Suami Persinggahan

Suami Persinggahan
BAB 31_Teror


__ADS_3

Aku terkejut namun cukup merasa tenang, saat melihat seseorang yang berhasil membuka pintu kamarku itu.


Karena tembok dalam kamarku, merupakan tembok yang mempunyai kualitas terbaik untuk mengedapkan suara dari dalam ruangan kamarku itu.


Sakha pun cukup terkejut melihat seseorang yang berhasil membuka pintu kamarku. Seseorang itu pun berucap, "Menjauhlah darinya Sakha. Kau pecundang yang hanya berani melawan wanita. Cih. Memalukan!"


"Heuh. Rupanya kau masih hidup. Harusnya saat itu aku langsung membunuhmu." Ucapnya kesal lalu mengubah posisinya jadi menawanku. Dengan mengarahkan belati kecilnya di salah satu bagian leherku.


"Aku sudah menelfon polisi Sakha, bila kau tak segera pergi. Maka polisi-polisi itu akan segera menangkapmu. Lepaskan Flora sekarang! Atau kau ingin peluru ini menembus kepalamu!" Teriak Rayhan geram.


Aku langsung menggigit salah satu lengan Sakha. Ketika ia nampak lengah, karena lebih fokus dengan ucapan Rayhan.


"Aaaaakkkh." Teriaknya kesakitan membuat belati yang ia genggam terjatuh seketika. Dan aku pun terlepas dari cengkramannya.


Dengan sigap ku tendang belati itu kearah Rayhan, sambil aku berlari menjauhi Sakha.


Rayhan pun langsung mengambil belati itu, dan menyimpannya.


"Aaaaarrrggghhh, sialan kau Flora! Beraninya kau menggigitku. Awas kalian, kali ini aku biarkan kalian lolos. Tapi tidak, untuk lain kali!" teriaknya kesal lalu pergi melompat keluar dari jendela kamarku.


Rayhan pun langsung menghampiriku. Dengan wajah yang masih terlihat cemas, ia berkata, "Flora apa kau terluka?"


"Aku nggak apa-apa Ray. Terimakasih, lagi-lagi kamu menyelamatkan aku. Entah apa yang akan terjadi bila kau tak datang Ray." Seruku padanya.


"Yasudah Flo, aku mau mengecek keadaan diluar." Ucapnya lagi.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk padanya. Lalu ku ambil ponselku yang ada diatas meja nakas. Ku sambungkan panggilan ke nomor Mas Indra.


"Halo sayang! Ini masih sore, apa kau sudah sangat merindukan aku?" Ucap Indra menggodaku.


"Mas, tadi Sakha masuk ke rumah kita. Dia menyeretku kedalam kamar Mas. Dia juga mengancamku.


Tapi untungnya Rayhan datang menyelamatkanku. Namun aku masih sangat takut Mas. Dia memakai pakaian pelayan kita Mas." Ceritaku padanya.


"Lelaki itu benar-benar. Maafkan aku Flora. Karena aku kurang ketat menjaga keamanan rumah. Sabar ya sayang, aku akan segera kembali." Sahutnya padaku dengan gelisah.


****************


Mas Indra pun langsung menelfon Rayhan setelah menyelesaikan panggilan telfon denganku.

__ADS_1


"Halo Ndra, ada apa?" sahut Rayhan.


"Flora sudah menceritakan semuanya. Thanks ya Ray, kamu sudah menyelamatkan Flora. Aku kurang fokus menangani lelaki itu.


Saat ini, aku sedang dalam perjalanan pulang. Kau tetap di rumahku ya Ray. Tolong jaga Flora dan Rhefan sampai aku kembali." Ucapnya pada Rayhan.


( Rumah Lama Indra )


Mas Indra langsung berlari memasuki rumah menuju kamar Rhefan, tempat ku berada, saat ia sampai.


"Flora, sayang kamu nggak apa-apa? Apakah ada yang terluka?" ucapnya cemas sambil memelukku.


"Aku nggak kenapa-napa Mas." Sahutku senang.


"Syukurlah. Aku sangat senang mendengarnya. Ah iya sayang, bersiaplah. Kita akan menemui Ibuku. Kebetulan Beliau sedang ada di Indonesia." Ucapnya lembut masih dengan memeluk tubuhku.


"Benarkah? Baiklah Mas, aku akan bersiap." Sahutku bahagia.


Aku pun berlalu menuju kamarku untuk berganti pakaian. Mas Indra lalu keluar, meninggalkan Rhefan yang sedang terlelap bersama baby sitternya.


