
Rani mencoba menyimpulkan semua kejadian di hari pernikahannya beberapa tahun lalu. Kala itu, seorang pria misterius yang mengaku datang atas perintah Daniel mengabarkan bahwa Daniel membatalkan pernikahan tanpa sebuah alasan yang jelas. Rani sama sekali tidak menerima informasi tentang kecelakaan yang terjadi.
“Apa Elana sengaja memanipulasi keadaan?” Rani menimbang-nimbang beberapa saat, hingga muncul kesimpulan dalam benaknya bahwa semua yang terjadi hanya salah paham. “Aku harus jelaskan kepada Daniel kejadian yang sebenarnya.”
"Aku tidak peduli lagi dengan Rani!" ucap Daniel yang masih dapat dijangkau oleh pendengaran Rani. "Aku bisa saja memaafkan untuk surat itu. Tapi tentang videonya bersama laki-laki lain itu tidak akan pernah bisa kumaafkan.”
Langkah Rani langsung terhenti mendengar kalimat mematikan yang terucap dari mulut Daniel. Dari sana ia dapat melihat kebencian yang membara di mata laki-laki itu.
“Tidak! Aku hanya akan memperburuk semuanya kalau menjelaskan tanpa bukti. Daniel tidak akan percaya. Elana pasti sudah meracuni pikirannya.”
Rani memilih kembali duduk di tempat sambil berusaha menjernihkan pikirannya. Menghadapi kelicikan Elana tidak boleh gegabah. Apa lagi saat ini dirinya berada di pihak yang salah di mata Daniel. Sehingga apapun yang akan dikatakan Rani tidak akan bermanfaat. Justru akan digunakan Elana sebagai senjata untuk semakin menghancurkannya.
Lebih dari satu jam mereka berada di kafe. Selama itu pula, Rani tetap diam di tempat sambil terus mendengar pembicaraan tiga orang itu. Hingga akhirnya, Daniel memutuskan untuk pergi lebih dulu.
Rani menutupi wajahnya dengan buku menu saat Aris dan Daniel melewatinya. Sementara Elana masih duduk manis sambil memainkan ponsel, yang kemudian ia tempelkan pada daun telinganya.
“Halo Jo, Ini gawat! Daniel sudah membuka jati dirinya, jadi kita harus lebih hati-hati karena Rani pasti mencari celah untuk mendekati Daniel.” Wanita itu tampak mendengus mendengarkan jawaban seseorang di ujung telepon.
__ADS_1
"Pastikan untuk menyingkirkan semua jejak, terutama Mariska dan Leon. Mereka harus meninggalkan kota ini secepat mungkin," ucapnya lagi, kali ini dengan nada mendesak.
Sementara Rani masih duduk santai di meja tak jauh darinya sambil terus menguping pembicaraan Elana.
“Apa maksud kamu? Apa kamu tidak tahu di mana Rani sekarang?” bentak Elana kepada seseorang yang dihubunginya.
“Aku di sini!”
Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat Elana terjingkat. Tanpa sadar ponsel di genggamannya terlepas dan jatuh ke meja. Namun, wanita itu berusaha bersikap santai dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas, lalu bangkit dari duduknya.
Rani semakin mendekat hingga berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Elana. "Kalau ada penghargaan untuk kategori wanita terlicik, aku yakin kamu pasti pemenangnya."
Setiap kata yang terucap dari bibir Rani berhasil membangkitkan amarah dalam diri Elana. Serupa seekor singa yang siap menerkam mangsanya, seperti itu pula tatapan garang Elana.
“Yang sopan kalau bicara denganku! Kamu lupa aku bisa membuat kamu kehilangan segalanya?” ucap Elana dengan percaya dirinya.
Elana memiliki peran cukup penting di Double M. Sedangkan M-Star, perusahaan rekaman yang menaungi Rani, adalah salah satu anak perusahaannya.
__ADS_1
“Aku tahu. Karena itulah aku ke mari untuk memberikan penghargaan untuk semua usaha kerasmu dalam memisahkan aku dan Daniel.”
“Memang penghargaan seperti apa yang mau diberikan wanita tidak punya harga diri sepertimu?”
Plak!
Tanpa basa-basi, Rani melayangkan dua tamparan keras ke wajah mulus wanita itu hingga meninggalkan tanda kemerahan.
Gerakan Rani yang cepat dan tak terduga membuat Elana tak memiliki waktu untuk menghindar. Ia hanya dapat mendelik tajam dengan tangan mengelus pipinya yang terasa kebas.
Seketika perhatian semua pengunjung kafe tertuju pada dua wanita itu. Elana yang merasa telah dipermalukan oleh Rani mengangkat tangan untuk membalas, namun secepat hembusan angin, Rani mencengkram pergelangan tangannya.
Lalu, dua tamparan beruntun ia hadiahkan lagi di pipi Elana.
“Ini permulaan untuk membalas semua salah paham yang kamu rekayasa antara aku dan Daniel. Sisanya menyusul, rubah licik!”
...........
__ADS_1