Suamiku Buruk Rupa Dan Lumpuh

Suamiku Buruk Rupa Dan Lumpuh
Menculik Kimberly


__ADS_3

Kini Ray sudah sampai di mansion miliknya dan berada di kamarnya. Kamarnya sangat sepi sama seperti sebelum kedatangan Kimberly. Ray dulu tidak pernah memperdulikan hal itu tapi hari ini dirinya merasakan sesuatu yang hilang yaitu tawa dan senyuman Kimberly.


"Kimberly aku sangat merindukanmu." Ucap Ray sambil menatap sekeliling kamarnya.


Ray tersenyum ketika dirinya kejar kejaran hingga akhirnya dirinya berhasil menangkap Kimberly kemudian Ray mencium bibirnya dan nyaris melakukan hubungan suami istri jika saja Kimberly tidak menangis karena bagian privasinya terasa perih.


Ray berjalan ke arah balkon dan duduk di sofa sambil menatap ke arah langit - langit.


"Kamar ini seperti dulu sebelum kedatangan Kimberly." Ucap Ray sambil tersenyum namun terlihat jelas kesedihan di matanya.


"Dulu pulang kerja, kamar ini sepi seperti ini namun aku tidak pernah perduli karena saat itu aku hanya berpikir untuk balas dendam ke orang tuaku yang tidak memperdulikan aku terlebih mereka sangat memanjakan ke dua adik kembarku." sambung Ray kemudian menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Hingga Kimberly hadir dan menemaniku di hari-hariku yang sepi. Namun ketika aku sudah mengetahui kalau dia bukan Ibuku dan orang tuaku kembali berkumpul di saat bersamaan aku terpisah dengan istriku." Ucap Ray.


"Kalau tahu begini jadinya aku tidak akan datang ke mansion orang tuaku." Ucap Ray menyesali apa yang terjadi.


Ray terdiam hingga dua jam kemudian Ray turun dari sofa dan berjalan ke arah lemari pakaian kemudian membukanya. Ray mengambil satu stell pakaian dan semuanya warna hitam setelah selesai Ray berjalan ke arah rak buku dan menarik salah satu buku tersebut.


Kriek


Ctak


Rak buku itupun tergeser, Ray menekan saklar lampu dan otomatis ruangan yang sangat gelap kini terang benderang.


Ray berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut di mana ruangan tersebut seperti kamar pada umumnya. Ada ranjang, lampu, buku bacaan, kulkas dan dispenser serta lemari yang berisi pakaian miliknya.


"Aku akan membawa Kimberly ke sini untuk tinggal di kamar ini." Ucap Ray sambil berjalan ke arah salah satu pintu tersebut.


Pintu tersebut ada tiga pintu, pintu sebelah kiri untuk kamar mandi, pintu tengah adalah pintu rahasia di mana terhubung dengan jalan raya sedangkan pintu sebelah kanan adalah tempat penyimpanan berbagai senjata koleksi milik Ray.

__ADS_1


Pintu tengah dan pintu sebelah kanan menggunakan kode rahasia dan hanya Ray yang tahu sedangkan pintu sebelah kiri tidak menggunakan kode rahasia karena pintu kamar mandi.


Ruang rahasia milik Ray hanya diketahui oleh Paman Donald sedangkan yang mendesain ruangan tersebut beserta orang-orang yang membangun ruangan tersebut diberikan minuman agar mereka lupa apa yang telah mereka lakukan ketika mereka sudah menyelesaikan ruang rahasia tersebut.


Mereka hanya ingat kalau mereka bekerja di perusahaan milik Ray. Tanpa sepengetahuan orang tua Ray kalau Ray mempunyai perusahaan di bidang properti dan kontraktor di mana Ray mempunyai karyawan yang bisa mendesain rumah dan membangun rumah.


Karena itulah Ray memilih salah satu karyawannya untuk mendesain ruangan rahasia setelah selesai barulah Ray memerintahkan para karyawannya untuk membangunnya.


