
"Mommy tidak su ..." Ucapan Mommy Cintya terpotong oleh Ray.
" Dua..." Ucap Ray.
"Baik, percepatan mobilnya." Ucap Mommy Cintya sambil menahan amarahnya.
"Baik Nyonya." Ucap Paman Donald sambil mempercepat laju mobilnya.
'Semoga kamu tidak selamat dan menyusul Kakek, Neneknya dan Ibunya.' Ucap Mommy Cintya dengan suara pelan.
Tanpa disadari oleh Mommy Cintya kalau Ray dan Paman Donald yang mempunyai pendengaran tajam mendengar ucapan Mommy Cintya. Paman Donald menggenggam stir kemudi dengan erat untuk mengurangi kemarahannya sedangkan Ray menatap ke arah Mommy Cintya dengan mata berkaca-kaca.
"Jika itu terjadi maka Ray akan membenci Mommy dan Ray tidak perduli di sebut anak durhaka." Ucap Ray dengan suara bergetar.
"Kamu berani melakukan itu Ray?" Tanya Mommy Cintya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa tidak? Bagi Ray, Kimberly adalah belahan jiwa Ray jika Kimberly pergi maka sebagian hidup Ray juga pergi." ucap Ray.
Ketika Mommy Cintya ingin mengatakan sesuatu bersamaan mobil yang di tumpangi berhenti karena sudah sampai di rumah sakit. Paman Donald langsung membuka pintu mobil sambil berteriak memanggil perawat kemudian membuka pintu belakang pengemudi agar Ray segera keluar.
__ADS_1
Dua perawat datang sambil membawa brangkar dan Ray meletakkan tubuh Kimberly yang sudah dingin dan wajahnya pucat seperti kapas. Dua perawat tersebut mendorong brankar tersebut menuju ke ruangan UGD dengan diikuti oleh Ray dan Mommy Cintya.
Kini mereka menunggu di ruang UGD, Ray tidak pernah lepas memandangi pintu UGD dengan wajah sangat kuatir sedangkan Mommy Cintya berharap Kimberly tidak selamat.
"Mommy." Panggil Ray setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Ada apa?" Tanya Mommy Cintya dengan nada jutek.
"Mommy yang aku kenal adalah Mommy yang sangat baik terhadap semua orang dan tidak pernah membedakan status orang lain tapi kenapa sangat membenci Kimberly padahal Kimberly tidak melakukan kesalahan bahkan merelakan dirinya menjadikan tameng agar Mommy tidak terkena luka tembak. Ray ingin tahu alasan Mommy membenci Kimberly.'' Ucap Ray penasaran.
"Kamu ingin tahu alasan kenapa Mommy sangat membenci Kimberly?" Tanya Mommy Cintya.
"Karena Ayahnya Kimberly adalah tunangan sahabat baik ku dan seminggu kemudian akan menikah namun gagal karena sahabat baikku meninggal di tabrak oleh Ibunya Kimberly yang bernama Valen dengan menyewa truk 🚛. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya sahabatku memintaku untuk membalaskan dendam ke Ibunya Kimberly dan juga putrinya." Ucap Mommy Cintya.
"Ibunya Kimberly memang jahat tapi putrinya tidak jahat, apalagi Kimberly menyelamatkan nyawa Mommy." Ucap Ray.
"Mommy tahu tapi gara-gara Valen, sahabatku meninggal dengan membawa janinnya karena itulah supaya sama-sama impas maka Valen dan Kimberly harus mati agar menemani sahabat Mommy dan janin yang dikandungnya." Ucap Mommy Cintya.
"Mommy." Ucap Ray dengan rahang mengeras.
__ADS_1
"Kini Valen sudah meninggal dan menemani sahabat Mommy, kini tinggal Kimberly agar menemani anak sahabat Mommy yang belum sempat dilahirkan." Ucap Mommy Cintya yang tidak perduli kemarahan Ray.
"Mommy, lebih baik pergilah." Usir Ray.
Jika tidak ingat wanita di depannya adalah ibu kandungnya bisa dipastikan Ray akan membenci x bu x nuh x nya.
"Kamu mengusir Mommy?" Tanya Mommy Cintya.
"Ya, Mommy pergilah sebelum kesabaran Ray habis." Jawab Ray.
"Paman, antar Mommy ke mansion." Pinta Ray yang melihat Paman Donald datang.
"Baik Tuan." Jawab Paman Donald patuh.
Mommy Cintya menggenggam ke dua tangannya dengan erat untuk menyalurkan kemarahannya kemudian pergi meninggalkan Ray sendirian di ruangan UGD.
Tanpa sepengetahuan mereka sepasang mata mendengarkan percakapan mereka kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menemui seseorang.
'Kimberly, aku mohon bertahanlah.' Mohon Ray dalam hati.
__ADS_1