"Apa kalian akan langsung pergi ke Pulau setelah menemui Ibumu?" tanya Rayhan penasaran yang samar-samar mendengarkan pembicaraan Mas Indra dari luar.


"Cih. Dasar tukang nguping." Ucapnya pada Rayhan.


"Hemmmm. Ya rencananya begitu Ray. Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mengurus Sakha. Saat ini, aku belum bisa fokus menanganinya.


Ray, maukah kau ikut bersamaku untuk menemui Ibuku? Aku sedikit cemas, dalam pertemuan ini, aku harus lebih waspada, pasti beberapa diantara mereka selalu mengawasiku." Sahutnya pada Rayhan.


"Lalu, status apa yang akan aku terima Ndra? Tidak mungkin kan, kau mengenalkan pada keluargamu bahwa aku adalah mantan suami istrimu." Sahut Rayhan.


"Kau bisa menjadi pengawal pribadi Flora Ray. Aku bisa tenang, bila Flora dijaga olehmu saat aku tak bersamanya.


Saat memasuki Istana, pasti akan ada beberapa kejadian yang akan menyulitkan kita. Tapi, itupun bila kau tak keberatan Ray." Sahutnya lagi.


"Baiklah, aku akan melakukannya, tapi semua ini aku lakukan untuk anakku. Dan jangan salahkan aku, bila suatu saat Flora sampai kembali mencintaiku. Haha." Sahut Rayhan pada Mas Indra.


"Cih. Bisa-bisanya kau berfikir seperti itu Ray. Karena Flora telah mencintaiku, maka aku tak akan membiarkan lelaki manapun mengambil hatinya lagi. Termasuk kau sekalipun Ray. Haha." Sahutnya.


Mereka pun tertawa bersama.

__ADS_1


"Syukurlah kau begitu menyayangi Flora Ndra. Aku bisa tenang. Aku tidak akan memisahkan kalian, selama Flora masih mencintaimu. Begini sudah cukup bagiku. Bisa selalu ada di samping Rhefan dan Flora." Seru Rayhan dalam hatinya.


"Aku harus menambah pengawasan untuk Flora saat tiba di Istana nanti. Wanita itu, pasti tidak akan tinggal diam saat mengetahui bahwa aku sudah menikah." Seru Mas Indra dalam hatinya.


( Jalanan )


Kami bertujuh mengendarai satu mobil untuk menuju tempat singgah Raja Istri, Ibu asuhku.


Dengan Farhan yang mengendarai mobil itu. Rayhan pun duduk di depan bersamanya. Aku duduk di kursi tengah bersama Mas Indra dan Rhefan. Sedangkan dibelakang kami, ada dua baby sitter Rhefan.


Kami berangkat masih pagi, sehingga belum banyak kendaraan yang berlalu lalang.


Tiba-tiba empat mobil berkecepatan tinggi dari belakang, memepet mobil kami. Dua di sisi kanan, dua lagi disisi kiri.


Beberapa dari mereka membuka kaca spion dan langsung mengarahkan pistol kearah mobil kami.


Aku merinding melihat hal itu. Semakin takut, saat salah satu dari mereka mulai menembak kaca mobil yang kami tumpangi.


"Aaaaaaakkkh." Teriakku dan kedua baby sitter Rhefan histeris.


"Sialan, mereka sudah memulainya. Hazeer pasti sudah mengetahui tentang Flora." Seru Mas Indra cemas dalam hatinya.


"Mas, siapa mereka? Aku takut Mas." Ucapku sambil memeluk erat tubuh Rhefan dan menyusut kedalam dekapan Mas Indra.


"Tidak apa-apa. Jangan cemas sayang. Semua akan baik-baik saja." Ucap Mas Indra menenangkanku.


"Apa mereka mengenalmu Ndra? Sepertinya mereka manargetkan Flora." Timpal Rayhan yang sedari tadi memperhatikan mobil-mobil itu.


Kembali terdengar suara dari pistol itu menembak kaca mobil yang berada tepat di sampingku.


Namun kaca itu tetap kokoh. Karena memang kaca mobil itu telah Indra desain khusus dengan kaca yang anti peluru.


"Aaaaaakkh." Teriakku dan kedua baby sitter lagi.


Sontak Rhefan pun menangis karena mendengar teriakan keduaku. Membuatku lebih merasa takut lagi.


Dan Mas Indra, lalu menggendong Rhefan di pangkuannya.


"Ndra bagaimana ini? Kita tidak bisa seperti ini terus Ndra, kasian Flora, Rhefan dan kedua baby sittermu itu." Ucap Rayhan resah melihat orang-orang dalam mobil itu yang terus berusaha untuk menembakku.

__ADS_1


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰....



__ADS_2