Suamiku Buruk Rupa Dan Lumpuh

Suamiku Buruk Rupa Dan Lumpuh
Masuk Ke Dalam Sungai


__ADS_3

Ray tersenyum sambil mengikat tali jubah handuk yang di pakai Kimberly kemudian mengusap rambutnya dengan lembut.


"Kalau istriku belum hamil juga berarti Kita lebih sering melakukannya." Jawab Ray kemudian mengambil jubah handuk untuk dipakainya.


"Kalau ternyata aku tidak hamil juga?" Tanya Kimberly.


"Sebelum Aku menjawab pertanyaan mu, Aku ingin bertanya terlebih dahulu dan Aku ingin istriku menjawab dengan jujur." Ucap Ray.


"Bertanya tentang apa?" Tanya Kimberly penasaran.


"Kalau ternyata Kakak yang mandul, apakah kamu akan menceraikan Kakak dan mencari pria lain yang lebih kaya?" Tanya Ray.


"Tidak." Jawab Kimberly tanpa banyak berpikir.


"Kenapa?" Tanya Ray.


"Karena Aku sangat tulus mencintai suamiku, apapun keadaan suamiku maka Aku akan menerimanya. Termasuk jika suamiku memintaku pergi maka Aku akan pergi menjauh dari kehidupan suamiku asalkan orang yang aku cintai bahagia." Jawab Kimberly.


Ray tersenyum kemudian menggendong Kimberly untuk keluar dari kamar mandi.


"Kak Ray belum menjawab pertanyaanku?" Tanya Kimberly sambil menatap wajah tampan suaminya.


"Jawabanmu sama seperti jawabanku." Jawab Ray.


"Kakak sangat mencintaimu dengan sangat tulus, jika seandainya istriku tidak bisa hamil sekalipun Kakak tidak akan meninggalkan dirimu ataupun mencari pengganti dirimu karena kamu adalah bagian dari hidup Kakak." Sambung Ray sambil meletakkan perlahan tubuh Kimberly ke ranjang.


Grep


"Terima kasih Sayang, aku sangat bahagia mendengarnya." ucap Kimberly sambil memeluk pinggang suaminya.


"Aku pun juga sama." ucap Ray sambil mengambil mangkok yang berisi bubur.


"Kakak suapi ya." Ucap Ray sambil mengambil sendok yang sudah ada buburnya.


Grep


"Kak Ray yang sakit lebih baik Aku yang menyuapi Kak Ray." Ucap Kimberly sambil menahan tangan Ray.


"Tapi ..." Ucapan Ray terpotong oleh Kimberly.


"Sayang, ijinkan Aku merawat suami tampanku." Pinta Kimberly sambil mengambil mangkok dari tangan Ray.


Ray tersenyum dan hatinya sangat terharu dengan ucapan Kimberly sedangkan Kimberly mulai menyuapi bubur ayam buatannya sesendok demi sesendok hingga belum ada satu menit bubur buatannya habis tanpa sisa sedikitpun.


"Bubur buatan istriku sangat enak." Ucap Ray.


"Buburnya enak karena aku tambahkan satu bumbu spesial dan bumbu itu tidak ada yang jual." Jawab Kimberly sambil meletakkan mangkok kosong kemudian mengambil gelas untuk diberikan ke suaminya.


Ray mengambil gelas tersebut kemudian meminumnya hingga habis tanpa sisa sedikitpun. Kimberly mengambil gelas kosong tersebut kemudian meletakkan gelas tersebut ke atas meja dekat ranjang.


"Bumbu spesial dan tidak ada yang menjual? Memang bumbu apa itu?" Tanya Ray dengan wajah bingung.


"Nama bumbunya adalah bumbu mencintai suami tampanku." Jawab Kimberly sambil tersenyum manis.


"Pffttttttt... Hahahaha..." Tawa lepas Ray.


"Kok suamiku malah menertawakan aku?" Tanya Kimberly sambil menggembungkan ke dua pipinya.

__ADS_1


Cup


"Habis kamu sangat lucu, sejak kapan istriku jadi pandai gombal?" Tanya Ray kemudian mengecup bibir istrinya dengan singkat.


"Aku tidak gombal, coba deh suamiku bercermin betapa tampannya suamiku ini dan bisa dipastikan pasti banyak gadis dan wanita yang tergila-gila dengan Kak Ray." Jawab Kimberly.


"Suami tampanmu ini hanya tergila-gila pada istriku yang sangat cantik dan membuatku selalu nyaman." ucap Ray.


Grep


"Aku selalu berharap perasaan Kak Ray tidak akan pernah berubah." Ucap Kimberly sambil memeluk tubuh kekar suaminya.


"Perasaan Kakak tidak akan pernah berubah dan Kakak harap perasaan istriku tidak akan pernah berubah terhadap Kakak." Ucap Ray sambil membalas pelukan istrinya.


Ray merasakan nyaman terlebih perhatian Kimberly yang tulus membuat Ray semakin mencintai istrinya.


'Jika orang tuaku menentang hubungan kita maka Kakak tidak segan-segan meninggalkan orang tuaku karena hanya kamu yang perduli di saat Kakak terpuruk.' Ucap Ray dalam hati.


Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya kemudian Kimberly turun dari ranjang menuju ke arah lemari.


"Mau kemana?" Tanya Ray.


"Mau ganti pakaian terus mau masak karena perutku lapar." Jawab Kimberly yang merasakan perutnya lapar.


"Biarkan Kakak yang memasak." Ucap Ray.


"Tidak, suamiku masih sakit nanti kalau sudah sehat baru boleh masak." Jawab Kimberly.


