan pada istriku Dinda? Jawab!" ucap Rayhan kasar.
"Aku --- aku tidak tahu apa-apa kak. Mungkin kak Flora tak sengaja menjatuhkannya di balkon kamarku." Sahut Dinda yang mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Aku tidak percaya, Flora bukan orang yang ceroboh sepertimu. Bagaimana dia bisa menjatuhkan ponselnya? Aku tahu jelas, Flora tak pernah sekalipun memasuki kamarmu. Dan kau, kau dengan jelas memperlihatkan kebencianmu pada Flora selama ini. Semua itu sudah sangat jelas membuktikan bahwa kaulah penyebab hilangnya Flora. Apa yang kau lakukan pada kakak iparmu Dinda. Kau sengaja menyembunyikan ponsel ini, agar aku tak bisa menghubungi Flora, begitu? Cih. Kau benar-benar br€ng$#k Dinda. Cepat katakan dimana istriku." Ucap Rayhan yang semakin emosi pada adiknya itu.
"A-aku -- a-ku -- aku hanya melakukan apa yang kak Lusi minta kak." Sahut Dinda dengan bibir dan tubuh yang semakin bergetar. Merasa takut akan reaksi kakaknya karena perbuatannya itu.
__ADS_1
Rayhan kembali terkejut mendengar ucapan adiknya, "Lusi? Jadi wanita itu dalangnya?"
Rayhan lalu menyita kartu ATM Dinda, kunci mobil dan ponsel adiknya itu.
"Kak Ray, jangan diambil kak, tolong maafkan aku kak. Aku melakukan itu karena permintaan kak Lusi. Aku nggak tahu dimana kak Flora sekarang. Tolong maafkan aku kak." Sahut Dinda memohon ampun pada kakaknya.
"Semua benda ini pemberianku. Karena kau telah membuang istriku maka mulai sekarang kau tak berhak lagi atas benda-benda ini." Ucap Rayhan yang masih dengan emosi memuncak.
Ia pun bergegas pergi meninggalkan kamar itu. Langsung berjalan keluar rumah dengan langkah yang cepat.
"Ray kamu mau pulang? Kenapa terburu-buru? Ray! Rayhan!" ucap mamah Riyanti saat melihat Rayhan yang berjalan cepat melewatinya.
Rayhan tak menjawab ucapan mamah Riyanti. Ia justru semakin cepat berjalan meninggalkan rumah itu.
...****************...
( Rumah Lusi )
"Katakan dimana Flora! Apa yang kau lakukan padanya? Kau sengaja menyembunyikan ponsel ini, agar aku tak bisa menghubungi Flora? Jawab Lusi!" ucap Rayhan kasar dengan hati yang semakin memanas.
Lusi tercengang melihat ponsel Flora yang ada di tangan suaminya. "Mengapa kau bertanya seperti itu padaku Ray? Jelas-jelas ponsel itu ada padamu.
"Kau masih berani mengelak? Aku menemukan ponsel ini di balkon kamar Dinda. Dia berkata, kaulah yang menyuruhnya untuk menyembunyikan ponsel ini. Mengapa kau tega melakukan semua ini Lus. Apa yang kau lakukan pada Flora? Cepat katakan." Ucap Rayhan yang semakin tak tahan untuk menahan emosinya.
__ADS_1
"Gadis bodoh itu, benar-benar menyebalkan. Padahal sudah beberapa langkah lagi aku akan mendapatkan hati kakaknya." Seru Lusi dalam hatinya.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...