
Sebelum Lanjut Ngiklan dulu gengs 🥰🥰🥰
Jangan lupa baca karya teman aku yaa....
ini dia
****
Dikta Nadira, seorang Motivator Pernikahan yang menikah dengan sosok Dosen Sosiologi bernama Robby Dreantama.
Pernikahan mereka yang terjadi akibat sebuah kesepakatan berujung kecewa disaat mereka sadar bahwa Noda Merah telah tercipta diatas buku nikah mereka dan Dikta memilih diam.
Dikhianati, bahkan melihat suaminya bercinta dengan wanita lain dihadapannya benar-benar menghancurkan hidup Dikta. Sehingga sampai pada kata Talak itu keluar.
Dikta menganggap akan menemukan jalan baru dalam kehidupannya malah kehilangan pijakan hidupnya, namun satu yang menjadi masalah, disaat mereka resmi berpisah fakta mempertegas bahwa Dikta tengah mengandung anak dari Robby.
Robby yang enggan mengakuinya membuat Dikta kembali merasa terpukul dan bertekad membalas dendam atas apa yang terjadi.
Klik nama RIDZ di kolom pencarian atau langsung ke judul novel aja.
Terima kasih.
🥰🥰🥰
****
.
.
.
.
Malam semakin larut ketika Daniel masih betah menikmati pemandangan kota Sydney. Sambil menikmati secangkir espresso dan saling berkirim pesan dengan Aris melalui aplikasi WhatsApp.
Kejadian hari ini membuatnya hampir gila karena khawatir.
Daniel masih duduk bersandar kala sosok tangan lembut yang berasal dari belakang mengusap bahunya. Ia menoleh sekilas. Rani sedang menatapnya dengan sisa-sisa kantuk.
“Kamu sudah bangun?” tanya Daniel. Rani mengangguk pelan, sebelum memilih beranjak untuk duduk di kursi lain. Namun Daniel mengulurkan tangan memintanya mendekat. "Sini!"
__ADS_1
Rasa lega perlahan menjalar ketika wanita itu menyambut uluran tangannya. Membuat Daniel menarik wanita itu hingga jatuh ke pangkuannya. Kala Rani menyandarkan kepala dengan manja di ceruk lehernya, Daniel pun melingkarkan tangan di pinggang dan membenamkan kecupan di kening.
Dalam
Hangat
Lembut.
“Kamu sudah merasa lebih baik?” tanyanya.
Tadi saat jatuh pingsan, Daniel segera membawanya meninggalkan rumah Damian, setelah laki-laki itu diamankan pihak berwajib. Selama perjalanan, Daniel terus berusaha membangunkannya. Namun, Rani hanya membuka mata beberapa saat. Setelah menyadari dirinya sudah aman dan berada di tangan yang tepat, ia kembali tertidur.
Tak peduli lagi kemana pun Daniel akan membawanya. Bahkan saat Daniel menggendongnya memasuki hotel, Rani masih tertidur.
"Lumayan." Rani membenamkan wajahnya semakin dalam. Matanya terpejam kala menyesap aroma musk dari dada telanjang suaminya.
Sangat menenangkan.
Menghilangkan ketakutan yang sempat bersarang di hatinya hingga tak bersisa.
“Kita di mana sekarang?” tanyanya. Menyadari dirinya kini berada di sebuah ruangan asing yang sangat mewah. Bukan di apartemen sederhana tempatnya tinggal.
“Di hotel. Aku sengaja bawa kamu ke sini supaya bisa istirahat.”
"Mbul di mana?"
Rani menjawab dengan anggukan. Ya, ada banyak hal yang perlu diluruskan. Berbicara dari hati ke hati dan menyelesaikan salah paham berkepanjangan yang membentangkan jarak di antara keduanya.
"Ngomong-ngomong, apa kamu mau makan sesuatu? Kamu belum makan malam, kan?" tanya Daniel lagi.
"Aku belum lapar," jawabnya cepat. Dibanding makan, ia akan memilih menghabiskan waktu dengan bersandar di pelukan Daniel.
Kapan lagi bisa seperti ini?
Ini adalah pertama kalinya mereka berada dalam posisi sedekat itu. Yang mana berhasil menciptakan debaran di hati masing-masing.
"Tapi kamu belum makan apa-apa."
"Nanti saja."
Daniel mencium kening. Tangannya bergerak ke atas membelai sisi antara leher dan pipi. Ibu jarinya bergerak dengan lembut di sana.
"Bagaimana kamu menemukan aku?"
__ADS_1
"Penjaga apartemen memberitahu kamu keluar sama bule jelek itu. Gembul panik. Jadi aku cepat cari kamu. Untung Gembul tahu alamatnya. Lagian kamu kenapa mau ikut dia?"
"Dia bilang Angel sakit."
"Lain kali jangan gampang percaya sama orang asing," ujarnya. "Kejutannya jadi gagal."
Rani mendongakkan kepala demi menatap wajah suaminya. "Kejutan apa?"
"Aku sama Mbul buat kejutan untuk kamu di gedung teater."
"Mbul tahu kalau kamu ...."
Daniel terkekeh. "Tadi malam aku tidak sengaja panggil dia Gembul. Makanya dia langsung curiga. Ketahuan deh."
"Kenapa kamu harus menyamar lagi?"
"Kalau aku langsung datang minta maaf, apa kamu akan memaafkan?"
Pertanyaan itu membuat Rani menghembuskan napas panjang. Ya, mungkin jika Daniel langsung mendatanginya, ia akan menjauh.
"Aku sangat senang melihat kamu sudah bisa berjalan lagi," bisiknya masih betah bersandar dalam dekapan Daniel. "Aku minta maaf. Karena melindungi aku, kamu harus mengorbankan diri sampai lumpuh."
"Kenapa minta maaf? Aku akan lebih sedih kalau kamu kamu yang jadi korban dalam kecelakaan itu."
Butiran kristal bening mulai meleleh di pipi Rani. "Aku tidak tahu kalau kamu kecelakaan. Kamu sendirian menjalani masa-masa sulit."
"Bukan salah kamu. Aku yang salah karena terlalu mempercayai orang lain sampai tidak mencari tahu tentang kamu. Sampai mereka berhasil menjauhkan kita selama bertahun-tahun."
Daniel kembali memeluk ketika mulai mendengar isak tangis.
"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi." Daniel menghapus air mata yang membasahi wajah Rani. "Sekarang tidak ada lagi yang akan memisahkan kita."
Rani terdiam, merasakan sentuhan lembut Daniel menelusuri wajahnya. Cinta yang kuat mendorong Daniel untuk menyatukan kedua bibir itu. Dalam, namun sangat lembut.
Daniel menggendong Rani menuju tempat tidur dan membaringkannya di sana.
Membuat sepasang mata milik Rani terpejam meresapi lembut dan hangatnya sentuhan laki-laki yang kini merubah posisi dan telah berada di atasnya. Ingin melepas, namun Daniel menguncinya dengan sensasi hangat yang meledak.
Rani membeku kala bibir Daniel yang basah menelusuri leher. Bermain dengan lembut di sana.
Namun, ia seketika tersadar. Daniel berhenti sebelum tenggelam lebih jauh.
__ADS_1
"Sudah ya ... aku akan ditendang sepupu kamu yang galak itu kalau berani macam-macam. Setidaknya kita harus menikah ulang dulu."
...........