"Kakak sudah sehat, tadi saja Kakak bisa menggendongmu." Ucap Ray.


Kimberly menghembuskan nafasnya dengan perlahan sedangkan Ray turun dari ranjang dan berjalan ke arah lemari pakaian.


"Ok." Jawab Ray singkat.


Kimberly dan Ray yang awalnya menggunakan jubah handuk kini sudah berganti dengan pakaian santai. Kimberly dan Ray keluar dari kamarnya dan melihat Paman Donald sudah selesai memasak.


"Tuan dan Nyonya." Panggil Paman Donald sambil meletakkan makanan ke atas meja.


"Maaf Paman seharusnya Kimberly yang memasak." Ucap Kimberly tidak enak hati.


"Santai saja Nyonya, silahkan kita makan bersama." Ucap Paman Ray.


"Terima kasih Paman tapi ..." Ucap Kimberly menggantungkan kalimatnya.


"Tapi apa?" Tanya Paman Donald penasaran begitu pula dengan Ray.


"Paman sudah Aku anggap sebagai Pamanku jadi bisakah Paman memanggilku dengan sebutan Kimberly tanpa menggunakan kata Nyonya?" Tanya Kimberly.


"Tapi ..." Ucapan Paman Donald terpotong oleh Kimberly.


"Apa Paman tidak ingin menjadi Pamanku?" Tanya Kimberly dengan wajah sedih.


Paman Donald menatap ke arah Ray sedangkan Ray yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya.


"Baiklah." Jawab Paman Donald.


"Paman juga harus memanggilku dengan sebutan Ray tanpa embel-embel kata Tuan." Ucap Ray.

__ADS_1


"Tapi ..." Ucapan Paman Donald terpotong oleh Ray.


"Bukankah kemarin kami sudah mengatakan untuk memanggil nama kami tanpa menggunakan kata Tuan dan Nyonya? Apakah Paman lupa?" Tanya Ray.


"Paman tidak lupa hanya saja Paman tidak terbiasa." Jawab Paman Donald.


"Mulai sekarang dan seterusnya biasakan memanggil kami cukup dengan nama karena hanya Paman dan istriku yang sangat tulus menyayangiku." Ucap Ray dengan mata berkaca-kaca.


"Paman adalah bagian dari keluarga Kami begitu pula sebaliknya." sambung Kimberly.


"Terima kasih banyak karena telah menganggap Paman sebagai bagian dari keluarga kalian." Ucap Paman Ray dengan wajah terharu.


"Sama-sama Paman dan sekarang kita makan bersama." Ucap Kimberly.


Ke dua pria itupun menganggukkan kepalanya kemudian mereka makan bersama tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Di tempat yang berbeda di mana orang tua Ray, Mommy Cintya dan Daddy Reyhan di mana mereka duduk di kursi belakang pengemudi.


"Wanita itu seperti Kimberly?" Tanya Mommy Cintya.


"Daddy juga merasa begitu." Jawab Daddy Reyhan.


"Hei sopir, siapa wanita itu?" Tanya Mommy Cinya dengan nada ketus sambil menatap tajam ke arah dua pria tersebut dengan tatapan tajam.


"Maaf Nyonya besar, saya tidak tahu." Jawab sopir tersebut sambil menahan amarahnya.


'Sombong banget.' Ucap ke dua pria tersebut dalam hati sambil saling melirik.


"Mereka orang rendahan Mom, jadi mana tahu mereka tentang wanita itu." Hina Daddy Reyhan.


"Apa kata Daddy benar, mereka orang rendahan." Ucap Mommy Cintya dengan nada merendahkan.


"Kalau memang Kimberly masih hidup, bagaimana caranya kita pisahkan mereka." sambung Mommy Cintya..


"Daddy setuju Mom." jawab Daddy Reyhan.


"Hei orang rendahan percepat mobilnya! Tangan kami sangat sakit!" Bentak Mommy Cintya karena sopirnya melajukan kendaraan dengan lambat.


"Jika jalannya lambat aku pecat kamu sebagai sopir!" Bentak Daddy Reyhan.


Amarah sopir tersebut memuncak membuat sopir tersebut mempercepat mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat sepasang suami istri tersebut berteriak sambil memaki sopir tersebut.


"Sopir gi*a, kurangi kecepatan!" teriak Daddy Reyhan dan Mommy Cintya.


Sopir tersebut tidak memperdulikan teriakan sepasang suami tersebut sambil melepaskan sealbeltnya begitu pula dengan temannya yang duduk di sampingnya. Hingga sopir tersebut melihat ke arah sungai yang ada di samping depan dan dengan sengaja sopir tersebut melajukan kendaraan ke arah sungai.


"Kalian gi*a, berhenti!" teriak sepasang suami istri tersebut dengan wajah ketakutan.


Brak


"Akhhhhhhhh...!" teriak Daddy Reyhan dan ke Cintya bersamaan.


Byur


Sopir tersebut menabrak pagar pembatas membuat mobil tersebut masuk ke dalam aliran sungai yang lumayan deras. Ke dua pria tersebut langsung membuka pintu mobil kemudian berenang meninggalkan sepasang suami istri yang masih di dalam mobil dan tidak bisa berenang.


'Haruskah Aku mati sekarang?' Tanya Daddy Reyhan dan Mommy Cintya dalam hati.

__ADS_1


'Ray, seandainya Kimberly masih hidup maka sampai kapanpun Mommy tidak akan setuju kamu bersama Kimberly.' Ucap Mommy Cintya dalam hati.


__ADS_2