Setelah selesai membangun ruang rahasia Ray sengaja memberikan minuman agar mereka lupa dengan apa yang telah mereka lakukan. Semua yang dilakukan oleh Ray di bantu oleh Paman Donald yang selama ini menemaninya waktu Ray kecil hingga sekarang.


Ray sengaja melakukan itu agar mereka tidak membocorkan ruang rahasia tersebut. Walau mereka orang-orang Ray namun tidak menjamin kalau mereka akan selalu setia dengan Ray.


Klik


Ctak


Ray berhenti di pintu sebelah kanan kemudian menekan pin hingga terdengar suara klik tanda pintu berhasil di buka. Ray menyalakan saklar lampu hingga ruangan tersebut menyala dengan terang benderang.


Ray mengambil dua pucuk pistol kecil kemudian disembunyikan di saku jaket hitamnya setelah selesai Ray keluar dari ruangan tersebut.


Klik


Ray berjalan ke arah pintu tengah kemudian menekan pin hingga terdengar bunyi klik barulah Ray mendorong pintu tersebut kemudian masuk ke dalam di mana ruangan tersebut sangat gelap.


Ray mengambil senter kecil kemudian dengan menggunakan cahaya senter Ray berjalan ke arah mobil hitam yang tidak terlalu mewah. Ray sengaja melakukan penyamaran agar dirinya tidak dicurigai.


"Sudah jam dua belas kurang dan sudah waktunya berangkat ke rumah sakit." Ucap Ray ketika melihat jam tangan mewahnya.


Skip

__ADS_1


Kini Ray sudah sampai di rumah sakit di mana rumah sakit tersebut mulai sepi karena sudah jam dua belas malam. Ray berjalan ke arah ruang perawatan di mana Kimberly sedang berbaring di ranjang. Ray melihat dua pria sedang tertidur dengan pulas karena tidak bisa menahan rasa kantuknya dan Ray tahu pasti ke dua pria tersebut merupakan anak buah Opanya Kimberly.


Ceklek


Ray membuka pintu dan melihat Kimberly berbaring di ranjang sambil menatap ke arah pintu terbuka kemudian tersenyum bahagia melihat pria yang sejak tadi tidak bisa membuatnya tidur.


Ray masuk ke dalam ruang perawatan sambil membalas senyuman istrinya yang sangat dirindukan padahal beberapa jam yang lalu mereka bertemu.


"Apakah ada yang sakit?" Tanya Ray.


"Hanya bekas tembakan masih terasa perih." Jawab Kimberly.


"Bisakah kamu pergi dari sini bersamaku?" Tanya Ray.


"Bisa." Jawab Kimberly sambil menarik selang infus membuat Kimberly meringis menahan rasa perih.


"Bagus, kalau begitu kita pergi dari sini." Ucap Ray.


Ray membantu Kimberly pergi dari ruang perawatan hingga dua menit kemudian datang pria berpakaian serba hitam dan berjalan ke arah ruang perawatan tempat tadi di mana Kimberly di rawat.


Mata pria tersebut membulat sempurna karena Kimberly tidak ada di ranjang membuat pria tersebut menahan amarahnya.


'Si*l, kemana wanita itu? Sia- sia saja aku memberikan minuman yang mengandung obat tidur untuk ke dua pria tersebut dan menunggu obat itu bekerja." Ucap pria tersebut sambil membalikkan badannya untuk pergi dari ruangan tersebut namun matanya membulat sempurna karena dua orang pria menodongkan pistol ke arah dirinya.


"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya pria paruh baya tersebut sambil menatap tajam ke arah pria tersebut.


Glek


Wajah pria tersebut langsung pucat pasi karena dirinya tidak ingin di tembak mati oleh pria paruh baya tersebut membuat pria tersebut menelan salivanya dengan kasar.

__ADS_1


'Apa yang mesti aku katakan?' Tanya pria tersebut dalam hati.


"Kenapa kamu menculik Kimberly? Di mana Kimberly?" Tanya pria paruh baya tersebut sambil menarik pelatuknya.


__ADS_2